Memilih Untuk Melepaskan

Memilih Untuk Melepaskan
episode 22


__ADS_3

Laki-laki dengan setelan kaos putih berlapis jaket jeans, celana jeans hitam, dan sepatu berwarna putih yang melekat dikakinya, dan jangan lupakan jam tangan yang bertengger manis di tangannya. Cowok itu sedari tadi duduk di sebuah ruang tamu, ditemani seorang pria paruh baya. Terlihat dua pria beda generasi ini menikmati obrolan mereka. Tampak seperti seorang ayah dengan anak laki-lakinya yang sedang bersandau gurau, sembari menunggu seseorang yang sedari tadi tidak kunjung keluar dari kamarnya.


Keyndra menolehkan kepalanya saat suara langkah sepatu terdengar ditelinganya. Tersenyum lebar saat melihat siapa yang datang, bahkan kedua matanya tak lepas memandang gadisnya yang malam ini terlihat sangat cantik hanya dengan tampilan sederhananya.


Gadis dengan hoodie berwarna pink yang melekat ditubuhnya itu berjalan menghampiri mereka, dengan senyum yang tak lepas dari wajah cantiknya.


"Udah lama Key?" tanyanya saat sudah berdiri disamping sofa yang diduduki Keyndra.


"Sampai jamuran Cha si Key nya duduk, nungguin kamu," canda ayah Cicha menggoda anak gadisnya itu.


"Sempat Ayah suruh balik aja, kasihan kan nungguin orang dandan gak kelar-kelar," ayah terkekeh melihat Cicha yang malu-malu, merasa senang berhasil menggoda anak gadisnya.


"Ihh... Ayah, siapa yang dandan sih?" sangkal Cicha. "Tiap hari juga gini penampilan aku," lanjutnya dengan wajah sedikit cemberut.


Keyndra yang melihat dan mendengarnya hanya terkekeh. Ingin sekali dia memeluk gadisnya yang terlihat makin menggemaskan itu, tapi dia harus bisa menahannya.


"Hmm," Keyndra berdehem sebentar sebelum meminta ijin kepada orang tua Cicha. "Ayah, Key mau minta ijin buat ngajak Cicha jalan-jalan sebentar!" ujar Keyndra gugup, karena ini pertama kalinya buat dia meminta ijin kepada orang tua cewek.


"Kalian udah mau berangkat?" tanya bunda Cicha, terlihat beliau berjalan dari arah dapur.


"Ya Bun, keburu malam," jawab Keyndra.


"Ya udah, hati-hati. Jagain anak gadis Bunda ya Key!" ujar bunda saat didepan keduanya.

__ADS_1


"Pasti Bun, Bunda tenang aja, aman deh pokoknya," jawab Keyndra antusias karena merasa mendapatkan ijin dari orang tua Cicha.


"Kami berangkat dulu Yah, Bun," pamit Keyndra sembari mencium punggung kedua orang tua itu, diikuti Cicha melakukan hal yang sama dengan Keyndra.


"Assalamualaikum," ucap keduanya sama-sama.


"Wa'allaikumsalam," jawab ayah dan bunda serentak juga.


"Mau jalan-jalan kemana, hm?" tanya Keyndra, sambil menyelipkan anak rambut Cicha yang sedikit berantakan.


"Gak tau, ngikut pak sopirnya aja deh," jawab Cicha sedikit bercanda.


"Kemana aja aku seneng, asal gak diajak ke kuburan, hehehe," lanjut Cicha sembari menunjukkan cengiran khasnya.


Keyndra ih, malah bercanda," sahut Cicha sambil sedikit menekuk wajahnya. Gadis itu salah tingkah dengan ucapan Keyndra yang terang-terangan memujinya cantik. Kemudian membenarkan letak rambutnya yang sedikit berantakan dan menatap kembali mata tajam yang sedari tadi menatapnya.


"Lucu banget sih pacar aku ini," ujar Keyndra sambil mengacak pelan rambut Cicha.


"Sini aku pakein helmnya!" ujar Keyndra, membuat Cicha lebih mendekat ke arahnya.


"Ayo naik!" titah Keyndra seraya memakai helm full face dikepalanya sendiri.


"Udah siap?" Cicha menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Pegangan Ay!" titah Keyndra yang sudah menghidupkan mesin motornya.


Sedikit ragu dan malu-malu, Cicha memeluk pinggang Keyndra. menyandarkan kepalanya di bahu Keyndra. Saat itu juga, Cicha bisa mencium bau mint yang menguar dari tubuh cowok itu. Membuat Cicha tanpa sadar mengeratkan pelukannya.


Nyaman banget. Batin Cicha.


Keyndra menyunggingkan senyumnya, dia merasa senang, meski gadisnya itu masih malu-malu saat didekatnya. Tapi setidaknya gadisnya itu sudah sedikit berani mengekspresikan perasaannya. Apalagi semburat merah di wajah cantiknya yang keluar saat gadis itu malu atau salah tingkah, justru hal itu paling disukai Keyndra. Karena menurutnya gadisnya itu akan terlihat amat sangat menggemaskan.


"Dingin gak?" tanya Keyndra. Kemudian sebelah telapak tangannya menyentuh punggung tangan mungil yang melingkar di perutnya. Mengusapnya dengan lembut dan meremas jemari mungil itu.


Cicha menggeleng sebagai jawaban. "Gak, kan udah peluk kamu. Jadinya gak terasa dinginnya," ucapnya polos.


Keyndra terkekeh dibalik helmnya itu mendengar jawaban Cicha. "Astaga gemesin banget cewek gue, kalau gini kan pengen banget gue kurung dikamar, terus dikekepin. Tapi bisa-bisa kena bogem ayah sama papa, sampai gue beneran lakuin itu. Hahahaha," batinnya dalam hati.


Saat tiba di lampu merah, Keyndra mengerem motornya untuk berhenti. Tangan Keyndra bergerak menyentuh lutut Cicha. Mengusap-usapnya berkali-kali dan sesekali mengetukkan jarinya pada lutut Cicha. Sementara Cicha berusaha mati-matian menahan rasa geli dan panas dingin yang menjalar ditubuhnya, gadis itu kaget atas perlakuan dari Keyndra yang tiba-tiba itu. Ini semua baru pertama kali buat dirinya, dan dia belum terbiasa untuk hal-hal aneh itu.


Hari ini memang akhir pekan, sehingga jalanan tampak ramai dengan kendaraan. Pengguna jalan yang didominasi para pengendara yang membawa pasangan, seperti halnya mereka. Mencari kesenangan dihari libur, hanya untuk sekedar refreshing dari kejenuhan kegiatan mereka setiap hari.


"Ayok jalan, udah hijau tuh!" titah Cicha sedikit lega karena saat itu juga Keyndra menjauhkan tangannya dari lututnya. Kemudian Keyndra seketika mengapit stir motornya sebelah kanan, lantas mengegasnya dengan pelan. Melanjutkan perjalanan mereka ke tempat tujuan yang belum Cicha ketehui sampai saat ini.


🦋🦋🦋


Hayo Cicha mau dibawa kemana sama Keyndra ya kira-kira, hm 🤔🤔

__ADS_1


Si key mah dingin dingin menghanyutkan, ckckck siapa coba yang ngajarin. Minta dijewer emang ya, bikin anak gadis orang panas dingin. Hahahaha 😅😅😅


__ADS_2