
Mondy sebenarnya sudah menduga jika kedatangan dua tamu yang tidak ia undang sama sekali pasti mereka merencanakan sesuatu pada Mondy. Apalagi melihat cara pakaian Jini seakan Mondy sudah tahu jika Jini berniat menggodanya.
Ingin rasanya Mondy cepat mengusir mereka dari ruangannya, namun niatnya ia urungkan mengingat bagaimana hubungan kerjasama dengan Jono ayah Jeni. Ia tidak mau merusak kontrak kerjasama jika ia bersikap kasar pada Jini putrinya Jono.
Ia terus memikirkan ide agar membuat keduanya cepat pergi dengan sendirinya tanpa harus ia usir, namun ketika Maya datang keruangannya dan menyuguhkan minuman ide terburuk pun muncul.
Mondy harus pura-pura menjadikan Maya sebagai tunangannya, dengan cara itu ia yakin jika mereka sudah mengetahui kalau dirinya sudah mempunyai tunangan pasti mereka akan kesal, marah dan memilih pergi.
Dan benar saja seperti sekarang mereka sudah tidak ada lagi di ruangan Mondy, rencananya memang benar-benar ampuh membuat keduanya kesal, dan tak butuh waktu lama mereka pun segera pergi dari ruangan Mondy.
" Akhirnya mereka pergi juga " ucap Mondy merasa lega
Namun Mondy tak sadar jika rencananya bisa membuat semua orang salah paham termasuk Jeri sang asisten yang tentunya akan melaporkan segara gerak geriknya pada Alex tuan besar perusahaan tempat ia bekerja.
Sementara di ruangan Mondy tampak suasana canggung apalagi Maya masih duduk si pangkuan Mondy. Maya menggeser tubuhnya dari Mondy namun Mondy menghentikannya karena perbuatan Maya memancing sesuatu di bawah sana bergerak.
" Diam.. " bentak Mondy menahan pinggang Maya
" Tapi Tuan ini tidak pantas, bagaimana orang lain melihat " ucap Maya sedikit ketakutan
" Sial, aku lupa posisi begini malah membuatku tidak nyaman tapi jika dia bergerak aku lebih tidak tahan " batin Mondy
" Tuhan, aku takut?? Lindungi hamba mu ini " batin Maya
Jeri masuk kembali ke ruangan sang majikan, ia melihat kedua orang namun bukan Jono dan Jini melainkan kedua orangtuanya Mondy yaitu Alex dan Laura. Mereka kaget dengan Posisi Mondy dan Maya saat ini.
Padahal baru beberapa menit Jeri mengirimkan pesan pada Tuan Besar tentang informasi hubungan antara Maya dan Mondy, mereka segera menyusul ke perusahaan. Dan anehnya mereka sangat cepat berada di perusahaan membuat Jeri kaget sendiri.
" Astaga... " Ucap Laura kaget
__ADS_1
" Mondy sedang apa kau " ucap Alex dengan suara berat membuat Mondy dan Maya lebih kaget.
" Papah, mamah ngapain kesini... " Ucap Mondy dengan wajah gugupnya
" Harusnya kami tanya, kamu sedang apa dengan Maya " ucap Laura dengan senyum yang menggoda sang putra kesayangannya
" Tante ini salah paham " ucap Maya ingin pergi dari pangkuan Mondy namun Mondy mencegahnya kembali
" Diam dan jangan bergerak... " Ucap Mondy, karena di bawah sana bisa saja terlihat menonjol karena perbuatan Maya. Dia bisa malu di hadapan kedua orangtuanya.
" Sejak kapan kalian bersama?? " Tanya Alex sambil tersenyum
" Maya jangan berkata seperti itu, justru Tante senang akhirnya Mondy punya kekasih.. ini membuat Tante lega " ucap Laura sambil tersenyum duduk di depan mereka
" Jadi benar Maya kekasih tuan Mondy, tapi kenapa sikap Tuan Mondy selalu galak juga pada kekasihnya itu " batin Jeri
" Bagaimana kalau kita makan siang bersama, hitung-hitung merayakan hubungan kalian berdua " ajak Alex
" Tidak.. " ucap Mondy membuat semua orang menatap heran padanya
" Kenapa sayang... Ini bagus loh, membuat hubungan kami lebih erat.. " ucap Laura tidak terima dengan protes putray
" Aku ingin makan siang berdua saja dengan Maya
Ucapnya Mondy mampu membuat kedua orangtuanya tersenyum kembali, mereka berpikir jika hubungan antara Mondy dan Maya masih terbilang baru dan keduanya juga harus lebih banyak menghabiskan waktu bersama agar mempererat hubungan mereka yang tergolong baru.
" Baiklah kalau begitu.. kalian harus selalu bahagia " ucap Laura sambil tersenyum
" Baik Tante... " ucap Maya sambil tersenyum
__ADS_1
Laura dan Alex pagi pergi dari ruangannya Mondy, mereka tidak ingin merusak suasana keromantisan putra kesayangannya itu. Sedangkan Jeri masih diam di sana menatap wajah sang majikan dengan tatapan bingung.
" Kenapa masih disini, kamu tidak mau makan siang hah?? " Tanya Mondy pada asistennya itu
" Eh ia Tuan, maksud saya apa Tuan mau saya bawakan makan siang " tanyanya
" Tidak usah, saya bilang mau makan siang dengan dia.. " ucap sinis Mondy
" ish, namaku Maya Tuan Maya bukan dia.. " batin Maya sedikit kesal bagaimana tidak di depan Jono dan Jini, Mondy terlihat sangat lembut sekarang kembali galak.
" Baiklah Tuan permisi " pamitnya
Tinggallah Maya dan Mondy masih dengan posisi Maya duduk di pangkuan Mondy. " Kamu tunggu disini, saya mau ketoilet sebentar setelah itu baru kita makan siang berdua " ucapnya langsung menggeser tubuh Maya.
" Baik Tuan "
Entah mengapa Maya hanya duduk di pangkuannya saja membuat di bawah sana berdiri padahal sebelumnya ia tidak pernah seperti ini, tertarik saja dengan wanita belum ia rasakan tapi kejadian barusan membuat jantungnya berdetak dengan kencang.
" Akh sial ada yang salah dengan diriku " batin Mondy
Segera menuntaskan hasratnya yang sedari tadi bergejolak, Mondy bukan laki-laki mesum dan mudah tergoda tapi keberadaan Maya di tubuhnya barusan membuat ia tidak mengerti bisa merasakan hal yang berbeda.
" Tidak mungkin, aku sudah gila jika menyukai wanita seperti gadis kampung itu " ucapnya dengan kesal
.
.
Bersambung...
__ADS_1