
Sebelumnya Yoga dan Wisnu bertemu di sebuah cafe.
Karena Zhezha belum menandatangani surat pernyataan pencabutan gugatan cerai, Sidang pun akan dilanjutkan pada hari senin.
Ini adalah pertama kalinya Yoga berkonsultasi bersama penasehat hukumnya.
" Saya harus mulai dari mana Pak? " tanya Yoga bingung, harus memulai darimana.
" Mulai saja dari awal, kenapa anda ingin menggugat cerai istri anda. Jika anda memang begitu mencintainya kenapa baru sebulan menikah anda sudah melayangkan gugatan cerai, " sahut Wisnu.
Yoga tertunduk beberapa saat.
" Sebenarnya saya dan Zhezha sudah merencanakan pernikahan ini enam tahun yang lalu. Kami memang saling mencintai. Meski tak pernah mendapatkan restu dari ayahnya. "
"Maklum saja, ketika itu saya dan Zhe ibarat bumi dan langit. Ayah Zhezha adalah orang paling kaya di kampung kami, sementara keluarga saya adalah salah satu keluarga miskin di kampung itu. "
"Entah kenapa saya merasa jika ayah Zhezha begitu membenci keluarga kami. Beliau sering sekali menghina ayah dan ibu saya . "
" Dan hinaan tersebut semakin jadi, ketika Pak Yanto mengetahui hubungan antara saya dan Zhezha. Namun, karena kami saling mencintai, kami tetap berjuang mempertahankan cinta kami, " tutur Yoga dengan raut wajah yang begitu sedih.
"Hinaan yang merendahkan tersebut harus saya dan ibu saya terima. Meskipun Pak Yanto selalu menghina ayah saya yang telah tiada. "
"Sebenarnya hati saya begitu sakit, ketika ia menghina ayah saya yang sudah tiada. Ia bilang jika ayah saya telah mencuri uangnya. Karena ayah saya pernah bekerja sebagai satpam di pabrik Pak Yanto. Beliau menuduh ayah saya pencuri dan pemalas. Bahkan ayah saya dipecat dengan tidak hormat karena tuduhan tersebut.. "
"Karena fitnah tersebut ayah jadi kesulitan mendapatkan pekerjaan di kampung, ia pun jadi pengangguran. Dan ibu saya yang harus menghidupi keluarga kami dengan menjadi buruh di pabrik milik ayah Zhezha. Karena tak ada yang mau menerima ayah bekerja, ayah pun memutuskan untuk merantau ke kota. Namun sayang ketika hendak berangkat ke kota bus yang digunakannya mendapatkan kecelakaan dan ayah saya meninggal. " Yoga menyerah kata-katanya.
Wisnu terus menyimak penuturan dari Yoga.
Tapi bukan itu yang membuat saya sakit hati. Semakin hari pak Yanto semakin jadi. Tapi saya dan ibu selalu saja diam.
" Itu karena kami menghargai Zhezha.Demi cinta kami aku dan Zhezha pun terus berusaha mencari cara agar pak Yanto bisa merestui pernikahan kami. Pak Yanto mengajukan syarat, jika aku ingin menikahi putrinya aku harus bisa jadi orang sukses agar pantas bersanding dengan putrinya. Aku pun menyanggupinya. Demi cinta, aku rela merantau ke kota dan meninggalkan ibu yang sedang sakit, " papar Yoga, raut wajahnya pun terlihat begitu sedih.
Wisnu terus saja menyimak tanpa menyela sedikitpun.
" Di kota saya terus berusaha sambil kuliah saya bekerja semua demi Zhezha. "
Wisnu menghela nafas panjang.
__ADS_1
" Jika memang anda mencintai Zhezha, kenapa anda mencampakkan nya ketika dia sudah jadi milik anda? " Wisnu memotong penuturan Yoga.
Yoga menarik nafas panjang.
" Karena saya kecewa terhadap Zhezha. Saya berusaha di kota untuk mengejar impian kami, sehingga harus meninggalkan ibu saya yang sedang sakit. Tapi kenyataannya, ketika ibu meninggal dunia, tak satupun dari keluarga mereka menampakkan wajahnya, meski hanya sekedar mengucapkan bela sungkawa. "
"Lebih parah lagi, ternyata sebelum ibu meninggal, ibu pernah jatuh dan pingsan di pinggir jalan. Ketika warga meminta pertolongan kepada keluarga Zhezha, mereka malah menolak dan membiarkannya hingga sekarat dan meninggal karena terlambat memberi penanganan. "
Bola mata Yoga sudah memerah. Hampir saja ia menangis saat itu.
" Sejak saat itu mulai timbul rasa dendam di hati saya. Saya tidak terima ibu saya diperlakukan tidak adil. Mereka boleh menghina saya, mencaci maki saya. Saya tetap sabar. Tapi ketika ibu saya ditelantarkan hingga harus meninggal dunia, itu yang tidak bisa saya terima. Apa salahnya menolong orang sakit. Kenapa tak ada rasa belas kasihan dari pak Yanto terhadap ibu saya. Hiks. " yoga mulai meneteskan air matanya.
Beberapa saat keadaan hening.
" Karena itulah saya menyimpan benih dendam di hati saya dan suatu saat akan membalasnya pada keluarga Zhezha.
" Saya menikahi Zhezha hanya untuk menyakiti pak Yanto. Hanya untuk menunjukkan padanya, jika saat ini saya mampu untuk menikahi putrinya seperti syarat yang ia pinta. Setelah itu saya akan mencampakkan Zhezha begitu saja, agar pak Yanto merasakan sakit hati. Merasakan terhina, "papar Yoga dengan nafas yang memburu.
" Astaghfirullah hal Adzim, maaf pak Yoga niat anda menikahi istri anda sudah salah. Pernikahan bukan ajang balas dendam. Tidakkah anda menyadari jika dendam itu akan membakar kebaikan dalam hati kita, seperti api yang membakar kayu hingga menjadi arang. "
" Iya pak anda benar. Tapi saya sudah menyadari kesalahan itu. Dan saya bersungguh-sungguh untuk memperbaiki rumah tangga saya kembali. Saya juga bersedia menerima Zhezha dan keluarganya, " tutur Yoga sambil menghapus bulir air matanya.
" Setiap orang memang pernah berbuat salah Pak, jika memang masih ada cinta di hati anda ,kini tinggal usaha anda sendiri bagaimana caranya agar bisa membujuk istri anda. Sebagai penasehat hukum saya hanya akan mendampingi anda saat persidangan nanti, " tutur Wisnu.
" Iya Pak terima kasih. Tapi maaf saya ada urusan, " ucap Yoga sambil melirik ke arah jam tangan.
" Oh silahkan, kita akan bertemu di persidangan. Nantinya istri anda juga akan didampingi seorang Jaksa sebagai mediator. "
"Hm, baiklah kalau begitu saya permisi dulu.Terima kasih atas waktunya."
" Sama-sama."
" Saya harus kembali menemui istri saya kembali dan berusaha untuk membujuknya, "ucap Yoga.
" Ehm silakan Pak, " sahut Wisnu.
Wisnu kembali menatap kepergian Yoga sambil menghela nafas panjang.
__ADS_1
Sementara Yoga, ia langsung meluncur menuju tempat Zhezha bekerja.
Pukul lima sore, Yoga pun tiba di samping ruko mbak Yuli. Saat itu Yoga bermaksud ingin menghampiri Zhezha kembali dan membujuknya.
Dari dalam mobil, Yoga melihat dua orang gadis yang ditemuinya tadi siang.
Yoga tetap menunggu di dalam mobil. Setelah setengah jam menunggu. Zhezha belum juga keluar.
Karena sudah tak sabar, Yoga pun menyusul masuk ke dalam ruko mbak Yuli.
Saat itu mbak Yuli yang berjaga di meja kasir.
" Permisi mbak," sapa Yoga.
" Iya ada apa ya? " tanya Yuli pura-pura tidak tahu.
" Zhezha ada mbak? " tanya Yoga.
" Ehm maaf ya Mas, Zhezha sudah pulang. Tadi Zhezha sempat pingsan. Jadi saya antar saja dia pulang. "
" Pingsan? " tanya Yoga khawatir.
" Kalau begitu dimana Zhezha tinggal saat ini mbak, saya harus tau. "
" Maaf Mas, atas perintah Zhezha saya dilarang memberi tahu alamat tempat tinggal Zhezha saat ini, " lapar Yuli.
Mendengar hal itu Yoga kaget.
" Tapi mbak saya ini suaminya. Dan saya berhak tau dimana istri saya berada apalagi istri saya sedang sakit! "Seru Yoga bernada emosi.
" Iya Mas, tapi itu amanah dari Zhezha. Dan saya harus tetap merahasiakan keberadaan Zhezha, karena ia yang memintanya, " ucap mbak Yuli dengan tegas.
Yoga membelakan matanya. Ia begitu kesal sekali.
Karena tak berhasil mendapatkan informasi dimana Zhezha, Yoga pun kembali pulang dengan perasaan khawatir dan dongkol.
__ADS_1
Bersambung dulu gengs,