
" Bagaimana para saksi, sah ?"tanya Penghulu.
" Sah," sahut para saksi.
" Alhamdulillah," ucap Yoga sambil menutup kedua tangan ke wajahnya. Yoga pun meneteskan air matanya.
Jika sebelumnya ia menikahi Zhezha hanya untuk membalaskan dendamnya. Kini ia bersungguh-sungguh menikahi Zhezha karena cinta dan tanggung jawabnya.
Yoga juga merasa bertanggung jawab atas apa terjadi pada Zhezha.
Setelah akad nikah, Yoga langsung menghampiri Pak De Jarwo yang telah menjadi wali nikah mereka.
" Terima kasih pak De, terima kasih karena telah memberikan kesempatan untuk saya. Saya janji tak akan mengecewakan pak De," ucap Yoga sambil mencium lutut pak De Jarwo.
Pak De Jarwo juga ikut meneteskan air matanya.
" Iya Yoga, jadilah suami yang bertanggung jawab, cintai dan sayangi istrimu. Ingatlah Zhezha itu anak yatim. Jika bukan kamu menaunginya lalu siapa lagi ?"
" Iya Pak De, terima kasih atas nasehatnya," ucap Yoga.
" Pak De, titipan Zhezha dan ibunya pada kamu Ga.Jika suatu saat kamu sudah tak menyukai Zhezha lagi, kamu kembalikan saja mereka baik-baik kepada saya, dan tidak perlu sampai harus menyakiti perasaan mereka. "
"Iya pak De, saya berjanji akan menjaga mereka."
Setelah sungkem pada pakde Jarwo, Yoga kembali menghampiri Ibu Meli.
" Bu, terima kasih karena telah mempercayakan Zhezha kembali pada Yoga. "
" Iya Yoga, semoga kali ini kamu tidak mengecewakan ibu. Ibu berharap kamu bisa membahagiakan Zhezha."
" Insyaallah Bu," ucap Yoga.
Mereka pun saling memeluk haru.
Setelah sungkem. Yoga menghampiri Zhezha yang mengenakan busana syar'i putih.
" Sayang, maaf mas Yoga melakukan ini tanpa persetujuan dari kamu. Tapi mas Janji tak akan mengulangi kesalahan itu lagi," ucap Yoga sambil menggenggam tangan Zhezha kemudian menciumnya. ia pun memeluk Zhezha dan menangis haru di pelukannya.
Akhirnya mereka bisa kembali bersama menjalin ikatan sebagai suami istri.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa. Selain itu pak ustadz juga memberi nasehat kepada Yoga tentang apa saja yang harus dilakukan dalam menghadapi masalah dalam rumah tangga.
" Jadi sebagai seorang suami kamu harus menjaga lidah kamu. Jangan sampai dengan mudah kamu mengucapkan kata talak. Sebaik-baiknya laki-laki adalah laki-laki yang berbuat baik terhadap istrinya," nasehat pak Ustadz.
" Iya pak Ustadz, " sahut Yoga mengangguk dengan patuh.
Setelah memberikan nasehat, pak ustadz dan pak Burhan t memutuskan untuk langsung pulang ke hotel. Merekapun diantar oleh Yoga.
Pukul sepuluh malam Yoga tiba kembali di rumahnya.
__ADS_1
Kedatangan Yoga di sambut oleh Meli yang membukakan pintu untuknya.
" Zhezha sudah tidur Bu ?"tanya Yoga.
" Belum dia ada di kamarnya, mungkin menunggu kamu, "cetus Bu Meli.
" Iya Bu, Kalau begitu Yoga masuk dulu."
" Iya Silahkan."
***
Yoga masuk ke kamarnya dan begitu kaget melihat Zhezha yang terlihat begitu cantik dengan dandanan minimalis, selain itu Zhezha menggunakan gaun tidur dari bahan satin hitam yang membuatnya terlihat seksi.
Glek... Yoga menelan salivanya, jantungnya berdetak kencang.
Ia pun dengan segera menghampiri Zhezha.
" Sayang, kamu cantik sekali. Pasti sedang menunggu mas Yoga ya?" tanya Yoga, matanya langsung melirik ke arah dua gumpalan padat yang tersembul di balik gaun hitam tipis tersebut.
Yoga menyibak rambut Zhezha hingga menampakan leher jenjangnya, kemudian ia langsung memeluk Zhezha dan menyesap aroma tubuh.
Seketika hasrat membakar geloranya. Yoga benar-benar tak lagi mampu menahan hasratnya.
Dikecupnya leher jenjang tersebut berkali-kali. Bahkan beberapa jejak kepemilikan ia tinggalkan dengan sengaja, sebagai tanda jika Zhezha kembali jadi miliknya.
Puas mengecup leher jenjang Zhezha.
Yoga meraba wajah Zhezha dengan tangan yang gemetar, saat itu dadanya bergemuruh dengan hasrat yang meminta untuk dilampiaskan.
Zhezha masih tenang, seperti biasanya dia hanya diam.
Yoga tersenyum kemudian mendaratkan kecupannya di kening Zhezha.
Tangannya merentangkan tangan Zhezha kemudian menggenggam kedua telapak tangan Zhezha.
Yoga menuruni wajah Zhezha kemudian mengecup bibir Zhezha dengan lembut.
Yoga memulai kecupanya dengan lembut.Namun kecupan tersebut semakin lama semakin liar. Lidahnya mengeksplor bagian rongga mulut Zhezha hingga napasnya memburu.
Zhezha hanya pasrah tak membalas kecupan itu sekalipun.
Sementara tangan sebelah kiri sudah melepaskan genggamannya.
Jemari Yoga mulai merayap menyusuri lekuk tubuh Zhezha dari bawah, kemudian berhenti pada dua bukit kembar yang terasa padat dan begitu kenyal.
Yoga mendessah seraya merem melek ketika tangannya merema* dengan lembut salah satu dari dua gumpalan padat milik istrinya.
Yoga terus memainkan lidahnya mengeksplor rongga mulut Zhezha.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian ia menarik tubuhnya kemudian melepaskan sebagian penutup tubuh miliknya hingga menyisakan segitiganya saja.
Yoga pun perlahan melorotkan gaun yang menutupi tubuh istrinya.
Secara perlahan tubuh Zhezha mulai terekspose sedikit demi sedikit hingga membuat dada Yoga bergemuruh.
Berkali-kali ia menelan salivanya, melihat gumpalan pada yang begitu menggemaskan tanpa penutup apapun.
Yoga coba menyesap salah satu dari bukit kembar tersebut, beberapa lama menyesap benda itu ia pun mengerang karena menahan hasratnya yang mulai memuncak.
Ia pun semakin melorotkan gaun tidur milik Zhezha hingga ke ujung kaki.
Yoga kembali terdiam melihat tubuh sintal tersebut yang sepertinya menantang untuk di jelajahi.
Jiwa lelakinya meronta-ronta, ingin menuntut pelampiasan dengan segara.
Yoga segera menyambar bibir sensual miliknya sembari memasukkan benda pusaka miliknya kedalam celah yang masih sempit itu.
" Akh !" tiba-tiba Zhezha menangis ia pun meneteskan air matanya ketika bagian inti tubuhnya terasa ngilu karena benda tersendat benda tumpul.
Dengan segera ia menarik kembali senjatanya yang belum sempat menerobos dinding suci milik istrinya.
" Sayang kenapa?" tanya Yoga.
Ketika itu Zhezha sudah berhenti menangis, mungkin sudah tak lagi sakit. Namun, sisa air mata masih menetes di pipinya.
Saat itu Yoga merasa iba melihat wajah istrinya yang terlihat pasrah. Zhezha hanya diam dengan kepala miring ke samping, seperti orang yang tak berdaya.
" Kamu merasa sakit ya?"tanya Yoga sambil menghapus air mata yang menetes di pipi Zhezha.
Kemudian Yoga menarik tubuhnya agar tak lagi berada di atas tubuh Zhezha.
" Maafkan mas Yoga ya Zhe! hiks. Mas Yoga hampir hanya melakukan pemaksaan terhadap kamu," ucap Yoga sambil mencium pipi Zhezha.
Ia pun menyesal, karena hampir saja melakukan pemerkosaan terhadap istrinya sendiri.
Yoga buru-buru memakaikan kembali pakaiannya kemudian kembali mengenakan pakaian Zhezha.
Setelah itu ia kembali memeluk Zhezha.Menciumnya dengan mesra dan penuh kasih sayang .Namun, tanpa hasrat.
Yoga mengusap kepala Zhezha dengan tatapan berembun.
" Andai saja waktu itu aku tak meninggalkanmu di malam pertama Zhe, pasti saat ini kita sudah bahagia saat ini," gumam Yoga sambil mengusap kening Zhezha.
" Tapi kamu tenang saja, Mas Yoga akan menunggu sampai waktu itu tiba kembali. Masa dimana saat itu , kamu secara sukarela menyerahkan kegadisan mu untuk mas Yoga, Zhe." Yoga berbisik lirih di telinga Zhezhe.
Sementara Zhezha tidur dengan nyenyak. Sebelumnya ia tak bisa tidur, sebelum dipeluk dan diusap kepalanya oleh Yoga. Kini semua itu sudah menjadi kebiasaan bagi Zhezha.
Yoga dengan susah payah memejamkan matanya karena menahan hasratnya yang masih bergelora.
__ADS_1
Setelah beberapa lama, menahan diri akhirnya Yoga kelelahan dan tidur dengan sendirinya.
Bersambung lagi gengs