Menanti Jatuhnya Talak 3

Menanti Jatuhnya Talak 3
Respon


__ADS_3

Setelah mengantar sang istri pulang, Yoga kembali ke kantornya.


Kedatangannya langsung disambut bahagia oleh Siska.


" Selamat siang pak Yoga," ucap Ramona dan Siksa secara berbarengan.


" Selamat siang. Siska bawa berkas PT profit yang harus saya periksa." 


" Siap pak." Siska langsung memasang aksinya berjalan berlenggak-lenggok menghampiri meja Yoga .


Yoga mulai membuka laptopnya ketika Siska datang Yoga justru tengah sibuk mengamati rancangan proyeknya.


" Ini Pak berkas-berkasnya, " ucap Siska sambil meletakkan beberapa map dengan warna yang berbeda.


Siska menunggu Yoga melihat ke arahnya.


" Letakkan saja di situ Siska, nanti saya periksa," usir Yoga secara tak langsung.


' Uh, jangankan di perhatikan di lirik juga enggak,' batin Siska sambil menyodorkan berkas tersebut.


Sementara Yoga masih sibuk mengkutak Katik laptopnya.


Siska pun membalikan tubuhnya kemudian berjalan menjauhi Yoga.


Ramona yang mengintip ikut tersenyum melihat Siska yang keluar dari ruangan dengan raut wajah kecewa.


" Walau bedakmu bedak bedaki, walau bibirmu kau merah-merahi aku tak perduli." Ramona menyanyikan lagu dangdut yang biasa dinyanyikan di kondangan untuk menyindir Siska.


" Diam loh! " Sahut Siska ketus.


" Ha ha, eh Sis Lo kalau mau godain pak Yoga, kenapa gak waktu dia bujang saja. Kenapa baru sekarang ?" tanya Ramona sambil mencibir.


" Kalau dulu gak berani lah." 


" Emang sekarang kenapa kamu jadi berani ?" tanya Ramona.


" Ya beranilah, setelah melihat istri pak Yoga, aku jadi yakin jika aku lebih pantas mendampingi pak Yoga.Istrinya cacat mental gitu, wajar saja kalau pak Yoga mengajukan gugatan cerai," cetus Siska.


Tengah asik berbincang mereka melihat wanita cantik yang sejak dari kemarin mencari Yoga.


" Selamat siang mbak, mau cari siapa?" tanya Ramona coba untuk ramah. Sebenarnya Yoga sudah meminta dua asisten melarang Reinata untuk mengganggunya.


" Pak Yoga adakan? Saya sudah melihat mobilnya di bawah." Reinata langsung menuju ruangan Yoga, tanpa memberi kesempatan kedua asistennya untuk melarang.


Reinata masuk ke dalam ruangan Yoga tanpa permisi.


Yoga sempat melirik ke arah datangnya Reinata.


Wanita cantik yang seusia dengan Yoga itu pun langsung mendaratkan bokongnya di atas kursi yang ada tepat di depan Yoga.


Sementara Yoga masih menyibukkan diri dengan setumpuk berkas dan laptopnya yang masih menyala.


" Aku mau menikah Ga," ucap Reinata sambil mengamati Yoga yang tak pernah peduli terhadapnya.


Reinata pun menyodorkan sebuah undangan.


" Baguslah kalau begitu,selamat ya," ucap Yoga sambil membolak-balik berkas yang ada di tangannya.


Reinata semakin kesal melihat Yoga yang tetap saja acu.


" Ga, bisa gak sih untuk yang terakhir kalinya kita bicara empat mata ?" tanya Reinata.

__ADS_1


" Loh ini sudah bicara empat mata.Katakan saja apa maumu," ucap Yoga tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.


Reinata berdiri menghampiri Yoga kemudian bicara sedikit berbisik di telinga Yoga 


" Ga, aku akan menikahi, tapi aku tak mencintainya. Aku hanya mencintaimu. Dan aku ingin melakukan pertama kalinya bersamamu," bisik Reinata mesra, ia pun coba menggoda Yoga dengan memeluknya dari belakang.


" Rei, jangan macam-macam. Aku tak mau berbuat khianat. Lakukan saja pada suami mu. Cinta akan datang setelah menikah," ucap Yoga sambil menepis tangan Reinata yang coba memeluknya.


" Aku sibuk Rei, tolong jangan ganggu aku," dengus Yoga.


Yoga memang sibuk di keseharian, setelah Zhezha sakit ia semakin sibuk lagi. Yoga saat ini bekerja sambil berkejar-kejaran dengan waktu.


Sore nanti ia harus ke dokter spesialis saraf karena trauma kepala yang dialami oleh Zhezha.


Belum lagi seminggu sekali harus membawa istrinya terapi dan berkonsultasi bersama psikiater. 


" Reinata menatap sinis ke arah Yoga. Nanti kamu juga akan menyesal karena mengabaikan aku Ga," ucap Reinata dengan sinis.


Langsung saja ia keluar dari ruangan Yoga dengan hati yang dongkol. Ramona tersenyum melihat Reinata yang berjalan melewatinya.


" Hey lihat saingan lo tuh," cetus Ramona menunjuk Reinata dengan bibirnya.


" Ehm, cantikan juga gue," cetus Siska.


Setelah kedatangan Reinata, seorang wanita juga datang menghampiri Siska dan juga Ramona.


" Wah jangan-jangan bibir pelakor lagi nih, " ucap Ramona.


" Halo selamat siang," ucap wanita itu. 


" Selamat siang," sahut Siska dengan sedikit ketus karena mereka mengira wanita itu akan menemui Yoga.


" Ada apa ya mbak ?"tanya Siska.


" Undangan apa ya mbak ?"


" Saya dari humas ikatan pengusaha muda Indonesia, Pak Yoga terpilih sebagai salah nominasi pengusaha muda tersukses di tahun 2022."


" Oh, terima kasih," ucap Siska.


" Kalau begitu saya permisi mbak," ucap Wanita cantik itu.


" Iya silahkan."


Siska segera melihat undangan tersebut.


" Woi Mon, undangannya dua Minggu lagi. Pasti gua yang di ajak oleh pak Yoga untuk menemaninya," cetus Siska sambil mengipas-ngipas undangan tersebut.


" Yakin banget sih loh! "


" Yakinlah, gak mungkinkan pak Yoga membawa istrinya yang cacat mental itu ."


' Pokoknya gue harus bisa merebut hati pak Yoga sebelum acara tersebut terjadi."


Siska kembali masuk ke ruangan Yoga untuk mengantar undangan.Beberapa Saat kemudian ia kembali dengan senyum kecil di sudut bibirnya.


***


Hari ini Yoga membawa Zhezha ke dokter spesialis syaraf. 


Setelah diperiksa, Yoga kini berhadapan dengan dokter ahli syaraf.

__ADS_1


" Bagaimana Dokter keadaan istri saya , psikiater yang kami datangi menyarankan agar istri saya juga dibawa ke spesialis saraf."


" Benar pak, selain trauma bagian kepala, stress dan depresi yang dialami oleh istri anda juga bisa jadi penyebab kerusakan syaraf di otaknya sehingga menyebabkan pasien kesulitan berkomunikasi. Saat ini untuk sementara saya berikan obat dan vitamin untuk saraf untuk pasien kita lihat reaksinya dalam seminggu ini, " ucap dokter tersebut.


" Baiklah Dok Terima kasih," ucap Yoga.


Zhezha sudah dua kali terapi dan konsultasi ke dokter kejiwaan. Dan belum menunjukkan hasil  sama sekali. Karena cedera kepalanya dokter kejiwaan juga  menyarankan untuk memeriksa ke dokter ahli syaraf. 


Setelah memeriksa ke dokter, mereka membawa pulang Zhezha.


Yoga terus berikhtiar mencari jalan alternatif untuk kesembuhan istrinya 


***


Beberapa hari kemudian.


Yoga begitu sibuk dengan pekerjaannya. Pekerjaan sudah tak dapat ditunda dan menuntutnya selalu pulang terlambat karena harus bolak-balik dari kantor ke lokasi proyek. 


Sudah tiga hari setelah Zhezha di bawa ke dokter spesialis syaraf.


Yoga tiba di rumah ketika hari menunjukkan pukul sembilan malam.


" Bu bagaimana keadaan Zhezha, maaf beberapa hari ini Yoga selalu terlambat pulang karena harus bolak-balik ke luar kota, " ucap Yoga.


" Iya gak apa Ga." 


" Zhezha sudah tidur Bu ?" tanya Yoga.


" Tadi ibu lihat dia belum tidur Ga," sahut Bu Meli sambil menuju dapur untuk membuatkan minuman menantunya.


" Oh kalau begitu Yoga langsung ke kamar ya Bu. "


Yoga langsung menuju kamarnya, kemudian ia menghampiri Zhezha yang tidur miring ke kiri di atas tempat tidur.


Yoga melepaskan blazernya kemudian ia naik ke atas tempat tidur.


" Sayang belum tidur? " tanya Yoga sambil mengusap kepala Zhezha.


Zhezha hanya diam seperti biasanya.


" Maaf ya. Beberapa hari ini mas Yoga pulang terlambat. Tapi ini hari terakhir kok, kerjaannya sudah mas Yoga beresin agar bisa menemani kamu konsultasi besok " ucap Yoga sambil mencium pipi Zhezha.


" Kamu gak marahkan ? Mas Yoga lakukan ini untuk masa depan kita juga, untuk anak-anak kita nantinya. Mas Yoga ingin anak-anak kita punya kehidupan yang lebih baik dan pendidikan yang tinggi, dan semua itu masih harus diperjuangkan," ucap Yoga sambil mencium lekat pipi Zhezha kembali.


" Kamu tunggu sebentar Ya, mas Yoga mandi dulu," ucap Yoga sambil bangkit. Namun Yoga kembali melirik ke arah Zhezha. 


Karena Zhezha menarik tangannya yang hendak pergi. " Sayang kamu melarang mas Yoga pergi?" tanya Yoga. 


Zhezha tak menjawab, ia hanya memeluk tangan Yoga seolah mencegahnya untuk pergi.


Betapa senangnya hati Yoga, setelah sekian lama, baru kali ini Zhezha mulai merespon meski ia tak bicara.


" Iya Sayang. Mas Yoga gak akan pergi," ucap Yoga yang kembali memeluk Zhezha kembali, kemudian ia mengusap kepala Zhezha sampai Zhezha tertidur.


' Alhamdulillah akhirnya pengobatan Zhezha, sudah menunjukkan hasil,' batin Yoga.


" Cepat sembuh Sayang," ucap Yoga sambil mengusap kepala Zhezha hingga ia terlelap.


Setelah Zhezha tidur dengan nyenyak dan melepaskan pelukan tangan Yoga, barulah Yoga turun dari tempat tidur kemudian menuju kamar mandi.


Berada di outdoor seharian membuatnya merasa gerah.

__ADS_1


Bersambung dulu gengs.


__ADS_2