
Terkadang kita lebih baik menunggu
tanpa menunjukkan apa yang sebenarnya
kita rasakan.
Karena Tuhan akan mendekatkan
jika dia mengizinkan ~ fsa
πΈπΈπΈπΈ
Cicha merapatkan jaket yang ia kenakan. Entah kenapa udara pagi ini begitu terasa sangat dingin. Ia sedang duduk di bangku teras rumahnya, menunggu Keyndra yang hendak menjemputnya.
Motor besar Keyndra berhenti tepat didepan rumah Cicha. Cicha yang melihatnya segera berlari menghampiri Keyndra.
Keyndra membuka kaca helm full facenya. Ia tersenyum, sungguh sangat tampan. Lalu menyodorkan helm kepada Cicha, "pakai helmnya dulu Ay!" Dengan senang hati Cicha menerima helm itu, dan langsung memakainya. Setelah selesai memakai helm itu, lalu ia naik ke motor besar itu dibantu oleh Keyndra. Maklum Cicha kan mungil, jadi sedikit kesusahan saat akan menaiki motor besar itu.
"Pegangan Ay!"
"Heem," Cicha yang terlihat malu-malu, hanya pegangan di tas sekolah Keyndra.
Keyndra yang melihatnya tersenyum kecil dan langsung menarik kedua tangan Cicha, lalu ia lingkarkan didepan perutnya.
"Ehhh...." Cicha yang kaget atas tindakan Keyndra berusaha melepaskan tangannya, tapi Keyndra menahannya dengan menggenggam tangan Cicha yang sudah melingkar di pinggangnya. Keyndra dengan sengaja mengeratkan tangan Cicha.
"Kayak gini aja Ay, lebih aman," Cicha yang sudah tak bisa melepaskan tangannya hanya bisa pasrah.
"Dasar modus," Cicha tersenyum malu, pipinya mengeluarkan semburat merah. Tapi itu malah terlihat menggemaskan di mata Keyndra.
Keyndra hanya menanggapinya dengan senyuman kecil. Ia mulai melajukan motornya dengan kecepatan ringan. Sekarang masih pagi, jalanan belum begitu ramai. Udara pagi masih begitu segar, belum tercampur dengan polusi kendaraan bermotor yang setiap hari semakin meningkat.
Keyndra menghentikan motornya di parkiran sekolah. Cicha turun terlebih dahulu, gadis itu sudah tak kuat menahan detak jantungnya yang berdetak kencang dari tadi. Untung tadi ditengah-tengah mereka masih ada tas sekolah Keyndra yang mampu memberikan jarak, meski cuma sedikit. Kalau tidak pasti Keyndra juga bisa merasakan detak jantung itu.
Cicha melepas helm yang ia kenakan dan memberikan helm tersebut kepada Keyndra. Hal yang sama dilakukan juga oleh Keyndra.
Keyndra berdiri di samping motornya, ia mengacak rambutnya. Penampilannya hari ini jauh dari kata rapi, tak seperti Keyndra biasanya. Rambut acak-acakan, dasi hanya dikalungkan dilehernya dan seragam atasnya yang tidak rapi, sebagian terlihat keluar.
__ADS_1
Cicha berdecak melihatnya. "Ini kenapa bisa begini, biasanya juga rapi nggak semrawut kayak gini?" sedangkan Keyndra hanya cengengesan mendengar omelan Cicha.
"Ay, tolong pakaiin dasinya ya!" pinta Keyndra dengan wajah memelas.
"Ckkk... sini aku pakaiin!" Cicha semakin dibuat heran dengan kelakuan Keyndra yang tak seperti biasanya.
Keyndra mendekatkan dirinya ke arah Cicha, lalu sedikit membungkukkan badannya sejajar dengan Cicha, agar gadis itu tidak kesulitan. Ya, maklum aja Cicha gadis mungil ini hanya memiliki tinggi sebatas dada Keyndra.
Dengan telaten Cicha memakaikan dasi itu. Setelah selesai memakaikan dasi itu, tangannya tak tinggal diam. Ia juga merapikan rambut Keyndra yang terlihat acak-acakan.
"Besok jangan gini lagi, aku nggak suka. Aku suka Keyndra yang rapi kayak biasanya," Cicha masih sedikit kesal, tapi tangannya masih setia merapikan rambut Keyndra.
"Heem...." hanya suara itu yang keluar dari Keyndra. Ia dari tadi sibuk menatap wajah Cicha yang ada di hadapannya. Menelusuri setiap lekuk wajah gadis itu. Bulu mata yang lentik, mata bulat yang indah, pipi yang sedikit cubby, hidung yang mancung, bibir yang ranum dan tidak ada sedikit pun jerawat di wajah itu. Cantik. Ya, itulah yang ada dalam pikiran Keyndra.
"Dasi udah, rambut juga sudah rapi, sekarang rapiin baju kamu!"
"Ya iya, kamu ternyata bawel juga ya Ay? hahaha....Nih udah rapikan sekarang?" tanya Keyndra setelah selesai merapikan baju seragamnya, berdiri tegap didepan Cicha.
"Iya udah, kalo gini kan enak dilihat daripada kayak tadi," dengan tersenyum puas Cicha memperhatikan penampilan Keyndra.
Cicha hanya menggelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang. "Dasar tukang modus," ia tersenyum manis, lalu tak lama menginjak kaki Keyndra dengan kencang. Keyndra meringis kesakitan. Ia segera mengejar Cicha yang sudah berlari meninggalkannya terlebih dahulu.
Langkah Keyndra berhenti didepan pintu kelas, ia tak langsung masuk kedalam kelasnya. Matanya menangkap sosok yang ia kejar tadi sudah duduk manis di bangkunya. Berjalan mendekat ke arah dimana pandangan matanya tertuju.
Keyndra berhenti tepat disamping Cicha.
"Eh...ada Key, pagi-pagi udah nyamperin Cicha aja, mau ngapain? mau ngajak malam mingguan ya Key?" Marina yang mulutnya paling ember mulai menggoda Keyndra.
"Ya, Cicha nganggur kok Key. Ajak tuh jalan-jalan, ngedate gitu. Biar tuh anak nggak jadi penghuni kamar terus kalau malam Minggu," kini giliran si Erika yang mengompori.
"Udah Key nggak usah didengerin, mereka emang gitu," Cicha tersenyum menatap Keyndra yang berdiri disamping ia duduk.
"Nggak usah gengsi kali Cha, pumpung ada kesempatan. Daripada cuma bisa ngebayangin aja terus," dasar si Marina mulut nya emang lemes, kalau soal mojokin sahabatnya. Nggak tahu apa yang dipojokin tuh dah nahan malu.
"Diem kenapa kalian ini, tuh liat muka Cicha udah kayak kepiting rebus. Key, kalau nggak ada yang mau diomongin, sana duduk aja di bangku kamu, sebelum mereka tambah berisik. Tuh para cecunguk juga udah nungguin kamu dari tadi." Niken yang dari tadi sibuk dengan ponselnya pun angkat bicara, sambil sedikit melirik ke arah deretan bangku yang Keyndra dan para sahabatnya tempati.
"hemm...ya bentar, aku mau ngomong sama Cicha dulu," Keyndra yang dari tadi juga diam, akhirnya bicara juga. "Tadi kenapa malah lari, udah diinjak eh malah ditinggalin?"
__ADS_1
"Maaf Key, refleks aja tadi, beneran aku nggak sengaja. Sakit ya?" Cicha mengatupkan kedua tangannya, ia merasa bersalah.
"tenang aja Ay, nggak sakit kok," Keyndra mengelus puncak kepala Cicha. "Aku cuma mau bilang nanti istirahat bareng ma aku, tungguin, jangan main pergi aja!" Keyndra tersenyum manis, sungguh sangat manis. Lalu ia menjawil hidung Cicha.
Cicha benar-benar dibuat salah tingkah, atas perlakuan Keyndra. Sementara ketiga sahabat Cicha hanya melongo saling melirik, menyaksikan interaksi kedua sejoli itu.
"Woy Key, masih pagi ini nggak usah pacaran mulu, bikin iri yang jomblo aja," teriak Aditya yang suaranya mirip toa mushola.
"Dah ya, aku ketempat ku dulu Ay," Keyndra mengelus puncak kepala Cicha lagi, lalu melangkah dimana tempat duduknya berada.
"Iy...ya," Cicha menjawab sedikit terbata-bata, sambil menganggukkan kepalanya. Dia benar-benar malu saat ini, karena teman-teman sekelasnya sedang menatap dirinya dan Keyndra secara bergantian, ada juga yang saling berbisik.
Hmmmm.... Cicha menghela nafas panjang, melihat ketiga sahabatnya, yang siap mencerca dirinya dengan berbagai pertanyaan.
"Jelasin nggak!" ucap ketiga cewek itu bersama-sama.
"Ya, nanti aku jelasin, tapi nggak sekarang bentar lagi dah bel masuk," jawab Cicha sambil menyiapkan buku pelajaran diatas mejanya.
"Beneran ya Cha, kita tunggu!" Sahut Marina, diikuti anggukan yang lainnya.
"heem...." Cicha hanya berdehem, menanggapinya.
Kring...kring...kring...
Tak lama bel masuk pun berbunyi. Semua murid yang masih diluar kelas berhamburan masuk kelas masing-masing.
Semuanya sudah duduk diatas bangkunya masing-masing. Cicha sekilas melihat Keyndra yang sepertinya sedang diinterogasi juga oleh sahabat-sahabatnya itu, sama seperti dirinya. Mengalihkan pandangannya ke mejanya, seulas senyum terlihat di wajah cantiknya.
πΈπΈπΈπΈ
Maaf ya yang baru bisa update πππ
semoga tetep suka baca ceritaku ini
makasih yang udah setia nungguin cerita gabut ini...πππ
maaf kalo masih banyak typo atau kesalahan apapun πππ
__ADS_1