Menanti Jatuhnya Talak 3

Menanti Jatuhnya Talak 3
Satu Tahun


__ADS_3

Zhezha menontonnya televisi yang menyiarkan acara penghargaan yang dihadiri oleh Yoga.


Sementara Ibu Meli sedang sibuk mengupas bawang. Bu Meli memang tak terbiasa menggunakan bumbu instan. Ia memang terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri, meski dirinya dulu merupakan salah satu orang terkaya di kampung.


Zhezha yang melihat suaminya berada di layar kaca kemudian bereaksi menunjuk nunjuk ke arah televisi hingga Bu Meli yang berada di meja makan datang menghampirinya.


" Kenapa Zhe ? " tanya Bu Meli sambil melihat ke arah Zhezha.


Bu Meli pun menoleh ke arah televisi yang sedang menyiarkan siaran langsung tersebut.


" Iya Zhezha itu Yoga Nak, suami kamu," ucap Bu Meli yang juga merasa bangga dan bahagia melihat Yoga yang berdiri di atas panggung. 


Terlebih lagi ia mendengar secara langsung penuturan Yoga di depan umum jika Zhezha adalah wanita hebat yang ada di balik kesuksesan. 


Air mata Bu Meli mengalir tak terbendung. 'Meskipun ibu bukanlah ibu kandung kamu, tapi ibu bangga terhadap kamu Yoga,' batin bu Meli.


Zhezha terlihat begitu bahagia. Namun ketika di layar kaca tak lagi menampilkan Yoga, wajahnya kembali sedih.


" Sudah Zhe, sebentar lagi suami kamu juga pulang. Yuk sebaiknya kamu istirahat dulu. Kamu gak boleh tidur terlalu larut," ucap Meli ia pun menuntun Zhezha menuju kamar.


" Ayo Nak , kamu tidur saja. " Meli membantu Zhezha merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Bu Meli coba mengusap kepala Zhezha untuk membuatnya tidur sama seperti yang dilakukan oleh Yoga.


Setelah setengah jam Zhezha tak juga tidur. 


Hua..


Bu Meli sudah menguap, tapi Zhezha belum juga tidur.


Zhezha tetap diam sambil memintal tali bantal guling yang dipeluknya.


Bu Meli melirik jam dinding, hari sudah menunjuk pukul setengah sebelas malam. Tapi Zhezha masih juga belum tidur.


Bu Meli sudah tak bisa menahan kantuknya, berkali-kali ia menguap.


Kreak …tiba-tiba terdengar orang yang menekan handle pintu.


" Eh,Yoga baru pulang ?" 


" Iya Bu." 


" Kalau begitu ibu langsung ke kamar saja ya."


" Iya Bu, terima kasih telah menjaga Zhezha."


Yoga membuka tuksedo kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.


Yoga sengaja tak menyapa Zhezha, karena setelah berbaring di sampingnya Zhezha biasanya akan melarang ia untuk bergerak.


Setelah selesai dengan urusannya, Yoga naik ke atas tempat tidur menghampiri Zhezha.


" Sayang belum tidur?" pertanyaan itu setiap hari ditanyakan oleh  Yoga, dan setiap hari juga ia tak pernah mendengar jawabannya.


" Kamu menunggu mas Yoga, Ya ?"tanya Yoga pada Zhezha yang masih berbaring miring.


" Mas Yoga punya sesuatu untuk kamu," ucap Yoga sambil membalikkan tubuh Zhezha hingga ia berada di posisi terlentang.


Yoga menunjukkan piala penghargaan yang didapatkannya.


" Ini untuk kamu Sayang," ucap Yoga sambil meletakkan piala tersebut kepada di atas perut Zhezhe.


" Maaf ya mas Yoga pulang terlambat, semua karena ini," tunjuk Yoga ke arah piala tersebut.


" Sekarang kamu istirahat. Kamu gak boleh melawan rasa ngantuk dari obat kamu itu," ucap Yoga sambil mengusap kepala Zhezha.


Zhezha masih terlentang menghadap ke arah Yoga.


Tak biasanya ia menatap Yoga seperti itu. Beberapa saat keduanya saling menatap.


Yoga tersenyum ketika tangan Zhezha mulai meraba bagian wajahnya.


" Iya Sayang, ini mas Yoga. Mas Yoga mu," ucap Yoga sambil menggenggam tangan Zhezha yang menempel di pipi Zhezha.


" Mas Yoga," ucap Zhezha begitu lirih. Namun masih terdengar di telinga Yoga.

__ADS_1


" Iya ini Mas Yoga, kamu gak akan lupakan nama itu di hati kamu?"tanya Yoga, ia begitu bahagia karena setelah sekian lama, Zhezha baru bisa menyebutkan namanya.


Yoga kembali menatap Zhezha dengan tatapan berbinar.


" Katakan sekali lagi'  Mas  Yoga,' " ucap Yoga mengajarkan Zhezha


Zhezha mengikutinya.


" Mas Yoga," ucap Zhezha dengan suara yang begitu berat.


Uhuk uhuk tiba-tiba Zhezha terbatuk-batuk.


"Ayo bangun dulu. Mungkin karena kamu sudah lama tak bicara jadi tenggorokan kamu kering."


Yoga membantu Zhezha bangun kemudian disandarkannya tubuh istrinya tersebut pada headboard tempat tidur.


Yoga mengambil segelas air putih kemudian memberi Zhezha dengan minuman tersebut.


Zhezha bahkan meneguk habis air di dalam gelas itu.


Yoga mengusap kening Zhezha yang tiba-tiba berkeringat.Mungkin setelah sekian lama tak bicara, mengucapkan beberapa kata itu saja, sudah terasa berat bagi Zhezha.


Sekarang coba kamu ikuti perkataan mas Yoga.


" Mas Yoga cinta Zhezha,' ujar Yoga sambil mencium telapak tangan Zhezha yang sedari tadi ia genggam.


Zhezha mulai mengikuti kata-kata tersebut meski terbata-bata dan suaranya begitu lirih dan serak.


" Mas Yo-ga cin-ta Zhe-zhs," ucap Zhezha.


Mendengar hal itu Yoga langsung menghambur memeluk Zhezha.


" Alhamdulillah. Akhirnya kamu bisa bicara Sayang," ucap Yoga sambil memeluk Zhezha karena terlalu bahagia.


Hal yang tak diduga sama sekali terjadi lagi.


Tiba-tiba saja Yoga merasa Zhezha membalas pelukannya.


Yoga memperlebar pupil matanya ketika merasakan tangan Zhezha melingkar sepanjang pundaknya.


Yoga semakin erat memeluk istrinya tersebut. 


***


Butuh berbulan bulan bagi Zhezha untuk sembuh seratus persen. Karena proses penyembuhan Zhezha tak terjadi secara langsung.


Selain obat-obatan secara medis dan terapi agar fungsi geraknya kembali normal. Zhezha juga harus rutin  berkonsultasi dengan psikiater untuk memulihkan kondisi kejiwaannya.


Hari ini setelah setahun semua berlalu.


Yoga berada di sebuah toko perhiasan untuk mengambil  cincin berlian pesanannya. ia sengaja memesan cincin dengan bentuk yang sama ketika mereka menikah untuk pertama kalinya.


Meski Zhezha belum sembuh seratus persen, malam ini ia ingin merayakan Anniversary pernikahan mereka yang pertama.


Zhezha memang belum bisa di bawa ke restoran karena kondisi kejiwaannya yang belum stabil.


Karena itu ia memesan menu istimewa dari restoran bintang lima di kota tersebut.


Kejutan kecil dipersiapkan untuk sang istri yang selama setahun ini menjadi istrinya.


Seperti apapun keadaan Zhezha, Yoga sudah siap menerimanya. Seberapa lama pun istri sembuh ia akan tetap menunggu. Meski telah menikah satu tahun yang lalu. Namun Zhezha nyatanya sampai saat ini  masih perawan. 


Sebuah buket bunga indah yang terdiri dari beberapa jenis bunga berkelopak putih berada dalam genggaman Yoga.


Rangkaian bunga tersebut terdiri dari Lily Casablanca,bunga mawar putih dan baby breath. 


Ting tong


Yoga menekan bell karena rumahnya terkunci dari dalam.


Kreak pintu rumah pun terbuka.


" Assalamualaikum," ucap Yoga pelan.


" Waalaikum salam."

__ADS_1


" Zhezha mana Bu?"tanya Yoga sedikit berbisik.


" Ada di kamarnya." Bu Meli kemudian melihat ke arah tangan Yoga.


" Sebentar lagi akan ada petugas restoran yang akan mengantarkan makanan kemari Bu. Jadi malam ini ibu gak usah masak," ucap Yoga.


" Oh iya."


Yoga berjalan pelan-pelan menghampiri pintu, rencananya ia akan memberi kejutan pada Zhezha.


Kreak .. pintu dibuka perlahan. Yoga kaget ketika kamarnya begitu gelap, padahal Zhezha begitu takut akan gelap.


" Zhe ! " panggil Yoga sambil menyalakan saklar kamarnya.


Seketika lampu di ruangan tersebut menyala.


Yoga terdiam ketika melihat sesosok wanita yang begitu cantik sedang tersenyum ke arahnya.


Karena mengira itu hanya halusinasi, Yoga pun mengucek matanya.


Zhezha yang menggunakan gaun pesta berwarna biru dongker tersebut berjalan menghampiri Yoga yang masih terdiam menatapnya.


" Selamat sore mas Yoga," ucap Zhezha sambil mengulurkan tangannya kemudian mencium punggung tangan Yoga.


" Sayang kamu?" tanya Yoga ragu.


" Kenapa, heran ya melihat aku seperti ini ?"tanya Zhezha.


Yoga masih melongo. 


Zhezha semakin mendekat hingga berada di depan Yoga.


" Kenapa mas?" tanya Zhezha sambil tersenyum dan kemudian melingkarkan pergelangan tangan pada leher Yoga.


" Zhe kamu sudah beneran sembuh ?"tanya Yoga.


Zhezha mengangguk,"  Sebenarnya sudah hampir sebulan aku sembuh. Hanya saja aku menunggu waktu yang tepat." 


Yoga langsung menyambar pinggang ramping istrinya.


" Kenapa kamu gak bilang. Padahal mas Yoga sudah lama menanti kesembuhanmu," ucap Yoga dengan bola mata berbinar.


Zhezha menempelkan hidungnya dengan hidung Yoga.


" Karena aku ingin tahu mas seberapa besar cinta kamu terhadap aku. Agar aku gak ragu lagi," ucap Zhezha sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Yoga.


Yoga langsung meluumat bibir tersebut dengan penuh hasrat yang berbalut cinta , hampir setahun sudah ia menantikan saat ini.


Yoga semakin dalam mencium bibir Zhezha, rasanya ia sudah tak bisa menahan lagi.


Namun Zhezha mendorong tubuh Zhezha.


" Sabar Mas, sebentar lagi magrib. Kita lakukan selepas isya," ucap Zhezha sambil menarik dirinya.


" Sayang kenapa harus menunggu beberapa jam lagi," ucap Yoga dengan suara lirih. Wajahnya memerah karena menahan hasrat.


" Gak enak saja, kalau lagi asik di gangguin karena suara gedoran pintu. Kamu tenang saja malam ini aku akan jadi milik kamu sepenuhnya," tutur Zhezha dengan senyum menggoda.


" Ehm baiklah, sudah menunggu setahun aku tak keberatan, sekarang harus menunggu beberapa jam lagi mungkin aku gak akan keberatan," dengus Yoga.


" Sekarang kamu mandi, aku ingin sholat berjamaah bersama suaminku," ucap Zhezha sambil kembali mengecup bibir Yoga.


Yoga kembali menyambar bibir Zhezha dan meluumatnya dengan ganas.


" Mas sudah ah !"


" Siapa suruh mancing-mancing," ucap Yoga.


Zhezha mendorong tubuh Yoga kembali. " Tuh sudah Azan burun mandi !"Seru Zhezha.


Mau tak mau Yoga pun langsung menuju kamar mandi. Ia lupa telah membelikan buket bunga untuk sang istri. Rencananya ia akan memberi kejutan tapi justru dirinya yang mendapatkan kejutan.


Bersambung dulu ya gengs. Kalau gak ngantuk author up lagi nih, tanggung soalnya 😁😄🙏


 

__ADS_1


 


__ADS_2