
❌ perhatian episode ini mengandung adegan dewasa, so yang belum cukup umur intip saja ya, gak usah di baca keseluruhan,😄😄❌
Setelah menunaikannya kewajibannya sebagai seorang hamba dengan sholat berjamaah, mereka sekeluarga menuju meja makan.
Namun sebelumnya Yoga menarik tangan Zhezha terlebih dahulu.
" Zhe, sini mas Yoga punya sesuatu untuk kamu," ucap Yoga sambil menarik tangan Zhezha dan menuntunnya ke atas tempat tidur.
" Ada apa Mas ?" tanya Zhezha.
Yoga mengeluarkan sebuah kotak merah kecil yang berisi cincin berlian.
Zhezha kaget melihat cincin yang begitu mirip dengan cincin pernikahan mereka dulu.
Tanpa bertanya Yoga langsung menyematkan cincin tersebut ke jari manis Zhezha.
" Aku gak tau Zhe, dimana kamu simpan cincin pernikahan kita, tapi anggaplah cincin itu sebagai kisah lama yang menyakitan biarkan saja cincin itu hilang entah kemana."
" Mulai dari sekarang, mari kita ukir kembali kisah kita yang baru, kisah yang manis dan indah seperti dulu," ucap Yoga sambil menyematkan cincin itu di jari manis istrinya.
" Cincin itu gak hilang mas, tapi aku jual untuk pengobatan ayah ku."
Yoga tersenyum sambil membelai rambut Zhezha.
"Tak apa sayang, anggaplah ini penggantinya.Terima kasih atas kesempatan yang kau berikan pada mas Yoga, Zhe. Jika kau tak ada di samping mas Yoga, apalah arti perjuangan mas Yoga selama ini. Bukannya mas Yoga berjuang mati-matian hanya untuk mendapatkanmu,agar bisa hidup bersama dengan mu. " ucap Yoga sambil mencium telapak tangan Zhezha dengan lekat.
Zhezha tersenyum menatap Yoga dengan tatapan mata yang berbinar. " Iya Mas aku juga minta maaf, dengan merasakan sakit yang kau berikan, aku pun tahu bagaimana sakit yang kau rasakan , maafkan jika ayah…"kata-kata Zhezha berhenti karena Yoga segera memblok bibir Zhezha dengan bibirnya, setelah beberapa saat ia pun kembali menarik wajahnya.
Yoga menggenggam tangan Zhezha.
" Sudahlah Sayang. Jika kita ingin melupakan sesuatu, sebaiknya jangan pernah ungkit hal itu lagi. Mas Yoga sudah ikhlas,'"ucap Yoga sambil menatap Zhezha dengan tatapan berembun.
Zhezha tersenyum sambil meletakan kepalanya pada dada bidang Yoga.
" Terima kasih Mas. Kamu benar , sebaiknya kita lupakan semua kenangan yang menyakitkan itu dan membuka lembaran baru di hidup kita. Lagi pula orang tua kita sama-sama sudah tiada. Lebih baik kita sering-sering berdoa untuk pengampunan dosa mereka. Karena hanya doa anak shaleh lah yang bisa jadi penyelamat orang tuanya saat ini."
" Iya Sayang. Sekarang kita makan malam, karena aku sudah tak sabar ingin berbuka puasa malam ini," ucap Yoga sambil mencium pucuk kepala Zhezha.
Zhezha menatap ke arah Yoga yang menatapnya dengan penuh damba. Zhezha kembali mengalungkan leher Yoga dengan tangannya.
" Ayo mas kita makan dulu, setelah itu aku siap untuk jadi milikmu seutuhnya," ucap Zhezha sambil menatap wajah tampan suaminya.
"Kau membuatku jadi tak berselera makan Sayang," ucap Yoga dengan tatapan mesumnya.
Zhezha tertawa kecil melihat suaminya yang sudah terbakar hasrat.
" Sabar Mas, orang sabar di sayang Tuhan, ha ha," ucap Zhezha sedikit berbisik. Ia pun tertawa melihat suami yang menahan konaknya wajah Yoga pun memerah dengan tatapan mata yang sendu.
Entah kenapa Yoga jadi tak bisa menahan hanya untuk satu jam, padahal ia sudah menahan selama setahun ini.
" Kalau begitu Yuk kita segera makan, " ucap Yoga sambil merangkul pundak istrinya.
Keduanya pun berdiri dan berjalan dengan bergandengan tangan menuju meja makan.
__ADS_1
Yoga menarik kursi untuk Zhezha kemudian ia duduk di samping istrinya.
" Ibu !" panggil Zhezha ketika Bu Meli belum juga tiba di meja makan.
Zhezha mengaut nasi dan lauk ke piring suaminya. Kemudian ia menuangkan air putih di gelas sang suami.
Jika biasanya Yoga yang melayaninya, kali ini giliran Zhezha yang melayani suaminya.
Setelah mereka semua berkumpul barulah makan malam pun di mulai.
Zhezha dan Yoga tampak bahagia. Sesekali mereka saling menyuapi makanan yang ada di piring mereka.
Canda dan tawa pun terdengar sesekali di antara mereka yang terlihat begitu bahagia.
Melihat sang putri yang begitu ceria Bu Meli ikut terbawa suasana bahagia. Akhirnya setelah sekian lama, ia bisa melihat wajah bahagia anak dan menantunya.
Makan malam selesai, Zhezha membantu Bu Meli merapikan meja makan.
Sementara Yoga langsung menuju kamarnya.
Setelah beberes Zhezha kembali ke kamarnya. Ia yakin jika dirinya sudah ditunggu oleh Yoga.
Zhezha membuka pintu kamar dengan jantung yang berdetak kencang.
Senyum manis Yoga dan duduk di atas tempat tidur membuatnya semakin nervous.
Apa lagi saat itu sang suami tengah bertelanjang dada.
Zhezha melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sekedarnya saja.
" Ya ampun kok aku deg deg gini sih. Padahal aku juga sangat menginginkan mas Yoga," ucap Zhezha sambil tersenyum dengan dia telapak tangan menyentuh pipinya.
Zhezha mulai membersihkan bagian tubuh yang di rasanya perlu untuk di bersihkan, setelah beberapa saat ia pun kembali ke kamar.
Zhezha coba untuk tak menoleh ke arah Yoha yang terus memandangi gerak-geriknya.
Meski sudah hampir setahun tidur bersama.Namun Zhezha masih saja gugup. Karena ini adalah malam pertama mereka setelah menikah selama setahun.
Zhezha melangkah menuju lemari pakaian untuk mencari pakaian tidurnya.
" Sayang lama sekali," cetus Yoga yang seperti melihat sang istri bertele-tele.
" Aku mau ganti pakaian dulu lah mas," sahut Zhezha sambil memilih gaun malam yang akan ia kenakan.
Namun belum pun sempat menarik lingerienya yang tergantung di lemari, Zhezha merasakan tangan Yoga yang memeluknya dari arah belakang.
" Ngapain cari baju tidur, malam ini kita tak butuh pakaian Sayang" ucap Yoga berbisik mesra ke telinga Zhezhe.
Zhezha sedikit merinding ketika merasakan harumnya nafas Yoga dan hangatnya pelukan Yoga yang kini tanpa busana sehelai pun.
Jantungnya berdetak tak karuan ketika merasakan senjata milik suaminya berdiri dengan gagah perkasa.
Zhezha menahan salivanya membayangkan apa yang terjadi di antara mereka di malam ini.
__ADS_1
Yoga membalikkan tubuh Zhezha kemudian mendaratkan kecupan di bibirnya.
" Kau sengaja ya membiarkan ku menunggu lama?"tanya Yoga dengan wajah yang menatapnya Zhezha penuh damba.
" Gak lah Mas, baiklah sekarang aku sudah siap,"ucap Zhezha sambil tersenyum mengedipkan matanya.
Tanpa menunggu lama Yoga yang sudah tak lagi bisa menahan hasratnya saja langsung mengangkat tubuh Zhezha dan membawanya ke atas tempat yg tidur.
Yoga meletak tubuh Zhezha dengan perlahan. Kemudian langsung menghujamkan kecupan bertubi-tubi di bibirnya hingga Zhezha kesulitan mencari nafas.
Tangan Yoga mulai menggerayangi tubuh istrinya mencari resleting untuk melepas pakaian yang dikenakan Zhezha saat itu dengan bibir yang masih saja saja saling bertaut.
Deru nafas mereka terdengar terengah-engah. Sebelum memulai pertemuan perdananya Yoga mencicipi terlebih dahulu setiap sudut dan lekuk tubuh istrinya.
Beberapa kali Zhezha menggelinjang karena sentuhan lembut Yoga yang terasa menggetarkan Sukmanya.
Zhezha merem melek menikmati setiap sentuhan nakal Yoga yang membuatnya terasa melayang layang ke udara.
Setelah puas menjelajahi tubuh istrinya Yoga mulai memasukan senjata tumpul miliknya.
Zhezha membelalakkan matanya ketika merasakan benda tumpul suaminya menerobos dinding suci miliknya.
Zhezha menggenggam erat tangan Yoga yang menggenggam tangannya.
Berkali-kali ia menarik napas panjang ketika Yoga menghentakkan senjatanya berusaha menerobos dinding suci miliknya.
Setelah berkali-kali menerobos celah sempit itu satu hentakan terakhir Yoga membuat tubuh Zhezha terguncang.
Bulir bening pun menetes di pipinya, akhirnya sesuatu yang paling berharga dari dirinya bisa ia persembahkan untuk lelaki yang paling ia cintai itu.
Yoga terus melanjutkan pergerakannya, sesekali ia mencium kening dan bibir Zhezha dengan erangan tertahan.
Terkadang mereka saling melempar senyum seraya menikmati gerakan dari penyatuan mereka.
Setengah jam berlalu, akhirnya Yoga menyerah, ia sudah tak kuasa untuk menebar benih ke rahim istrinya
" Akh !"
Tubuh Yoga yang berlumuran keringat ambruk di atas tubuh Zhezha.
Beberapa saat ia masih memeluk dan mengukung tubuh istrinya.
Yoga mengatur nafasnya yang memburu. Ketika merasakan istrinya yang sudah lemas akibat ditimpa olehnya Yoga pun segera merebahkan tubuhnya di samping tubuh sang istri.
Sebelum ia mengecup kening Zhezha lekat kemudian tersenyum puas.
" I love you Zhe," ucap Yoga sambil mencium ceruk leher istrinya yang sudah basah akibat keringat.
" I love you too, Mas," sahut Zhezha dengan senyum bahagia.
Mereka pun berbaring miring saling menghadap. Sambil mengatur nafas Yoga mengelap setiap keringat yang keluar dari pori-pori istrinya, padahal tubuhnya juga berlumuran keringat ketika itu
Keduanya saling tersenyum mesra saling menatap penuh cinta.
__ADS_1
Ketika suhu tubuh keduanya sudah kembali normal. Pertarungan ronde kedua pun kembali dimulai.
Jeng jeng, bersambung dulu ya gengs. Sebenarnya outhor mau up semalam tapi udah ngantuk duluan he he. Next episode ya gengs