
Pagi harinya Yoga dan Wisnu ikut membantu persiapan penguburan jenazah pak Yanto.
Mulai dari membantu membuat peti mati, hingga membantu mengangkut jenazah pak Yanto dari ambulans menuju pusara terakhirnya.
Wisnu dan Yoga juga ikut ke dalam mobil ambulan hingga ke pemakaman.
Pemakaman sendiri di hadiri oleh Zhezha dan Ibundanya. Kedua wanita tersebut tampak begitu tegar melihat detik detik jasad pak Yanto dimasukkan ke dalam liang lahat.
Setelah ritual penguburan selesai.
Yoga juga ikut menabur bunga dan daun pandan di atas pusara pak Yanto.
Setelah ritual penguburan selesai.
Zhezha dan Meli ikut dalam mobil pak Burhan, sementara Wisnu dan Yoga berada di dalam mobil ambulans yang akan mengantar mereka kembali ke rumah duka.
Keduanya terlihat menjaga jarak, tak ada obrolan apapun yang terjadi di antara mereka.
Yoga menyangka jika Wisnu mengambil kesempatan dalam keretakan rumah tangga mereka.
***
Tiba di rumah, para pelayat disajikan makanan oleh tuan rumah. Begitupun Wisnu dan Yoga, meski terlibat perang dingin, kedua pria tampan dan kece tersebut selalu bersama dalam beberapa kesempatan.
Zhezha ikut membantu menyediakan makanan untuk tetangga yang masih berdatangan di rumah mereka.
Zhezha membawa nampan yang berisi nasi dan lauk pauk.
" Mas Yoga, mas Wisnu silahkan di makan," ucap Zhezha sambil menyodorkan piring kepada keduanya.
Kebiasaan di kampung jika acara seperti itu mereka tidak menggunakan sendok . Makanan juga tak disajikan dalam bentuk prasmanan .
Kedua pria tersebut makan dengan lahap. Tak ada obrolan apapun yang terjadi antara keduanya.
***
Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Para tetangga pun satu persatu pulang ke rumah mereka.
Hanya ada Yoga, pak Burhan dan Wisnu yang masih berada di rumah itu.
Wisnu dan Yoga juga terlihat lelah, karena semalam mereka berdua tak tidur.
Melihat hal itu ,Zhezha berinisiatif menyiapkan dua kamar tamu, untuk keduanya beristirahat.
Setelah siap. Ia pun memanggil keduanya.
" Mas Wisnu dan mas Yoga istirahat dulu," ucap Zhezha.
Karena dua orang tersebut memang lelah mereka menurut saja.
Zhezha mengantar Wisnu terlebih dahulu menuju kamar yang sudah di persiapan untuknya.
Tentunya Yoga juga mengikuti Zhezha.
Setelah mengantar Wisnu, Zhezha pun membuka pintu kamarnya.
" Kamu istirahat di sini saja Mas," ucap Zhezha.
Kemudian ia hendak berlalu dari kamar tersebut. Namun tangannya ditarik oleh Yoga.
" Zhe, kita istirahat bersama yuk," ajak Yoga dengan nada membujuk.
__ADS_1
Entah kenapa hati Zhezha terasa sakit sekali saat itu. Ia jadi teringat bagaimana Yoga memperlakukan nya ketika pertama ia menginjakkan kaki di rumah itu.
" Kamu tidur di sini saja mas , masih ada kamar kosong kok," ucap Zhezha lirih sekuat mungkin ia menahan air matanya ketika kenangan tersebut kembali berputar di memori ingatannya.
"Zhe, aku tahu aku salah dan saat ini aku mau memperbaiki kesalahan ku Zhe. Zhe masih ada waktu kita untuk memperbaiki semua ini. Jika kau membalas apa yang pernah ku lakukan terhadap mu. Maka dendam ini tak akan ada habisnya. "
Yoga coba menarik Zhezha dalam pelukannya. Namun Zhezha buru buru menepisnya.
" Saat ini aku butuh sendiri Mas," ucap Zhezha sambil menolak Yoga yang coba untuk memeluknya.
Kebetulan saat itu, Meli melihat kejadian tersebut.
Zhezha kemudian melangkah menuju kamar yang lainnya.
Meli sampai menggeleng kepalanya melihat Zhezha yang menolak pelukan suaminya.
Karena suasana masih berduka, Meli pun membiarkan hal tersebut.
***
Selepas isya tahlilan pun diadakan di rumah Zhezha.
Tahlilan tersebut dihadiri oleh tetangga sekitar dan rekan rekan pak Yanto semasa hidup.
Pukul sembilan malam acara tahlilan pun selesai.
Para tamu dan tetangga yang hadir sudah pulang semua, terkecuali ibu-ibu tetangga yang ikut memasak.
Setelah acara tahlilan Wisnu pun berniat untuk pulang.
Wisnu menghampiri Meli dan Zhezha yang sedang mengobrol bersama para tetangga.
" Iya terima kasih ya, sudah mengantarkan Zhezha dan ikut membantu penyelenggaraan jenazah bapak," tutur Meli.
" Iya Bu, sama-sama."
" Zhe, saya pamit ya," ucap Wisnu.
" Iya mas terima kasih banyak."
Zhezha pun bangkit dari duduknya untuk mengantar Wisnu hingga kedepan pintu.
Kebetulan Yoga dan Pak Burhan masih berbincang bersama beberapa orang warga di teras.
Wisnu menghampiri mereka kemudian berpamitan pada orang-orang yang ada di teras rumah Zhezha.
***
Malam semakin larut, waktu menunjukkan pukul setengah sebelas malam dan para ibu-ibu tetangga pun sudah pada pulang. Dirumah besar tersebut hanya ada Yoga ,Zhezha dan Meli.
Yoga masuk ke kamar Zhezha, sementara Zhezha tidur di kamar kosong yang ada di sebelahnya.
Melihat Yoga dan Zhezha yang pisah kamar, tentunya Meli bertanya-tanya dalam hatinya. Masalah apa yang menjadikan kedua pengantin baru tersebut memilih pisah ranjang.
Zhezha merebahkan tubuhnya tidur tempat tidur, baru saja ia memejamkan matanya, Zhezha sudah mendengar ketukan pintu dari arah pintu.
Tok tok tok.
" Zhe!"
" Iya Bu." Zhezha langsung menyahut ketika mendengar suara Bu Meli memanggilnya.
__ADS_1
Ia pun bangkit kemudian membukakan pintu untuk ibunya.
Kreak... pintu terbuka dan saat itu wajah Meli terlihat kesal.
" Kamu kenapa tidur di sini Zhe?" tanya Meli dengan nada sedikit emosi.
Ehm, Zhezha tertunduk, ia tak tahu harus menjawab apa.
Sementara Yoga yang berada di kamar sebelah, mendengar jelas pertanyaan Meli tersebut.
" Pasti karena Wisnu kan, Ze ?" tuduh Meli.
Zhezha langsung membelalakkan bola matanya.
" Astaghfirullah, Ibu. Kenapa ibu bisa bicara seperti itu ?" tanya Zhezha dengan nada kecewa. Seolah-olah Meli menuduhnya selingkuh bersama Wisnu.
" Zhe, ibu sudah mengingatkan kamu. Jangan dekat-dekat dengan pria lain, itu bisa merusak hubungan rumah tangga kamu Zhe!" omel Meli.
" Bu, ibu tenang dulu. Coba ibu masuk ke kamar.Nanti Zhezha jelaskan."
Zhezha menarik tangan Meli. Ia tak mungkin lagi menyembunyikan keretakan rumah tangganya kepada Meli.
Meli dan Zhezha duduk bersebelahan di atas tempat tidur.
Sementara Yoga memasang telinganya untuk mendengar obrolan kedua ibu dan anak tersebut.
" Bu, sebelumnya Zhezha minta maaf kepada Ibu, karena Zhezha tidak bicara jujur pada Ibu."
" Hah, memangnya apa yang kamu sembunyikan Zhe?" tanya Meli setengah histeris, karena ia tahu jika putrinya tak pernah berbohong padanya.
" Tapi Zhe, minta untuk tetap tenang ya Bu. Zhezha gak apa-apa kok."
Mendengar hal itu Meli semakin penasaran ada apa sebenarnya.
" Ada apa ini Zhe?" tanya Meli dengan tak sabaran.
Zhezha meraih tangan Meli agar sang ibunda tak semakin kaget mendengar penuturannya.
" Bu, sebenarnya sejak menikah Zhezha dan mas Yoga memang tak pernah tidur satu kamar," tutur Zhe dengan hati-hati.Namun tetap saja penuturannya membuat Meli begitu syok.
Sementara Yoga yang mendengar hal itu mulai menitikkan air matanya di ruangan yang berbeda.
Seketika dada Meli terasa sesak.
" Apa maksud kamu Zhe? Ibu gak salah dengar?"tanya Meli yang langsung menangis.
Hiks hiks.
Melihat ibunya terluka, Zhezha juga ikut menangis.
" Iya Bu. Bahkan mas Yoga sudah menjatuhkan talaknya kepada Zhezha sejak hari pertama kami menjadi suami istri hiks."
Meli semakin syok, seketika sesak terasa memenuhi rongga dadanya, diiringi dengan detak jantung yang berpacu dengan cepat seperti ingin meledakkan dadanya.
Hua Hua, Meli langsung kesulitan mencari nafas.
" Ibu hiks hiks, " tangis Zhezha ketika Meli tumbang tak sadarkan diri.
Bersambung dulu gengs. satu bab lagi ya gengs
__ADS_1