Memilih Untuk Melepaskan

Memilih Untuk Melepaskan
episode 41


__ADS_3

"Siapa yang suruh kalian ribut?" suara penuh ancaman dari Bu Hesti kontan membuat kelas yang tadinya ribut seketika sepi. Semua siswa yang tadinya duduk berhamburan langsung saja mencari tempat duduk mereka. Tidak mau kena hukuman.


"Gusti dapat karma buruk apa saya ngajar murid kayak kalian ini? Katanya kelas unggulan, kelasnya saja XII IPA 1, tapi kelakuan kalian gak mencerminkan anak-anak unggulan sama sekali," ucap Bu Hesti serambi mengusap dadanya.


"Sesekali menghibur diri lah Bu, biar gak jenuh belajar terus," kata Aditya yang disetujui beberapa siswa.


"Ibu nih pasti penggemar sinetron ikan terbang, makanya ngomongin karma buruk aja. Soalnya mama saya juga gitu," ucap Keyndra.


"Diam kamu!!"


"Aye-aye captain!"


"Bisa diem gak kamu Key? Apa perlu ibu buat laporan ke orang tua kamu?" ancam Bu Hesti dengan suara tegas dan tidak main-main.


Keyndra terdiam mendengar orang tuanya disebut. "Ya iya Bu ini saya diem," sahut Keyndra.


"Marina, ibu minta tolong buat jam pelajaran ibu hari ini kamu duduk di tempatnya Keyndra. Biar Keyndra duduk di depan sama Cicha." titah Bu Hesti membuat Keyndra dan Cicha saling pandang pada Bu Hesti. Mereka sama-sama terkejut.


"Tapi Bu...." sela Cicha merasa keberatan.


"Gak ada tapi-tapian. Cepat! Tunggu apa lagi?" Bu Hesti yang sudah duduk di meja guru, mengetuk-ngetukkan penggaris kayu ke mejanya. "Apa kalian mau saya pukul pake penggaris ini, karena kalian tidak segera duduk?" ancam guru yang terkenal tegas itu.


Ancaman itu sontak membuat Marina dan Keyndra bergerak untuk bertukar tempat duduk. Suasana kelas berubah semakin canggung, apalagi diantara Keyndra dan Cicha. Reaksi dua sejoli yang terlihat salah tingkah sekaligus canggung itu justru membuat senyum terselubung Bu Hesti muncul.


"Kan, jadi diem kalau deket pawangnya. Setiap jam pelajaran saya tempat duduk kalian harus tetep seperti ini. Ibu udah tua, jangan buat ibu marah-marah terus." sabda Bu Hesti.


"Saya tidak menerima penolakan apapun," ucapnya lagi saat melihat Cicha seperti ingin menolak.

__ADS_1


"Ibu mah memang paling bisa. Lanjutkan Bu!! Kami mendukung penuh keputusan ibu!" celetuk Dany.


"Diam kamu Dany! Kamu mau ibu hukum juga?!" Dany seketika diam mendengar ancaman Bu Hesti.


"Manfaatkan baik-baik Key kesempatan yang ada!" ucap Aditya, membuat satu kelas memperhatikan Keyndra dan Cicha. Mereka paham maksud ucapan Aditya itu. Sebagian besar menyayangkan renggangnya hubungan antara Keyndra dan Cicha.


"Dittt!!!"


"Ampun Bu!" takut Aditya. "Saya cuma ngasih semangat temen saya, siapa tahu habis ini dapet pj buat yang kedua kalinya." kekehnya.


Keyndra yang sedikit geram dengan tingkah sahabatnya menoleh ke belakang menatap mereka dengan melayangkan kepalan di tangan kanannya.


Sementara Cicha hanya diam. Menatap buku pelajarannya dengan pasrah. Bagaimana dia bisa cepat move on dari Keyndra, kalau dia harus terus berada dekat cowok itu.


🦋🦋🦋


"Mau ngapain tuh anak?" tanya Keyndra penasaran.


"PDKT lah, ngapain lagi menurut Lo?!" sahut Dany merasa gemas dengan sahabatnya itu.


"Wess, cepet juga tuh anak ngambil kesempatan," ucap Aditya sambil menaruh es jeruknya di atas meja.


"Ya, iyalah, mana mungkin dia nyia-nyiain kesempatan emas. Secara tuh anak udah ngejar Cicha dari dulu. Gak papa lah kalo tuh anak bisa bikin Cicha lebih bahagia. Gak tega gue liat Cicha sekarang jadi lebih pendiem." sindir Anggara pada Keyndra.


"Kalo seandainya Lo bukan sahabat gue, gue ambil sendiri tuh cewek. Sayang nya gue gak Setega itulah sama sahabat gue, gue masih punya perasaan," celetuk Dany dengan wajah tanpa dosa.


"Silahkan kalo Lo mau. Tinggal pilih aja Lo mau masuk rumah sakit apa langsung ke TPU?!" ancam Keyndra.

__ADS_1


"Sori bro, bercanda gue mah!" kata Dany sedikit terkekeh karena berhasil menggoda Keyndra.


"Mangkanya jangan maruk jadi cowok. Kalo udah gini Lo sendiri kan yang susah," kata Aditya memperingati.


"Kalian tahu ini semua bukan kemauan gue. Gue gak bisa nolak. Gue pengen nolak dan jadi pembangkang, tapi gue gak bisa kalo taruhannya orang yang gue cintai." ucap Keyndra lalu meremat rambutnya sendiri, cowok itu terlihat sangat frustasi.


"Kita paham gimana rasanya jadi Lo, Key. Selesaiin satu-satu, duluin mana yang lebih penting dan baik buat semuanya. Kita akan bantu sebisanya kalo Lo butuh bantuan kita." ucap Anggara menepuk punggung Keyndra.


"Yoi, jadi jangan sungkan lah kalo butuh bantuan," sahut Aditya.


"Makasih!" ucap Keyndra dan diangguki ketiganya.


🦋🦋🦋


Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Cicha sudah bersiap ingin menghampiri Marina yang sudah terlebih dulu menunggunya di parkiran. Hari ini cewek itu akan pulang bersama Marina, karena Marina mengajak Cicha untuk pulang bersamanya.


Cicha melangkahkan kakinya melewati lorong sekolah. Degub jantungnya bertambah cepat saat melihat Keyndra masih berada di parkiran bersama teman-temannya.


Bahkan saat ini hati gadis itu seakan diremat, pemandangan yang dia lihat membuat Cicha mati rasa diatas sakit hati yang masih ia rasakan. Cicha bisa melihat di sana Keyndra bersama Sandra. cowok itu pun menyuruh Sandra untuk duduk di jok belakang motornya.


Cicha berusaha untuk berpura-pura tidak melihatnya. Cewek itu lewat begitu saja saat di depan mereka. Ingin segera pergi dari sana.


"Cha, pulang sama siapa?" tanya Dany pada Cicha saat cowok itu tidak sengaja melihat Cicha lewat di depan mereka.


Pertanyaan Dany membuat yang lain menoleh ke arah Cicha, bahkan Keyndra menatap Cicha fokus. Namun Cicha tak menoleh. cewek itu pura-pura tidak mendengar dan pergi begitu saja menghampiri Marina yang sudah menunggunya dengan kepala tertunduk. Melihat itu Keyndra semakin merasa bersalah. Keyndra ingin merengkuh gadis yang terlihat rapuh itu. Keyndra ingin mengajak Cicha pulang bersamanya seperti yang mereka lakukan dulu.


"Maaf!" gumam Keyndra sambil terus menatap punggung gadis yang dia cintai semakin menjauh dan tak terlihat lagi oleh pandangan matanya.

__ADS_1


🍒🍒🍒


__ADS_2