Memilih Untuk Melepaskan

Memilih Untuk Melepaskan
episode 25


__ADS_3

Hari Senin adalah hari yang paling dibenci oleh semua kalangan. Mungkin, ada beberapa juga yang tidak. Tetapi untuk pelajar rasanya sangat malas bertemu dengan hari itu. Hari yang jaraknya jauh ke hari Minggu. Padahal, kemarinnya adalah hari Minggu.


Seperti halnya hari ini, semua warga SMA Tunas Bangsa dibuat uring-uringan karena cuaca panas di pagi hari, khususnya para siswa. Mau tak mau mereka harus rela berdiri di bawah teriknya matahari, untuk mengikuti upacara bendera yang rutin dilakukan setiap hari Senin.


Semua siswa sudah berkumpul di lapangan dan berbaris dengan rapi. Barisan yang terdiri dari murid kelas X sampai kelas XII, bahkan para jajaran dewan guru tanpa terkecuali itu membuat lapangan utama di sekolah tersebut tampak seperti lautan manusia. Mereka tak terhitung hanya dengan hitungan jari saja.


"Pakai topi kamu Ay! biar gak kepanasan," ucap Keyndra yang masih berdiri di depan Cicha, untuk menutupi gadisnya dari sinar matahari yang mengenai wajah Cicha.


"Ya, ini juga mau dipake. Udah ihh kamu baris lagi kebarisan kamu!" Cicha mendorong pelan tubuh Keyndra.


"Nanti kalau udah mulai," jawab Keyndra tanpa beban, sambil menyelipkan anak rambut Cicha yang terlepas dari kuncirannya ke belakang telinga gadis itu.


"Panas matahari pagi tuh bagus tahu buat kesehatan tulang," protes Cicha yang tahu maksud dari Keyndra.


"Bawel banget sih cantiknya aku!" Keyndra mencubit sedikit bibir mungil milik Cicha.


"Key!" sentak Cicha yang kesal dengan Keyndra.


"Hm," deham Keyndra.


"Hush... hush... sana balik kebarisan kamu!" usir Cicha sedikit mengibas-ngibaskan tangannya, mirip orang yang sedang mengusir anak ayam. Wkwkwk, dikira Keyndra anak ayam kali.


"Ok, tapi aku pengen denger lagi kamu manggil aku kayak kemarin malam," ucap Keyndra tersenyum smirk, sambil menaik turunkan alis matanya.


Cicha yang sudah menahan malu dari tadi karena sebagian siswa memperhatikan mereka, kini dibuat salah tingkah atas ucapan Keyndra. Dia berfikir jika Keyndra sudah lupa akan hal itu, karena dari tadi Keyndra biasa saja. Tapi ternyata dugaannya salah.


"Hem, apa sih? Sana, itu kepala sekolahnya sudah datang!" ucap Cicha mencoba mengalihkan permintaan Keyndra.


"Kalo gak mau, ya udah aku tetep disini," ancam Keyndra. "Biarin kena marah guru," kekeh Keyndra.


"Ck, nanti lagi napa bucinnya, sekarang upacara dulu, mau Lo lari keliling lapangan?!" decak Dany yang sedikit berteriak dari arah barisan murid laki-laki.


"Malu noh diliatin yang lain," ujar Erika yang berdiri disamping Cicha, melirik Keyndra malas.


Keyndra tak mengindahkan ucapan teman-temannya, cowok itu tak mau beranjak sedikit pun.


"Bodo amat, iri bilang bos?!" jawab Keyndra datar dan dingin.


"Bukan iri, jijik Key, pengen muntah tahu gak," ujar Anggara yang masih bisa mendengar ucapan Keyndra, jangan lupa wajah datar tanpa ekspresi dari cowok itu.


"Cha, suruh pergi kek, keburu kena semprot guru-guru entar!" ucap Marina yang berdiri dibelakang Cicha.


Cicha menggaruk tengkuknya melihat tingkah Keyndra yang tetap cuek tidak menggubris ucapan teman-temannya. Dia berpikir untuk menuruti permintaan cowok itu, tapi dia malu jika didengar teman-temannya, apalagi membayangkan respon cowok yang masih setia berdiri di depannya sekarang.


"Dasar keras kepala." Umpat Cicha dalam hati.

__ADS_1


Memberanikan diri, Cicha menatap Keyndra, jari lentiknya bergerak memperbaiki dasi yang dipakai Keyndra, sedikit menarik dasi itu agar Keyndra membungkukkan sedikit badannya. Kemudian Cicha sedikit mencondongkan kepalanya, "Bee, balik kebarisan kamu ya sekarang, nurut ya sayang!" bisik Cicha pelan tepat di telinga Keyndra.


Setelahnya, Cicha menegakkan tubuhnya lagi tanpa berani menatap Keyndra. Jantungnya berdisko di dalam tubuhnya. Seakan tersihir oleh kata-kata tersebut, Keyndra balik badan dan menuju barisannya. Wajah putih cowok itu memerah sampai telinganya juga memerah. Jantungnya berdegup kencang. Suara Cicha yang terdengar lembut nan manja tadi membuat tubuh Keyndra meremang. Keyndra meresakan jutaan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya sekarang. Muka tampan yang biasanya datar dan dingin itu, kini terlihat berkali-kali lebih tampan dengan senyum malu-malu. Terlihat seperti anak kucing yang lucu dan imut. Membuat gemas siapapun yang melihatnya. Semua siswa yang sedari tadi memperhatikan mereka tentu saja dibuat baper.


Upacara telah dimulai. Semua murid mengikuti arahan petugas upacara dengan sangat baik. Kegiatan yang cukup melelahkan itu, diakhir dengan beberapa amanah dari Kepala Sekolah. khususnya kelas XII yang hanya tinggal beberapa bulan lagi menjelang hari kelulusan.


Setelah upacara dibubarkan, seluruh murid SMA Tunas Bangsa kembali ke kelas masing-masing. Tapi, tidak semua dari mereka langsung kembali ke kelas. Sebagian ada yang pergi ke toilet, ada juga yang pergi ke kantin sekedar membeli minum.


Kelas XII IPA 1 yang semula sepi, kini mulai ricuh dengan keluhan para penghuninya.


"Gila panas banget."


"Tau, kepala gue hampir gosong."


"Haus banget, kerongkongan gue ampe kering."


"Kulit gue jadi item, astaga."


"Perhatian-perhatian, sambil nunggu Bu Umi masuk. Gue mau nagih uang senenan, Sini cepet bayar!" ucap Marina sambil memegang buku kas kelas.


Semua siswa mengalihkan perhatiannya pada gadis yang menjabat sebagai bendahara di kelas itu. Beberapa siswa, khususnya siswa laki-laki berdecak malas mendengar penuturannya.


"Gak tau sikon banget sih lo Na?" sungut Dany.


"Cita-cita lo jadi depkolektor ya Na?" tanya seorang siswa laki-laki dengan nada bercanda.


"Udah diem napa! Kalo mau bayar, kalo gak mau bayar ya udah diem, gak usah komplen," ujar Raka si ketua kelas.


"Elo tuh Dan, komplen mulu bisanya, bayar kagak pernah!"


Dany hanya berdecih sinis menanggapi tuduhan Niken. Dia tidak bisa marah, karena kenyataannya memang dia selalu menjadi orang yang suka nunggak bayar uang kas kelas.


Sementara Marina hanya bisa memijit pelipisnya yang terasa pening. Setahunya, teman-temannya berasal dari keluarga berkecukupan, uang saku mereka sehari saja bisa buat bayar uang kas berbulan-bulan. Tapi, diminta bayar uang kas yang hanya seribu perak saja susahnya minta ampun. Padahal hanya seminggu sekali, apalagi setiap hari. Bisa gila dia.


Disaat teman-temannya masih ribut perkara uang senenan, Keyndra baru saja masuk ke dalam kelas. Tidak, dia tidak langsung menuju tempat duduknya, melainkan ketempat Cicha. Sesampainya, dia meletakkan susu bantal rasa coklat kesukaan Cicha, tepat di depan gadis itu.


"Makasih," ucap Cicha.


"Sama-sama pacar," Keyndra tersenyum senang karena Cicha langsung meminumnya.


"Pelit lo Key, masak yang dibeliin cuma Cicha," cibir Erika.


"Gak inget, hehehe," jawab Keyndra cengengesan.


"Ributin apa sih?" tanya Keyndra.

__ADS_1


"Tuh temen lo, komplen mlulu kalo diminta bayar uang senenan," jawab Marina yang masih berdiri bersandar di mejanya.


"Kebiasaan," ucap Keyndra sambil memperhatikan teman-temannya.


"Nih Na, buat sekelas, sisanya buat bayar tunggakan punya temen-temen laknat gue noh," Keyndra memberikan beberapa lembar uang berwarna biru dari saku celananya pada Marina.


"Kalo kurang ngomong aja!" tambah Keyndra.


Marina menerima uang Keyndra tersebut, "Cukup kok Key, sisa malah, buat bayar punya lo buat kedepan aja gimana?" ucap Marina setelah menghitung jumlah uang yang diberikan Keyndra.


"Terserah lo aja."


"Woey... berhenti ributnya. Lo pada gak usah bayar, udah dibayarin semua sama Keyndra," ucap Marina sedikit keras, agar mereka semua mendengar apa yang dia katakan.


"Buat lo Dan, Dit, tunggakan lo lunas!" ucap Marina lagi dengan menekankan kata lunas diakhir ucapannya.


Siswa sekelas bersorak gembira mendengarnya, mereka tak perlu repot-repot mengeluarkan uang lagi. Terutama Dany dan Aditya, mereka teramat senang, apalagi mendengar kata lunas. Ckck, dasar.


"Makasih Key."


"Makasih Key," mereka secara bergantian mengucapkan ucapan terima kasih.


"Ya, sama-sama," ucap Keyndra tulus.


Tak lama Bu Umi guru Matematika masuk ke dalam kelas. Sontak membuat mereka yang masih bersantai, segera kembali ketempat duduk masing-masing.


"Sini bungkus susunya aku buangin sekalian!"


"Gak usah, ntar aja aku buang sendiri," sungkan Cicha gak enak, udah dibeliin juga mau nglunjak, pikirnya.


Tanpa mendengar alasan Cicha Keyndra mengambil bungkus susu yang sudah kosong dari tangan Cicha. Tangan kanan Keyndra bergerak mengusap puncak kepala Cicha.


"Aku suka panggilan tadi, My Boo," bisik Keyndra tepat di depan telinga Cicha.


"Key, kembali ketempat kamu! nanti lanjut lagi pacarannya!” ucap Bu Umi dengan nada bercanda menggoda.


Cicha hanya menundukkan kepalanya, gadis itu malu setengah mati, mendengar teguran gurunya. Keyndra tanpa merasa bersalah hanya terkekeh, sambil menggaruk tengkuknya.


"Hehe, ini mau baru mau jalan Bu," jawab Keyndra, dia segera berjalan ke bangkunya.


Sementara yang lain hanya menggelengkan kepalanya, mereka senang teman mereka bahagia. Mereka tak menyangka saja, dua anak manusia yang tak pernah saling berbicara, meski hanya sekedar bertegur sapa itu kini merajut kasih. Mereka berpikir, kenapa tidak dari dulu saja jika mereka memiliki perasaan yang sama. Toh dari dulu juga sekelas. Kenapa yang mereka lihat dua orang yang saling membenci, meski mereka semua tahu si gadis menyukai si cowok dari mereka kelas satu. Bahkan selama ini, mereka merasa kasihan dengan si cewek karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, dan malah dianggap seperti musuh oleh si cowok. Eh ternyata, sekarang malah si cowok yang bucin habis.


❤️❤️❤️


Hayo beneran gak Keyndra suka sama Cicha 🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2