Menanti Jatuhnya Talak 3

Menanti Jatuhnya Talak 3
Rumah Duka


__ADS_3

" Apa tidur ?!" tanya Yoga. Entah kenapa pikirannya jadi kemana-mana saat itu, mungkin karena rasa cemburunya yang begitu besar.


"Iya pak Yoga, tapi tenang saja, Kami tetap melanjutkan perjalanan kok. Mungkin Zhezha lelah jadi ia tertidur di mobil."


" Ya sudah. Saya tutup teleponnya dulu." Yoga menutup telepon tersebut.


Meski gelisah, Yoga tak bisa berbuat apa-apa mau menyusul juga percuma, ia pun melanjutkan perjalanannya.


***


Yoga tiba di rumah duka, saat itu keadaan rumah Zhezha sudah di penuhi oleh pelayat.


Yoga langsung menghampiri Meli yang terlihat tabah berada di sisi mayat pak Yanto yang terbujur kaku.


" Ibu." Yoga menghampiri Meli kemudian sungkem.


Meli kembali menangis melihat Yoga yang baru tiba.


"Maafin ayah yah Yoga, " ucap Meli dengan sisa Isak tangisnya ketika Yoga bersimpuh mencium punggung tangan Meli.


" Iya Bu, Yoga juga minta maaf baru sekarang bisa melihat ayah," ucap Yoga seraya bangkit.


Yoga memeluk Meli." Ibu yang sabar ya," ucap Yoga sambil mengusap punggung mertuanya.


" Hiks hiks, iya. Mungkin ayah juga sudah lelah dengan penyakitnya, akhirnya dia menyerah. Selama lima tahun ia menderita karena penyakitnya. Mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk ayah agar ia tak lebih lama tersiksa," ucap Meli sambil kembali menangis.


Keduanya pun saling mengurai pelukannya.


" Dimana Zhezha, Ga ? " tanya Meli seraya memandang ke arah pintu.


Yoga diam beberapa saat.


" Zhezha ada di belakang Bu. Tadi Yoga dari luar kota," tukas Yoga.


" Ehm, ya sudah."


Yoga menghampiri tubuh yang sudah terbujur kaku itu.


Yoga menitikkan air matanya melihat tubuh pak Yanto yang begitu kurus hanya tinggal tulang yang diliputi kulit.


Ia kembali ingat bagaimana dulu betapa gagahnya pak Yanto. Dengan keangkuhan dan kesombongan nya ia selalu membanggakan apa yang ia miliki dan membandingkan dengan apa yang tak dimiliki oleh keluarganya.


Benar saja, jika harta, tahta dan kedudukan hanya bersifat sementara, tak ada yang kekal di dunia ini. Terlebih lagi semua yang kita miliki juga akan diminta pertanggungjawaban kelak di hadapan Yang Maha kuasa.


Yoga sendiri merasa tertampar, ia pun sadar sesadarnya jika semua yang ia miliki hanya titipan. Semua yang ia miliki adalah ujian untuk menguji dirinya.


Yoga berkaca pada sosok yang yang ada di hadapannya.Sosok yang kini terbujur kaku tanpa daya.


' Ternyata aku juga gagal dalam menghadapi ujian hidup ini. Ketika Allah menguji ku dengan kemiskinan, aku bisa begitu sabar menghadapinya. Namun ketika ia menitipkan Hatta aku justru kufur, bahkan berbuat Zalim, api dendam mulai tumbuh di hati ku dan membakar semua kesabaran yang ku pertahankan selama ini,' batin Yoga.


Yoga langsung memeluk tubuh kering yang pucat dan dingin tersebut.


" Ayah maafkan Yoga Yah. Maafkan Yoga yang telah menaruh kebencian terhadap ayah. Yoga juga sudah menyia-nyiakan Zhezha yang ayah amanahkan kepada Yoga," ucap Yoga dengan lirih sambil menangis memeluk mayat pak Yanto.Yoga menujukan penyesalannya l, ia pun bermaksud mendoakan pak Yanto dan mengikhlaskan serta memaafkan pak Yanto.


Diantara orang -orang yang hadir di ada pak Burhan dan Bu Burhan.


Yoga pun menghampiri beliau seraya menjabat tangannya.

__ADS_1


" Dimana Zhezha, Ga?" tanya pak Burhan.


" Masih dalam perjalanan Pak."


" Loh, kamu gak bersama dia ?" tanya pak Burhan yang sudah mulai curiga sejak Yoga menelponnya.


" Gak, saya sedang berada di luar kota, sementara Zhezha dari arah kota, mungkin dalam dua atau tiga jam lagi dia sampai," jawab Yoga.


Sebenarnya Yoga begitu gelisah, jika harus menunggu tiga sampai empat jam lagi.


Yoga ikut membaca Yasin bersama para pelayat lainnya.


***


Mobil Wisnu membelah jalanan raya menembus pekatnya malam.


Setelah tidur beberapa saat Zhezha terbangun.


Ia mengamati keadaan sekelilingnya kemudian melihat petunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya.


" Ehm, maaf Mas aku ketiduran."


" Iya tadi Yoga sempat menelpon menanyakan keberadaan kita."


" Iya biarkan saja," sahut Zhezha lirih.


Perjalanan pun tetap dilanjutkan meski sudah beberapa kali Wisnu menguap karena mengantuk.


***


Pukul tiga pagi Zhezha pun tiba di rumah duka. Saat itu rumah duka sudah sepi hanya ada beberapa orang laki-laki yang membaca Yasin sepanjang malam termasuk pak Burhan dan Yoga.


Mobil Wisnu berhenti di halaman parkir rumah Zhezha yang cukup besar. Rumah Zhezha juga tak kalah bagus dan besar dengan miliknya bahkan lebih besar.


Hanya saja sudah tak lagi terurus karena cat temboknya yang mulai terkupas-kuplas.


Setelah mobil berhenti dengan sempurna, Zhezha melepaskan Seat Belt nya yang entah kapan benda tersebut terpasang menahan tubuhnya.


" Ayo Mas masuk," ucap Zhezha seraya membuka pintu mobil.


Zhezha tak menurunkan kopernya karena ia terlihat terburu-buru memasuki rumah tersebut.


Kedatangan Zhezha seketika jadi pusat perhatian orang-orang.


Dimana begitu tiba di depan pintu, Zhezha langsung menangis ketika melihat tubuh sang ayah terbujur kaku.


" Ayah !"seru Zhezha yang langsung menangis menghampiri jasad tanpa nyawa tersebut.


" Maafkan Zhezha Yah, Zhezha baru pulang hiks. Zhezha gak ada saat ayah menghembuskan nafas terakhir ayah hiks hiks hiks."


Zhezha menangis memeluk tubuh ayahnya.


Suasana duka semakin terasa duka melihat ratapan sedih Zhezha dan penyesalannya karena belum sempat bertemu dengan alm sebelum kepergiannya l.


Hiks hiks, Zhezha terus menumpahkan air mata yang sudah berjam-jam yang lalu ia tahan.


Melihat Zhezha yang menangis ,Meli sang ibunda menarik tubuh Zhezha yang terus menangis memeluk ayahnya.

__ADS_1


" Sudah Zhe, ayah sudah tenang," papar Meli, ia pun kembali menangis kedua ibu anak yang kini menyandang status janda dan calon janda itu pun saling memeluk haru.


Keduanya menangis karena begitu merasakan kehilangan orang yang mereka sayang.


Hiks hiks, sahut menyahut suara Isak tangis kedua wanita beda generasi tersebut.


Melihat hal itu Yoga juga ikut menangis.


" Assalamualaikum," tiba-tiba suara seorang pria yang begitu asing terdengar mengucapkan salam di depan pintu.


" Waalaikum salam," sahut orang-orang yang ada di sekitar tempat tersebut.


Sosok tampan bertubuh tegap berusia sekitar dua puluh delapan tahun tersebut sontak jadi perhatian termasuk ibunda Zhezha.


" Waalaikum salam," sahut Meli sambil mengurai pelukannya, karena Meli melihat pria asing itu berjalan menghampirinya.


Karena Wisnu mendorong koper Zhezha dan meletakkan di depan pintu. Taulah mereka jika pria itulah yang mengantar Zhezha.


Awalnya mereka pikir pria tampan tersebut mungkin saja sopir yang mengantar Zhezha, meskipun penampilan Wisnu tak seperti supir taksi pada umumnya.


Yoga terus mengekori Wisnu yang berjalan menghampiri Mertua dan istrinya.


Wisnu bersalaman dengan menakup dua telapak tangannya di dada.


"Turut berdukacita ibu, atas meninggalnya ayanda Zhezha."


" Iya Terima kasih,"jawab Meli dengan senyum sekilasnya.


" Ini mas Wisnu Bu, teman Zhezha yang pernah Zhezha ceritakan pada ibu ketika bapak di rumah sakit," ucap Zhezha.


" Oh iya. Ibu ingat."


" Terima kasih ya Nak Wisnu karena telah mengantar Zhezha, " ucap Meli dengan tulus. Walaupun sebenarnya ia tak suka jika putrinya tersebut bertemakan dengan seorang pria.


Yoga terus menatap ke arah mereka, tanpa sengaja Meli melihat ke arah Yoga yang terlihat cemburu.


Setelah mengucapkan belasungkawa, Wisnu menghampiri para warga kemudian bersalaman satu persatu dengan warga tersebut termasuk Yoga.


Wisnu duduk di samping Yoga yang terlihat kesal pada dirinya.


" Sudah lama tiba pak Yoga?" tanya Wisnu sekedarnya.


" Empat jam yang lalu, " sahut Yoga bernada sinis.


Perjalanan yang Wisnu dan Zhezha termasuk lambat karena memakan waktu tujuh jam. Padahal jika perjalanan malam dan tanpa hambatan perjalanan hanya membutuhkan waktu lima sampai enam jam.


" Lama sekali tibanya, singgah kemana saja ?" tanya Yoga menyelidik dengan nada cemburunya.


" Gak singgah hanya saja kecepatan mobil saya stabil enam puluh kilometer per jam. Karena saya tak pernah keluar kota melalui jalur yang dilewati. Saya jadi lebih berhati-hati,' papar Yoga agar tak salah paham.


Keduanya pun terlihat seperti orang yang sedang perang dingin.


Sepanjang malam Meli dan Zhezha ikut membaca Yassin untuk alm pak Yanto. Namun Meli menangkap ada yang aneh antara Zhezha dan Yoga.


Meski menyadari kehadiran Yoga, Namun sepanjang malam keduanya tak saling menyapa sekalipun.


Bahkan Zhezha dan Yoga berada di sisi yang berbeda. Dan Meli menduga kerenggangan hubungan mereka karena hadirnya orang ketiga yakni Wisnu.

__ADS_1


Sesekali Meli Melirik ke arah Wisnu dan Zhezha. Sesekali juga ia melirik ke arah Yoga yang selalu melirik ke arah Zhezha. Namun justru Zhezha yang terlihat begitu cuek dengan Yoga.


Bersambung gengs, masih ada dua bab untuk hari ini


__ADS_2