Menanti Jatuhnya Talak 3

Menanti Jatuhnya Talak 3
Putusan Pengadilan


__ADS_3

Setelah puas membawa Zhezha jalan-jalan, Yoga pun langsung pulang ke rumah.


Yoga menyempatkan membeli sarapan untuk mereka, agar ibu mertuanya tersebut tak perlu repot-repot lagi memasak.


Maklum saja karena kebiasaan di kampung, Bu Meli terbiasa sarapan dengan Karbo yang tinggi.Seperti nasi goreng, lontong dan sebagainya.


Tiba di rumah Yoga membawa istrinya masuk kedalam rumah.


" Bu sarapannya sudah Yoga belikan Nih, biar ibu gak sibuk lagi."


" Iya Ga, tapi tadi ibu mendengar ada suara handphone kamu berbunyi."


" Ehm iya biar Yoga periksa."


Yoga masuk kedalam kamarnya.


Bu Meli menghampiri Zhezha dilihatnya putrinya baik-baik saja, setelah melalui malam pertama mereka.


"Bagaimana Nak dengan malam pertama kalian. Ibu harap ini awal yang baik untuk rumah tangga kalian, cepat sembuh ya Zhe. Ibu sudah tak sabar ingin menggendong cucu," ucap Bu Meli sambil mengusap punggung Zhezha.


***


Di dalam kamar Yoga menuju nakas tempat ia meletakkan handphonenya.


Yoga memeriksa panggilan masuk seperti yang dikatakan oleh  ibu mertuanya. Ia pun menghubungi kembali nomor yang berkali-kali menghubunginya.


" Halo, selamat pagi. Assalamualaikum pak Hengki," ucap Yoga.


" Waalaikumsalam, selamat pagi pak Yoga."


" Apa kabar nih pak Hengki ?" tanya Yoga karena sudah lama ia tak mendengar kabar dari pak Hengki.


" Alhamdulillah pak Yoga, semoga pak Yoga juga dalam keadaan baik juga," ucap pak Hengki.


" Alhamdulillah."


" Jadi begini pak Yoga, saya ingin menyampaikan jadwal sidang gugatan cerai anda, yang akan jatuh pada hari Senin nanti." 


" Oh iya pak. Nanti saya akan menghadiri sidang tersebut.


" Oke pak, kali ini saya yang akan mendampingi Anda ."


" Baik pak, sampai bertemu di di pengadilan nanti."


Keduanya pun menutup teleponnya.


Yoga memang bermaksud melanjutkan sidang tersebut .


***


Ramona tiba di kantor dan melihat Siska dengan dandanan yang berbeda hari ini.


" Woi, ngapain sih loh. Bedak sudah setebal tembok masih saja di tempel-tempel dempul," ucap Ramona bernada nyinyir


" Mana gaya kamu lebih mirip wanita malam daripada sekretaris pak Yoga," imbuhnya lagi


" Ih biarin. Aku harus tampil lebih cantik setiap harinya," cetus Siksa sambil memoles bibirnya dengan lipstik untuk kesekian kalinya.


Ramona memutar bola matanya.


" Ada yang bercita-cita jadi pelakor rupanya," cetus Ramona sambil menarik kursi di meja kerjanya.


" Biarin. Aku rasa aku lebih pantas mendampingi pak Yoga daripada istrinya yang cacat mental itu," cetus Siska dengan penuh percaya diri sambil merapikan rambutnya.


" Serah loh deh, tapi kalsu menghayal terlalu tinggi nanti jatuhnya sakit loh." 


" Loh aja yang sewot," cetus Siska kembali.


Ramona mengkerut bibirnya melihat kelakuan rekan kerja tersebut yang menurutnya jadi norak.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Namun Yoga masih saja tak menampakkan batang hidungnya.

__ADS_1


Kring …dering telepon Siska berbunyi.


" Baru saja di tunggu, eh sudah menelpon orangnya," ucap Siska sambil meraih handphone tersebut.


"Halo selamat pagi pak," ucap Siska.


" Pagi, Siska apakah hari ini ada meeting penting ?"tanya Yoga di sambungan teleponnya.


" Gak ada Pak," sahut Siska.


" Oh iya. Kalau begitu jika ada yang mencari bilang saja jika saya berada di kantor nanti setelah makan siang," ucap Yoga di sambungan teleponnya.


" Baik pak,"sahut Siska dengan lirih. 


Yoga segera menutup teleponnya.


Ramona tersenyum mengejek Siska. " Duh bedak sudah setebal tembok, bibir Semerah buah delima, Eh yang di tunggu gak jadi datang tuh. Kasihan deh loh."


"Siska membuang wajahnya." Gak kok ntar siang pak Yoga juga datang. Wek, jangan sitik ya kalau aku bisa merebut hati pak Yoga, " cetus Siska sambil mengerucut bibirnya.


"Terlalu PeDe," dengus Ramona.


***


Di rumah, Yoga sedang bersiap pergi menghadapi sidang mediasi yang kedua kalinya.


Yoga menghampiri Bu Meli yang sedang mengenakan kerudung pada Zhezha.


" Bagaimana Bu, apa Zhezha sudah siap?" tanya Yoga sambik tersenyum melihat Zhezha yang terlihat canti6 dan semakin cute ketika mengenakan kerudung berwarna peach.


" Wah cantiknya, istri siapa nih," ucap Yoga sambil mengangkat dagu Zhezha kemudian mencium bibir istrinya.


Yoga tak peduli jika saat itu Bu Meli melihatnya.


" Ibu sudah siap ?" tanya Yoga.


" Sudah Yoga."


Mereka pun meninggalkan rumah tersebut.


***


Mobil Yoga terparkir di halaman dari gedung pengadilan agama. 


Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, majelis hakim sudah memasuki ruangan dan duduk di tempatnya masing-masing.


"Bagaimana? Apakah kedua pihak sudah hadir ?" tanya hakim ketua.


Baru berbicara demikian, Yoga pun tiba dengan mendorong kursi roda Zhezhe.


Saat itu Wisnu juga hadir di persidangan, hanya saja ia tak berada di pihak manapun.


Yoga duduk di kursinya sebagai penggugat, sementara Zhezha masih duduk di kursi roda.


Pak Hengki langsung menghampiri Yoga.


" Maaf pak saya datang terlambat," ucap Yoga.


" Tak apa, sidang baru saja akan dimulai. Saya sudah mendengar sedikit cerita dari pak Wisnu tentang sidang perdana anda."


Tiba-tiba obrolan mereka terhenti ketika majelis hakim mengetuk palu sekali untuk membuka sidang.


" Sidang gugatan cerai antara pihak penggugat yang bernama Saudara Yoga Prasetiya dengan pihak tergugat dalam hal ini istrinya, saya buka ."


Tok tok .


Keadaan pun kembali hening.


" Saudara Yoga Prasetiya, ketika sidang mediasi pertama anda mengajukan penarikan gugatan cerai kepada istri anda yang pernah anda layangkan sebelumnya.Benar begitu ?" tanya hakim ketua.


" Benar yang mulia," ucap Yoga.

__ADS_1


" Saudara tergugat yakni saudari Zhezha Zaskia dalam sidang perdana anda menolak permintaan tergugat untuk kembali rujuk, benar begitu?"tanya Hakim ketua.


Zhezha bergeming beberapa saat, mediator yang ditunjuk hakim pun menghampiri Zhezha.


" Maaf yang mulia, istri saya tak bisa menjawab pertanyaan tersebut," cetus Yoga.


" Kenapa?" tanya hakim.


Para majelis hakim langsung menoleh ke arah Zhezha. Mereka mengira jika Zhezha sakit biasa atau sebelumnya mengalami kecelakaan hingga membuatnya harus berada di kursi roda.


Setelah memperhatikan Zhezha , barulah mereka menyadari ada yang salah terhadap wanita cantik itu.


" Permisi yang mulia,saya punya beberapa berkas untuk anda periksa," ucap pak Hengki setelah berdiskusi beberapa saat kepada Yoga.


Pak Hengki pun menyerahkan rekam medis Zhezha kepada hakim.


" Yang Mulia, pihak tergugat tak bisa melanjutkan sidang ini. Mengingat penyakit yang dideritanya saat ini. Pada berkas yang saya sampaikan terdapat beberapa keterangan tentang keadaan tergugat," ucap pak Hengki.


Hakim pun membaca rekam medis milik Zhezha tersebut, sementara Yoga dan pak Hengki kembali berdiskusi.


" Setelah membaca berkas yang disampaikan oleh penasehat hukum dari pihak penggugat,dengan ini saya putuskan untuk menunda persidangan ini sampai tergugat bisa di mintai keterangan. Silahkan utarakan jika ada yang keberatan," ucap hakim ketua.


" Permisi yang mulia. Klien saya mengajukan permintaan untuk menutup sidang ini tanpa ada gugatan lagi, " ucap pak Hengki.


" Karena keadaan istrinya yang membutuhkan perhatian khusus, maka saudara tergugat meminta sidang ini ditutup. Beliau juga sudah rujuk kembali dan menikahi istrinya secara sah di mata hukum agama," tutur pak Hengki.


" Apakah benar begitu saudara Yoga ?"tanya hakim.


" Benar Yang Mulia, saya akan bertanggung jawab dalam segala hal atas apa yang menimpa istri saya. Kami pun sudah kembali rujuk dengan jalan islah. Saya sudah menikahi istri saya yang sebelumnya sudah saya jatuhi talak. Dan pernikahan tersebut sesuai dengan syariat agama," papar Yoga.


" Apakah keterangan anda bisa dibuktikan dengan menghadirkan seorang saksi?" tanya hakim.


" Ada yang mulia, saya meminta ibunda darin istri saya untuk bersaksi di depan pengadilan, jika saya telah melakukan islah kepada keluarga dari pihak istri dan kami sudah menikah kembali dengan syariat yang dibenarkan agama," tutur Yoga.


" Baiklah, hakim meminta ibunda dari saudara Zhezha untuk bersaksi!"


Bu Meli segera duduk di samping Zhezha, kali ini ia menjadi saksi atas ijab kabul yang terjadi antara Zhezha dan Yoga.


" Baiklah perkenalkan nama anda dan sebutkan apa hubungan anda dengan tergugat dan penggugat," ucap hakim.


" Saya Melisa, ibu kandung dari Zhezha Zaskia yang juga merupakan ibu mertua dari Yoga Prasetiya. Saya bersaksi dengan menyebut nama Tuhan yang maha esa, jika saya telah merestui dan menyaksikan sendiri ijab kabul antara Yoga dan Zhezha. Dimana saat itu Yoga sudah meminta izin kepada saya dan wali dari putri saya untuk kembali melakukan ijab kabul tersebut," papar Bu Meli.


" Baiklah, saya terima kesaksian anda,"ucap Hakim.


 " Adalagi yang ingin menyampaikan pendapat atau keberatan sebelum saya ketuk palu ?"tanya hakim.


Suasana pun hening, setelah beberapa saat tak ada yang menginterupsi hakim pun mulai membacakan putusannya.


" Setelah dua kali persidangan yang telah dijalani oleh kedua belah pihak, merujuk pada permintaan penggugat yang ingin mencabut gugatan cerainya disebabkan hal-hal yang sudah disampaikan oleh pihak penggugat sendiri, dengan ini kami menyatakan sidang ini sudah diputuskan sebagai berikut. Kami menerima pengajuan penarikan gugatan cerai yang dilayangkan pihak penggugat dengan mempertimbangkan segala aspek demi kebaikan bersama. Maka sidang ini menyatakan jika saudara penggugat dan tergugat saat ini masih berstatus suami istri secara sah di mata hukum. Dan proses peradilan sudah selesai sampai disini." 


Tok tok tok 


" Alhamdulillah," ucap Yoga dengan bahagia.


Yoga pun berdiri menjabat para hakim dan panitera pengadilan yang terlibat.


Kemudian ia menghampiri Pak Hengky dan Wisnu.


" Terimakasih pak Hengki, terima kasih pak Wisnu," ucap Yoga dengan hati yang bahagia.


" Sama-sama pak."


" Semoga rumah tangga kalian selalu langgeng," ucap Pak Hengki.


" Aamiin pak," balas Yoga.


Sementara Wisnu hanya tersenyum simpul.


Setelah persidangan Yoga menghampiri Zhezha. " Ayo Sayang kita pulang. Hari ini kita mulai kembali membangun rumah tangga kita yang sakina, mawadah dan warahmah," ucap Yoga sambil mencium pipi Zhezha.


Bu Meli ikut haru melihat hal tersebut. Yoga kembali mendorong kursi roda istrinya dan membawanya pulang ke istana impian mereka.

__ADS_1


Bersambung gengs.


__ADS_2