
Hari sudah sore, sekolah pun sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa siswa dan guru yang masih di sekolah. Termasuk Cicha, ya gadis itu masih berada di sekolah sampai sore ini.
Sudah berjam-jam gadis itu duduk di rooftop sekolah. Yang dilakukan Cicha hanya melamun, memandang langit senja. Dia ingin sendiri untuk saat ini, sampai dirinya merasa tenang. Dia tidak memberitahu ketiga sahabatnya jika dia berada di sini. Dia tahu ketiganya mengkhawatirkan dirinya.
Bahkan dia tak menggubris ponselnya yang sedari tadi berdering. Cicha tidak ingin diganggu hari ini. Ada sekitar 89 panggilan tak terjawab dan 64 chat dari mereka, termasuk Keyndra. Cicha merasa hatinya benar-benar sakit, kenapa dia harus mencintai seseorang sampai sedalam ini? Kenapa harus sesakit ini mencintai seseorang? Cicha mendongak, mengahalau air matanya yang seakan tak tak mau berhenti itu.
Cicha hanya membaca sekilas pesan-pesan itu. Tanpa niat membalasnya. Ponselnya tergeletak begitu saja di bangku usang, samping gadis itu duduk.
🦋🦋🦋
Cicha berjalan dengan langkah kecil menyusuri koridor sekolah yang sudah mulai ramai, mengingat sekarang sudah pukul 06.45 itu artinya lima belas menit lagi bel masuk segera berbunyi.
Sesampai di depan kelas, Cicha menghela nafas, kemudian menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum masuk ke dalam kelas. Apapun yang terjadi dia harus kuat, dia tak boleh terlihat lemah, apalagi di depan sang mantan pacar. Yang terpenting dia harus lebih fokus dengan pendidikan nya, dia harus tetap semangat demi mencapai cita-citanya. Sebagai pemicu semangatnya untuk bangkit, Cicha mengingat semua usaha sampai dia ada di titik sekarang. Mengingat masih ada kedua orang tuanya, kedua adiknya, dan sahabat-sahabatnya yang masih peduli dan selalu mendukung dirinya.
Dari dalam kelas, ketiga sahabatnya sudah menunggunya. Dengan langkah lunglai, Cicha pun menghampiri mereka. Dia tahu sebentar lagi dia akan diintrogasi layaknya pencuri, mengenai kejadian kemarin.
"Berangkat sama siapa Cha?" tanya Erika, mungkin dengan jawaban Cicha mereka tahu sedikit kebenarannya. Karena cowok yang jadi tersangka utama juga belum menunjukkan batang hidungnya.
"Diantar sama ayah tadi, sekalian berangkat kerja," jawab Cicha.
"Kemarin kemana aja? kita semua nyariin kamu udah kayak orang gila. Pesan kita semua juga gak ada yang Lo bales," cerca Niken.
__ADS_1
"Maaf, aku pengen sendiri aja kemarin. Aku di rooftop sekolah sampai sore," jujur Cicha.
"Makasih kalian udah khawatirin gue, but I'm fine," lanjut Cicha menatap ketiga sahabatnya yang juga sedang menatapnya khawatir.
"Jadi benar?" tanya Marina hati-hati, mereka tahu Cicha masih sensitif membahas mengenai hubungannya dengan Keyndra.
Mengerti arah pertanyaan sahabatnya, Cicha mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
Seketika ketiganya memeluk Cicha bersamaan, menguatkan gadis itu. Mereka tahu sahabatnya itu sekarang sedang tidak baik-baik saja. Mendapat perlakuan seperti itu dari mereka, air mata Cicha keluar tanpa bisa dicegah.
"It's Oke! gak pa-pa nangis aja, biar hati Lo plong." Ujar Niken sambil mengusap-usap punggung Cicha.
"Udah cukup nangisnya, ini yang terakhir kita lihat Lo nangis karena cowok brengsek kayak dia!" ancam Niken.
"Cowok kayak gitu gak pantes kamu tangisin," ucap Marina melipat tangannya di depan dada sambil memasang wajah galak.
"Cowok gak cuma dia, kamu bisa dapet yang lebih dari dia Cha," tambah Marina lagi.
"Masih ada kita," ucap Erika sambil menepuk bahu Cicha.
Cicha menghapus sisa air matanya, kemudian dia tersenyum menatap sahabatnya. Dia bersyukur punya mereka, sahabat rasa saudara yang mau menerima dirinya apapun kelebihan dan kekurangan Cicha. Tanpa memandang harta dan apa yang mereka punya.
__ADS_1
"Makasih banyak, kalian selalu ada buat aku," ucap Cicha tulus.
🦋🦋🦋
Saat ini kelas sedang hening karena Pak Yudi memberi ulangan fisika mendadak hari ini. Semua sudah tidak kaget dengan tabiat salah satu guru killer di SMA Tunas Bangsa itu.
Dari bangkunya, Keyndra sedari tadi menatap Cicha dengan tatapan yang sulit diartikan. Sorot cowok itu yang biasanya tajam kini terlihat sendu.
Bukan ini yang Keyndra inginkan, cowok itu sama sekali tak ingin menyakiti Cicha seperti itu. Hatinya sakit melihat gadis yang ia cintai menangis karena dia. Dia ingin merengkuh tubuh gadis itu, memeluknya erat saat ini, bahkan dari kemarin hal itu ingin cowok itu lakukan. Tapi melihat Cicha yang rapuh, mata teduh yang memancarkan banyak luka, membuat hati Keyndra seperti tertikam belati tajam.
Keyndra merasa menjadi cowok brengsek dan pengecut saat ini. Tapi ini yang harus dia lakukan untuk menjaga dan melindungi gadis yang ia cintai. Keyndra tak punya pilihan lain.
"Maafin aku Ay! meski sekarang mungkin kamu membenciku, tapi kamu harus tahu cuma kau satu-satunya, cuma kamu yang ada di hatiku, cuma kamu pemiliknya. Cinta ku gak pernah sama sekali terbagi, cuma kamu cintanya aku, Ay." gumam Keyndra yang sedari tadi fokus memperhatikan Cicha yang fokus mengerjakan soal ulangan.
"Ck, bego!" maki Anggara mendengar gumaman Keyndra. Sedangkan Aditya dan Dany menggelengkan kepala mereka melihat Keyndra yang nampak frustasi.
Keyndra hanya diam mendengar makian itu, meski dia tahu makian itu ditujukan padanya. Nyatanya yang dikatakan Anggara memang benar.
Kini Keyndra beralih fokus mengerjakan soal ulangannya, begitu juga dengan Anggara, Aditya dan Dany, yang sedari tadi merasa prihatin dengan masalah yang dihadapi sahabatnya itu.
🍒🍒🍒
__ADS_1