
Zhezha kembali melanjutkan pekerjaannya.
" Zhe! Makan dulu, " ucap mbak Yuli sambil menyodorkan nasi dan piring ke arah nya.
" Iya Mbak, terimakasih."
Zhezha pun duduk berhadapan dengan Mbak Yuli. Dengan tangan gemetar ia membuka bungkusan nasi tersebut.
Zhezha memang lapar, karena tenaganya begitu terkuras hari ini.
" Zhe, sudah lama kenal Wisnu? " tanya Mbak Yuli.
" Hm, belum sebulan Mbak, " sahut Zhe dengan jawaban yang hampir mirip dengan Wisnu.
" Kalau Mbak liat, sepertinya Wisnu serius sama kamu Zhe. "
Zhezha mengulum senyum.
" Gak apalah Zhe, kalau Wisnu serius, lagi pula Wisnu itu laki-laki yang baik, berkepribadian lembut, dan gak neko-neko gitu. "
Zhezha masih diam menyimak, sambil menyuap nasi ke mulutnya.
" Bukannya Mbak ikut campur Zhe, tapi jika kamu menikah dengan Wisnu, kamu gak perlu capek kerja gini. Ya Wisnu pasti maulah nge-biayain orang tua kamu yang lagi sakit, " bujuk Yuli.
" Bukan begitu Mbak, aku sama suami ku belum resmi berpisah. Lagi pula, jika kami sudah resmi bercerai. Aku masih ingin sendiri, aku mau fokus merawat kedua orang tua ku saja. Maklum saja aku anak mereka satu-satunya "
"Loh kamu belum resmi berpisah rupanya, kamu sudah punya anak dari pernikahan kamu sebelumnya Zhe ? " tanya Mbak Yuli.
Zhezha tersenyum simpul sekaligus sedih, jika ia ingat kembali tentang Yoga.
" Aku belum genap sebulan menikah, sudah dijatuhi talak Mbak oleh suamiku, " ucap Zhezha dengan bulir bening menetes di pipinya. Sudah beberapa hari ia tak pernah mengingat kejadian yang menyakiti itu, kini harus diungkit lagi.
Uhuk, uhuk. Mbak Yuli tersedak saking kagetnya mendengar penuturan Zhezha.
" Astagfirullah, serius Zhe? Belum sebulan? " tanya Yuli dengan mata yang melotot.
" Iya Mbak, makanya aku gak mau nikah lagi biar saja jadi perawan tua seumur hidup, " cetus Zhezha tanpa sengaja.
Huk, sekali lagi Yuli dibuat kaget dengan penuturan Zhezha.
" Jadi kamu masih perawan Zhe?!"
Zhezha menutup mulutnya, karena kebablasan.
" Iya Mbak, " sahut Zhezha sambil nyengir.
Ck ck, Mbak Yuli sampe menggeleng kepalanya. " Jangan-jangan suami kamu itu spesies terong makan terong kali Zhe, masa' istri secantik kamu gak disentuh. "
" Namanya juga orang sudah benci Mbak, akunya saja yang gak sadar diri, " sahut Zhezha sambil kembali menyuap makanan ke mulutnya.
__ADS_1
" Tapi kan gak semua laki-laki gitu Zhe, Pak Wisnu itu baik kok, lemah lembut, sabar pokoknya sifatnya dewasa banget, ya kalau dia mau terima kamu apa adanya kenapa gak Zhe. Hidup cuma sekali loh, dan kegagalan dalam hidup itu biasalah, " nasehat Yuli.
Zhezha hanya tersenyum simpul.
" Mas Yoga yang ku kenal juga baik Mbak, sabar, lembut dan penyayang, tapi nyatanya… . " Zhezha mengandung kalimatnya.
" Ya sudahlah Zhe, mungkin kamu masih trauma, " cetus Mbak Yuli.
Mereka pun kembali melanjutkan makan.
Waktunya menunjukkan pukul sembilan malam Zhezha baru selesai bekerja. Saat itu hanya dirinya yang berada di dalam ruko yang sudah di tutup.
Demi mencapai targetnya Zhezha, Zhezha rela bekerja sendiri di dalam ruko tersebut, sementara jam delapan malam, ruko mereka sudah tutup.
Zhezha menimbang pakaian yang telah ia setrika, dan cuci olehnya. Ia pun menghitung pemasukan dari upah borongannya hari ini.
" Alhamdulillah sudah cukup, berarti aku harus lembur setiap hari biar cukup untuk membiayai rawat jalan ayah, " gumamnya.
Setelah beberes, Zhezha pun membuka pintu ruko tersebut kemudian menutupnya kembali.
" Zhe! " seru seseorang ketika Zhezha baru keluar dari ruko tersebut.
" Eh Mas Wisnu, kok tau aku belum pulang? " tanya Zhezha.
" Aku telepon Mbak Yuli, karena handphone gak aktif. "
Mendengar itu Wisnu tersenyum.
" Sudah sholat isya belum? " tanya Wisnu.
" He he kalau itu alhamdulillah gak pernah lupa Mas, " sahut Zhezha.
" Ya sudah, sudah malam nih. Pulang yuk, " ajak Wisnu.
" Iya Mas. Aku juga sudah ngantuk, " sahutnya sambil menguap.
Untung saja ada Wisnu, jika tidak ,kaki Zhezha rasanya sudah tak sanggup melangkah karena begitu lelah.
Zhezha masuk kedalam mobil, begitupun Wisnu.
Suasana yang nyaman di dalam mobil membuat Zhezha semakin tak sanggup menahan rasa kantuk, matanya sampai merah dan berair karena menahan rasa kantuk akibat terlalu lelah.
Zhezha coba memejamkan mata sebentar agar matanya tak terasa sakit, baru saja kelopak matanya tertutup Zhezha sudah terlelap.
Wisnu mengemudikan mobilnya menuju tempat kost Zhezha. Sebenarnya Zhezha tak pernah memberitahu ia ngekos dimana, hanya saja karena Wisnu juga tinggal di area yang tak jauh dari lokasi tersebut ia pun tahu, karena hanya ada satu kost di gang yang pernah mbak Yuli katakan.
Sebenarnya saat itu Wisnu ingin membicarakan sidang perceraian antara Zhezha dan Yoga dan niat Yoga yang ingin rujuk dan mencabut gugatan cerainya.
Namun, setelah melihat Zhezha yang terlihat menderita, Wisnu jadi ragu.
__ADS_1
Ditatapnya wajah Zhezha yang tertidur terlelap.
' Aku belum tau masalah apa yang sebenarnya menimpa rumah tangga kalian. Namun, setelah melihat keadaanmu seperti ini, aku jadi ragu terhadap Yoga. Kenapa rasanya aku yang tak rela jika kau rujuk kembali pada Yoga, ' batin Wisnu sambil melirik kembali ke arah Zhezha.
' Jika dia tak bisa membahagiakanmu, maka berilah aku kesempatan untuk membahagiakan mu Zhe, ' batin Wisnu.
***
Wisnu mendatangi sebuah cafe karena ada janji dengan seseorang.
Setelah memarkirkan mobilnya, Wisnu turun dari mobil, ia pun langsung masuk ke dalam cafe tersebut karena melihat sosok yang ingin ia temui saat itu.
Pria yang ingin ia temui sudah menanti kedatangan di meja yang berada di sisi kiri ruangan tersebut.
" Selamat siang pak Yoga, " sapa Wisnu sambil mengulurkan tangannya ke arah Yoga.
Alangkah terkejutnya Yoga saat melihat siapa yang datang, hingga ia lupa untuk menyambut uluran tangan Wisnu.
" Anda? " pertanyaan tersebut menggantung karena keheranan Yoga terhadap sosok yang hadir.
" Iya Saya Wisnu Sanjaya, sebelumnya kita memang pernah bertemu di rumah Anda, " ucap Wisnu dengan tangan yang masih terulur.
" Oh iya saya baru ingat, " sahut Yoga sambil menjabat tangan Wisnu.
" Silahkan pak Wisnu, " ucap Yoga sambil menunjuk ke arah kursi.
" Terima kasih. "
Wisnu duduk di depan Yoga.
Kemudian ia mengeluarkan berkas yang harus di tanda tangani Yoga.
" Ini berkasnya Pak, ucap Wisnu sambil menyodorkan selembar kertas yang harus ditanda tangani Yoga.
Yoga meraih berkas tersebut dan membacanya.
" Apa harus menunggu persetujuan istri saya? " tanya Yoga ketika melihat nama Zhezha yang juga harus menandatangani berkas tersebut.
" Iya Pak, seperti yang saya bilang sebelumnya. "
Huh, Yoga menghembuskan nafas panjang.
" Itu dia masalahnya, saya tidak tahu dimana keberadaan istri saya saat ini, " sahut Yoga.
Deg
Wisnu menghela nafas panjang, saat ini ia tahu keberadaan Zhezha, lalu apakah ia akan memberi tahu kepada Yoga keberadaan Zhezha?
Bersambung gens jangan lupa jejaknya ya 👍😊
__ADS_1