Menanti Jatuhnya Talak 3

Menanti Jatuhnya Talak 3
Dilabrak


__ADS_3

"Maaf ya Vik, bukannya aku gak mau bantu kamu,tapi dalam dua bulan kedepan aku sibuk mengurusi pernikahan ku." 


" Menikah? Kamu mau nikah, Nu ?" tanya Vika bernada kecewa.


" Iya Vik. Lagi pula aku gak enak sama orang tua dan calon istri ku, jika aku yang mengurus sidang perceraian mu."


Vika terdiam melihat Wisnu yang bersikap datar terhadapnya. Padahal dulu Wisnu selalu hangat terhadapnya.


" Maaf Vik, ada dua rekan ku di dalam dan mereka pengacara profesional. Semoga mereka dapat membantumu," ucap Wisnu seraya membuka pintu mobil.


" Nu," panggil Vika lirih.


Namun Wisnu terus berlalu meninggalkan halaman parkir tersebut.


Vika menatap sedih ke arah Wisnu yang berlalu begitu saja darinya.


Bulir bening menetes di pipinya.


' Andai saja waktu bisa ku putar Nu, seandainya aku gak bersikap egois mungkin saat ini aku sudah hidup bahagia bersama kamu,' batin Vika sambil menghapus bulir bening yang menetes di pipinya.


***


Tok tok tok


Lilis terbangun akibat gedoran pintu rumahnya.


Segera saja ia bangkit dan membersihkan dirinya ala kadarnya.


Tok tok tok…


Gedoran pintu semakin nyaring dan sepertinya tak akan berhenti sebelum tuan rumah membuka pintu.


Lilis semakin mempercepat langkahnya.


Kreak... pintu terbuka dan tampaklah seorang wanita paruh baya dengan wajah merah padam.


" Oh ini simpan Mas Rudi?!"


Lilis kaget mendengar ucapan wanita tersebut.


" Dasar ******! Jadi kau yang selama ini menghabiskan uang suami ku ! " Cecar wanita itu itu sambil menarik rambut Lilis.


" Akh sakit! Apa-apaan ini ! Kau siapa?!" tanya Lilis sambil meronta melepaskan cengkraman tangan wanita itu.


" Aku istri sah nya mas Rudi. Dan perusahaan yang ia jalankan itu adalah perusahaan keluarga ku ! Beraninya ia berkhianat dengan menyimpan wanita ****** sepertimu !" Cecarnya kembali.


" Akh ! Lepaskan! Aku bukan perempuan murahan! Aku dan om Rudi menikah secara siri !" Lilis mendorong wanita itu hingga tersungkur.


Kini giliran Lilis yang menjambak rambut wanita tersebut.


" Beraninya kau datang kerumahku untuk melabrak ku !" Cecar Lilis balik.


Perempuan itu berusaha meronta-ronta melepaskan genggaman tangan Lilis.


Pagi itu para tetangga berdatangan menuju rumah Lilis.


Melihat kegaduhan yang terjadi di depan rumah Lilis ibu-ibu mulai berkumpul untuk melihat tonton gratis di pagi hari itu.


Sopir pribadi dari wanita itu menghampiri mereka, karena melihat sang nyonya mulai terdesak.


" Lepaskan!" Pria berumur empat puluh tahun tersebut berusa melerai Lilis.


Pak RT dan pihak berwenang pun hadir di rumah Lilis karena mendengar aduan para warganya.


" Saya RT di sini,  Ada apa ini ? "tanya Pak RT yang coba ikut melerai.


" Ini dia pak RT, wanita tak tahu malu. Dia adalah wanita simpanan suami ku. Sekarang aku dan mas Rudi sudah memilih jalan berpisah dan aku ingin ambil kembali apa yang sudah mas Rudi berikan untuk wanita ini !" ucap wanita tersebut dengan wajah merah padam karena emosi.

__ADS_1


" Mana bisa seperti itu. Semua yang diberikan om Rudi sudah diatas namakan menjadi atas nama ku !" Jadi semua ini jadi milikku !" Sahut Lilis


"Tidak bisa ! Mas Rudi itu membeli semua ini dengan menggunakan uang perusahaan yang di korupsi olehnya. Jadi harta ini masih milik perusahaan. Sebaiknya kau tinggalkan rumah dan barang-barang mewah yang kau miliki, karena nanti semua barang-barang ini akan disita sebagai barang bukti!" Cecar wanita tersebut.


Betapa kagetnya Lilis mendengar hal itu.


" Tidak bisa!apa yang di atas namakan pada ku tentu saja jadi milik ku." 


Haha, lihat saja sebentar lagi polisi datang untuk menyita barang-barang tersebut.


Benar saja baru beberapa detik bicara begitu dua orang polisi berseragam menghampiri rumah Lilis.


" Selamat pagi Nyonya," ucap dua orang polisi tersebut.


" Ada apa ya Pak ?"tanya Lilis.


" Begini kami membawa surat perintah dari pengadilan untuk menyita mobil dan rumah yang anda tempati saat ini. "


" Memangnya kenapa ?!"tanya Lilis semakin panik.


" Saudara Rudi resmi ditetapkan sebagai tersangka atas korupsi yang mengakibatkan perusahaan Puri Akcaya nyaris bangkrut. Dan menurut keterangannya, pak Rudi sendiri mengaku dengan uang tersebut ia pernah membelikan anda rumah, mobil dan apa barang-barang mewah lainya," papar polisi tersebut.


Alangkah terkejutnya Lilis mendengar suami siri nya kini ditahan di kantor polisi.


Belum pun sempat Lilis mencerna ucapan petugas tersebut polisi itu kembali bersuara.


"Untuk penyelidikan, sebaiknya anda meninggalkan rumah ini dan barang-barang yang ada di dalamnya," kata salah seorang polisi sambil menyodorkan sebuah surat.


Lilis begitu syok. Sementara wanita itu tersenyum menyeringai.


" Baik pak, tapi saya minta waktu beberapa saat untuk membereskan barang-barang saya." Lilis akhirnya pasrah, karena ia tak mungkin melawan hukum.


" Baik Silahkan!"


***


Keluar dari rumah Lilis langsung memesan taksi. Mobil pemberian Om Rudi kini sudah disita sebagai barang bukti.


Saat ini hanya ada satu tempat tujuan bagi Lilis.


***


Zhezha sedang duduk di atas sofa sibuk menikmati pijatan lembut di telapak kakinya.


Kakinya terasa kram karena mereka baru saja olahraga dipagi hari .


Zhezha tersenyum ke arah pria tampan yang memijat kakinya.


Semakin hari ia semakin bahagia dengan perlakuan suaminya itu.Bahkan Yoga rela datang terlambat ke kantor demi memastikan keadaan istri dan calon buah hatinya baik-baik saja.


Maklum saja, Zhezha baru saja melewati masa trimester pertamanya yang penuh dengan drama. 


Bahkan selama dua minggu pertama sejak mengetahui kehamilannya Zhezha harus bedrest dan hal itu membuat Yoga semakin protektif terhadapnya .


" Bagaimana Sayang. Sudah gak sakit lagi ?" tanya Yoga.


" Iya Mas sudah mendingan. "


" Ya sudah, kalau sudah mendingan kita sarapan dulu yuk. "


"Ayo!" Zhezha mengulurkan tangannya ke arah Yoga agar suaminya bisa membantunya untuk bangkit.


Mereka pun menuju meja makan.


Ting tong…


Bel rumah mereka berbunyi.

__ADS_1


Keduanya menoleh ke arah pintu.


" Siapa yang datang ya Mas ?" 


"Gak tau. Kamu duduk saja di kursi, biar mas Yoga yang membukakan pintu."


Yoga berjalan mendekat ke arah pintu dan membukanya.


" Lilis?" Yoga heran melihat Lilis yang datang membawa kopernya.


" Mas Yoga boleh aku masuk ?"


" Oh iya silahkan Lis."


Zhezha yang berada di meja makan heran melihat kedatangan Lilis.


" Sarapannya Lis," tawar Zhezha sambil menarik kursi di samping kiri. Sementara Yoga menarik kursi sebelah kanan.


" Dari mana Lis pagi-pagi begini ?" tanya Zhezha.


" Aku di usir Zhe dari rumah ku sendiri Zhe. Dan aku gak tau harus kemana untuk sementara waktu." 


" Loh kenapa?" tanya Zhezha kaget.


" Mas Rudi sudah ditahan di kantor polisi Zhe, dengan dugaan korupsi. Semua yang aku miliki kini sudah disita," ucap Lilis lirih.


Wajahnya terlihat lesu dan tertunduk.


" Ehm yang sabar ya Lis. " 


" Iya Zhe."


" Sekarang rencana kamu apa Lis ?" tanya Zhezha.


" Aku mau kerja saja, maklum biaya hidup ku besar karena aku harus menanggung biaya hidup anak dan kedua orang tua ku," ucap Lilis.


Lilis langsung menoleh ke arah Yoga.


"Mas Yoga, ada kerjaan gak di kantor kamu ?" tanya Lilis.


Uhuk.. uhuk.. Yoga yang tengah menyerup minumannya tersedak mendengar pertanyaan Lilis.


" Jadi cleaning service juga boleh," cetus Lilis lagi.


" Ehm maaf Lis belum ada. Cleaning service itu sudah ada perusahaannya tersendiri," cetus Yoga.


" Yah padahal aku lagi butuh kerjaan mas."


" Kamu buka usaha saja Lis, nanti aku pinjami modal," cetus Zhezha.


Zhezha sebenarnya keberatan jika Lilis dekat-dekat suaminya. Meski mereka bersahabat baik, bukan tak mungkin Lilis bisa merebut Yoga darinya. 


Karena sebelumnya Lilis rela menjadi simpanan dari suami orang.


" Ya sudah deh. Aku ikut saran kamu saja. Tapi aku boleh gak menginap beberapa hari di rumah kamu Zhe. Aku takut Zhe, aku takut dilabrak lagi sama istrinya om Rudi. Tadi saja aku udah ribut jambak-jambakan, cakar-cakaran sama istri sahnya om Rudi," papar Lilis.


Yoga dan Zhezha saling memandang.


Zhezha meminta izin suaminya untuk menerima Lilis. Meskipun hatinya juga berat jika Lilis harus serumah dengan mereka.


" Ya sudah Lis untuk sementara gak apa. Nanti aku bantu kamu cari kontrakan yang lebih aman," ucap Zhezha.


" Oke terima kasih ya Zhe!" seru Lilis.


" Iya sama-sama."


Bersambung dulu gengs.

__ADS_1


 


__ADS_2