
" Zhe!" seru Yoga berkali-kali. Namun tetap saja Zhezha tak mengindahkan panggilan tersebut.
Zhezha terus berjalan menuju seberang jalan.
Yoga menatap kepergian Zhezha yang semakin menjauh darinya.
Dilihatnya kembali kalung liontin yang menyatukan inisial nama mereka dalam bulatan sempurna.
" Aku gak akan menyerah sampai kapan pun Zhe. Aku sadar aku salah, tapi aku akan tebus kesalahan ku. Aku gak pernah rela jika kamu jadi milik orang lain. Sampai kapan pun kamu akan tetap jadi milikmu Zhe," guman Yoga sambil menggenggam liontin kalung tersebut.
Yoga menuju parkiran mobilnya, kepergiannya meninggalkan rasa penasaran pada pengunjung warung kopi tersebut. Mereka pun memperhatikan Yoga yang tak nyelonong begitu saja.
ketika sampai di parkiran Yoga menatap Zhezha yang menyebrang jalan.
' Tak apa Zhe, aku tahu kamu butuh waktu, Aku akan menunggu kamu sampai kapan pun Zhe, ' batin Yoga.
"Setidaknya aku sekarang tahu dimana harus mencari kamu, " ucap Yoga.
Ketika Zhezha sudah sampai di seberang jalan, Yoga baru membuka pintu mobilnya.
Ia langsung meluncur meninggalkan tempat tersebut.
***
Sambil berjalan Zhezha masih saja menghapus air matanya yang tak henti-hentinya menetes.
Zhezha melangkah cepat menuju teras tokonya.
Ketiga orang tersebut melihat Zhezha kembali masuk ke bilik tempatnya menyetrika.
Zhezha kembali menyetrika melanjutkan pekerjaannya. Ia berharap bisa, melupakan hal yang baru saja terjadi.
Dadanya terasa sesak, karena kedatangan Yoga tak hanya menawarinya cinta yang pernah ia impikan sebelumnya, tapi juga luka yang membuatnya trauma.
Sambil menyetrika Zhezha menghapus sisa-sisa airmatanya.
Meskipun dihapus tetap saja air mata tersebut terus saja menetes dan kembali membasahi pipinya..
Zhezha mengulum bibirnya agar ia tak menjerit dan meraung-raung. Menahan sakit di hatinya.
Pergi sakit bertahan pun sulit mungkin seperti itulah keadaan Zhezha saat ini
Mbak Yuli mengintip Zhezha, ada rasa iba di hatinya pada gadis itu.
" Zhe! " tegur mbak Yuli.
Zhe langsung menoleh ke arah mbak Yuli yang menatapnya dengan sedih.
Zhezha buru- buru menghapus air matanya.
" Iya mbak ada apa? " tanya Zhezha yang mencoba bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
__ADS_1
Mbak Yuli menghampiri Zhezha.
" Zhe, kalau kamu butuh waktu untuk istirahat pulang lah. Biar mbak yang antar kamu , " tawar mbak Yuli karena merasa kasihan pada Zhezha.
Zhezha membersihkan cairan yang meleleh di hidungnya.
" Gak kok mbak, saya baik-baik saja, " jawab Zhezha sambil terus melanjutkan pekerjaannya.
" Ya sudah. Mbak gak maksa Zhe. Mbak tau kamu pasti butuh waktu untuk sendiri, kalau kamu ingin menangis, menangislah Zhe. Dan kalaupun kamu butuh teman curhat, mbak Yuli bersedia menjadi pendengar setia kamu Zhe. "
" Iya Mbak. Terima Kasih tapi untuk sementara aku butuh waktu sendiri saja. Biar saja aku tetap bekerja. Jika pulang dan mengurung diri di dalam kamar, gak ada gunanya juga semua sudah terjadi, " sahut Zhezha dengan tabah.
" Ya sudah, terserah kamu Zhe. Mbak tinggal ya. "
Zhezha mengangguk ke arah mbak Yuli.
***
Wisnu berada di kantornya, sedang memeriksa berkas-berkas yang ada meja kerjanya.
' Bagaimana dengan pertemuan mereka ya? ' batin Wisnu.
Wisnu meletakkan kembali berkas yang sudah di pegangnya tersebut.
Hari ini dirinya benar-benar tak berkonsentrasi dalam bekerja.
" Apa aku telepon pak Yoga saja ya, menanyakan bagaimana keputusan Zhezha, " gumam Wisnu.
" Tapi aku juga harus tahu, karena aku saat ini aku kan penasehat hukum dari pak Yoga, " imbuhnya lagi.
Wisnu kembali diam selama beberapa saat.
" Huh, rasanya sulit membedakan mana urusan pribadi dan pekerjaan,jika urusan pribadi dan pekerjaan sama-sama berjalan beriringan," dengusnya.
' Kerja jangan bawa perasaan Nu! Nanti jadinya berlaku zalim pada satu pihak , ingat loh posisi kamu di sini itu pengacaranya Yoga. Dan kamu harus membantu Yoga untuk rujuk pada istrinya, ' suara batin Wisnu tersebut seperti mengingatkannya.
Dengan keyakinannya Wisnu coba untuk menelpon Yoga. Diraihnya handphonenya kemudian Wisnu segera menghubungi Yoga.
" Halo pak Yoga, selamat siang, " sapa Wisnu.
" Selamat siang Pak, " sahut Yoga.
" Saya ingin menanyakan perihal tentang pencabutan gugatan cerai anda, bagaimana hasilnya Pak? " tanya Wisnu yang saat ini lebih memilih bertindak secara profesional.
" Istri saya belum bisa diajak bicara mengenai masalah itu Pak, " sahut Yoga di sambungan teleponnya.
Wisnu melirik ke arah arlojinya.
" Ehm, ini sudah pukul dua Pak, saya rasa sudah tak keburu untuk mengajukan pencabutan gugatan bapak ke pengadilan agama. "
" Lalu apa langkah selanjutnya Pak? " tanya Yoga.
__ADS_1
Wisnu memainkan bolpoinnya. ia menjaga agar hatinya tak melenceng dari kebenaran. Wisnu memang terlanjur jatuh cinta pada Zhezha, ia takut perasaan tersebut membuatnya bersikap tak adil pada Yoga karena Wisnu bisa saja jadi pebinor jika ia tak menguatkan hatinya untuk selalu berada di jalan yang benar.
Wisnu menghela napas dalam-dalam, untuk semakin memantapkan hatinya.
" Begini saja Pak, sidang senin besok adalah sidang mediasi pertama. Saya sarankan bapak punya alasan kuat untuk mempertahankan rumah tangga bapak. Untuk itu sebaiknya bapak berkonsultasi dengan saya terlebih dahulu dalam masalah ini. Dan insyaallah saya akan membantu bapak sesuai dengan kapasitas saya sebagai pengacara, " ucap Wisnu.
Mendengar hal tersebut Yoga menjadi senang karena akan ada orang yang membantunya dalam mengatasi masalahnya tersebut.
" Oke Pak Wisnu, kapan kita bisa bicara dari hati ke hati? " tanya Yoga dengan penuh semangat.
" Nanti sore bisa Pak. Atau besok malam juga bisa Pak, " sahut Wisnu.
" Bagaimana jika nanti sore saja Pak, " sahut Yoga dengan segera.
" Oke baiklah. Kita janjian di tempat kemarin saja, " usul Wisnu.
" Baik Pak saya setuju, " sahut Yoga.
Wisnu meletakkan handphonenya. Kemudian melemparkan ballpoint yang sejak tadi di putarnya.
Kemudian ia menghela nafas panjang dan bersandar pada kursi kebesarannya.
Wisnu merasa lega karena kata-kata yang diucapkannya tak goyah. Meskipun hatinya dilanda gunda gulana. Apa yang ia katakan pada Yoga barusan memang harus dikatakannya.
***
Pukul empat sore Wisnu sudah mendapatkan telepon dari Yoga yang ternyata sudah menunggu kehadirannya di cafe tempat pertama mereka bertemu.
Beberapa saat kemudian Wisnu tiba di lokasi tersebut. Ia langsung menghampiri Yoga.
"Selamat sore Pak Yoga, "Wisnu menyodorkan tangannya.
" Selamat sore Pak Wisnu, mari silahkan duduk, " ucap Yoga.
Keduanya mendaratkan bokong secara bersamaan.
" Pak Wisnu silahkan pesan minumannya. "
" Iya Pak terima kasih. "
Untuk lebih rileks, Wisnu memesan cappucino ice.
" Baiklah Pak, tanpa membuang banyak waktu kita mulai saja konsultasinya, " ucap Wisnu sambil menarik nafas panjang.
" Saya harus mulai dari mana Pak? " tanya Yoga bingung, harus memulai darimana.
Menceritakan kisah yang membuatnya menjadi begitu dendam, hingga melampiaskan dendam tersebut pada Zhezha dan keluarganya Atau menceritakan kisah cintanya yang teramat manis bersama Zhezha.
" Mulai saja dari awal, kenapa anda ingin menggugat cerai istri anda. Jika anda begitu mencintainya kenapa baru sebulan menikah anda sudah melayangkan gugatan cerai, " sahut Wisnu.
Bersambung dulu gengs insya Allah satu bab lagi ya, moga gak nyangkut di rivew editor .
__ADS_1