
Adzan subuh membuat Zhezha tersadar.
Matanya mulai menerjab-nerjab. Zhezha tak lagi ingat apa yang terjadi selama ia berada di dalam mobil bersama Wisnu.
Zhezha juga heran kenapa Wisnu bisa mengantarkan pulang di tempat kosannya, padahal ia tak pernah memberi tahu tempat tinggalnya .
" Ya ampun tadi malam aku ngantuk banget. Bilang makasih sama Mas Wisnu saja aku gak sempat, " Zhezha bermonolog.
Ia pun bangkit setelah melakukan peregangan pada otot-otot.
" Oh iya aku mau telepon ibu, huh beliau pasti khawatir karena aku tak ada memberi kabar. "
Zhezha merogoh sling bag miliknya, kemudian melakukan pengisian daya pada handphonenya.
" Nantilah, diisi saja dulu, habis sholat subuh baru telepon ibu, " ucap Zhezha sambil berjalan melenggang menuju kamar mandi.
***
Setelah menunaikan sholat subuhnya, Zhezha menyempatkan diri untuk menghubungi kedua orang tuanya.
Baru saja menyalakan smartphonenya puluhan notifikasi pesan masuk tak Henti-hentinya berbunyi.
" Ya ampun, pesan dari mana sih ini? " guman Zhezha.
Ia pun membuka aplikasi pesan chatnya.
" Ehm pesan dari Mas Yoga, huh lagi malas ah. " Zhezha mengabaikan pesan dari Yoga tersebut. Kemudian ia menelpon orang tuanya untuk memberikan kabar tentang dirinya saat ini.
***
Wisnu dan Yoga sedang berada di sebuah cafe. Yoga tengah berkonsultasi dengan Wisnu yang kini bertindak i sebagai penasehat hukumnya.
" Saat ini saya tidak tahu keberadaan istri saya dimana, " ucap Yoga dengan nada lirih.
" Kenapa tidak coba menghubunginya saja? " tanya Wisnu sambil memijat pelipisnya. Ia sendiri bingung apakah harus memberi tahu keberadaan Zhezha pada Yoga.
" Saya sudah coba menghubungi istri saya, tapi dia tak tak bisa dihubungi.Tadi pagi pesannya masuk, tapi tak ada balasan. Saya coba hubungi kembali , tapi kembali di luar jangkauan. Saya jadi khawatir tentang keadaannya, " ucap Yoga sambil menghela nafas berat matanya menerawang ke arah depan. Entah apa yang di pikiran Yoga saat itu
.
Beberapa saat keduanya diam.
" Saya tahu dimana istri anda berada, " ucap Wisnu dengan tiba-tiba.
Yoga langsung menatap ke arah Wisnu.
" Benarkah? " tanya Yoga.
__ADS_1
Meskipun berat terasa di hati Wisnu untuk mengatakan dimana Zhezha berada. Namun, sebagai orang yang profesional ia memilih untuk memberi tahu keberadaan Zhezha.
Zhezha saat ini memang masih menjadi milik Yoga sepenuhnya, lagi pula dengan menyembunyikan Zhezha, masalah mereka tak akan selesai.
" Dimana Zhezha berada? " tanya Yoga.
Wisnu merogoh saku celananya untuk mengambil dompetnya.
Kemudian ia mengeluarkan kartu nama.
" Zhezha bekerja di sana, " ucap Wisnu sambil menyodorkan kartu tersebut.
Yoga langsung melihat ke arah kartu nama yang menyertakan alamat dan nomor telepon dari pemilik usaha laundry tersebut.
" Terima kasih, " ucap Yoga sambil menyimpan kartu nama tersebut di saku kemejanya.
Yoga kembali melirik ke arah Wisnu, seketika cemburu terbesit di hatinya saat itu. Ia pun jadi punya kecurigaan jika Wisnu punya andil dalam pelarian Zhezha .Bagaimana tidak, ia merasa heran kenapa Wisnu bisa mengetahui keberadaan Zhezha.
" Tempat tersebut adalah laundry langganan saya, dan tiga hari yang lalu tanpa sengaja saya bertemu Zhezha di sana. Karena itulah kenapa saya bisa tahu Zhezha ada di sana. " Wisnu menerangkan agar Yoga tidak salah paham.
" Jika anda mengetahui istri saya berada di sana, kenapa tidak dari kemarin memberi tahu saya? " tanya Yoga dengan sedikit kesal.
" Maaf Pak Yoga, saya tidak bisa mencampur adukan masalah pribadi dan masalah pekerjaan. Saya mencoba untuk bersikap profesional. "
" Sebagai kuasa hukum anda, saya juga akan bertindak sebagai mediator antara anda dan istri anda Pak, pada saat mediasi nanti . Untuk itulah saya juga harus tau, apa dan kenapa anda bisa menggugat cerai istri anda. Namun, pada kenyataannya, hal tersebut masih jadi masalah pribadi antara anda dan istri anda saat ini, sebelum proses persidangan berlangsung.
" Baiklah, terima kasih, " ucap Yoga.
"Kalau begitu saya langsung menghampiri istri saya, " imbuhnya lagi.
Dengan segera ia beranjak meninggalkan Wisnu, sementara Wisnu menatap punggung Yoga yang pergi meninggalkannya.
Seperti bunga layu yang tersiram air hujan , Yoga yang awalnya tak bergairah kini menjadi begitu bersemangat. Bahkan terlalu bersemangat untuk bertemu Zhezha dan memperbaiki hubungan mereka.
Dengan berlari kecil ia menghampiri mobilnya. Rindu sudah begitu menggebu di hati Yoga, rasanya ia tak sabar untuk bertemu Zhezha.
Bahkan perasaan rindu tersebut lebih menggebu-gebu daripada sebelumnya.
Yoga masuk kedalam mobilnya, diraihnya kalung yang memiliki liontin inisial Y dan Z.
Dikecupnya liontin tersebut.
" Aku datang Zhe, semoga pintu maaf masih terbuka untukku, " ucap Yoga dengan penuh keyakinan.
Ia pun membawa mobilnya melaju meninggalkan area kafe tersebut.
***
__ADS_1
Karena penghasilan Zhezha lebih besar dari para kedua teman kerjanya , mulailah tumbuh rasa iri hati mereka kepada Zhezha. Mereka mengatai jika Zhezha tamak dan ingin menguasai semua pekerjaan.
Mereka pun berlomba-lomba mengerjakan pekerjaan tersebut
Bahkan mereka bekerja sama agar Zhezha tak mendapatkan jatah cucian dan hanya mendapatkan jatah setrikaan yang lebih berat dan melelahkan.
Wajah Zhezha memerah dengan keringat yang mengucur deras pada wajahnya.
Zhezha melirik ke arah rekan-rekannya yang berbisik-bisik sambil sesekali menoleh ke arahnya.
Karena pekerjaan mencuci lebih santai, jadi mereka pun bisa menyambil di meja kasir untuk membungkus dan memasukkan pakaian yang sudah disetrika maupun dilipat.
Sambil membungkus, Desi dan Rina masih bergosip membicarakan Zhezha, kebetulan Mbak Yuli tak ada di tempat saat itu.
Desi yang terlanjur cemburu terhadap Zhezha, memang sengaja menghasut Rina untuk menjauhi Zhezha,ia berharap Zhezha jadi tak betah bekerja di tempat tersebut.
Meski tahu jika dirinya di gunjingkan Zhezha hanya diam. Zhezha kembali melanjutkan pekerjaannya.
Rina dan Desi kegirangan ketika melihat sebuah mobil mewah parkir di depan ruko mereka. Senyum seketika terkembang di bibir Desi dan Rina melihat pria yang sangat tampan yang turun dari mobil tersebut . Apalagi pria itu semakin keren dengan dandanan ala eksekutif muda.
" Shut! Cogan datang, " bisik Desi ke telinga Rina, ketika pria tersebut menaiki terasa ruko mereka
" Yuhu! Rejeki anak sholeh, " sahut Rina.
Mereka berdua pun mulai memasang aksi mereka.
" Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rina ketika melihat sang pria terlihat mencari seseorang karena ia tak membawa bungkusan.
" Pasti cari akulah, " sahut Desi dengan maksud bercanda.
" Ehm, saya mencari Zhezha, " cetus pria tersebut yang tak lain adalah Yoga.
wajah dari kedua wanita yang umurnya hampir sebaya dengan Zhezha itupun mendadak jadi mengkerut.
' Ah, kenapa semua pria ganteng yang datang ke tempat ini cuma mencari Zhezha, ' batin Desi , ia pun semakin cemburu.
Zhezha mendengar jika ada seseorang yang mencarinya. Ia pun merasa tak asing dengan sosok pria tersebut.
Zhezha mematikan setrikaannya, kemudian ia beranjak dari duduknya untuk memastikan siapa yang mencari keberadaannya.
" Mas Yoga, " ucap Zhezha lirih, seketika jantungnya berdetak dengan kencang ketika melihat Yoga.
Yoga pun menoleh ke arah Zhezha.
" Zhe! " panggil Yoga dengan bola mata yang berbinar, kemudian ia langsung menghampiri Zhezha.
Bersambung dulu gengs
__ADS_1