Menanti Jatuhnya Talak 3

Menanti Jatuhnya Talak 3
Cemburu


__ADS_3

Setelah hampir sebulan menjalani terapi dan pengobatan Zhezha mulai menunjukkan hasil.


Seperti biasanya, Yoga setiap pagi hari menyempatkan diri untuk menyuapi istrinya sarapan.


" Ayo sayang, makan yang banyak," ucap Yoga sambil menyuapi sang istri bubur.


Beberapa suapan Zhezha sudah menggelengkan kepalanya.


" Sudah kenyang ya ? Kenapa kamu makan sedikit sekali Sayang?" tanya Yoga.


Ia tak ingin memaksa sang istri untuk menghabiskan sarapannya.


Yoga kemudian menatap wajah Zhezha dan membelainya. Ia bersyukur Zhezha sudah bisa merespon. 


" Setelah ini minum obat kamu ya Sayang," ucap Yoga sambil merobek beberapa obat yang sudah di siapkan untuk Zhezha.


Ada rasa iba di hati Yoga melihat obat-obatan yang harus di makan oleh istrinya banyak dan bentuknya besar-besar..


" Ayo minum obatnya," ucap Yoga sambil menyodorkan beberapa pil dan tablet.


Zhezha kembali mengeleng, saat ini ia sudah bisa menolak apa saja yang tak diinginkan.


" Jangan begitu, mas Yoga tahu kamu bosan minum obat ini, tapi kamu harus tetap minum obat ini, demi kesembuhan kamu juga," tutur Yoga.


Ia kembali menyodorkan obat tersebut. Namun Zhezha kembali menggelengkan kepalanya.


" Ayo Sayang minum, kamu harus bersabar dalam pengobatan ini, jika kamu sabar dan semangat mas Yoga juga semakin sabar dan semangat


" ayo minum lagi," bujuk Yoga kembali.


Yang ketiga kalinya, barulah Zhezha membuka mulutnya menerima obat tersebut dan menelannya.


Yoga langsung menyodorkan air segelas agar Zhezha meminumnya.


" Nah gitu dong, " ucap Yoga ketika melihat istrinya telah selesai minum obat.


" Setelah makan dan minum obat, mas Yoga pamit ya, karena harus kerja. Kamu sama ibu dulu ya," ucap Yoga sambil mendorong kursi roda Zhezha.


Yoga membawa Zhezha menuju ruang tengah, biasanya Zhezhe menonton TV meskipun tatapan tetap fokus ke arah depan.


Yoga kembali ke kamar untuk mengambil barang-barangnya kemudian kembali lagi.


" Sayang mas Yoga pergi dulu," ucap Yoga sambil mencium pucuk kepala Zhezha setelah itu mencium bibir Zhezha.


" Bu Yoga pamit dulu ya, hari ini harus datang lebih pagi karena ada meeting penting."


" Oh iya Ga, ada obat Zhezha yang habis. Jangan lupa kamu belikan Ya. "


" Oh Iya Bu, nanti istirahat makan siang, aku antar," ucap Yoga sambil mencium punggung tangan Meli.


***


Yoga tiba di kantornya. Seperti biasa kehadiran selalu disambut baik oleh dia asistennya.


" Selamat pagi pak," ucap Siska dan Ramona setempak.


" Selamat pagi. Siska siapkan berkas yang akan dibawa meeting bersama pak Budi." Yoga langsung menuju ruangannya.


" Baik pak," sahut  Siska sambil mengedipkan matanya pada Ramona.


Rencananya Siska akan melancarkan aksinya untuk menggoda Yoga.


Dengan menggunakan rok span yang pendek dan ketat Siska menghampiri Yoga.


" Ini pak berkasnya. "


" Iya letakkan saja, nanti sebelum meeting saya periksa."


" Oh Ya pak, bagaimana dengan undangan malam penghargaan tersebut?"tanya Siska dengan harap-harap cemas.


" Oh iya saya lupa, kapan acaranya ?" tanya Yoga seraya melirik ke arah Siska.

__ADS_1


" Besok Pak malam Pak," sahut Siska.


" Ini mereka memberi dua undangan pak, boleh gak saya pergi bersama Bapak ?"tanya Siska dengan segenap keberanian ya.


" Oh boleh," cetus Yoga.


' Yes ! Akhirnya,' batin Siska sambil tersenyum simpul.


" Sekalian saja ajak Ramona, kita pergi bertiga. Siapa tau perusahaan kita masuk nominasi ," imbuhnya lagi.


Bukan main kecewanya Siska saat itu, karena tak jadi pergi berdua dengannya.


" Iya pak," sahut Siska bernada kecewa.


" Ya sudah kamu bersiap untuk ikut saya meeting hari ini," ucap Yoga.


' Yes, meski gak jadi berduaan dengan pak Yoga nanti malam,setidaknya siang ini bisa berdua di dalam mobil.Gak sia-sia penampilan ku hari ini,' batin Siska.


Siska pun beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan melangkah keluar dari ruangan tersebut.


" Siska!" Panggil Yoga, hingga membuat Siska pun menghentikan langkahnya.


" Iya Pak !" Siska pun menoleh.


" Lain kali kalau ke kantor berpakaianlah lebih sopan supaya enak dipandang mata," ucap Yoga.


Mendengar hal itu Siska jadi sedikit malu. Kata-kata Yoga memang lembut tapi begitu menusuk.


Ia segera keluar dari ruangan tersebut.


Siska kembali ke meja kerjanya dengan bibir yang mengkerut.Ramona menyunggingkan senyum tipisnya kearah Siska karena bisa menebak apa yang terjadi.


Sekitar sepuluh menit Yoga keluar dari ruangannya.


" Ramona, kamu ikut saya meeting hari ini," ucap Yoga.


Betapa kaget dan senangnya Ramona, karena biasanya Siska yang diajak oleh Yoga untuk meeting.


" Karena pakaian nya lebih rapi dari kamu," sahut Yoga yang langsung berlalu.


Ramona melangkah dengan semangat, ini pertama kalinya ia menemani si bos meeting.


" Dadah, ' ucap Ramona sambil melambaikan tangannya ke arah Siska yang tampak kesal.


Sementara Siska menatap bengis ke arah Mona.


Yoga dan Ramona langsung menuju mobil. Ramona deg degan ketika berada di samping Yoga yang menyetir.


" Wah aku kok jadi nervous gini ya, dekat dengan pak Yoga,' batin Ramona, diliriknya ke arah samping.


"Huh, mana pak Yoga ganteng dan wangi lagi. Hi hi sadar Mona kau sudah punya tunangan," batin Ramona.


Meeting selesai pukul dua belas kurang. Saat ini memang sudah waktunya jam makan siang.


" Mon, sudah waktunya makan siang. Kamu makan siang bersama saya di rumah saja ya ?" tanya Yoga.


" Oh boleh pak."


" Iya karena saya harus menebus obat istri saya. Obatnya baru tadi pagi tiba, jadi siang ini harus segera ditebus karena istri saya tak boleh terlambat minum obat," papar Yoga.


" Oh iya Pak, gak apa-apa."


Yoga pun singgah ke rumah sakit untuk mengambil obat istrinya. Karena obat Zhezha tidak bebas di jual di apotik. 


***


Yoga tiba di rumah, kehadiran bersama Mona membuat kaget Bu Meli..


" Assalamualaikum ibu," ucap Yoga.


" Waalaikumsalam," jawab Bu Meli.

__ADS_1


Sebelum bertanya tentang wanita  yang ia bawa, Yoga pun bermaksud menjelaskan kepada ibu mertuanya.


" Ini Ramona Bu, tadi kami habis meeting. Karena waktunya mepet jadi aku bawa dia sekalian untuk makan siang bersama. Ini obat Zhezha yang kurang."


Yoga meletak obat tersebut di atas meja.


Mona pun bersalaman dengan Bu Meli. Sekedar memperkenalkan dirinya.


" Mona kamu silahkan saja duduk dulu ya, " ucap Yoga. 


" Iya Pak."


Yoga menghampiri Zhezha yang berada di ruang tengahnya.


" Ayo Sayang kita makan," ucap Yoga sambil menuntun tangan Zhezha menuju meja makan. Zhezha pun mengikut saja.


" Ayo Mona, langsung saja ke meja makan Yuk,"ajak Yoga.


Mona pun mengikuti Yoga dan Zhezha. Ia salut melihat Yoga yang begitu perhatian pada istrinya.


" Silahkan duduk Mona."


" Iya Pak terima kasih," sahut Mona lagi.


Makan siang berlangsung khidmat. Sambil makan, Yoga juga menyuapi istrinya. Namun Zhezha seperti tak selera makan. Beberapa kali Yoga menyuapinya ia selalu menutup mulutnya.


" Zhezha sudah makan ya Bu ?"tanya Yoga.


" Tadi cuma makan buah. Mungkin masih Kenyang kamu makan saja," tukas Bu Meli.


Yoga pun melanjutkan makannya dengan sesekali menyuapi nasinya ke mulutnya. Namun Zhezha tetap tak mau membuka mulutnya.


Biasanya, Zhezha jika sudah merasa kenyang dia tak mau membuka mulutnya tak seperti dulu, ia pasrah di suapi apa saja dan sebanyak apapun.


Selesai makan siang Yoga berniat untuk kembali ke kantor karena jadwalnya yang padat.


Yoga menghampiri Zhezha. 


" Sayang Mas Yoga pergi kerja dulu ya," ucap Yoga sambil mencoba mencium bibir Zhezha.Namun reaksi mengejutkan terjadi.


Zhezha membuang wajahnya ketika Yoga hendak menciumnya, tatapan Zhezha pun tajam ke arah Yoga.


Antara senang dan kaget melihat reaksi Zhezha seperti itu.


Senang karena Zhezha sudah bisa menunjukkan ekspresi wajahnya. Kaget karena ia melihat tatapan Zhezha yang sepertinya marah kepadanya.


" Sayang kamu kenapa sih, kok seperti orang marah ya ?"tanya Yoga sambil berlutut di hadapan Zhezha.


Yoga menggenggam tangan Zhezha sambil tersenyum, karena ia bisa melihat kecemburuan di wajah istrinya.


" Mona itu asisten mas Yoga. Karena kami baru saja meeting, mas Yoga gak sempet mengantarkannya ke kantor. Jadi mas Yoga bawa saja dia kemari," ucap Yoga.


Zhezha kembali membuang wajahnya.


" Ha ha, gak apa kamu seperti ini. Kalau kamu cemburu itu berarti kamu masih sayang sama mas Yoga," ucap Yoga sambil memeluk Zhezha.


" Kamu tenang saja Zhe, mas Yoga hanya cinta sama kamu. Gak pernah ada wanita lain di hati mas Yoga selain kamu," bisik Yoga mesra di tepi daun telinga Zhezhe.


Ia pun mencium pipi istrinya dengan lekat.


Beberapa saat kemudian Yoga melepaskan pelukannya. Kemudian Yoga menghampiri Mona.


" Maaf Mon, saya tidak bisa mengantarmu. Nanti saya telepon Yudi untuk menjemput kamu di sini ya," ucap Yoga.


" Ehm iya pak saya mengerti kok," ucap Mona.


Ya sudah kamu duduk dulu ya. Sebentar lagi Yudi akan menjemput kamu.


" Iya Pak."


Setelah bicara pada Mona, Yoga kembali ke Zhezha. Ia kembali membujuk istrinya yang tengah dilanda cemburu tersebut. 

__ADS_1


Bersambung gengs, maaf ya author kemalan up 


__ADS_2