Menanti Jatuhnya Talak 3

Menanti Jatuhnya Talak 3
Jatuhnya Talaq Satu


__ADS_3

" Jika kau tak menginginkan aku? kenapa kau menikahi ku Mas? aku tak pernah memaksa mu untuk melakukan itu , hiks. " tanya Zhezha dengan tubuh yang berguncang.


Yoga menggeleng kan kepalanya dengan senyum tipis yang tersungging di sudut bibirnya.


" Kalau tak menikah dengan ku, kau juga pasti akan jadi perawan tua kan Zhe? " tanyanya balik.


Zhezha diam beberapa saat kemudian


mengangguk. " Tentu saja, aku akan jadi perawan tua mas.Sampai kapan pun, aku tak akan menikah dengan pria mana pun karena akan selalu menunggu kedatangan kamu, " sahut Zhezha lirih.


Zhezha menatap Yoga dengan linangan air mata yang membasahi wajahnya. Sementara Yoga menatap geram ke arahnya, hingga tubuhnya bergetar.


' Aku tak akan tertipu dengan air matamu Zhe, kau dan ayah mu sama! kalian keluarga yang tak punya perasaan! 'batin Yoga degan bola mata berpendar dan tangan yang mengepal dengan geram.


Rahang Yoga mengeras, mengingat apa yang pernah dilakukan olehkeluarga Zhezha terhadap mendiang ibunya.


Zhezha melepaskan pandangan dari wajah Yoga yang terlihat diliputi amarah. Ia pun kembali tertunduk karena tak mampu melihat kebencian pada tatapan Yoga terhadapnya.


Zhezha kembali menangis.


" Lalu bagaimana dengan nasibku Mas? " tanya Zhezha menahan rasa sakit yang seperti menikam berkali-kali di jantungnya. Zhezha pun menghapus air matanya agar terlihat tegar.


" Terserah kamu Zhe ! seberapa lama kau bisa tahan dengan pernikahan ini. Akan ku berikan apartemen ini, mobil dan setengah dari aset yang aku miliki, sebagai harta gono-gini," ucap Yoga dengan tanpa perasaan. Padahal saat itu Zhezha sudah terlihat menderita dan frustasi karena perlakuannya


Kemudian ia meninggalkan Zhezha yang terlihat pasrah dengan keputusannya.


Zhezha melihat Yoga yang berjalan membelakangi nya dengan angkuh.


' Inikah balasan dari penantianku selama ini Mas? begitu mudah kau menceraikan aku, ' batin Zhezha dengan tatapan hampanya.


Hiks hiks hiks, Zhezha semakin terpuruk sambil menangis ia sandarkan tubuhnya pada dinding yang ada di belakangannya, kemudian menangis meringkuk memeluk lututnya. Zhezha menangis sendiri di tempat tersebut,sementara Yoga seakan tak mau perduli dengan apa yang terjadi.


Setelah beberapa lama menangis, Zhezha coba untuk bangkit sambil menghapus air matanya. Tak ada gunanya menyesali apa yang terjadi, ini semua adalah pilihannya.


Dengan sisa tenaga yang ia miliki,Zhezha coba untuk bangkit kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Zhezha menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya sembab dan ber-air menatap langit-langit kamarnya.


Semua mimpi indahnya bersama Yoga kini hanya jadi puing kenangan, yang harus ia kubur dalam-dalam.

__ADS_1


Kisah cinta yang dulu terasa indah, kini hanya tinggal sejarah. Baru saja semalam mereka menikah, tapi kini ia sudah di jatuhi talaq oleh suaminya.


Zhe zha meraih bantal guling yang ada di sampingnya, kemudian memeluknya.


" Kamu benar Mas, mungkin kutukan itu memang benar adanya, aku akan tetap jadi perawan tua, meski aku sudah resmi jadi istrimu," ucap zhezha sambil menghapus air matanya.


Zhezha meraba wajahnya untuk meyakinkan jika ia tak sedang bermimpi saat itu. Ini adalah kenyataan terpahit sepanjang hidupnya, di mana kenyataan berbanding terbalik dengan harapan.


Zhe zha masih menatap lagit-langit kamarnya sambil memintal tali yang ada pada ujung bantal guling.


" Apa yang harus ku lakukan sekarang? Aku tak mungkin pulang dan mengatakan pada orang tua ku, jika mas Yoga sudah menceraikan ku, " guman Zhezha dengan sedih.


Ia pun kembali menangis lagi.


" Kau tak punya pilihan lain Zhe, selain menanti jatuhnya talaq dua dan tiga, lalu semua akan usai dengan sendirinya."


" Setelah jatuhnya talaq 3, maka selamanya aku dan mas Yoga akan berpisah dan tak akan mungkin kembali. Mungkin hanya itu Satu-satunya cara agar aku berhenti berharap pada cinta mu lagi, " ucap Zhe-zhe sambil menghapus air matanya.


Zhezha kembali menangis, padahal baru saja air mata tersebut mengering di kelopaknya.


***


Sekujur tubuhnya terasa lemas. Namun Zhezha coba untuk bangkit dari keterpurukan sendiri. Apalah daya baginya kini, sepahit apa pun kenyataan yang terjadi , ia harus bisa iklas menerima semuanya. Mungkin sudah suratan takdir .


Zhezha juga mengerti, jika cinta tak bisa di paksakan. Bersyukur Yoga sudah mau jujur dan berterus terang tentang perasaannya.


***


Setelah bangkit dari tempat tidurnya, Zhezha langsung menuju kamar mandi, untuk menunaikan ritual mandi paginya.


Zhezha membuka kran shower, seketika air pun mengucur melalui celah-celah benda berbentuk pipih tersebut.


Aliran air ,menyatu dengan tetesan air matanya yang tak pernah kering. Sesekali tubuh Zhezha berguncang, sebenarnya ia tak ingin menangis, tapi tetap saja ia menangis.


Zhezha coba merenungi dalam hati,kemudian ia mencoba untuk melupakan apa yang terjadi, tapi tetap saja ia tak akan pernah bisa lupa.


Tubuh Zhezha semakin berguncang karena terus berusaha untuk tak menangis. Berusaha untuk tetap tegar di atas kerapuhan hatinya.


Tiba-tiba saja Zhezha berlutut karena ia tak lagi mampun menahan berat tubuhnya.

__ADS_1


Rasa, sakit yang ia rasakan terlalu dalam dan begitu menyiksa, hingga Zhezha kesulitan untuk bangkit.


Di bawah guyuran air shower Zhezha menangis.


Tubuh Zhezha gemetar menahan dinginnya kucuran air yang terus membasahinya tanpa henti.


Ketika sudah tak lagi tahan, ia pun berdiri meraih bathrobenya, kemudian keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk melayani suaminya.


***


Di dapur Zhezha sedang menyiapkan secangkir kopi untuk Yoga, setidaknya dirinya harus berguna bagi Yoga meski hanya membuat sarapan dan melakukan tugas rumah tangga.


Yoga keluar dari kamarnya dengan berpakaian lengkap dan rapi.


" Sarapannya Mas! " seru Zhezha memanggil Yoga sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja makan.


Mungkin saat itu Yoga hendak menyelonong berangkat kerja.


Yoga menghampiri meja makan kemudian ia menarik kursi.


" Maaf Mas, di rumah cuma ada kopi, " ucap Zhezha dengan bibir yang gemetar, tak sedikitpun ia menoleh ke arah Yoga.


" Aku sudah transfer uang belanja untuk kamu Zhezha, silakan saja pergunakan uangnya tersebut. Kamu bisa beli apa saja yang kamu butuhkan," sahut Yoga sambil menyerupai kopi hangat buatan Zhezha.


" Iya Mas, aku nanti akan belanja dan malam nanti aku akan masak makan malam untuk kamu. "


"Nanti sore aku sudah harus berangkat ke luar kota dan mungkin bulan depan baru pulang," sahut Yoga.


Zhezha sedikit kaget, matanya langsung menatap ke arah Yoga.


' Bulan depan? apa ini cara Mas Yoga untuk menghindari ku, ' batin Yoga.


" Sekarang aku antar kamu berbelanja, setelah itu kamu pulang naik taksi. Kamu harus membiasakan diri untuk melakukan semuanya sendiri, karena aku sangat sibuk, " imbuhnya kembali.


Zhezha pun tersadar dari lamunannya.


" Iya Mas, kalau begitu aku bersiap dulu. "


Zhezha langsung menuju kamarnya, untuk mengganti pakainya.

__ADS_1


Bersambung gengs, jangan lupa dukungan ya, dengan like, komen, gift vote dll, he he. sekilasnya saja. lope u sekebon 😘😘


__ADS_2