
Adzan subuh berkumandang terdengar melalui aplikasi handphonenya.
Yoga membuka matanya dan melihat Zhezha yang sudah bangun terlebih dahulu.
" Sayang, kamu sudah bangun duluan, kenapa tak membangunkan Mas Yoga sih?"
Yoga terus mengajak Zhezha berinteraksi. Namun setelah beberapa hari belum juga menunjukkan hasilnya.
" Zhezha tetap diam, Yoga merentangkan tangannya mengusap kepala Zhezha, " Kita sholat subuh berjamaah Yuk. Berdoa bersama semoga kamu kamu segera disembuhkan dari penyakit ini."
Yoga membawa istrinya menuju kamar mandi, kemudian mempraktekkan bagaimana cara berwudhu tapi tetap saja sang istri hanya diam.
Setelah membersihkan Zhezha.
Yoga menuntunnya kembali ke kamar. Kemudian ia memakaikan Zhezha mukena.
Yoga berlutut sambil tersenyum melihat wajah Zhezha yang cantik ketika menggunakan mukena.
" Kamu cantik sekali Sayang, dengan mukena itu. Cepat sembuh Sayang, aku ingin istri ku yang cantik ini jadi istri yang Sholeha. Maafkan aku selama jadi suami aku belum bisa jadi imam yang baik untuk kamu Zhe, dan sampai saat ini pun aku masih mencoba untuk menjadi yang lebih baik," tutur Yoga.
" Sekarang kita sholat berjamaah, aku panggil ibu. Sudah lama aku memimpikan untuk jadi imam di keluarga ku sendiri."
Yoga pun berdiri kemudian membuka pintu kamarnya.
Yoga menghampiri kamar Bu Meli kemudian mengetuk pintunya.
Beberapa saat kemudian Bu Meli membukakan pintu untuknya.
" Ada apa Ga ?" tanya Bu Meli.
" Sholat berjamaah di kamar Yoga saja Bu, biar Zhezha juga ikut sholat bersama kita," ajak Yoga
" Oh iya kalau begitu. Sebentar ya ."
Bu Meli mengambil mukena kemudian berjalan masuk ke kamar Yoga, di lihatnya Zhezha yang sudah duduk di kursi roda lengkap dengan mukenanya.
Bu Meli pun menghampiri Zhezha.
"Zhe, kamu masih ingatkan sholat ? " tanya Bu Meli.
Namun, Zhezha tetap diam dengan tatapan hampa.
" Kalau begitu kamu ikuti saja kami ya Zhe, " ucap Bu Meli.
Ia pun mendorong kursi roda Zhezha agar sejajar dengannya. Sementara Yoga bertindak sebagai iman.
Keduanya terlihat khusyu ketika shalat, sementara Zhezha hanya diam seperti hari sebelumnya.
Setelah sholat Yoga dan Bu Meli memanjatkan doa bersama untuk kesembuhan Zhezhe.
Setelah sholat Yoga menghampiri Bu Meli dan mencium punggung tangannya. Kemudian ia menghampiri Zhezha dan menyodorkan tangannya agar Zhezha mencium punggung tangannya. Diciumnya kening Zhezha dengan lekat.
Yoga merasa bahagia, baru kali ini ia jadi imam dalam keluarga.
Bu Meli melipat sajadahnya ia pun menghampiri Zhezha.
" Cepat sembuh yah Nak," ucap Bu Meli sambil mencium kening putrinya.
__ADS_1
Meskipun Zhezha tak pernah menjawab ataupun menyahut, Yoga dan Bu Meli tetap memperlakukan Zhezha seperti orang normal dengan mengajaknya bicara dan mencurahkan kasih sayang mereka.
" Yoga, ibu mau bikin bubur ayam untuk Zhezha sarapan, kamu mau juga ? " tanya Bu Meli.
" Mau dong Bu, Yoga juga sudah kangen dengan masakan rumah."
" Iya kalau begitu ibu siapin ya."
Bu Meli pun keluar dari kamarnya.
Yoga melepaskan mukena yang menutupi tubuh Zhezha.
Biasanya pagi-pagi seperti ini, sudah jadi rutinitasnya untuk memandikan sang istri, dan hal inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi Yoga.
Karena setiap hari ia harus melihat tubuh montok sang istri yang begitu menggairahkan.Namun ia sudah bertekad untuk melakukan semua itu setelah Zhezha sembuh. Agar ketika Zhezha sembuh ia akan menyadari jika dirinya benar-benar mencintainya dengan tulus dan berharap bisa kembali membina rumah tangga bersama.
Setelah Zhezha mandi dan memakai pakaiannya. Yoga membawa Zhezha menuju balkon untuk bisa menghirup udara segar.
Sambil menikmati udara pagi yang segar Yoga menyuapinya dengan bubur.
Keadaan Zhezha tetap sama, ia makan apa saja yang disiapkan orang kepadanya. Sebanyak apapun. Jika sudah terlalu kenyang, maka Zhezha akan muntah dengan sendirinya.
Butuh kesabaran dan untuk merawat Zhezha.
Setelah menyuapi Zhezha makan Yoga kembali bersiap untuk ke kantor.
***
Yoga keluar dengan pakaian yang rapi dengan jas dan dasi. Ia pun menghampiri Bu Meli dan Zhezha yang ada di ruang tamu.
Setelah mencium punggung tangan Bu Meli, Yoga menghampiri Zhezha.
" Mas Yoga pergi dulu ya Sayang," ucapnya sambil mencium kening dan bibir Zhezha.
Setelah berpamitan Yoga langsung keluar dari rumahnya.
Bu Meli menatap kepergian menantunya itu.
' Ya Allah jauhkan menantu ku dari godaan yang ada di luar sana. Semoga ia tetap sabar dalam merawat Zhezha dan menunggunya hingga Zhezha pulih seperti sedia kala.' batin Bu Meli.
Bu Meli menghampiri Zhezha dan menggenggam tangan Zhezha. "Zhe cepat pulih Zhe, kasihan suami kamu,Nak."
Seperti biasa Zhezha hanya diam.
***
Hari ini Zhezha di bawa konsultasi ke dokter ahli penyakit jiwa.
Serangkaian tes pun dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti dari depresi yang dialami Zhezha.
Yoga dan Bu Meli berada di hadapan dokter yang telah memeriksa Zhezha.
" Bagaimana dokter keadaan istri saya ? Apa ada kemungkinan untuk sembuh dalam waktu dekat?"tanya Yoga dengan penuh harap.
" Ehm kemungkinan untuk sembuh itu ada, hanya saja butuh waktu yang lama. Mungkin bisa bertahun-tahun," papar dokter tersebut pada Yoga.
" Bertahun-tahun dok ?!" tanya Yoga sambil menelan salivanya.
__ADS_1
Bu Meli kembali meneteskan air matanya mendengar pernyataan dokter tersebut.
" Ya Allah Zhezha," gumam Bu Meli.
" Tapi kenapa butuh waktu yang lama dokter?" tanya Yoga.
" Karena pasien sendiri mengalami kesulitan untuk merespon, kami butuh waktu untuk meriset terapi yang paling tepat dan paling berpengaruh untuk pasien, ada beberapa tahap terapi yang akan dilakukan untuk mengobati pasien termasuk terapi interpersonal yang akan melibatkan orang-orang terdekat pasien dan peran keluarga akan sangat dibutuhkan disini."
" Anda sendiri bisa melakukan hal-hal yang bisa mengingat dan meningkatkan ketertarikan pasien untuk merespon.
" Iya saya sering mengajaknya bicara," papar Yoga.
" Tak hanya itu, Anda bisa mengingatkan pasien dengan mengungkit kenangan indah yang pernah terjadi di hidupnya. Mungkin saat ini pasien berusaha untuk melupakan kenangan pahit yang menimpanya, hingga ia terlalu larut dalam lamunan hampanya seakan ingin lari dari masalah hidup yang tengah dihadapi saat ini," papar dokter tersebut.
" Ehm, jadi begitu. Baiklah akan saya coba saran yang anda berikan dokter, kalau begitu terima kasih."
" Sama-sama jangan lupa untuk minum obat secara teratur. "
" Iya Dokter."
***
Setelah melakukan terapi dan konsultasi Yoga membawa istrinya pulang.
Di dalam mobil, Sesekali ia melirik ke arah Zhezha yang hanya diam.
" Ga, ibu boleh bertanya sesuatu pada kamu Ga ?"tanya Bu Meli.
" Tanya saja Bu."
" Ga, selama kamu tidur bersama Zhezha,apa kamu pernah berhubungan suami istri dengannya ?" tanya Bu Meli menyelidik.
" Haha, ibu ini bicara apa. Zhezha kan lagi sakit, aku gak tegalah," sahut Yoga.
" Tapi kamu mau menunggu berapa lama Ga ? Kamu dengar sendiri kan dokter bilang apa. Mungkin saja butuh waktu bertahun-tahun Zhezha untuk sembuh," papar Bu Meli.
Yoga diam beberapa saat.
" Ibu ini pernah menjalani rumah tangga Ga, ibu tahu bagaimana laki-laki jika sudah tidur seranjang bersama istrinya. Kamu gak mungkinkan terus-menerus menahan kebutuhan biologis kamu terhadap istrimu."
Yoga memijat kepalanya mendengar penuturan ibu mertuanya tersebut. Jujur saja memang berat jika harus menahan hasrat itu terlalu lama, maklum saja Yoga juga manusia biasa.
" Maksud Ibu apa ?"tanya Yoga.
" Kamu bisa melampiaskan hasrat kamu pada istri kamu Ga, daripada kamu menahannya terlalu lama. Ibu hanya khawatir kalau gak kuat, kamu justru melampiaskan pada wanita lain," ucap Bu Meli secara terus terang.
Yoga masih diam, sambil memijat kepala sambil menyetir mobil.
" Bukannya ibu suudzon, mungkin saat ini kamu bisa menahannya. Tapi jika terlalu lama bukan itu menyiksa diri kamu sendiri," papar Bu Meli.
Perkataan Bu Meli memang benar. Setiap hari Yoga harus menahan libidonya ketika bersama sang istri.
Dilihat ke arah Zhezha.
" Ya Tuhan kenapa aku jadi gelisah begini,"tutur Yoga dalam hatinya.
Bersambung dulu gengs
__ADS_1