
Keesokan harinya,,
Maya sudah bersiap-siap mandi dan mengenakan pakaian yang di belikan Laura kemarin, ia juga tak lupa merias wajahnya dengan make up yang tipis, tas dan sepatu juga sudah di siapkan Laura membuat Maya tidak enak hati menerima pemberian yang banyak dan tentunya mahal-mahal.
Maya melangkahkan kakinya menuju ruang makan, ia sedikit terlambat karena Alex, Laura dan Mondy sudah berada di sana hanya tinggal dirinya yang belum ada di sana.
Laura tampak senang ketika Maya sudah duduk di sampingnya sedangkan Mondy sendiri tampak mengejek dirinya karena dari awalnya juga dia sangat membenci Maya.
" Pagi Maya " ucap Laura sambil tersenyum
" Pagi juga Tante, maaf ya Maya terlambat " ucapnya sambil tersenyum
" Tidak apa-apa Nak, kami semua baru berkumpul disini " ucap Alex
" Cih, Lambat sekali kau seperti keong saja " cibir Mondy
" Mondy ga boleh ngomong gitu " ucap Laura menatap wajah putranya dengan kesal
" Astaga Mah kenapa jadi belain dia terus " protes Mondy
" Sudah-sudah jangan bertengkar lebih baik kita makan " ucap Alex menengahi mereka
Mereka segera menyantap sarapan yang sudah tersaji di meja makan, Monday tampa melirik wajah Maya. " Cih, dia mau berpenampilan bagaimana pun tidak akan merubah sikap kampungnya " batin Mondy
Kini mereka sudah selesai sarapan, Laura tampak memperhatikan penampilan Maya yang berbeda, tidak sia-sia kemarin dia membawa Maya ke salon dan berbelanja, Maya terlihat anggun dan cantik meskipun dengan make up yang tipis.
" Maya, kamu sangat cantik hari ini.. " puji Laura
" Benar kata Tante.. kamu cantik Maya " puji Alex
" Terima kasih Om dan Tante.. " ucap Maya tersipu malu
" Akh mamah dan papah berlebihan, penampilan dia biasa saja " cibir Mondy
" Ish siapa juga yang mau di puji oleh Kamu wahai manusia galak " batin Maya
" Jangan besar kepala kaki gadis kampung.. di luar sana banyak wanita yang lebih cantik darimu " batin Mondy
" Mondy " protes Laura
" Mah, pah.. Mondy pamit " ucapnya sambil menyalami kedua orangtuanya
" Tunggu Mondy " ucap Alex
" Apalagi Mah.. "
" Kamu pergi ke kantornya bareng Maya.. "
__ADS_1
" Tapi mah.. "
" Mondy dia sekarang asisten mu jadi tidak ada alasan kamu tidak pergi ke kantor bersamanya "
" Baiklah.. " ucap Mondy pasrah
Maya langsung pamitan pada Alex dan Laura, ia langsung menghampiri Mondy yabg sudah meninggalkan dirinya dari sana. Maya segera masuk kedalam mobil Mondy.
" Ngapain kamu duduk di belakang, aku alergi dekat-dekat dengan kamu.. " cibir Mondy kembali
" Lalu aku harus duduk di mana?? " Tanyanya
" Kamu duduk disamping supir " titahnya
Maya mencoba menahan amarahnya, ia segera masuk kedalam mobil. Tampak supir itu sangat ramah padanya. Butuh waktu tiga puluh menit menuju kantor Mondy, tampak hening suasana sepanjang perjalanan.
Maya turun dari mobil ketika mereka sudah sampai, ia mengikuti langkah Mondy masuk kedalam gedung tinggi ia menduga jika ini kantor tempat ia bekerja. Tampak semua menatap dirinya bahkan mereka sopan membukukan tubuhnya pada Mondy.
" Gila ini gedungnya besar dan tinggi sekali " batin Maya
" Jangan Norak, Ingat kamu harus jadi asisten ku yang elegan jangan bikin Malu kalau tidak, aku tidak akan segan-segan menghukum mu.. " ancamnya
" Baik Tuan.. " ucapnya
Mondy menekan lift yang di khususkan untuk dirinya, ia masuk kedalam lift sementara Maya tanpak diam dan bingung.
" Astaga kenapa kamu berdiri terus disana, ayo masuk " bentaknya
" Tapi aku takut " ucap Maya sambil tersenyum, ini adalah pengalaman pertama ia melihat Lift apalagi kalau harus masuk kedalam Lift.
" Ayo cepat " ucap Mondy sambil menarik tangan Maya agar masuk kedalam
Ada rasa takut yang Maya rasakan ketika ia masuk kedalam Lift apalagi di sana hanya ada dia dan Mondy saja. Sedangkan Mondy tampak tertawa dalam hatinya ketika melihat wajah Maya ketakutan.
" Astaga... Lucu sekali wajahnya,, aku duga jika ini pertama kali dia naik Lift, sepertinya tidak buruk juga dia bekerja disini, aku jadi punya hiburan baru " batin Mondy
Ketika pintu lift terbuka da mereka sudah sampai di lantai 30 dimana ini adalah kantor khusus untuk Mondy dan ruang Meeting. Mondy keluar dari lift sedangkan Maya masih ketakutan di dalam sana.
" Ish kamu seperti keong, cepat keluar " ucap Mondy menarik tangan Maya lagi
" Kenapa Dia hobi sekali membuat ku jantungan.. kenapa aku pusing naik lift itu.. apa karena ini pertama kalinya " batin Maya
" Pasti dia sekarang merasa pusing, menurut orang-orang pertama naik lift pasti suka pusing, rasakan itu " batin Mondy
Mondy segera masuk kedalam ruangan bersama dengan Maya, tak lama kemudian Jeri masuk kedalam ruangan Sang majikan.
" Jeri kamu nanti beritahu apa saja tugasnya dia,.. " titah Mondy
__ADS_1
" Baik Tuan.. "
" Meja dan kursi kamu disana " tunjuk Mondy
" Apa?? " Ucap Maya kaget
" Aku dan dia satu ruangan, astaga Tuhan bagaimana ini.. tolong hamba mu ini, tapi kamu harus kuat Maya demi Tante Laura " batin Maya
" Pasti kamu tidak menyangka, aku akan terus mengawasi kamu " batin Mondy
" Tidak usah kaget, cepat buatkan aku Kopi " ucapnya sambil tersenyum penuh kemenangan
" Baik Tuan " ucap Jeri
" Siapa yang menyuruh kamu Jeri, aku menyuruh Maya.. " ucap Mondy
" Tapi Tuan saya tidak tahu bagaimana membuat Kopi " ucap Maya
" Cih, Kamu bikin kopi saja tidak becus.. cepat kerjakan sekarang juga " ucapnya
" Baik Tuan.. "
" Mari Nona saya tunjukan Pantrinya " ucap Jeri
" Jeri Tunggu, jangan panggil dia Nona, karena dia hanya rakyat biasa seperti kamu... jangan mimpi mau naik tahta jadi Putri " Cibir Mondy
" Jangan harap kamu di perlakukan spesial disini, ini wilayah kekuasaan ku " batin Mondy
" Ih, Siapa juga yang mau di panggil nona " batin Maya
" Baik Tuan.. " ucap Jeri
" Panggil saja saya Maya " ucap Maya mengulurkan tangannya
" Saya Jeri... Maya terlihat cantik meskipun riasan wajahnya tipis " batin Jeri
" Aku Jeri... " Ucapnya sambil membalas uluran tangan Maya dan tersenyum padanya
" Kenapa mereka malah kenalan di depanku.. Jeri benar-benar akan jadi pengkhianat " batin Mondy
" Sudah kenalannya.. cepat kerjakan tugasmu gadis kampung " bentaknya Mondy
" Maya Tuan, nama saya Maya bukan gadis kampung " ingin sekali Maya berbicara seperti itu namun ia tahan, mana mungkin dia berani berbicara seperti sudah pasti dia akan di marahi lagi oleh majikan galaknya itu.
.
.
__ADS_1
Bersambung...