Menanti Jatuhnya Talak 3

Menanti Jatuhnya Talak 3
Kabar Berita


__ADS_3

Wisnu baru saja mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur. 


Sebuah panggilan masuk memaksanya kembali untuk berdiri. 


Diraihnya kembali handphone nya yang sedang mengisi daya. 


" Dari pak Yoga, " gumam Wisnu ketika melihat pada layar handphonenya. 


" Hallo assalamualaikum pak Yoga, " sapa Wisnu. 


" Waalaikum salam, Pak. "


" Iya Pak, ada apa? " tanya Wisnu. 


" Pak Wisnu, apakah anda mengetahui di mana Zhezha tinggal? " tanya Yoga.


Wisnu terdiam beberapa saat, ia bingung harus memberitahu atau tak memberitahu alamat Zhezha. 


" Kenapa tak tanyakan pada pemilik ruko tempat Zhezha bekerja saja pak? " tanya Wisnu ingin mengelak sementara waktu. 


" Sudah saya tanyakan pak, tapi pemilik usaha laundry itu tak mau memberi informasi tentang Zhezha. Katanya Zhezha yang memintanya untuk tidak memberikan alamat tempat tinggalnya sekarang, " paparnya. 


Wisnu menarik nafas panjang kemudian menghembuskan dengan kasar, ia pun menggaruk kepalanya yang tak gatal. 


" Jika anda mengenal dekat dengan pemilik usaha laundry itu. Bisa tolong saya, pura-pura saja pak Wisnu menanyakan alamatnya pada pemilik usaha dimana Zhezha bekerja. Saya benar-benar khawatir karena saat ini. Zhezha sedang sakit, " pinta Yoga dengan sedikit mengatur.


Sekali lagi Wisnu dalam dilema. 


" Iya Pak nanti saya coba, " ucap Wisnu setelah beberapa saat.  


" Wah ,Terima kasih banyak pak Wisnu, saya tunggu informasi selanjutnya. "


" Iya Pak sama-sama, " sahut Wisnu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Karena ia jadi serba salah.


" Kalau gitu saya tutup dulu teleponnya pak. Terima kasih sekali lagi. 


" Iya pak sama-sama. "


Wisnu kembali menghela nafas panjang. 


Sulit baginya berada di antara dua insan yang saling mencintai. Apalagi posisinya saat ini menuntut ia untuk bersikap profesional. Satu sisi ia harus berada di pihak Yoga sebagai pengacara, sisi lainnya ada benih cinta yang mulai tumbuh di hatinya kini mulai menumbuhkan harapan untuk bisa memiliki Zhezha. Wisnu seperti bertikai pada dirinya sendiri.


Wisnu menatap ke arah depan dengan hampa. " Kenapa aku harus terjebak diantara mereka. Aku tahu jika mereka berdua saling mencintai, dan semua ini hanya kesalah pahaman yang harus di luruskan., "gumam Wisnu.


Wisnu kembali menghela nafasnya, Terkadang apa yang bibir ucapkan tak sama dengan apa yang ada di hati. Begitu sulit untuk melawan perasaan, meski ia tahu apa yang harusnya ia lakukan.


Wisnu kemudian menelpon mbak Yuli. 


Telepon pun tersambung. 


" Halo selamat sore, " sapa mbak Yuli terlebih dahulu. 


" Selamat sore, Mbak saya dengar Zhezha sakit ya? " tanya Wisnu. 


" Iya pak, tadi dia hampir pingsan karena sakit kepala, " sahut mbak Yuli. 


" Sakit kepala mbak? " 

__ADS_1


" Iya, tadi Zhezha bertemu suaminya. Aku gak tahu apa yang terjadi yang jelas setelah bertemu dengan sang suami, Zhezha jadi menangis terus, "papar Mbak Yuli. 


" Astagfirullah, "sebut Wisnu sambil memijit pelipisnya. 


" Lalu sekarang bagaimana keadaan Zhezha, Mbak? Zhezha sebenarnya tidak boleh stress, karena baru tiga minggu yang lalu ia mengalami kecelakaan dan mengalami trauma di kepala. " 


" Iya pak Wisnu, kasihan Zhezha, saat ini dia lagi istirahat di rumahnya sendiri. Sebenarnya baru saja suaminya mencari keberadaannya. Hanya saja saya gak kasih tau tempat tinggal Zhezha. "


" Loh kenapa mbak? "


" Zhezha sendiri yang melarang. Katanya dia masih ingin sendiri. " 


" Hm Ya sudah mbak. Kapan mbak jenguk Zhezha? " tanya Wisnu. 


" Pulang dari toko lah. "


"Oke mbak, kalau begitu saya ikut ya, " sahut Wisnu. 


" Iya pak Wisnu. "


Keduanya pun memutus sambungan telepon tersebut. 


Untuk sementara Wisnu masih enggan memberi tahu Yoga dimana Zhezha berada. Dia hanya ingin memastikan bagaimana keadaan Zhezha terlebih dahulu. 


***


Pukul delapan malam Mbak Yuli menutup tokonya dan saat itu Wisnu sudah menunggu di dalam mobil. 


Keduanya pun langsung menghampiri Zhezha di rumahnya. 


Wisnu bahkan menyempatkan diri untuk membeli makanan dan minuman untuk Zhezha. Ada pula makanan ringan sebagai cemilan. 


" Zhe! " panggil mbak Yuli sambil mengetuk pintu rumah Zhezha. 


Beberapa kali mengetuk masih tak ada jawaban. 


Mbak Yuli mengetuk pintu lebih keras dan memanggilnya dengan suara yang lebih nyaring pula. 


" Zhe! " Tok tok 


Setelah beberapa kali barulah terdengar suara langkah kaki menghampiri pintu. 


Pintu terbuka tampaklah wajah Zhezha yang sembab dengan kantung mata yang melingkar tegas. 


" Eh mbak Yuli, Mas Wisnu, " ucap Zhezha sambil membuka daun pintu lebih lebar lagi. 


" Masuk Mas, Mbak! "


Saat itu untung saja Zhezha mengenakan pakaian yang sopan. yakni piyama berlengan panjang. 


Keduanya pun masuk ke dalam kamar tersebut. 


" Bagaimana keadaan kamu Zhe? " tanya Wisnu. 


" Sudah mendingan Mas, " sahut Zhezha. 


" Ini saya bawa makanan untuk kamu Zhe, kamu pasti belum makan, ."ucap Wisnu sambil menyodorkan nasi bungkus beberapa susu kemasan, aneka makanan ringan dan buah untuk Zhezha. 

__ADS_1



Mereka pun duduk di atas lantai, sementara mbak Yuli langsung menuju dapur untuk mengambil piring dan sendok untuk Zhezha makan. 


" Obat kamu masih ada Zhe? " tanya Wisnu.


Saat itu keduanya duduk sewajarnya tapi jarak mereka cukup jauh. 


" Tadi aku dengar suami kamu datang menemui kamu Zhe. "


" Iya Mas, " ucap Zhezha lirih. 


Wisnu menatap ke arah Zhezha, ia sudah tau masalah mereka dari sudut pandang Yoga, sementara Zhezha tak pernah cerita apapun tentang masalah rumah tangganya. 


Mbak Yuli menyodorkan piring ke arah Zhezha. 


Sementara Zhezha hanya diam. 


" Zhe, biar kamu gak terlalu tertekan, kamu bisa ceritakan masalah kamu sama saya Zhe. Saya seorang penasehat hukum dan terbiasa menangani kasus perceraian dalam kasus rumah tangga. Siapa tau, saya bisa bantu kamu dan memberikan solusi yang terbaik untuk kalian berdua, " ucap Wisnu dengan kata-kata yang teratur. 


Mbak Yuli menyimak pembicaraan Wisnu tersebut. 


"Benar Zhe,masalah kamu terlalu berat untuk kamu hadapi sendiri. Bicarakan pada orang yang ahli di bidangnya. Pak Wisnu itu pengacara, tentu ia mengetahui tentang hukum dan syariat dalam berumah tangga. Termasuk masalah seperti kamu Zhe, " papar mbak Yuli. 


" Benar apa yang dikatakan mbak Yuli. Saya ikhlas membantumu , tak bermaksud apa pun. Saya hanya kasihan jika kamu seperti ini terus, itu  bisa mengganggu kesehatan kamu Zhe, " bujuk Wisnu. 


Zhezha tertunduk sambil menyimpul ujung piyamanya. 


" Masalah saya dan suami gak bagaimana-bagaimana. Saya dan dia sudah memutuskan untuk berpisah, "ucap Zhezha yang baru membuka suaranya. 


" Gak ada masalah lain yang terjadi, dia sudah tak menginginkan saya, karena itulah ia melayangkan gugatan cerainya. Dan saya harus terima apapun keputusannya. Hanya saja saat ini, saya belum bisa melupakan perasaan cinta saya terhadapnya. Karena itulah saya menghindar ," papar Zhezha dengan jujur.


" Ehm, apa sesederhana itu? Bagaimana jika suamimu bersungguh-sungguh kembali pada mu Zhe? " tanya Wisnu memancing. 


" Saya gak mau kembali lagi Mas, cukup sudah penghinaan yang saya Terima, hiks. " Zhezha kembali menghapus air matanya yang kembali memerah.


" Penghinaan? " tanya Wisnu. 


" Penghinaan seperti apa Zhe? " tanya Wisnu dengan hati-hati. 


Hiks, Zhezha menghapus air matanya. 


" Nanti saja, saya akan jelaskan saat di persidangan. Saya akan beberkan semua perlakuan Yoga terhadap saya, " tutur Zhezha lirih. 


" Apa itu berarti kamu sudah bertekad untuk berpisah? " tanya Wisnu sambil menatap wajah Zhezha yang terlihat sedih.


" Hiks, hiks. Iya Mas. Senin nanti sidang pertama saya, " ucap Zhezha dengan berat hati.


Wisnu terus mengamati wajah Zhezha.


Bagaimana ya, reaksi Zhezha jika ia tau jika Wisnu adalah pengacara Yoga 😎


bersambung gengs.


ada rekomendasi novel horor untuk kamu gengs kepoin yuk, sekalian uji adrenalin


__ADS_1



.


__ADS_2