
Setelah mendengar penuturan Yoga di kamar itu, Zhezha kembali ke kamarnya.
Ia berjalan lunglai menuju kamar kosong kemudian menutup pintunya begitu saja.
Zhezha pun langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur .
Seketika sesak memenuhi rongga dadanya.
Rasa cintanya yang begitu besar terhadap Yoga membuatnya ingin kembali bersama, Sedangkan ia sendiri merasa masih trauma atas perlakuan Yoga terhadapnya.
'Apa yang harus aku lakukan Ya Tuhan,' batin Zhezha, ia pun kembali menangis.Namun tiba-tiba saja Zhezha kembali merasakan sakit kepala yang luar biasa sekali.
" Akh! Kenapa kepala ku terasa sakit sekali !"ringisnya.
Karena rasa sakti tersebut terlalu menyiksa, Zhezha sampai berkeringat dingin. Tubuhnya sampai seperti orang kejang-kejang
" Akh sakit sekali," rintih Zhezha berkali-kali, Zhezha sampai berguling-guling menahan rasa sakit.
Kepalanya benar -benar terasa sakit. Selama ini ia memang sering merasakan sakit kepala setelah kecelakaan tersebut.Tapi sakit kepala kali inilah yang terparah. Saking tak kuat menahan rasa, Zhezha sampai pingsan dan tak ada seorangpun yang tau akan hal itu.
***
Di kamar Yoga berdialog dengan Bu Meli.
" Bu, tolong bantu bujuk Zhezha untuk menerima saya kembali Bu.
"Saya benar-benar mencintai Zhezha ," ucap Yoga dengan sedikit memohon.
" Iya Ga, nanti ibu bantu. Kali ini ibu beri kesempatan kamu untuk memperbaiki hubungan kamu dan Zhezha."
" Terima kasih Bu, kali ini Yoga gak akan mengecewakan ibu lagi ."
" Iya Ga. Tapi kamu harus bersabar. Zhezha butuh waktu, apalagi sekarang ayahnya baru meninggal. "
" Iya Bu, saya akan sabar menunggunya."
" Ya sudah, besok pagi saja ibu bicara pada Zhezha."
"Iya Bu, terimakasih."
" Kamu istirahat saja, bicara pada Zhezha harus pelan-pelan."
" Iya Bu terima kasih sekali."
"Kalau begitu kembalilah ke kamarmu Yoga, perbanyaklah berdoa agar Allah memudahkan urusanmu," nasehat Meli.
Meski Meli merasa kesal terhadap perlakuan Yoga terhadap putrinya.Namun Meli yakin jika Yoga dan Zhezha saling mencinta.
Lagipula Yoga dan Zhezha masih begitu muda, mereka masih butuh bimbingan dalam menjalankan bahtera rumah tangga.
***
Pagi harinya Meli membuka pintu kamar Zhezha. Dilihatnya Zhezha yang melamun sendirian bersandar pada headboard
"Zhe, ayo Nak kita keluar dulu. Ada yang ingin ibu bicarakan."
Karena Zhezha tampak lemah, Bu Meli pun menuntun Zhezha untuk duduk di atas kursi ruang tamu.
Baru saja ingin memulai pembicaraannya Yoga datang menghampiri Bu Meli dan Zhezha.
" Bu, Yoga harus pulang selama beberapa hari, Yoga titip Zhezha ya," ucap Yoga sambil mencium punggung tangan Meli.
" Iya hati-hati ya Nak Yoga."
__ADS_1
Yoga menghampir Zhezha.
" Zhezha mas Yoga pulang sebentar ya, nanti dalam beberapa hari lagi mas Yoga pulang kembali , " ucapnya sambil memeluk Zhezha.
" Mas Yoga cinta dan sayang sama kamu Zhe," bisik Yoga.
Yoga memeluk sambil mencium lekat kepala Zhezha , kemudian beberapa kali ia mencium bibirnya, agar Zhezha bereaksi. Namun Zhezha masih tak bereaksi. Zhezha terus saja diam dengan bulir bening sesekali menetes di pipinya.
Yoga mengira jika Zhezha masih marah kepadanya . Ia pun melanjutkan niatnya untuk pulang mengurus pekerjaannya yang tertunda.
Yoga merogoh saku celananya kemudahan mengalungkan Zhezha sebuah kalung liontin yang terukir inisial nama mereka dalam bulatan yang sempurna. Sesempurna cinta mereka.
Setelah memakaikan Zhezha kalung Yoga pun segera berangkat.
***
Meli mendengar mobil Yoga yang perlahan meninggalkan rumah tersebut.
" Zhe, kenapa kamu gak pulang ikut Yoga saja Zhe?" tanya Meli sambil melirik ke arah Zhezha.
Zhezha hanya meneteskan air matanya dengan tatapan kosong.
" Zhe, kamu gak dengar ibu tanya apa sama kamu?" tanya Bu Meli lagi.
Tapi Zhezha masih bergeming
" Zhe kamu melamun ya ?"tanya Bu Meli sambil melambaikan tangannya ke arah wajah Zhezha. Namun tetap saja Zhezha bergeming.
Bu Meli pun mengguncang tubuh Zhezha dengan pelan .
" Zhe ! Sadar Zhe ! Kamu kenapa Zhe?" tanya Meli meli dengan khawatir.
Zhezha tetap saja tak bergeming ia seperti orang yang linglung.
" Zhe! Ya Allah, apa yang terjadi pada putri ku, " Zhezha bangun Zhe!" Bu Meli meraung sambil memeluk Zhezha.
" Zhe!"
***
Baru sepuluh menit Yoga berkendara, kini ia harus kembali memutar mobilnya dan kembali ke rumah ibu mertuanya.
Mobil Yoga terdengar berhenti tepat di depan rumah.
Yoga pun buru-buru keluar dari mobilnya kemudian menghampiri bu Meli yang ada di ruang tamu .
Saat itu terdengar suara Bu Meli memanggil manggil nama Zhezha.
" Zhe, kamu kenapa Nak. Zhe sadar Zhe, lihat ibu Ze," ucap Bu Meli sambil menepuk-nepuk pipi Zhezha.
Zhezha tak menoleh ke arah Meli, wajahnya layu dan tertunduk dengan tatapan mata yang kosong.
" Zhezha kenapa Bu ?" tanya Yoga ketika Yoga berada di depan pintu masuk.
" Gak tau, Zhezha hanya diam meski ibu panggil dan ibu guncang tubuhnya, hiks."
Yoga berlutut menghadap Zhezha kemudian menggenggam tangan Zhezha .
" Zhe, kamu kenapa Sayang ? Kamu masih marah sama Mas Yoga Zhe ?"tanya Yoga sambil menatap wajah Zhezha.
" Zhe, tatap wajah mas Yoga Zhe, jangan seperti ini Sayang. Kalau mau hukum mas Yoga, jangan seperti ini Zhe," ucap Yoga sambil menakup kedua telapak tangannya pada pipi Zhezha.
Meski wajah mereka berhadapan. Namun tatapan Zhezha tak tertuju ke arah mana pun. Tatapannya kosong seperti orang yang terhipnotis.
__ADS_1
" Bu Zhezha kenapa Bu ?" tanya Yoga.
" Ibu juga gak tau Yoga. Ibu menemukan di kamar dan keadaannya memang sudah seperti ini,hiks."
" Ya sudah, kita kerumah sakit sekarang!" titah Yoga.
" Iya Ga, ibu siap-siap dulu."
Yoga kembali menatap wajah Zhezha.
" Zhe, kamu dengar Zhe, apa yang mas Yoga katakan. Kalau dengar, tolong kamu jawab."
Tapi Zhezha tetap diam, kelopak matanya berkedip-kedip dengan normal.Namun tatapannya tetap kosong.
Bu Meli sudah berganti baju.
" Sudah siap Nak Yoga."
" Ayo Sayang. Kita kerumah sakit." Yoga menarik tangan Zhezha agar ia bangkit. Tapi Zhezha hanya diam.
Karena tak ingin membuang waktu lebih banyak lagi ,Yoga pun mengangkat tubuh Zhezha dan membawanya ke dalam mobil.
Mereka pun menuju rumah sakit terdekat.
***
Sesampainya di rumah sakit
Zhezha langsung diperiksa. Secara keseluruhan.
Butuh berjam-jam untuk mendiagnosis penyakit Zhezha.
Yoga dan Bu Meli tengah berhadapan dengan seorang dokter yang memeriksa keadaan Zhezha.
" Secara fisik keadaan pasien baik-baik saja. Namun setelah kami melakukan CT scan kami menemukan ada trauma luka kepala yang dialami pasien."
Bu Meli menatap ke arah Yoga.
" Yoga, memangnya apa yang pernah terjadi pada Zhezha?"tanya Meli khawatir.
" Zhezha pernah mengalami kecelakaan Bu, sehingga mengakibatkan ia harus dioperasi," tutur Yoga lirih.
" Astagfirullah, kenapa kalian tak pernah memberi tahu ibu ?"
" Pantas saja, sepertinya akibat dari kecelakaan tersebut juga menjadi salah satu faktornya. Apakah dalam waktu dekat ini pasien memiliki masalah besar, atau ada kejadian yang membuat pasien tertekan?" tanya dokter lagi.
" Iya dok ayahnya baru saja meninggal," sahut Bu Meli.
" Ehm, begitu ya. Jadi untuk memastikan kondisi pasien selain Terapy dan obat-obatan secara medis, sebaiknya anda membawanya ke psikiater. "
Yoga dan Meli cukup kaget mendengar hal tersebut.
" Ada kemungkinan pasien mengalami depresi, silahkan saja anda periksakan masalah kejiwaan pasien untuk mengetahui seberapa parah keadaannya. Nanti saya beri rujukan," papar dokter tersebut.
Yoga dan Meli saling menatap.
" Ya Allah Zhezha," tangis Meli kembali pecah. Bu Meli pun menangis seperti orang yang putus asa.
" Apa yang terjadi pada putri ku, hiks. Ibu gak kuat Ga, menjalani ini semua," tangis Bu Meli.
Yoga langsung memeluk Bu Meli.
" Tenang Bu, ibu harus kuat demi Zhezha, Bu . Kita hadapi ini bersama. Kita rawat Zhezha sampai ia sembuh. Yoga gak punya siapa-siapa lagi Bu,selain Ibu dan Zhezha. Karena itu Yoga gak mau terjadi sesuatu pada kalian berdua"tutur Yoga yang ikut menangis memeluk Bu Meli .
__ADS_1
bersambung dulu gengs.