Menanti Jatuhnya Talak 3

Menanti Jatuhnya Talak 3
Tinggal Seatap


__ADS_3

 " Mas Yoga," guman Zhezha lirih. Ia juga tak menyangka  jika Yoga akan pulang. 


Yoga masuk ke dalam rumah dan mendapati Zhezha sedang duduk berhadapan dengan pria asing.


Yoga memasukan tangannya ke saku celana, kemudian melirik ke arah Zhezha dan Wisnu secara bergantian. 


Wisnu merasa tak enak hati melihat tatapan sinis dari Yoga tersebut. Agar tak jadi kesalahpahaman, Wisnu berdiri menghampiri Yoga, kemudian mengulurkan tangannya. 


" Perkenalkan Mas, saya Wisnu. Saya adalah orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa saudara Zhezha, " ucap Wisnu. 


"  Kecelakaan? " tanya Yoga balik, sambil menjabat tangan Wisnu. 


Yoga kemudian melirik ke arah Zhezha yang memang  terlihat tidak fit, selain itu ada juga perban dengan panjang sekitar lima cm membalut kepala bagian kiri atas Zhezha, Dan ada juga beberapa luka memar dan bekas luka basah yang sudah mengering di pergelangan tangan dan lutut Zhezha. 


Yoga pun duduk di atas sofa single sendiri, sementara Lilis juga ikut mendaratkan bokongnya di samping Zhezha. 


" Kecelakaan, kenapa tidak ada yang menghubungi saya? " tanya Yoga bernada protes. 


Lilis langsung mengerucutkan bibirnya mendengar pertanyaan dari Yoga tersebut. 


" Halo, mas Yoga. Memangnya anda kemana, istri seminggu gak ada di rumah kok gak dicariin, " cetus Lilis bernada sinis. 


Seketika Yoga terdiam mendengar sahutan dari Lilis. Ia menatap tajam ke arah Lilis. 


Sementara Zhezha hanya diam dan tertunduk, begitupun Wisnu. Beberapa saat keadaan menjadi hening. 


" Ehm, kalau gitu. Saya permisi saja Mas, saya akan bertanggung jawab sepenuhnya sampai Zhezha sembuh, " ucap Wisnu lagi.


" Apa, cuma bertanggung jawab sebatas itu?! " tanya Yoga bernada protes. 


" Ini bukan kesalahan mas Wisnu juga mas! Akunnya juga yang salah. Gak lihat waktu nyebrang,  " sahut Zhezha langsung. 


Yoga kembali diam sambil melirik ke arah Zhezha dan Wisnu secara bergantian. 


Zhezha berdiri untuk menghormati tamunya yang hendak pulang. 


" Terima kasih ya mas Wisnu, " ucap Zhezha kepada Wisnu. 


" Iya sama-sama. "


" Kalau begitu saya permisi ya Zhe, Mas Yoga, " ucap Wisnu dengan sopan. Ia pun bermaksud undur diri. 


" Iya Mas, terima kasih sekali lagi. Maaf sudah merepotkan, " balas Zhezha. 


" Gak apa-apa kok. "

__ADS_1


" Aku juga mau pulang Zhe, besok aku datang lagi untuk nemenin kamu di rumah," timpal Lilis. 


" Iya terimakasih banyak ya Lis, " balas Zhezha. 


Mereka pun cipika cipiki. 


" Mas Yoga, aku permisi dulu ya. Dada..." ucap Lilis dengan nada centilnya. 


Yoga tak membalas, ia justru menatap sinis ke arah lilis yang terkesan mengejeknya. 


***


Setelah tamu mereka pulang. Yoga menutup pintu, ia pun langsung menghampiri Zhezha yang sudah hendak melangkah  menuju kamarnya. 


" Tunggu Zhe! " tahan Yoga. 


" Ada apa Mas? " Zhezha menoleh dan menunggu Yoga menghampirinya. 


" Kamu kenapa gak bilang kalau kamu kecelakaan? " tanya Yoga sambil menatap ke arah wajah Zhezha. 


Sementara Zhezha menundukkan wajahnya, enggan melihat Yoga. Karena setiap melihat Yoga, batinnya seperti tersiksa. 


Zhezha menarik nafas panjang, berusaha untuk menahan perasaannya yang bercampur baur. 


" Aku gak mau merepotkan kamu Mas. Lagi pula, orang sibuk seperti kamu, pasti gak punya waktu untuk mengurusi hal yang gak penting seperti ini, " sahut  Zhezha dengan helaan nafas beratnya sambil berlalu meninggal Yoga. 


***


Wisnu tiba di rumahnya. Langsung saja ia menuju kamarnya. Setelah melepaskan sepatu dan dasi kemudian ia  berbaring terlentang di atas tempat tidur, matanya menatap langit-langit kamarnya. 


' Sebenarnya apa yang terjadi pada mu Zhe? ' batin Wisnu. Wisnu melamun memikirkan sesuatu. 


" Astagfirullah, " tiba-tiba ia mengucap, karena tak pantas baginya mengharapkan perpisahan terjadi pada pasangan muda tersebut. 


" Sebaiknya aku tak terlalu berharap," gumamnya lagi. Ia pun bangkit dari tempat tidur kemudian menuju kamar mandiri. 


Wisnu berusaha melupakan perasaan yang baru saja tumbuh di hatinya itu pada Zhezha, ia melihat hubungan kedua pasangan suami istri itu sebenarnya masih bisa diselamatkan. Karena Wisnu  bisa melihat kecemburuan di wajah Yoga saat menatap wajahnya.


***.


Sudah tiga hari Yoga dan Zhezha berada di rumah. Namun tak ada perubahan yang terjadi pada hubungan keduanya. 


Meski tinggal satu rumah, mereka jarang sekali bertatap muka. 


Zhezha keluar dari kamarnya ketika Yoga belum melakukan aktifitas di luar kamar. Dan ia kembali masuk ketika Yoga hendak ke kantor. 

__ADS_1


Mereka berdua seperti saling menghindar. 


Sebagai seorang istri, Zhezha merasa berkewajiban untuk menyiapkan sarapan Yoga setiap paginya, meski hanya secangkir kopi dan sepotong roti . Setelah itu ia kembali ke kamar lagi jika urusannya sudah  selesai. Begitulah yang terjadi pada mereka selama beberapa hari ini. 


***


Pagi ini Yoga keluar dari kamarnya dengan mendorong koper miliknya. 


Ia pun menghampiri Zhezha yang sedang sibuk di dapur. 


" Aku mau pergi ke luar kota Zhe, kalau terjadi apa -apa kamu telepon aku saja, " ucap Yoga. 


" Iya Mas, hati- hati di jalan,"  sahut Zhezha sambil mencuci piring tanpa menoleh ke arah Yoga. 


" Aku juga sudah kirim kan jatah bulanan mu untuk bulan ini Zhe, " tambahnya. 


" Ehm, sebenarnya gak perlu Mas, bulan kemarin saja belum habis kok. Uang sebanyak itu gak akan habis aku sebulan. Lagi pula, aku sudah memutuskan untuk kerja, " sahut Zhezha tanpa menoleh ke arah Yoga. 


" Kamu gak boleh kerja sebelum resmi bercerai dari aku Zhe, " cetus Yoga. 


Mendengar hal itu Zhezha langsung menoleh dan menghampiri Yoga. 


" Apa Mas, kamu gak izinkan aku kerja? Trus aku harus berada di rumah ini saja tanpa melakukan apa-apa? " tanya Zhezha sambil menatang mata Yoga. 


Yoga menatap Zhezha dengan tatapan bola mata yang berpendar. 


" Mas, setelah berpisah dari kamu aku juga harus bisa menghidupi diri dan keluarga aku, aku gak bisa terus mengharapkan pemberian atas dasar belas kasihan dari mantan suami seperti kamu ! Aku tahu kamu punya segalanya. Aku juga tahu dengan harta dan kedudukan yang kamu miliki saat ini kamu bisa menghidupi ku dan keluarga ku. "


" Tapi aku juga punya harga diri, Mas. Maaf, aku gak bisa menerima semua pemberian kamu meskipun itu adalah kewajibanmu!" ucap Zhezha. 


Yoga kembali terdiam, baru kali ini ia melihat kemarahan pada wajah Zhezha. 


Zhezha masuk ke dalam kamarnya, kemudian mengambil sesuatu dan beberapa saat kemudian ia keluar dengan membawa beberapa berkas dan kartu ATM. 


Zhezha kembali menghampiri Yoga dan berdiri tepat di hadapannya. 


" Jika menikahi ku hanya untuk menunjukkan kepada orang tua ku bahwa saat ini kau mampu dan hidup dengan mapan , maka kau ambil kembali saja semua ini! Karena kami sudah tahu semua tentang kemampuanmu itu. " 


" Terima kasih atas semua kebaikanmu karena telah menikahi perawan tua seperti ku, dan Terima kasih pula atas gelar janda yang akan kau sematkan pada ku sebentar lagi, " ucap Zhezha dengan tubuh yang gemetar karena gregetan. 


Keduanya saling menatap dengan lekat. Yoga melihat kesedihan dan rasa kecewa yang amat dalam di mata Zhezha.


" Ini mas aku kembalikan semua. Aku gak butuh semua hasil kerja kerasmu selama ini! " Seru Zhezha sambil mendorong  Yoga dengan mengembalikan semua berkasnya dengan menarik telapak tangan Yoga. 


" Jika kamu keberatan aku tinggal di sini, aku akan pergi secepatnya Mas, " tambahnya lagi. 

__ADS_1


Zhezha menahan perasaan agar ia tak menangis hingga terlihat lemah didepan Yoga. Meskipun tubuhnya berguncang karena gemetaran ketika mengatakan hal itu kepada Yoga. 


Bersambung dulu ya gengs, maaf untuk slow up. Nanti akan ada crazy up. Insya Allah. 


__ADS_2