
Shela sudah sampai di rumah sakit, ia segera menuju ruang UGD. Ia melihat mondy mundar mandir dengan wajah khawatir sedangkan Asisten Jeri ia tampak menundukkan kepalanya mungkin ia juga merasakan hal yang sama dengan Mondy.
" Mondy bagaimana keadaan Maya?? " Tanyanya pura-pura khawatir dengan kondisi Maya
" Dokter sedang menanganinya Nona.. anda tidak perlu cemas " Ucap jeri membuat Shela kesal karena Mondy tampak menghiraukan dirinya.
" Mondy.. kenapa kamu peduli sekali pada wanita kampungan itu, jelas-jelas lebih baik aku segalanya di bandingkan dia.. " batin Shela
" Mondy kamu jangan khawatir Maya pasti baik-baik saja " ucap Shela mendekati Mondy
" Jangan dekati aku.. kamu lebih baik pergi dari sini " usior Mondy
" Mondy kamu mengusir aku.. " ucap Shela kaget
" Kamu terlalu berisik " bentak Mondy
" Tapi aku... " Ucapnya terhenti ketika pintu ruangan di buka oleh dokter
Boby segera menghampiri sang dokter karena ia juga merasa cemas dengan keadaan Maya. " Dok bagaimana keadaan Maya ?? " Tanyanya membuat Mondy dan Jeri kaget.
" Sebenarnya ada hubungan apa di antara Maya dan Boby, aku merasa mereka sudah saling mengenal " batin Mondy
" Boby apa-apaan sih sok peduli pada Maya bukannya kemarin dia bilang dia tidak kenal dengan Maya, jangan sampai tuan cemburu pada Boby bisa gawat ini " batin Jeri
" Apa anda keluarga pasien?? " Tanya sang dokter
" Saya.. " ucap Bobi terhenti karena Mondy segera menghampiri sang dokter
" Dia calon istri saya Dok.. " Ucapnya membuat hati Shela dan Boby kesal.
" Saya hanya ingin memberitahukan jika keadaan Nona Maya baik-baik saja, beliau hanya kecapean dan merasa shock saja, saya sudah menyuntikan vitamin pada pasien agar keadaannya membaik, kemungkinan sebentar lagi ia akan sadar " ucapnya
" Baik dok terima kasih " ucap Jeri
" Apa saya boleh masuk ke dalam menemui calon istri saya " tanya Mondy pada sang dokter
__ADS_1
" Boleh Tuan, silahkan namun hanya satu orang saja atau saling bergantian " ucap sang dokter
Mondy segera masuk kedalam bersama dengan dokter sedangkan Jeri, Shela dan Boby masih menunggu di luar ruangan.
" Nona, satu jam lagi ada jadwal pemotretan anda.. sebaiknya kita pergi dari sini " ucap Boby
" Baiklah.. " ucap Shela
" Jeri saya pamit " ucap Shela langsung meninggalkan jeri sendirian di sana. Jeri sudah tahu bagaimana sifat Shela meskipun dia banyak di sebut-sebut baik seperti malaikat tapi Jeri dan Mondy tidak bisa di bohongi.
" Untung Tuan Jeri tidak menyukai Shela, dia itu wanita bermuka dua sepertinya.. " batin Jeri
Lima belas menit kemudian Mondy keluar dari ruangan itu. Ia segera menghampiri Jeri yang masih duduk di depan ruangan.
" Tuan bagaimana kondisi Nona Maya " ucap Jeri
" Dia belum bangun.. "
" Ingat kata dokter tuan, mungkin sebentar lagi Nona Maya akan segera sadarkan diri " ucapnya mencoba menenangkan majikannya itu.
" Baik Tuan.. "
" Sudah ku duga Tuan pasti penasaran dengan kedekatan Maya dan Boby semoga mereka tidak punya hubungan apa-apa " batin Jeri
Para perawat membawa Maya ke ruangan pasien, Mondy meminta pada dokter untuk memasukan Maya ke dalam ruangan VIP. Maya akan di rawat beberapa hari di rumah sakit ini.
" Tuan hari ini Anda ada meeting di kantor " ucap Jeri.
" Batalkan semua pekerjaan ku.. aku akan menjaga Maya hari ini " ucap Mondy yang kini duduk di samping ranjang Maya
" Baik Tuan.. "
" Hari ini kamu kembali saja ke kantor.. biarkan saya disini dengan Maya selesaikan pekerjaan mu " titahnya
" Baik Tuan, kalau begitu saya permisi " ucapnya melangkah pergi dari sana
__ADS_1
Sementara Mondy masih duduk di ranjang tempat tidur Maya masih dengan wajah khawatir, tanpa sadar ia memegang tangan Maya dengan erat.
" Kamu kenapa tidak bangun-bangun.. apa yang sebenarnya terjadi padamu " ucap Mondy
Tak lama kemudian datanglah pasangan suami istri yang menyayangi Maya. Mereka pergi buru-buru ke rumah sakit setelah Jeri memberitahukan keadaan Maya padanya.
" Astaga Maya " ucap Laura kaget ia segera menghampiri Maya yang masih tak sadarkan diri
" Mamah.. "
" Mondy, kamu ini bagaimana sih jagain maya.. dia seperti ini.. kamu itu tunangannya, kamu harusnya lebih bisa jagain dia bukan seperti sekarang " ucap Alex dengan wajah marah
" Pah.. Maya tiba-tiba pinsan.. " ucap Mondy yang sebenarnya ia juga tidak tahu penyebab Maya pingsan
" Pah, apa jangan-jangan dia hamil?? " Ucapan Laura tentu saja membuat sang papah menatap tajam pada putranya itu
Dor,, ucapan Laura membuat semua orang yang ada di sana kaget apalagi Mondy sendiri, bagaimana bisa ia melakukan hal nekat seperti itu pada Maya.
" Sumpah demi tuhan aku tidak pernah melakukan itu dengan Maya.. ya memang kami kemarin tidur bersama tapi hanya tidur tidak melakukan hal itu " ucap Mondy membela dirinya sendiri dari Tuduhan sang mamah.
" Astaga Mondy " ucap Laura langsung menjewer telinga putranya dengan marah karena bisa-bisanya dia tidur satu ranjang dengan perempuan yang belum sah jadi istrinya.
" Aw.. mah ampun mah.. Sakit " ucapnya meringis kesakitan
" Biar tahu rasa kamu.. habis Maya sembuh kamu harus Tunangan dengannya dan segera menikah, mamah tidak mau tahu kasihan Maya dia gadis baik-baik " ucap tegas Laura
" Mamah tenang saja.. aku akan segera bertunangan dengan Maya ko.. " ucapnya jujur
" Alhamdulillah ternyata Maya dan Mondy saling mencintai, mereka benar-benar berjodoh.. aku sangat bahagia " batin Laura
Mondy bermalam di rumah sakit ia tidak ingin meninggalkan Maya sedikit pun. Laura dan Alex segera pergi dari rumah sakit ketika langit gelap dan malam pun tiba.
.
.
__ADS_1
Bersambung...