Menanti Jatuhnya Talak 3

Menanti Jatuhnya Talak 3
Salahkah


__ADS_3

Setelah puas menangis Zhezha menghampiri meja sofa yang ada di ruang tamu. Diraihnya selembar kertas yang terletak diatas meja lengkap dengan ballpoint di atasnya. 


Dengan matanya yang masih berair Zhezha membaca tiap paragraf dari surat pernyataan diatas. 


" Aku pikir aku yang tak akan tahan menanti jatuhnya talak 3 dari kamu Mas, ternyata kamu yang sudah tidak tahan untuk berpisah dengan ku. Jika saya hanya untuk sebulan kau menjadikan ku sebagai istrimu, kenapa kau harus datang dan menikahi ku. Kenapa tak biarkan saja aku jadi salah satu perawan tua di kampung, " ucap Zhezha sambil menandatangani syarat tersebut. 


Bulir bening menetes tepat di atas kertas bertinta hitam tersebut. 


Zhezha buru-buru menghapusnya. 


Ting tong.. 


Bel rumah terdengar. Zhezha menghampiri layar monitor yang terhubung dengan kamera CCTV yang berada di pintu masuk. Di layar saat ini memperlihatkan seorang pria asing dengan menggunakan jas hitam. 


Zhezha pun membuka pintu masuk rumahnya. 


" Selamat pagi Nyonya, " sapa pria itu dengan ramah. 


" Selamat pagi juga Pak, ada apa ya? " tanya Zhezha. 


" Saya pengacaranya pak Yoga,dan…." 


" Iya Pak, saya tahu. Sebentar ya, " pangkas Zhezha. 


Zhezha masuk kedalam rumahnya, kemudian kembali beberapa saat untuk menyerahkan berkas yang sudah ditandatangani. 


" Ini ya Pak berkasnya? " tanya Zhezha sambil menyerahkan berkas tersebut pada pengacara tersebut. 


" Oh iya terima kasih, " ucap Pak Hengky. 


" Sama-sama, " ucap Zhezha sambil tersenyum simpul. 


Meski tersenyum, Pak Hengky masih bisa melihat  kesedihan dari wajah Zhezha yang sembab karena habis menangis. 


Pak Hengky sendiri sudah bisa menebak apa yang membuat wanita muda itu menangis. 


***


Setelah mengantarkan Zhezha, Wisnu langsung kembali ke kantornya. 


Sudah seminggu ini, ia selalu sibuk, hingga tak punya waktu untuk memeriksa file yang masuk ke meja kerjanya. 

__ADS_1


Wisnu memeriksa beberapa file yang di kirim melalui email dan beberapa file dalam bentuk dokumen yang baru masuk. 


" Selamat pagi menjelang siang Pak Wisnu, " sapa Pak Hengky rekannya. 


" Eh, Pak Hengky. Dari mana? Sejak tadi saya cari? " tanya Wisnu yang memang punya kepentingan dengan Pak Hengky rekannya. 


"Baru saja dari rumah klien, " sahut Pak Hengky. 


" Ada kasus yang baru masuk, " imbuh pak Hengky. 


" Kasus apa Pak? " tanya Wisnu. 


" Biasa, perceraian, " cetus Pak Hengky. 


" Perceraian lagi? Sepertinya kita lebih sering dapat kasus perceraian di kota ini  daripada pada kasus kriminal. "


" Haha, sudah jadi gaya hidup Pak, " tutur Pak Hengky dengan nada bercanda. 


Ha ha, Wisnu tertawa kecil. 


" Bisa saja, bisa-bisanya pernikahan di jadikan mainan, padahal sudah sangat jelas. Allah itu membenci perceraian, meski ia tak melarang hambanya untuk bercerai," cetus Wisnu lagi. 


" Iya, tapi realitanya seperti itu. klien kita yang baru ini lebih parah lagi, " ucap Pak Hengky sambil memeriksa berkasnya. 


" Menikah baru satu bulan sudah menggugat cerai istrinya. Alasannya hanya karena tak bahagia menjalani rumah tangga yang belum pun seumur jagung," papar Pak Hengky.


Wisnu langsung menoleh ke arah Pak Hengky. 


" Satu bulan Pak ?! " tanya Wisnu kaget. 


Selama menjadi pengacara baru ini mereka menangani kasus pernikahan super singkat tersebut. 


" Iya, mungkin klien masih labil, maklum saja mereka pasangan yang masih sama-sama muda, sama-sama ganteng dan cantik. Biasalah kalau gak ada kepercayaan dalam membina rumah tangga ya gampang terombang ambing, " cetus Pak Hengky. 


Pak Hengky dan Wisnu adalah rekan satu tim yang bekerja di lembaga bantuan hukum. Namun mereka juga menerima klien yang membayar jasa mereka secara profesional. 


" Hm, rata-rata yang masuk ke meja kerja saya juga, gugatan cerai, " timpal Wisnu 


" Ha ha, Semoga saja Pak Wisnu tak menjadi trauma untuk berumah tangga, karena banyaknya menangani kasus perceraian, " canda Pak Hengky sambil menyindir Wisnu. 


" Ha ha, gak trauma. Cuma belum dapat jodoh saja.Pernikahan itu salah satu penyempurna ibadah, jadi gak ada istilah trauma. Harusnya saya bisa belajar dari kasus yang kita tangani selama ini, sebagai bekal untuk membina rumah tangga kelak, " papar Wisnu, sambil mengetik pada keyboard laptopnya. 

__ADS_1


" Benar Pak Wisnu, tenang saja jodoh pasti ketemu kok, lagian pria umur dua puluh delapan tahun seperti anda masih belum masuk kategori bujang lapuk kok.Ha ha ha, " kelakar Pak Hengky menggoda rekannya tersebut. 


" Tapi jangan sampai bujang lapuk ketemu perawan tua Pak Hengky! Bisa jadi jodoh mereka, seperti gula ketemu kopi, klop aja ha ha .. " timpakan rekan Wisnu yang lainnya. 


" Mana mau Pak Wisnu perawan tua, Pak Aziz. Gitu-gitu milih loh orangnya. Makanya sampai sekarang belum ketemu jodoh, " sambung Pak Hengky lagi. 


" Benar gak pak Wisnu? " tanya pak Hengky lagi


" Perawan tua-perawan tua lah,yang penting dapat jodoh ! " Seru Wisnu pasrah karena terus di bully. 


" Yah, sudah pasrah saja. Yang pentingkan perawan biar tua,ha ha " sahut Aziz. 


Wisnu hanya tertawa, ia sudah terbiasa dengan candaan dari rekan-rekannya yang teman satu angkatan ketika mereka kuliah di fakultas hukum dulu. 


Wisnu diberi gelar bujang lapuk karena diantara rekan-rekanya cuma Wisnu yang masih berstatus lajang. Padahal secara fisik dan finansial Wisnu sudah memenuhi kriteria pria mapan. 


" Pak Wisnu, katanya lagi dekat dengan anak pejabat itu? " tanya Aziz. 


" Batal lagi pak, sudah di talak tiga saya, nomor saja langsung di blok, ha ha, " sahut Wisnu sambil tertawa. 


" Ha ha, pantasan saja pasrah Pak Aziz! Perawan tua juga mau dia! Sudah talak tilu loh sama pacarnya diam ha ha ha, " sahut Pak Hengky. 


Mereka pun menertawakan Wisnu sampai puas. Begitupun Wisnu yang tak ambil hati. 


Meski mereka semua bekerja secara profesional. Namun tak membuat mereka hubungan mereka kaku. Selalu ada canda di sela-sela aktivitas mereka. 


Hari ini kantor pengacara tersebut pun riuh oleh tawa. Hingga karyawan bagian administrasi heran kenapa di ruang advokat tersebut ribut oleh  suara orang tertawa. 


Setelah mengisi data permohonan yang diajukan oleh Yoga secara online ke pengadilan agama. Surat tersebut diarsipkan kembali secara manual,Kemudian disimpan kembali di tak khusus untuk dipelajari. 


***


Petunjuk waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Sudah waktunya bagi Wisnu untuk mengakhiri aktivitasnya di kantor. 


Saat ini ia sedang menuju sebuah apotek untuk menebus obat Zhezha. Sebenarnya tadi pagi, ia bisa menebus obat tersebut. 


Namun ia sengaja menebus obat pada sore harinya, agar bisa bertemu Zhezha.


Saat ini Wisnu berada dalam perjalanan menuju rumah Zhezha. Diliriknya sekantong obat yang ada di kursi kosong yang ada di sebelahnya. 


Sejak bersama Zhezha seminggu yang lalu, ada rasa tak biasa yang ia rasakan. Awalnya Wisnu membiarkan rasa tersebut tumbuh di hatinya agar bisa mengobati hatinya yang baru saja putus dari sang pacar, tapi ia jadi ragu karena ternyata Zhezha sudah mempunyai suami. 

__ADS_1


' Ya Tuhan, apa aku salah jika menyukai dia, padahal aku tahu. Saat ini dirinya masih jadi milik orang lain, 'batin Wisnu. 


Bersambung guys 


__ADS_2