Menanti Jatuhnya Talak 3

Menanti Jatuhnya Talak 3
Menanti Waktu


__ADS_3

Zhezha dan Lilis baru saja selesai membereskan barang-barang pindahan Zhezha. Mereka pun duduk sambil menikmati sebungkus nasi padang yang dibeli Lilis di warung makan terdekat. 


" Zhe, setelah makan aku pulang ya, " cetus Lilis. 


" Kenapa gak nginap di sini Lis, kan suami kamu juga jarang pulang, " usul Zhezha. 


" Gak bisa Zhe, aku harus selalu ada di rumah, jadi ketika Om Rudy butuh aku, dia gak kecewa, " papar Lilis. 


" Oh gitu ya, iya deh. Aku juga  mau istirahat setelah ini.Capek banget aku hari ini Lis, tulangku rasanya seperti remuk, " ucap Zhezha. 


" Iya gitu Zhe, tapi ntar juga biasa, " sahut Lilis sambil merapikan bekas makanan. 


" Hooh," 


Hua ...Zhezha pun menguap sambil melirik penunjuk waktu yang ada di pergelangan tangannya 


" Baru pukul delapan malam ternyata, udah ngantuk aja, " gumam Zhezha. 


" Ya sudah kamu istirahat saja, aku juga, mau pulang," sahut Lilis. 


" Ehm, iya Lis terimakasih ya, " ucap Zhezha ia pun bangkit untuk menutup pintu. 


Lilis meraih tas Kremes miliknya. 


" Oh iya, aku sampai lupa Zhe, tadi waktu kita masih di apartemen aku lihat Yoga baru tiba, sepertinya di buru-buru banget."


" Ehm, dia orang sibuk Lis, jadi semua terburu-buru, termasuk terburu-buru menceraikan ku, haha, "cetus Zhezha. 


" He he, sepertinya  begitu."sahut Lilis. " Aku mau lihat saja, apa Yoga akan menyesal Zhe,setelah berpisah dengan kamu. "


" Ah, kurasa gak bakalan nyesel, sekarang dia punya segalanya. Hidup sukses, muka ganteng, jabatan tinggi, perempuan manapun pasti mau sama dia. Gak kayak dulu, dulu cuma aku mau sama dia, ha ha. "Zhezha sudah coba melupakan rasa di hatinya dengan celotehan bernada bercanda, meski hatinya masih saja terasa sakit saat mengingat Yoga. 


"Benar katamu Zhe. Sekarang dia songong maklum saja dengan semua yang ia miliki saat ini Yoga bisa mendapatkan semua yang diinginkannya. Ibarat pepatah nih ya ' tepuk dada silakan tanya selera' coba aja dulu, waktu dia miskin , bukan tepuk dada tanya selera, tapi tepuk dada langsung muntah darah! " sahut Lilis lagi. 


Ha ha ha tawa keduanya pun pecah seketika. 


" Segitunya kamu Lis, haha. "


" Biarin saja, kesel saja sama Yoga, Zhe. " 


"Tapi , kamu sudah bilang pada Yoga kalau kamu mau pindah Zhe? " tanya Lilis. 


" Ah gak usah bilang, dia pasti sudah tau lah. Bukannya  kami sebenarnya resmi bercerai secara agama Lis, kan aku gak punya masa iddah, aku gak pernah disentuh sama dia. "


" Wah kalau begitu kamu boleh langsung dinikahi orang lain Zhe? " tanya Lilis. 

__ADS_1


" Boleh,kalau pengadilan sudah resmi memberi keputusan. "


Lilis mengerucutkan bibirnya


" Alah, kalau tau gitu mendingan nikah sirih saja kalian kemarin, jadi gak ribet. Jadi begitu cerai kamu sudah bisa langsung menikah lagi tanpa nunggu proses pengadilan, " cetus Lilis dengan geram. 


Zhezha tersenyum simpul melihat reaksi Lilis. 


" Kalau tau mas Yoga seperti ini, aku gak maulah nikah sama dia, meskipun aku cinta mati sama dia, " cetus Zhezha. 


" He he iya juga ya, " sahut Lilis sambil tersenyum nyengir. 


" Ya sudah Zhe, aku pulang dulu ya. Kalau ngobrol sama kamu, gak abis-abis. Kasihan kamu butuh istirahat, kan besok kamu harus kerja, " cetus Lilis sambil menggunakan high heels import miliknya. 


Setelah menutup pintu dan membersihkan tubuhnya, Zhezha langsung berbaring terlentang. 


Beberapa kali menguap ia pun tertidur dengan sendirinya. 


Sementara saking sibuknya Zhezha di hari itu, ia tak pernah melihat keadaan smartphonenya yang dalam keadaan mati. 


***


Sementara itu, perasaan Yoga terus saja gelisah, ia menunggu di kamar Zhezha berharap Zhezha akan pulang malam itu juga. 


' Zhe, apakah kamu merasakan apa yang aku rasakan saat ini Zhe, kesepian dan kedinginan ketika menanti  kepulanganmu, ' batin Yoga. Bulir bening perlahan menetes di pipinya. 


" Maafkan aku Zhe,karena telah meninggalkan kamu sendiri di rumah ini, kamu pasti merasakan sepi dan sunyi ketika aku tak ada. Hiks "  Yoga meratapi kesalahannya dengan bulir bening yang semakin deras menetes hingga membasahi pipinya. 


Sesak langsung terasa di hati Yoga ketika membayangkan posisi Zhezha yang sama dengannya saat ini. 


Yoga pun bangkit dan menangis, rasa sakit yang begitu sakit kini menyiksa perasaannya. 


Yoga menangis tergugu dengan tubuh yang terguncang dan wajah yang tersembunyi di balik lututnya. 


" Zhe, pulang lah Zhe, Aku akan menunggu kamu disini Zhe" ucapnya berkali-kali sambil menangis. 


" Akh!" Yoga menjerit tertahan sambil meremas sprei. 


Andai saja waktu bisa diputar kembali hingga bisa membalikkan keadaan seperti yang kita inginkan, tentu tak akan pernah ada kata penyesalan dalam hidup ini. Sayangnya, sesuatu yang telah terjadi tak mungkin dapat dikembalikan sama seperti dulu. Meskipun akan selalu ada kesempatan yang kedua. 


Sesuatu benda  yang retak saja, akan tetap berbeda, meskipun telah dipersatukan kembali. Apalagi jika hati yang telah terluka, maka dia tak akan sama seperti dulu lagi. 


Entah berapa lama Yoga menangis menyesali keputusannya. 


Setelah lelah menunggu ,akhirnya Yoga terlelap dengan sendirinya. Saat itu, Yoga tidur di tempat tidur Zhezha, memeluk bantal guling yang biasa Zhezha peluk, ketika Zhezha merasa kedinginan dan kesepian,  berada sendiri di kamar itu. 

__ADS_1


***


Hari ini Zhezha pagi-pagi sekali sudah menyiapkan kebutuhan untuk dirinya sendiri. 


Untuk menghemat biaya pengeluarannya, Zhezha memasak sendiri untuk sarapan dan bekal makan siangnya. 


Setelah semua siap, Zhezha memeriksa tasnya dan menemukan smartphone dalam keadaan mati karena tak terisi daya sama  sekali. 


" Ya ampun sampai mati gini, ntar ah.. 


mengisi dayanya di toko saja, sudah gak keburu, " ucap Zhezha. Ia pun bersiap berangkat untuk jalan kaki ke arah ruko tempatnya bekerja. 


***


Yoga berada di depan meja makan sendiri,dan hanya berteman secangkir kopi hangat dan nasi goreng dingin yang semalam ia masak untuk makan malamnya. 


Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi, kopi tersebut sudah terasa dingin. Namun belum disentuh sama sekali olehnya. 


Saat ini, jika seperti biasanya Yoga sudah berada di kantor, sibuk dengan pekerjaannya. Namun tidak dengan pagi ini, Yoga masih berada di rumah sedang melamun sambil menunggu  Zhezha yang tak kunjung pulang. 


Kring… 


Nada dering terdengar begitu nyaring. Seketika Yoga tersadar dari lamunan. 


Ia buru-buru mengangkat telepon tersebut, berharap Zhezha yang menghubunginya kembali. 


Namun semua di luar ekspektasi. 


" Hallo, " sapa Yoga dengan lemas. 


"Hallo, selamat pagi pak Yoga."


" Selamat pagi pak Hengky. Ada apa ya? "


"Pak Yoga saya sudah mendapatkan jadwal untuk sidang pertama bapak, rencana senin besok sidang akan digelar pada pukul sepuluh pagi, saya harap. Anda dan istri bersedia untuk hadir ya pak, " ucap pak Hengki pada sambungan teleponnya. 


Yoga kembali tersentak mendengar penuturan pak Hengky tersebut. 


' Hah sidang? Ya ampun! Aku lupa jika gugatan perceraian ku sudah masuk ke ranah persidangan, ' batin Yoga. 


Yoga mengedar pandangan sekelilingnya


' Kalau begitu secepatnya aku harus cari Zhezha, ' batin Yoga sambil menutup sambungan telepon tersebut. 


Bersambung dulu gens. Tinggal like dan komentarnya ya 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2