
Suasana di ruangan sidang tersebut begitu hening. Menunggu Yoga menjawab pertanyaan dari hakim.
Sesekali Zhezha menghapus air matanya. Pertanyaan dari hakim seolah mewakili pertanyaannya.
Agar tak salah menjawab Yoga berdiskusi dulu pada Wisnu. Wisnu pun mengarahkan Yoga untuk menjawab pertanyaan dari hakim ketua.
" Tidak pak hakim! Saya bahagia hidup bersama istri saya. Hanya saja, saat itu saya khilaf, hingga mengajukan gugatan tersebut," jawab Yoga.
" Apakah anda sudah menjatuhkan talak terhadap istri anda? " tanya Hakim.
Yoga tertunduk.
" Sudah pak Hakim, " jawab Yoga singkat.
Zhezha terus menghapus air matanya. Hatinya terasa begitu sakit.
" Apakah anda benar-benar ingin bercerai istri anda? " tanya Hakim kepada Yoga lagi.
" Tidak, saya ingin rujuk dan kembali membina rumah tangga saya bersama istri saya, " sahut Yoga.
Keadaan hening sangat hening, Zhezha masih dengan kesibukannya tak melirik sedikitpun ke arah Yoga.
" Apakah anda bersungguh-sungguh ingin memperbaiki rumah tangga anda? " tanya Hakim lagi.
" Saya bersungguh-sungguh pak Hakim. "
" Baiklah saya catat point ini. "
" Baiklah, sekarang saya ingin bertanya kepada saudari tergugat. "
" Saudara Zhezha, apakah Suami anda pernah menjatuhkan talak kepada anda? " tanya hakim.
" Pernah pak, dia sudah dua kali mengucapkannya, " sahut Zhezha lirih namun masih terdengar di ruang sidang karena Zhezha bicara dengan menggunakan mikrofon.
" Saat ini suami berniat untuk rujuk dan ia menyatakan jika dirinya bersungguh-sungguh ingin membina rumah tangga bersama anda, apakah anda bersedia memberikan kesempatan kepada nya? " tanya hakim lagi.
" Tidak Yang Mulia, saya tak ingin rujuk kembali, " tutur Zhezha dengan wajah yang tertunduk.
Semua mata memandang ke arah Zhezha.
" Kenapa tidak mau rujuk ? Mungkin saja suami anda memang bersungguh-sungguh untuk memperbaiki hubungan rumah tangga bersama anda ?"tanya Hakim.
Zhezha diam selama beberapa saat. Saat itu ia berusaha menahan air matanya agar tak tumpah.
Penasehat membisikkan sesuatu di telinga Zhezha, Zhezha menyimak penuturan tersebut kemudian ia pun mengangguk lirih.
" Apakah anda pernah mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga? " tanya Hakim lagi.
" Tidak Yang Mulia, "
" Apakah suami anda tidak memberikan nafkah lahir dan nafkah batin untuk anda? " tanya hakim.
__ADS_1
Saat itu air mata Zhezha tak bisa terbendung lagi.
" Hiks hiks, iya Yang Mulia, " jawab Zhezha dengan tubuh yang sedikit berguncang.
Semua mata kembali tertuju pada Zhezha.
" Saudara Yoga, apa benar yang dikatakan saudara tergugat jika anda tidak memberikannya nafkah lahir dan nafkah batin yang semestinya di berikan ? " tanya Hakim pada Yoga.
Yoga diam beberapa saat untuk kembali mengatur kata-kata agar ia tak salah menjawab.
" Saya berikan dia sejumlah uang untuk yang di simpan di dalam rekening dan saya bebaskan dia untuk menggunakan uang tersebut, " jawab Yoga coba untuk mengkamungflase.
" Apa benar begitu saudara tergugat ? " tanya hakim lagi kepada Zhezha.
" Iya benar Yang Mulia, " sahut Zhezha
" Lalu jika dia memberi nafkah lahir, apakah suami anda juga memberikan nafkah batin pada anda dengan layak dan patut ? " tanya Hakim.
Mendengar pertanyaan tersebut Yoga langsung menoleh ke arah Zhezha.
" Hiks, hiks tidak Yang Mulia, dia tak pernah menyentuh saya sekalipun, " ucap Zhezha sambil menghapus air matanya.
Wisnu sedikit kaget mendengar hal itu, ia pun melirik ke arah Yoga.
Sementara Yoga tertunduk. Keadaan sidang cukup tenang saat itu.
" Apa benar yang dikatakan saudara tergugat? " pertanyaan tersebut tertuju kepada Yoga.
saat.
Keadaan masih hening saat itu, karena menunggu jawaban penggugat.
" Jawab saja pak Yoga, " cetus Wisnu yang sudah terbawa emosi.
" Iya pak Hakim, tapi saya menyesali. Dan saya berjanji akan memenuhi kewajiban saya sebagai suami dengan sebaik-baiknya, jika saya diberi kesempatan untuk kembali rujuk, " ucap Yoga dengan suara yang parau. Yoga pun berusaha menahan air mata penyesalannya.
" Apakah anda bersungguh-sungguh saudara penggugat ? Dan anda bersedia untuk bersumpah? " tanya Hakim.
" Saya bersungguh-sungguh, dan saya bersedia untuk di sumpah, " ucap Yoga bersungguh-sungguh.
" Baiklah, saudara tergugat. Anda dengar sendiri. Jika suami anda bersedia melaksanakan kewajibannya dengan bersungguh-sungguh, apakah anda memberi kesempatan kepadanya untuk kembali rujuk ? " tanya Hakim.
Zhezha tertunduk mendengar pertanyaan tersebut, beberapa saat ia diam. penasehat hukumnya memberi arahan terhadap Zhezha untuk menjawab pertanyaan dari hakim.
" Ada punya dua pilihan, jawab pertanyaan tersebut saat ini juga, atau jika anda masih ragu dan butuh waktu untuk berfikir, saya akan minta pada majelis hakim untuk menunda sidang ini? " tanya pak Yunus.
Zhezha menggelengkan kepalanya.
" Tidak Yang Mulia? " sahut Zhezha kepada Hakim.
Yoga langsung melirik ke arah Zhezha yang sudah berkali-kali menghapus air matanya.
__ADS_1
" Zhe! Berilah aku kesempatan Zhe, " ucap Yoga langsung tertuju pada Zhezha.
Zhezha hanya diam
" Kenapa tidak mau? Suami anda sudah berniat baik untuk memperbaiki kesalahannya?" tanya Hakim.
" Karena ...karena…. " Zhezha mengatur nafasnya.
" Karena apa? " tanya Hakim.
" Karena saya belum bisa melupakan kata-kata yang keluar dari mulutnya saat pertama kali saya menginjakkan kaki di rumahnya, Hiks hiks. "
" Kata-kata seperti apa ? " tanya Hakim.
Keadaan sekitar semakin tegang. Hanya ada suara pertanyaan dari hakim yang terdengar di ruangan tersebut.
" Dia meninggalkan saya di malam pertama kami menikah. Tak hanya itu, di hari pertama saya menjadi istri saya sudah dijatuhi talak. Dia bilang jika dia tak pernah menginginkan saya, dan dia menikahi saya hanya karena ingin membuktikan kepada kedua orang tua saya jika dia kini sudah jadi orang sukses. Dia menikahi saya hanya untuk membalaskan dendamnya terhadap perlakuan ayah terhadapnya, hiks hiks. "
Zhezha menjeda kata-katanya sambil menghapus air mata dan cairan yang mengalir di hidungnya.
Keadaan semakin hening saat itu hanya terdengar sisa isak tangis Zhezha.
" Saat itu saya coba untuk bersabar, meski talak telah dijatuhkan terhadap saya, saya tetap menunggu di rumah itu, berharap dia merubah keputusannya, meskipun saat itu saya merasa harga diri saya sudah di injak-injak. Karena ternyata dia menikahi saya hanya untuk menjadikan saya janda. Sampai saat ini, saya tidak tau apa salah saya hingga dia begitu kejam terhadap saya, hiks hiks. "
Tubuh Zhezha berguncang ia sampai menutup wajahnya karena tak mampu menahan rasa malu dan sedih.
Semua larut dalam suasana sendu, penuturan Zhezha terasa begitu menyayat hati bahkan Lilis pun ikut menangis hingga tersedu.
Tak hanya itu pak Hakim, dia meninggalkan saya selama sebulan penuh dan tak memberi kabar sedikitpun. Bahkan dia tak pernah tau keadaan saya. "
" Tanyakan saja pada saudara penggugat, apakah penggugat tahu peristiwa dimana saya hampir di perkosa, hiks. "
Yoga membelalakan matanya, begitupun Wisnu mendengar penuturan Zhezha. Yoga menelan salivanya
"Dan tanyakan juga pada beliau, dimana dia berada ketika saya menjalani operasi akibat kecelakaan yang saya alami.
Apakah dia tahu kenapa saya sampai mengalami kecelakaan tersebut? "
"Tolong tanyakan pada suami saya Yang Mulia, apa dia mengetahui keadaan saya ketika ia tinggalkan. Apakah dia mencari keberadaan saya ketika saya tidak berada dirumah, hiks hiks. "
" Saya yakin pak Hakim yang terhormat, dia pasti tak tahu jawabannya! " seru Zhezha dengan tubuh yang terguncang.
Yoga menatap ke arah Zhezha , ia pun bangkit dan menghampiri Zhezha yang masih menangis sambil menutup wajahnya.
Hiks hiks
Semua mata menatap ke arah Yoga yang berjalan menghampiri Zhezha.
Yoga langsung menghambur memeluk Zhezha yang menangis.
" Zhe, maafkan aku Zhe, hiks. Maaf beribu-ribu maaf, " ucap Yoga seraya menangis memeluk Zhezha.
__ADS_1
Bersambung gengs, lanjut gak nih?! mana dukungannya!!!