
Zhezha menunggu kedatangan orang tuanya di lobby pintu utama rumah sakit.
Tak berapa lama kemudian sebuah minimal bus hitam berhenti di depan lobby pintu utama rumah sakit.
Zhezha tersenyum sambil meneteskan air matanya ketika melihat kedatangan kedua orang tuanya tersebut.
Ada rasa rindu di hatinya setelah sebulan tak bertemu, tapi juga ada rasa miris ketika melihat keadaan pak Yanto yang hanya tinggal tulang kering dilapisi kulit kering yang sudah keriput.
Pak Yanto tampak seperti lelaki tua yang renta, padahal umurnya baru menginjak lima puluh tahun lebih sedikit.
Dengan dibantu oleh sopir, pak Yanto dikeluarkan dari mobil, kemudian diletakkan di atas kursi roda
" Masya Allah, kenapa ayah makin kurus Bu, hiks? " tanya Zhezha sambil menghapus air matanya.
" Zhe, " panggil pak Yanto lirih.
" Iya Yah, " jawab Zhezha sambil mencium punggung tangan ayahnya.
" Kabar kamu bagaimana Zhe, setiap hari ayah mimpi tentang kamu terus, " ucap pak Yanto dengan suara serak dan lirih yang terputus-putus.
Pak Yanto memang selalu bermimpi tentang Zhezha, mungkin karena Zhezha baru mengalami kecelakaan.
" Zhezha baik kok Yah, hanya saja Zhezha sedih melihat keadaan Ayah yang seperti ini hiks, " ucapnya sambil memeluk tubuh pria tua tersebut.
" Iya Zhe, sebenarnya dari minggu kemarin ayah mau nyusul kamu ke kota, apalagi tiga hari kamu gak ngasih kabar apa-apa, ayah sampai cemas loh. "
" Iya maaf Bu. Kemarin handphone Zhezha rusak. Untung masih menyimpan nomor ayah dan ibu, " ucap Zhezha. Ia memang sudah menyiapkan alasan untuk pertanyaan tersebut.
" Ayo Bu, kita bawa ayah langsung periksa. "
Zhezha mendorong kursi roda menuju ruang pendaftaran.
Namun, ia berhenti ketika mendengar suara panggilan masuk.
"Bu, tolong dorong kursi roda ayah ya. Zhezha mau angkat telepon, siapa tahu penting. "
Zhezha merogoh tasnya kemudian meraih benda pipih yang bergetar tersebut.
" Hallo assalamualaikum, " ucap Zhezha.
" Waalaikumsalam Zhe, kamu apa kabar Zhe? " tanya Wisnu.
"Ehm, baik Mas," Zhezha sedikit menjauh dari kedua orang tuanya.
" Oh Ya, hari ini harusnya kamu Check up, biar aku jemput kamu ya, " tawar Wisnu.
" Gak usah Mas, kebetulan aku lagi di rumah sakit, mengurusi rawat jalan ayah ku. "
" Ya sudah kalau begitu aku susul kamu kesana sekarang. "
__ADS_1
" Gak perlu Mas, aku rutin minum obatnya dan alhamdulillah belum ada keluhan yang berarti, " sahut Zhezha.
" Oh Yah sudah Zhe, obat kamu masih ada? " tanya Wisnu. Sebenarnya ia berusaha mencari cara agar bisa bertemu dengan Zhezha secara langsung.
" Masih ada Mas, aku sudah mendingan kok Mas, terimakasih ya mas Wisnu karena sudah repot, " ucap Zhezha.
Zhezha sengaja menjaga jarak agar tak berhubungan langsung dengan pria yang baru dikenalnya, karena hal tersebut bisa menimbulkan fitnah.
Apalagi saat ini rumah tangganya sedang di ujung tanduk.
Setelah berbasa-basi sebentar, keduanya pun menutup sambungan telepon.
Setelah selesai bicara pada Wisnu, Zhezha menghampiri kedua orang tuanya.
" Dari Yoga ya Zhe? " tanya Meli.
" Bukan Bu, itu hanya teman, " sahut Zhezha.
Meli menghela nafas panjang.
" Sebaiknya wanita yang sudah menikah menghindari diri untuk berteman dengan pria yang bukan mahramnya Zhe. Gak baik, bisa menimbulkan fitnah.Selain itu kehadiran seorang laki-laki di rumah tangga bisa jadi pemicu perselingkuhan, " nasehat Meli.
Zhezha tersebut simpul.
" Ibu gak percaya pada Zhezha ya? "
Zhezha menyimak baik-baik nasehat tersebut, karena nasehat tersebut berguna untuk menguatkan hatinya yang sedang rapuh saat ini. Agar ia tak terjebak dengan permainan duniawi.
Seperti apapun Yoga, sebagai istri ia harus menjaga kesuciannya dan kemurniannya sebagai seorang wanita, meskipun Yoga tak pernah menginginkannya.
Selingkuh bukanlah jalan keluar untuk mengobati luka hatinya saat ini. Meski sakit, ia harus tetap bertahan atas luka-lukanya .
Demi harga diri,nama baik dirinya, keluarganya, juga demi nama baik Yoga sebagai suaminya.
***
Pak Yanto telah pun selesai diperiksa, ia pun kembali ke kamar perawatannya.
Zhezha menghadap dokter yang memeriksa ayahnya.
" Bagaimana keadaan ayah saya dokter? " tanya Zhezha.
" Begini mbak, setelah dilakukan pemeriksaan yang kami lakukan. Kami menemukan sel kanker tersebut kembali aktif meski baru saja di lakukan operasi, dan saya rasa obat-obat yang diberikan hanya memperlambat dan meringankan rasa sakit pada tubuh pasien saja… , "
" Lalu apa yang harus kami lakukan untuk mencegah sel kanker agar tak tumbuh dan semakin membesar? " tanya Zhezha dengan panik.
" Pasien harus melakukan kemoterapi untuk membunuh sel kanker tersebut. "
" Hah," Zhezha kaget sambil menghela nafas panjang.
__ADS_1
" Iya mbak, saya rasa cuma itu satu-satunya jalan. Namun untuk melakukan kemoterapi harus menunggu keadaan pasien membaik, untuk itu saya beri resep dan vitamin dulu. Jika memang pasien setuju untuk dilakukan tindakan kemoterapi nanti saya akan beri rujukannya, " papar dokter tersebut.
Zhezha terdiam beberapa saat, di liriknya kembali cincin pernikahannya yang ada di jari manisnya.
'Sepertinya aku harus jual cincin ini, karena hanya ini harta yang kumiliki setelah menjual cincin tunangan ku sebelumnya,' batin Zhezha.'
***
Setelah konsultasi ke dokter Zhezha kembali ke ruangan perawatan ayahnya.
" Bagaimana Zhe? Apa kata dokter? " tanya Meli.
Zhezha melirik ke arah pak Yanto yang sudah tertidur dengan lelap.
" Sel kanker yang bersarang di tubuh ayah kembali tumbuh Bu, jadi dokter menyarankan agar ayah di kemoterapi. "
" Kemoterapi? " tanya Meli dengan bola mata yang memerah , bulir bening pun menetes di pipinya.
" Berapa harga sekali kemoterapi Zhe? "
" Enam sampai sepuluh juta Bu, tergantung obat apa yang digunakan, " ucap Zhezha.
Mendengar itu, Meli langsung menangis
" Ya Allah kita mau dapat uang dari mana Zhe? hiks hiks" tanya Meli sambil menangis tergugu.
" Gak apa Bu, uang bisa dicari, yang penting ayah sembuh dulu, " ucap Zhezha sambil mengusap pundak ibunya yang terlihat sedih dan putus asa.
" Begini saja Bu, biar gak bolak balik dari kampung ke kota, bagaimana jika ibu dan ayah tinggal bersama Zhezha saja di sini, " usul Zhezha
" Gak mau! " seru pak Yanto yang tiba-tiba saja menyahut.
" Ayah gak mau tinggal bersama Yoga Zhe, " imbuhnya lagi.
Zhezha dan Meli saling memandang.
" Biar Zhezha yang akan mengontrak rumah Yah, jadi ayah dan ibu gak tinggal di rumah mas Yoga, " sahut Zhezha.
" Biar sajalah Zhe, sudah cukup kamu mengobati ayah. Penyakit ayah juga gak akan sembuh. Lebih baik kamu simpan saja uangnya Zhe. Ayah gak mau berobat lagi, " tutur pak Yanto dengan nada yang putus asa.
"Gak usah bicara seperti itu Yah, Zhezha akan usahakan biaya pengobatan ayah sampai ayah sembuh. "
" Gak Zhe! Ayah mau pulang sekarang. Ayah gak mau kamu pakai uang Yoga untuk mengobati penyakit ayah, " sahut Yanto.
" Kalau ayah gak mau pakai uang mas Yoga, biar Zhezha yang kerja Yah, " bujuk Zhezha.
" Gak mau! Ayah mau pulang saja! " seru pak Yanto semakin ngotot.
Zhezha dan Meli hanya bisa saling memandang. melihat pak Yanto yang begitu ngotot
__ADS_1