Memilih Untuk Melepaskan

Memilih Untuk Melepaskan
episode 32


__ADS_3

Cicha POV.


Entah kapan dan darimana datangnya, tiba-tiba Keyndra sudah duduk di depanku. Tadi saat setelah bel istirahat berbunyi aku melihat dia pergi keluar kelas dengan tergesa-gesa.


Aku sendiri memilih tetap di dalam kelas. Tadinya Niken, Erika, dan Marina menemaniku, tapi karena mereka merasa lapar, mereka pergi ke kantin.


Aku cuma sesekali melirik cowok yang sekarang duduk di depanku, tanpa bertanya dia darimana dan ngapain. Aku tak ingin di cap sebagai cewek posesif. Toh kalau dia ingin kasih tahu pasti dia cerita tanpa aku bertanya.


"Segitu sukanya baca novel, sampai akunya gak dianggap?" tanya Keyndra. Aku memang sedang membaca novel remaja, yang dimana tokoh pemeran cowoknya bisa membuatku jatuh cinta.


"Banget!" jawabku semangat.


Keyndra memonyongkan bibir bawahnya yang terlihat lucu di mataku. "Keuntungan baca novel emang apa? Yang ada nambah halu doang?"


Seketika aku menutup novel yang sedang ku baca, memilih fokus pada cowok di depanku yang sekarang berstatus pacarku. "Aku kasih tahu ya, halu tuh bikin kita seneng tahu. Terus dengan membaca wawasan kita jadi luas. Bisa menambah kosakata, bisa melatih otak untuk berpikir secara kritis, apalagi kalau alur ceritanya tuh teka-teki, susah ditebak. Dan masih banyak lagi manfaat yang lainnya dari membaca."


Mendengar penjelasan dariku yang penuh semangat itu, Keyndra hanya mengangguk-anggukan kepala, entah dia mengerti apa yang ku maksud atau tidak.


"Terus di novel yang kamu baca itu banyak cogannya?" tanyanya lagi.


"Gak usah ditanya kalau itu," jawabku.


"Ganteng doang, tapi gak nyata. Ini di depan kamu ada yang nyata." Kata Keyndra sambil menunjuk dirinya sendiri.


Aku hanya bisa menahan tawaku karena mendengar ucapannya. Ternyata dia lucu juga kalau sedang cemburu.


"Narsis," ucapku sambil memukul lengan Keyndra.


"Kenyataan kok, emang ganteng."


"Iya..." ucapanku terpotong saat tiba-tiba ada seorang cewek menghampiri kami, lebih tepatnya menghampiri Keyndra.


"Key!" panggil cewek itu lalu tanpa permisi langsung merangkul leher Keyndra. Aku melihat Keyndra biasa-biasa saja, tidak menolak ataupun terlihat risih sama sekali.


Aku tahu nama cewek itu Sandra, dia juga kelas tiga, tapi beda kelas dan jurusan. Sandra kelas XII IPS. Aku cukup mengenalnya, tapi sebatas kenal saja. Dari awal kelas satu, dia satu-satunya cewek yang paling dekat dengan Keyndra, bahkan sampai sekarang. Tapi aku tak tahu ada hubungan seperti apa antara mereka. Tapi saat banyak diantara yang lain menyebut mereka sepasang kekasih, mereka menentang keras pernyataan itu.

__ADS_1


Hatiku berdenyut nyeri saat Keyndra menoleh lalu tersenyum manis pada Sandra, senyum yang beberapa bulan ini dia perlihatkan padaku.


Akhirnya aku memilih menunduk saja, aku tidak sanggup melihat kedekatan mereka lebih lanjut. Dulu sebelum jadi pacar Keyndra saja aku sering dibuat sakit hati melihat kedekatan mereka, apalagi sekarang saat aku menjadi kekasihnya. Aku sekuat tenaga menahan sesak di dadaku. Dan untuk menutupinya aku membuka kembali novel yang sempat aku baca tadi.


"Ajarin gue matematika dong Key, Lo kan anak IPA pasti sabilah," pinta Sandra.


"Sekarang?" tanya Keyndra.


"Ya, jam terakhir lagi pelajaran matematikanya. Mumet gue kalau udah lihat angka," ucap Sandra dengan nada sedikit manja. Bahkan dapat kulihat sekarang cewek itu bersandar di bahu Keyndra.


"Dasar Lo nya aja males," ledek Keyndra sedikit menonyor kening Sandra sambil terkekeh.


Entah mengapa saat ini aku sama sekali tidak suka mendengar Keyndra tertawa. Mungkin apa karena dia tertawa bukan untukku? Boleh tidak aku egois untuk saat ini? Aku punya hak kan sebagai kekasihnya, melarang dia tertawa untuk cewek lain.


"Ayo, ikut gue ke kelas gue bentar!" ajak Sandra sambil menarik tangan Keyndra. Apa keberadaanku tak terlihat disini olehnya?


"Bentar, " tahan Keyndra. "Ay, kenalin ini Sandra. Pasti kalian udah kenalkan? tiga tahun satu sekolah gak mungkin gak kenal, meski beda jurusan." Ujar Keyndra membuatku mengangkat kepala dan menatap mereka.


Aku tersenyum pada Sandra menanggapi ucapan Keyndra tadi, Sandra pun membalas tersenyum padaku. Mungkin Keyndra menganggap aku belum mengenal siapa cewek itu, karena memang baru sekarang mereka sedekat itu di depanku semenjak aku dan Keyndra menjalin hubungan. Tapi dengan kedekatan mereka selama ini, siapa yang tak mengenal Sandra.


Aku hanya tersenyum canggung mendengar ucapan Sandra barusan.


"Bisa gak sih gak pake kekerasan, temen gak tahu diri emang Lo tuh," ujar Keyndra sambil mengusap kepalanya yang tadi kena jitakkan dari Sandra.


"Cuma teman nih?" tanya Sandra sambil menarik turunkan alisnya pada Keyndra.


Aku berusaha tersenyum melihat pemandangan di depanku saat ini. Meski nyatanya hatiku rasanya sesak. Sandra gadis cantik, dia juga cewek ceria yang ku tahu selama ini. Dari segi fisik, dia cewek idaman setiap cowok.


"Udah yuk, keburu masuk Key," Sandra kembali menarik tangan Keyndra.


"Bentar San," Keyndra menahan lagi.


"Apaan lagi sih Key?" tanya Sandra kesal serambi mencebikkan bibirnya.


Tanpa aba-aba Keyndra langsung mengambil teh botol punyaku yang tersisa setengah setelah tadi sempat aku minum lalu meminumnya. "Aku haus," ucapnya lalu tersenyum lebar.

__ADS_1


Sandra terlihat melebarkan matanya, kemudian cewek itu langsung memukul pundak Keyndra. "Muntahin Key!"


Keyndra mengadu kesakitan, aku sendiri bingung melihat sikap Sandra yang menurutku berlebihan.


"Yaelah cuma dikit, San," ujar Keyndra sambil menghindari pukulan dari Sandra.


Aku sendiri seperti seseorang yang sedang menonton secara langsung sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Terus aku ini dianggap siapa?


" Lo kan gak boleh minuman manis kayak gitu Key." Ucap Sandra yang membuatku menoleh pada Keyndra. Memang selama ini aku hanya melihat Keyndra minum air putih atau air mineral kemasan saja.


"Ini anak kalau habis minum manis kayak gitu langsung batuk, Cha," ucap Sandra menoleh padaku yang hanya diam saja sedari tadi memperhatikan mereka.


Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi seketika itu Keyndra batuk.


"Kan gue bilang juga apa?" tutur Sandra sambil menonyor kepala Keyndra.


"Gue kan haus," protes Keyndra.


"Tapi, bisa kan beli dulu ke kantin, gak harus minum yang manis juga. Udah tahu gak bisa minum kayak gituan, bandel banget sih Lo." Sandra tetap mengomel, kemudian dia menarik Keyndra untuk berdiri.


"Maaf ya Ay, aku tinggal bentar. Janji cuma bentar kok. Dia galak soalnya, lebih galak dari mama," pamit Keyndra sebelum dia pergi bersama Sandra meninggalkanku sendiri.


Aku hanya bisa tersenyum miris menahan sesak di dadaku. Hampir tiga bulan sudah kami menjalani hubungan lebih dari sekedar teman. Tapi nyatanya belum banyak yang aku tahu tentang sosok yang sekarang menjadi kekasihku.


Aku yang tak ingin banyak bertanya tentang dirinya, karena tak ingin dianggap cewek posesif ataupun kepo. Atau dia yang menurutku selama ini seakan tertutup dariku.


Aku hanya sebatas tahu dan mengenal dekat kedua orangtuanya. Tapi tidak untuk saudara yang lain. Bahkan tentang apa yang yang tidak boleh dia minum pun aku baru mengetahuinya.


Berbanding terbalik dengan dirinya yang mengatahui semua tentang diriku. Dari awal pun aku tak ingin menutupi apapun darinya. Karena kepercayaan dan kejujuran itu penting dalam menjalani sebuah hubungan, itu menurutku. Tapi entah dirinya.


selama hampir tiga bulan ini pun, Keyndra tidak pernah menjelaskan Sandra ini siapa baginya. Ada hubungan apa dirinya dengan Sandra sebenarnya. Saat aku bertanya pun, Keyndra hanya mengatakan mereka hanya teman. Bahkan, aku pernah dengan telingaku sendiri mendengar ada yang mengatakan aku orang ketiga diantara mereka.


Bolehkah aku curiga? Bolehkah aku meragukan dirinya? Disaat pemandangan seperti tadi yang aku lihat bahkan sering, meski sekarang ada aku yang menjadi kekasihnya.


Tapi aku hanya bisa menahan sesak, menahan sakit di hatiku. Mulutku seakan kelu untuk protes, untuk marah, untuk mengatakan aku cemburu saja aku tak bisa. Katakanlah aku bodoh, bodoh karena cinta. Aku sendiri ingin memaki diriku, tapi aku ingin egois pada diriku sendiri. Untuk saat ini aku masih ingin bersamanya, aku belum sanggup kehilangan dirinya. Untuk saat ini aku masih ingin berjuang. Tapi entah, disaat dimana aku sudah merasa lelah.

__ADS_1


🍒🍒🍒


__ADS_2