
Sedangkan kini Maya sudah berada di dalam kamarnya, Mondy malah duduk di sofa membuat Maya heran di buatnya.
" Tuan.. kenapa anda masih ada disini "
" Aku sudah pernah bilang panggil aku dengan sebutan Sayang.. " uca Mondy menatap tajam wajah Maya
" Maaf Tuan kita hanya berduaan saja jadi tidak usah di panggil sayang, panggil Tuan saja.. "
" Aku bilang panggil sayang ya panggil sayang " ucapnya marah
" Maafkan saya Tuan.. " ucap Maya
" Kemari.. duduk di samping ku " ucap Mondy menepuk sofa di sampingnya
Maya duduk disana, tiba-tiba kepala Mondy bersandar di bahu Maya membuat Maya kaget dan matanya melotot.
" Biarkan aku begini dulu... Aku butuh sandaran " ucapnya membuat Maya heran
" Sandaran?? Maksud Tuan apa ya?? Mungkin tuan memang sedang cape saja, aku tidak boleh banyak protes" batin Maya
" Rasanya aku ingin menonjok Boby, kenapa dia menyia-nyiakan wanita baik dan polos seperti mu.. tapi aku juga bersyukur karena kamu dan dia sudah tidak berhubungan lagi.. tapi tunggu mereka kan belum putus " batin Mondy
Mondy kemarin dapat laporan dari jeri tentang hubungan antara Maya dan Boby, kejanggalannya terjawab sudah namun ada rasa kesal, cemburu dan lega. Hal itu di karenakan ia juga merasa sakit hati tentang apa yang di lakukan Boby pada Maya. Menggambil semua uang dan perhiasannya Maya, Bobi juga menelantarkan Maya di kota sendirian bagaimana kalau Maya di jadikan perbudakan wanita apalagi dengan sikap Maya yang polos dan terlalu baik.
Namun ia juga lega jika Maya sudah lepas dari Boby laki-laki berengsek macam dia tidak perlu di pertahankan lagi. Meskipun sosok Boby hadir kembali di kehidupan Maya.
" Apa kamu pernah mencintai seseorang " tanya Mondy yang tampak penasaran dengan isi hati Maya
" Pernah.. "
" Siapa laki-laki itu?? " Ucap Mondy masih bersandar di bahu Maya
" Dia.. em " ucap Maya dengan berwajah sedih ketika hal itu membuat Mondy tidak tega
" Sudah lupakan pertanyaan ku yang barusan, kamu harus jawab jujur dari hati kamu.. apakah kamu masih menyukai Dia " ucap Mondy menatap wajah Maya
" Ia.. aku sudah melupakan dia " ucapnya sambil pura-pura tersenyum
" Sepertinya Maya belum melupakan Boby sepenuhnya, bagaimana ini kalau dia kembali pada Boby, tidak.. tidak itu tidak boleh terjadi " batin Boby
" Entah kenapa hatiku sakit ketika Tuan Mondy terus bertanya tentang Boby.. apa benar aku masih belum melupakannya " batin Maya
Tak lama kemudian suara ketukan pintu kamar Maya terdengar, Mondy segera beranjak dan membuka pintu itu.
" Ada apa?? " Tanya Mondy
" Eh Tuan, maaf saya di suruh Nyonya Laura memanggil Tuan dan Nona Maya untuk segera makan siang... Nyonya sudah menunggu kedatangan Tuan dan nona maya di ruang makan " ucapnya sopan
__ADS_1
" Apa Jeri sudah pulang?? " Tanya Mondy
" Sudah dari tadi Tuan.. "
" Lalu apa keluarga om Baskoro masih ada bersama dengan papah dan mamah?? " Tanyanya kembali
" Benar Tuan, keluarga Tuan Baskoro juga sedang duduk di ruang makan menunggu kedatangan Tuan dan nona Maya " ucapnya
" Kalau begitu kamu bisa pergi, saya akan segera pergi ker ruang makan " ucap Mondy
" Baik Tuan kalau begitu saya permisi." Ucapnya melangkah pergi dari sana
Mondy langsung masuk kedalam kamar Maya, ia mengajak Maya untuk pergi ke ruang makan dan berkumpul dengan kedua rang tuanya di sana.
Sesampainya disana semua mata memandangi Maya dan Mondy, mereka duduk di samping Shela sedangkan Mondy ada di tengah.
Mondy duduk lalu Shela mencoba mengambilkan nasi untuk Mondy mau tidak mau Mondy menerima hal itu. Namun menit kemudian piring itu di ganti dengan piring Maya yang sudah ada nasi dan lauk pauk.
" Mondy.. " ucap Shela dengan raut wajah sedih
" Maya sudah memberikan piring ini, jadi aku harus menghargainya " ucap Mondy dengan wajah cueknya
" Astaga Tuan Mondy kenapa bawa-bawa nama ku, mana tidak enak lagi di lihat semua orang " batin Maya
" Cih, guna-guna apa yang sudah dia lakukan pada Mondy hingga Mondy terlihat peduli padanya ... " Batin Shela tak suka
Mereka memakan makanannya masing-masing, masih belum ada pembicaraan di antara mereka karena tidak baik mengobrol sambil makan.
Setelah makanan itu habis di piring masing-masing barulah Baskoro mulai berbicara dan mengatakan rencananya pada Alex.
" Sebenarnya kedatangan kami sekeluarga kesini itu ingin membahas rencana perjodohan yang dulu sempat kita bicarakan Al " ucapnya
" Yes, semoga saja Om Alex menyetujuinya " batin Shela
" Perjodohan?? Mondy tidak mau di jodohkan.. Mondy sudah ada calon Mondy sendiri " ucapnya dengan kesal
" Mondy kamu tenang dulu " ucap Laura
" Ia Mondy biar papah jelaskan.. Baskoro memang dulu kita sempat membicarakan hal itu tapi aku tidak pernah memaksa keputusan Mondy, aku ingin dia bahagia menentukan pilihannya.. dan sekarang dia sudah punya calon wanita yang ia cintai.. aku harap kamu bisa mengerti " ucap Alex membuat Baskoro dan keluarganya kecewa
" Kita sebagai orang tua harus menentukan yang terbaik untuk anak kita.. jadi jangan sampai salah memilih pasangan " ucap Lily
" Tolong ya jeng Lily mengerti dengan keputusan anak saya.. " ucap Laura dengan wajah kesal
" Astaga Nyonya Laura anda lihat putri saya cantik, terkenal dan kaya mana mungkin dia di kalahkan oleh wanita kampung seperti itu.. jangan bercanda kamu Mondy " ucap Lily
" Bagus Momy, tolong sadarkan mereka jika aku lebih segalanya dari wanita kampung itu " batin Shela
__ADS_1
Laura tampak emosi namu Alex mencoba menenangkan istrinya itu dengan terus memegangi tangannya. Sedangkan Maya hanya bisa menundukkan wajahnya memang apa yang di katakan orang tua Shela benar, untuk bermimpi bisa menikah dengan Mondy ia tidak pantas.
" Da Apa atuh akumah.. hanya butiran debu " batin Maya
Mondy sendiri wajahnya langsung emosi ketika wanita di depannya menghina orang yang menurut spesial di hidupnya, kalau yang berkata padanya seperti itu laki-laki sudah ia tinju namun ia mencoba menaha amahnya Apalagi melihat wajah sang papah.
" Anak Tante Shela memang cantik, terkenal dan kaya.. kenapa harus menikah dengan saya, cari saja laki-laki yang tampan, terkenal dan kaya.. bukan saya tentunya " cibir Mondy
Tentu ucapan Mondy membuat Lily dan Baskoro kesal sedangkan Shela sendiri sedih dengan ucapan Mondy. Ia benar-benar berharap jika kedatangan mereka ke rumah keluarga Mondy bisa membuat dirinya dan Mondy bersatu namun malah sebaliknya, untuk kedua kalinya ia di tolak lagi oleh Mondy.
" Ayo Pah, kita pergi dari sini " ucap Lily langsung menarik tangan suaminya itu
" Al, saya pergi dulu " ucap Baskoro segera pergi dari sana.
Shela langsung berdiri dari tempat duduknya, ia mencoba menghapus air matanya yang sedari tadi terus mengalir mendengar penolakan Mondy.
" Tante Laura, om Alex, Mondy dan Maya maafkan sikap momy saya.. mungkin dia sedang kurang enak badan.. "
" Tidak apa-apa Shela.. " ucap Laura yang tidak tega melihat raut wajah Shela yang sedih
" Kalau begitu saya pamit " ucapnya melangkah pergi dari rumah Mondy
Semua mata tampak melihat wajah Maya yang masih menundukkan kepalanya. Ucapan wanita paruh baya itu entah kenapa sampai menusuk kedalam hatinya. Tapi harusnya ia tidak bersedih dengan sikapnya apalagi yang di katakannya benar, Maya hanya berasal dari keluarga di kampung, dia tidak cantik, kaya dan berpendidikan apalagi hubungan diantara dirinya dan Mondy hanya pura-pura semata.
" Sayang... " Ucap Mondy ketika melihat Maya dengan wajah sedih
" Aku tidak apa-apa ko, aku pamit ke kamar " ucap Maya segera pergi dari ruang makan
Mondy ingin menyusul kepergian Maya namun tangannya di cegah oleh sang mamah. " Mah, Mondy harus menghibur Maya " ucapnya
" Mamah Tahu, mamah hanya ingin memastikan jika kamu benar-benar mencintai Maya kan ?? "
" Mah, kenapa bicara seperti itu?? Mamah kan tahu jika aku tidak pernah dekat dengan wanita lain selain Maya.. "
" Yakin kamu tidak menyukai Shela, yang di katakan Tante Lily benar.. Shela cantik, berpendidikan dan kaya.. Apa tidak bisa kamu pertimbangkan " ucap sang papah mengetes Mondy
" Pah... Kapan mencintai seseorang di ukur seperti itu.. Maya baik, kalau untuk cantik itu relatif.. aku tidak pernah suka sama wanita lain selain Maya " ucapnya
" Kalau tidak ada yang ingin di bicarakan lagi Mondy pamit " ucapnya langsung pergi ke kamar maya
Kini Laura dan Alex tersenyum bahagia mendengar ucapan Mondy, mereka tidak menyangka jika sosok Maya bisa membuat Mondy menyukainya. Bagi Alex dan Laura cinta tidak bisa di ukur dengan kecantikan dan harta semata.
.
.
Bersambung..
__ADS_1