Menanti Jatuhnya Talak 3

Menanti Jatuhnya Talak 3
Ada Apa


__ADS_3

" Ibu !"tangis Zhezha terdengar hingga ke kamar Yoga.


" Bu sadar, Bu !" Seru Zhezha sambil menepuk-nepuk pipi Meli dengan pelan.


" Hiks jangan tinggalkan Zhezha Bu, Zhezha tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," tangis Zhezha yang terdengar khawatir.


Buk ..pintu langsung di buka oleh Yoga.


" Zhe, ibu kenapa Zhe?" tanya Yoga.


" Ibu sesak napas Mas, tolong ambilkan air minum untuk ibu Mas," pinta Zhezha sambil terus berusaha membuat Meli tersadar.


Yoga langsung berlari ke dapur beberapa saat kemudian ia kembali lagi ke kamar dan melihat Meli sudah tersadar.


Meli dan Zhezha saling memeluk, air mata tumpah ketika melihat wajah Zhezha.


Yoga menghampiri Meli. Ia pun langsung berlutut di hadapan Meli.


" Bu ,maafkan Yoga Bu karena telah menyia-nyiakan Zhezha, hiks ," tangis Yoga sambil memeluk kaki Ibu Meli.


" Hiks, kenapa kamu tega melakukan hal itu pada Zhezha, Yoga. Tidaklah kamu tahu bagaimana pengorbanan Zhezha dalam menunggu kamu," ucap Meli dengan terbata-bata.


" Jika kamu tak mencintainya dan tak menginginkannya, kenapa kamu harus datang!" 


" Ternyata benar apa yang dikhawatirkan oleh ayah kamu Zhe. Kamu pasti akan di sia-siakan Yoga, itulah kenapa ayahmu begitu menentang hubungan kalian hiks," sesal Meli.


" Bukan begitu Bu. Yoga begitu, karena ada alasannya. Yoga sakit hati atas perlakuan ayah. Ketika ibu saya sakit dan pingsan di tepi jalan, ada tetangga yang meminta bantuan kepada ayah untuk membawanya ke rumah sakit, ayah tak mau menolong membawa ibuku ke rumah sakit, padahal keadaan ibu begitu mengkhawatirkan. Karena terlambat mendapatkan pertolongan ibu sampai meninggal sebelum tiba di rumah sakit." 


" Saya tahu hidup mati di tangan Tuhan Yang Maha kuasa.Namun, saya heran kenapa ayah begitu kejam kepada ibu saya, hingga saat yang genting sekalipun, ia enggan untuk menolong. Apa salahnya jika ayah menolong hiks, tentunya tak akan jadi penyesalan ." Yoga pun menangis pilu.


" Apa salah ibu saya hiks , sehingga ketika beliau meninggal tak satupun dari kalian yang hadir hiks. Bahkan sampai seminggu tahlilan, jangankan mengucapkan bela sungkawa, menampakkan batang hidung pun tidak. Hiks hiks."


" Apa salah ibu saya hingga kalian begitu membencinya," tutur Yoga sambil menangis tergugu.


Zhezha menghapus air matanya.


" Apakah itu Mas, yang membuatmu begitu dendam?" tanya Zhezha. 


" Iya Zhe. Aku ,merasa sakit sesakit sakitnya. Aku dan keluargaku sudah sering mendapatkan Hinaan, tapi aku tak pernah sakit sesakit itu. Namun ketika itu menyangkut nyawa ibu ku, aku tak bisa terima, hiks ." 


Mendengar hal itu , Zhezha langsung menyahut.


" Kalau begitu, aku minta maaf Mas sekali lagi atas nama ayah. Tapi asal kamu tahu, ketika ibu meninggal aku dan ibuku tak berada di kampung. Aku berada di rumah Bude karena aku ingin mendaftar kuliah. " 


" Kami baru kembali setelah tujuh hari ibumu meninggal. Kami pulang juga karena mendengar ayah ku sakit. Ayah terkena kanker paru-paru. Aku pun membatalkan kuliah karena kami membawa ayah ke luar negeri untuk berobat," papar Zhezha panjang lebar.

__ADS_1


" Hiks, Yoga seandainya kami tau ibumu meninggalkan gak mungkin kami gak datang melayat. Apalagi Zhezha, bukannya ibu mengungkit, tapi ketika Zhezha berada di kampung, setiap hari ia datang menjenguk ibu kamu. Diam diam ia membawa makanan untuk ibu kamu Yoga," papar Meli.


Mendengar hal itu Yoga segera menatap ke arah Meli dan Zhezha.


" Benarkah? Jika begitu maafkan saya Bu. saya menyesal sekali," pinta Yoga dengan memohon. 


" Maafkan aku Zhe," ucap Yoga sambil berjalan menghampiri Zhezha.


Masih dalam keadaan berlutut Yoga memeluk Zhezha. 


" Maafkan aku Zhe, jika selama ini aku telah salah menduga," ucap Yoga sambil memeluk pinggang Yoga.


" Iya Mas, aku sudah bilang, jika aku sudah memaafkan kamu," ucap Zhezha sambil menghapus air matanya.


" Jika begitu kembali lah pada ku, Zhe. Aku berjanji tak akan menyakiti kamu lagi," bujuk Yoga.


Zhezha membuang wajahnya.


" Aku sudah memaafkan kamu mas, seperti kamu memaafkan kesalahan ayah ku. Tapi maaf beribu maaf, aku gak bisa kembali bersama kamu, " ucap Zhezha.


" Tapi kenapa Zhe?" tanya Yoga sambil menatap wajah Zhezha.


" Entahlah Mas, hatiku masih terasa sakit. Luka itu masih terasa perih. Setiap melihat kamu, rasa itu kembali menyiksa ku. Jika sudah begitu aku yakin kita juga gak akan bahagia menjalani kehidupan selanjutnya," papar Zhezha.


" Iya Zhe, aku tahu. Tapi setidaknya kamu berikan kesempatan untuk aku berubah. Biarkan aku yang mengobati luka hati kamu Zhe," ucap Yoga.


" Aku sudah tak percaya cinta Mas, cinta hanya memberikan rasa sakit, membuat ku berkhayal terlalu tinggi, hingga saat rasa itu tak kesampaian aku merasa seperti di hempasan dari tempat tertinggi. Saat ini aku masih trauma. Aku masih ingin sendiri," papar Zhe sambil menghapus sisa air matanya.


" Zhe, sekali saja. Berilah aku kesempatan sekali lagi," pinta Yoga dengan sedikit memohon.


Namun Zhezha tetap membuang wajahnya.


Melihat Zhezha yang bergeming. Yoga pun menghampiri Meli.


" Bu, tolong bujuk Zhezha, tolong bujuk Zhezha agar mau kembali bersama Yoga," pinta Yoga sambil mencium punggung tangan Meli.


" Ibu gak tau Ga, Ibu serahkan semua pada Zhezha, meskipun ibu ini ibu kandungnya, tetap saja ibu gak bisa merasakan apa yang sudah Zhezha rasakan. "


" Mungkin Zhezha merasa kecewa, mungkin ia kecewa terhadap pilihannya sendiri. Biarlah waktu yang menjawabnya. Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua," Imbuhnya.


Mendengar hal itu, Zhezha pun bangkit kemudian berlalu meninggalkan Yoga dan Meli.


Sementara Yoga hanya menatap kepergian Zhezha yang berlalu di hadapannya tanpa sepatah katapun.


***

__ADS_1


Keesokan harinya. Yoga mengepak barang-barangnya.


Sebelum pulang Yoga menghampiri Zhezha dan Meli.


" Bu, Aku harus pulang sekarang. Aku titip Zhezha untuk sementara di rumah ini," ucap Yoga sambil mencium punggung tangan Meli.


" Iya Ga, hati-hati di jalan. "


Yoga menghampiri Zhezha yang hanya melamun tatapannya terlihat hampa.


" Zhe, mas Yoga pulang. Mas harap kamu bisa pikirkan kan kembali. Mas gak mau rumah tangga kita hancur Zhe," ucap Yoga sambil memeluk Zhezha.


Zhezha tetap bergeming bahkan ketika Yoga menciumnya tak sedikit pun ia bereaksi.


Hanya ada bulir bening yang menetes di pipi Zhezha.


Yoga melihat ke arah jari manis Zhezha, tak ada satupun cincin yang yang melingkar di jarinya.


Namun ia tak mau mengungkit hal itu. Yoga meraih kalung dengan liontin inisial nama mereka.


" Zhe, kamu ingat ini ?" tanya Yoga tapi Zhezha tak melihat sama sekali ke arah liontin itu.


" Ini mas Yoga ganti kalung kamu Zhe, kalung yang pernah mas Yoga janjikan," tutur Yoga sambil mengalungkan kalung tersebut di leher Zhezha.


" Zhe, mas Yoga cinta dan sayang sama kamu. Beberapa hari lagi mas akan kembali," ucap Yoga sambil mencium lekat kening Zhezha.


Zhezha tetap bergeming, hanya bulir bening menetes di pipinya.


" Yoga kembali berlutut. Mas Yoga pergi dulu Zhe," ucap Yoga sambil mencium punggung tangan Zhezha. 


Sebelum pergi, Yoga sempat mengecup bibir Zhezha berkali-kali tetap saja Zhezha tak merespon. 


Kemudian Yoga pergi setelah ijin kepada ibu mertuanya.


Mobil Yoga meluncur meninggalkan halaman rumah Zhezha.


" Zhe, kenapa kamu gak ikut Yoga Zhe ?" tanya Meli pada Zhezha.


Namun Zhezha tak menjawab.


" Zhe, kamu dengan pertanyaan ibukan Zhe ?" tanya Meli sambil melirik ke arah Zhezha. 


Zhezha tetap tak bergeming tatapan terlihat hampa.


" Zhe, " panggil Bu Meli sambil melambaikan tangan ke arah wajah Zhezha. Namun Zhezha juga tak bergerak tatapan tetap kosong seperti orang yang terhipnotis.

__ADS_1


" Zhe! Kamu kenapa Zhe?" tanya Meli sambil menangis memeluk Zhezha.


Bersambung gengs .   


__ADS_2