
"Lo pada ngapain pagi-pagi udah kesini?" kening Keyndra berkerut, memandang bingung tiga cowok yang sudah duduk santai diruang tamu rumahnya.
"Gabut aja sih gue dirumah," ujar Dany yang duduk dengan kaki bersila diatas sofa.
"Gue mau minta makan sama macan," sahut Aditya yang asyik ngemil kue kering yang sudah disiapkan diatas meja. "Kangen gue sama mama cantik," sambungnya.
"Ck, sejak kapan mama gue jadi mama loh?" tanya Keyndra sambil berdecak, menampilkan raut wajah tak sukanya.
"Sejak gue jadi kekasih gelap lo," jawab Aditya seenaknya dengan tersenyum menatap sahabatnya itu.
"shit! gue masih lurus ya, gak usah ngada-ngada!" Keyndra mengumpat kesal, meski dia tahu sebenarnya sahabatnya itu cuma bercanda.
"Lo mah keterlaluan Key, mentang-mentang udah ada cewek, lo mau buang gue!?" ujar Aditya dengan raut wajah sedih yang dibuat-buat.
"Nih anak emang belum pernah ngerasain jurus mematikan dari gue ya," ancam Keyndra, cowok itu terlihat serius dengan ucapannya, mengulung lengan kaos hitamnya sampai bahu lalu mengepalkan kedua tangannya, sambil mengambil kuda-kuda. "Sini lo!"
"Bekas pasien RSJ lo ladenin key, bisa-bisa gantian lo yang dimasukin kesana," celetuk Anggara yang dari tadi diam menyimak ulah sahabat-sahabatnya, sambil memainkan ponselnya.
"Amit-amit, kali ini lo selamat, awas aja sampe lo ngomong gitu lagi, apalagi didepan Cicha. Habis lo!" tunjuk Keyndra menggunakan jari telunjuknya kepada Aditya yang bersembunyi di belakang punggung Dany, karena mereka duduk bersebelahan.
"Ya, iya. Ck, lagian gue cuma bercanda. Gue juga masih lurus kali," ucap Aditya membela dirinya sendiri. "Lo juga kucing anggora, gue gak pernah ya masuk RSJ, lo kalo ngomong seenak jidat lo aja," sahut Aditya tak terima dengan omongan Anggara.
"Ya, udah sih kita kesini kan mau senang-senang, napa jadi pada ribut gini?" ujar Dany sambil mengambil minuman diatas meja.
"Hobi banget ya lo pada bikin rusuh rumah gue," Keyndra berjalan ke sofa mengambil tempat duduk disamping Anggara.
"Gimana ya Key, rumah lo tuh enak, mau apa aja ada, makanan banyak, mau renang tinggal nyemplung, mau nonton ala-ala bioskop, home teather ada, mau main basket, noh lapangan siap sedia, mau karaokean, ruangan juga udah siap. Rumahable banget lah pokoknya," tutur Dany panjang lebar.
"Terserah kalian pada, yang penting gak macem-macem aja dirumah gue. Noh, liat mata-mata bokap gue!" ujar Keyndra sambil menunjuk para penjaga yang siap siaga berdiri di depan rumah Keyndra dengan dagunya.
Keyndra, cowok itu sudah hidup enak dari dia kecil, bahkan ketika ia masih didalam perut sang mama. Jangan salahkan dia yang terlahir di keluarga yang dari jaman nenek moyang sudah kaya raya, itu semua sudah suratan takdirnya. Sejak kecil dia hidup seperti pangeran, tak pernah kekurangan apapun. Rumah besar meski tak sebesar istana Raja Inggris, berbagai kendaraan mewah dengan harga fantastis berjejer di dalam garasi rumahnya, fasilitas lengkap sebagai penunjang hidupnya sehari-hari, apapun yang ia ingin tinggal menjentikkan jari. Tapi satu kekurangannya, dia tak bisa hidup semaunya. Dia dibebaskan bergaul dan berteman dengan siapa saja, tapi sebenarnya hidupnya tak sebebas burung liar, yang bisa terbang kemanapun dia mau. Dari dia lahir hidupnya sudah ditetapkan oleh keluarga besarnya. impian, cita-cita, sekolah, semua, dan apakah pendamping hidupnya juga sudah ditetapkan, kita liat saja nanti. Orang tuanya, mereka tak bisa berbuat apa-apa, meski rasa bersalah menyelimuti hati keduanya. Mereka tak bisa menentang apa yang sudah menjadi keputusan nenek dan kakek Keyndra, termasuk anggota keluarga besar Adijaya lainnya.
"Key, pinjam gitar lo dong!" ujar Aditya, setelah sibuk mengotak-atik ponselnya.
"Ambil aja sendiri dikamar gue!" suruh Keyndra sambil memakan kripik kentang kesukaannya.
"Lo serius kan Key sama Cicha, gak cuma main-main kan?" tanya Dany tiba-tiba sambil menatap Keyndra.
"Gue gak pernah seserius ini sama cewek, Lo pernah liat gue mainin cewek selama ini?" jawab Keyndra serius, balik menatap Dany yang duduk didepannya.
"Ya, gimana ya? kalo dilihat dari sikap lo ke dia selama ini, bikin gue gak yakin sih," sahut Dany dengan tatapan menelisik kearah sahabatnya itu.
"Lo aja yang gak tau, ni anak diam-diam juga merhatiin Cicha dari dulu, suka curi-curi pandang, terus senyum-senyum sendiri kayak orang gila kalo habis ngeliatin tuh cewek," celetuk Anggara melirik Keyndra yang duduk disampingnya terkekeh geli.
"Owhhhh.... diam-diam menghanyutkan juga lo ya, kenapa gak dari dulu aja lo jadiin dia cewek lo, toh dia juga suka sama lo dari dulu?" tanya Dany masih mode kepo.
"Gue takut, takut gak bisa bikin dia bahagia, takut bikin dia kecewa, takut bikin dia nangis karena gue, sakit karena gue," tutur Keyndra sambil memejamkan matanya, cowok itu merasa sesak dihatinya saat memikirkan semua itu.
__ADS_1
"Lo terlalu parnoan. Dibuat santai aja, jalani aja semestinya, ikuti alur yang berjalan, sebisa lo aja gimana buat dia nyaman dan bahagia, secukupnya gak usah berlebih juga. Jangan ngelakuin yang buat dia pergi dari lo, lo beruntung banget bisa dapetin dia. Banyak banget cowok yang suka sama dia dari dulu, termasuk kakak kelas kita dulu, bahkan gue denger sampe sekarang banyak dari kakel kita yang ngejar dia. Tapi lo beruntung, hati tuh cewek milih lo, gak sedikit pun berpaling," jelas Anggara yang duduk sambil menyandarkan punggungnya ke sofa tanpa mengalihkan pandangannya dari game diponselnya.
"Sebagai cewek, Cicha idaman banget buat para cowok. Cantiknya alami tanpa polesan make up, sumpah bikin siapapun adem yang mandang, apalagi kalo senyum, bikin jantung serasa mau copot. Pinter, gak perlu diraguin lagi, pinter nyanyi, suaranya lembut banget, gue denger dia juga jago masak, gak matre itu yang penting, gak neko-neko kayak cabe-cabean yang deketin lo selama ini. Siapa sih cowok yang gak suka sama dia, gue aja suka," tambah Dany dengan menggebu-gebu.
"Maksudnya lo juga suka sama cewek gue?" Keyndra memicingkan matanya kearah Dany.
"Wajar, gue cowok normal. Tapi tenang aja gue bukan tipe cowok yang suka nikung sahabat gue sendiri," tutur Dany sambil menyugar rambutnya kebelakang dengan jarinya.
Keyndra mengambil minuman yang disuguhkan diatas meja, menghabiskan minuman dingin itu sekali tegak. Memijat pangkal hidungnya, terdengar helaas nafas dari cowok itu beberapa saat. Terlihat sedang baik-baik saja, seperti banyak hal yang dipikirkan.
"Lo mau ngapain, mau ngamen? Sorry gue gak punya recehan," seloroh Keyndra saat melihat Aditya yang sudah duduk disamping Dany sambil memangku gitar. "Rumah gue juga gak nerima pengamen kayak lo," sambungnya.
"Mulut lo Key, sadis banget. Gue gak butuh recehan lo, suara gue mahal, kudu pake dolar bayarannya," sangkal Aditya.
"Emang Lo bisa main gitar?" ledek Dany pada Aditya.
"Lo ngeraguin gue Dan, belum tahu kehebatan seorang Aditya sih lo," ujar Aditya membanggakan dirinya sendiri.
Jreng...jreng...
Aditya mulai memainkan gitarnya dan mulai bernyanyi.
"SEMUA BANGSAT"
"Wahh, ni anak mulai gak bener nih," ucap Dany.
"Sampe beneran gue tenggelamin lo ke laut," ancam Keyndra.
"SEMUA BAIK"
"Lo baru sadar kalau kita dari dulu baik," sahut Keyndra lagi.
"NGGAK JUGA"
"Maksudnya apaan ngomong gitu?" sahut Anggara yang dari tadi diam, cowok itu memasukkan ponselnya ke saku hodie yang ia pakai.
"GUE BENCI INGET"
"MANTAN, GUE" lanjut Aditya
"Emang lo punya mantan?" tanya Dany sambil tertawa.
"BENTAR"
"Gak jelas nih anak," Ujar Anggara, kemudian meminum minuman yang sudah disiapkan untuknya.
"ANJING"
__ADS_1
Seketika Keyndra, Anggara, dan juga Dany membolakan mata mereka, saling pandang.
"ENGGAK, ENGGAK"
"Hampir tu mulut gue tonjok," ucap Anggara bernafas lega.
"MENDING GUE, NONGKI KE TEMPAT KOPI, NYALAIN WIFI, STALKINGIN DOI"
Aditya semakin asyik bernyanyi sambil memainkan gitarnya, tanpa menghiraukan sahabat-sahabatnya.
"BERHARAP GUE JADI JODOHNYA"
"AAAA"
"Disini juga ada WiFi, minum juga tinggal minum, mau kopi tinggal minta, gratis gak pake beli," ujar Keyndra sambil berbalas pesan dengan Cicha lewat ponsel.
"Gak usah ngehalu, siapa yang lo harapin jadi jodoh lo, pake ngehayal punya doi lagi," ledek Dany.
"ENGGAK MUNGKIN"
"Nah itu lo tahu," sahut Dany lagi sambil memukul bahu Aditya.
"I REALLY REALLY REALLY REALLY REALLY REALLY LIKE YOU, YOU WANT ME, I WANT YOU, YOU WANT ME TOO"
Aditya mengakhiri nyanyiannya dan bermain gitarnya.
"Heh, lo ya dit, gue bilang gue lurus, gak bakalan belok, woyy! Astaghfirullah...." teriak Keyndra frustasi mengacak-acak rambutnya, kemudian mengelus dadanya.
"Lo bertiga yang apaan?" teriak Aditya balik.
"Lo pikir gue lagi ngehalu, lo pada mah ganggu gue bikin video, gagalkan gue bikin fyp tiktok," protes Aditya.
"Ya mana kita tahu, lo gak bilang," timpal Dany.
"Lo juga Key, gue tadi cuma bercanda. Lo nganggepnya serius terus, gue juga gak menyimpang, gue masih suka cewek," sungut Aditya, sambil sedikit melempar gitar tadi ke sofa.
"Ya, udah sih gue minta maaf!" pinta Keyndra.
"Gue juga,"
"Gue juga,"
"Bodo amat, udah gue mau nemuin macan didapur, mau minta makan. Pasti macan dah selesai masakin gue. Lo pada gak mau? Kalo gak mau ya udah gue habisin sendiri," ujar Aditya berdiri dari duduknya, lalu berjalan ke arah dapur dirumah Keyndra.
"Dasar lo ya temen kampret, siapa sih sebenarnya yang punya rumah? Gue aja yang anak nya mama, gak berani ngasih perintah ke mama," ujar Keyndra mengikuti jejak Aditya. Kemudian diikuti Dany dan Anggara juga.
Terdengar tawa mereka memenuhi rumah itu, mereka sudah biasa seperti itu disetiap rumah sahabat mereka masing-masing, tak terkecuali. Persahabatan itu terjalin saat mereka masih duduk di bangku TK sampai sekarang, dan semoga sampai mereka punya beruban, dan diteruskan oleh para anak cucu mereka.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️