
Setelah mendapatkan kabar duka cita, Yoga di antar oleh pak De-nya.
Sesampainya di rumah Yoga langsung menangis terpuruk melihat tubuh Sumi yang terbujur kaku." Ibu jangan tinggalkan Yoga Bu, " tangis Yoga di samping tubuh Sumi.
Yoga pun menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal karena tak sempat melihat ibunda ketika menghadapi sakratul maut.
" Ibu jangan tinggalkan Yoga Bu! " tangis Yoga sambil mencium- cium pipi sang ibunda.
Pakde Darmo segera menghampiri Yoga.
" Yoga, ibumu sudah tiada Nak, jangan di tangis seperti itu, " bujuk pakde Darmo sambil mengusap punggung Yoga.
" Hiks hiks, ibu kenapa pergi secepat ini Bu, ibu bahkan belum melihat Yoga sukses kan, Bu? Yoga sudah berjanji untuk menaikkan ibu haji, kenapa ibu pergi terlebih dahulu Bu hiks. "
Tubuh Yoga berguncang karena menangis, selimut duka menutupi hatinya saat itu. Ia benar-benar merasakan kehilangan seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya.
***
Meskipun merasakan kehilangan yang begitu dalam, Yoga coba untuk ikhlas. Ia pun mengikuti ritual pemakaman sang ibunda.
Yoga juga ikut mengangkat keranda sang Ibunda hingga tiba di pemakaman umum.
Setelah mengubur jenazah ibundanya. Malam harinya diadakan acara tahlilan untuk mengenang almarhum Sumi.
Semua biaya dari tahlilan tersebut dibantu oleh warga sekitar, mereka saling bahu membahu dan bekerja sama dalam menyelenggarakan tahlilan tersebut.
Yoga yang masih berduka, mengurung diri di dalam kamarnya. Ia, masih tak percaya jika sang ibunda telah berpulang untuk selamanya.
Di dapur Yoga yang sempit itu, terjadi kegiatan masak-memasak.
" Eh, sudah dua hari tahlilan di rumah ini. Kok keluarga pak Yanto gak ada yang hadir ya? " cetus salah seorang ibu-ibu yang sedang memotong sayur.
__ADS_1
Kebetulan Yoga yang berada di kamar mendengar hal tersebut.
' Benar juga kata ibu itu. Kok Zhezha dan keluarga tak datang sampai hari ini, ' batin Yoga. Ia pun mulai kecewa terhadap Zhezha.
" Ha ha mungkin pak Yanto merasa bersalah kali mbak, " cetus yang lainnya sambil tertawa kecil.
" Hah, bersalah karena apa? "
" Ya merasa bersalah lah. Waktu Bu Sumi pingsan, si Udin pernah minta tolong sama pak Yanto untuk membawa bu Sumi ke rumah sakit sebelum keadaannya parah. Tapi bukannya menolong eh.. Pak Yanto malah nyelonong pergi. Seperti orang gak peduli gitu. "
" Terus Mbak? " tanya ibu yang lain..
" Ya gitu. Karena pak Yanto gak mau menolong. Ya si Udin cari mobil lain, yakni pinjam mobil pak Kades. "
Mereka terus menyimak penuturan wanita tersebut sambil melanjutkan pekerjaannya.
" Andai saja pak Yanto mau menolong, Dan pertolongan tak datang terlambat, Insya Allah Bu Sumi bisa tertolong. "
" Iya bu, karena sejak saat itu, warga kampung mengecam tindakan pak Yanto yang terlalu kikir itu. "
" Dan sekarang warga pada gak respek sama keluarga pak Yanto. "
" Ih segitunya ya Pak Yanto. Mentang-mentang orang kaya. Gak ingat mati tuh kali orang, " sahut salah seorang ibu -ibu.
Betapa hancurnya hati Yoga saat itu mendengar penuturan dari ibu-ibu tersebut.
' Jadi pak Yanto lah penyebab kematian ibu, ' batin Yoga. Yoga menggenggam tangannya. Ia bersumpah akan membalas semua perbuatan pak Yanto sejak saat itu.
Selama seminggu mengadakan tahlilan. Tak ada salah seorang anggota dari keluarga pak Yanto pun yang menghadiri acara tersebut.
Bahkan Zhezha tak pernah menampakkan batang hidungnya selama Yoga berada di kampung.
__ADS_1
***
Seminggu kemudian Yoga kembali pulang bersama pakde-
nya ke kota.
Tak ada lagi yang ia harapan di sana. Yoga mengunci pintu rumahnya bersamaan dengan terkunci nya hatinya.
Cintanya yang begitu besar untuk Zhezha perlahan lenyap terbakar api dendamnya.
Yoga mengira jika Zhezha ikut Andil dan membiarkan hal tersebut terjadi.
***
Seminggu setelah kepulangan Yoga, Zhezha baru tiba di kampungnya bersama Meli. Zhezha sama sekali tak mengetahui perihal meninggalnya bu Sumi. Karena pak Yanto sengaja tak memberi tahu Zhezha, agar Zhezha tak bertemu dengan Yoga.
Flashback off.
Yoga meneteskan air matanya. Ia memang mencintai Zhezha, tapi juga membencinya. Bahkan Yoga membenci keluarga Zhezha termasuk ayah dan Ibunya.
Yoga menarik nafas panjang. Ia harus membuat keputusan secepatnya. Karena Yoga merasa tak mungkin hidup bahagia bersama Zhezha. Karena setiap melihat Zhezha hatinya selalu terbakar api dendam
Dengan tangan gemetar Yoga meraih smartphonenya.
" Hallo selamat pagi pak Hengky. "
" Iya pak Yoga, ada apa? " tanya seseorang yang ada di sambungan telepon.
" Saya ingin mengajukan gugatan cerai terhadap istri saya di pengadilan.Bisa di bantu? " tanya Yoga dengan bulir bening menetes di pipinya.
" Ehm baiklah. Pak siapkan saja berkasnya. Nanti biar saya yang mendaftarkan gugatan cerai tersebut.. "
__ADS_1
Yoga menutup teleponnya sambil menghapus air mata di pipinya.