
Zhezha kembali sibuk dengan rutinitasnya hingga seharian ini.
Waktu menunjukkan pukul delapan kurang. Ia pun bersiap untuk pulang.
Zhezha baru menyadari ketika begitu banyak panggilan tak terjawab dari nomor orang tuanya.
Ia pun kembali menghubungi nomor tersebut.
Baru saja tersambung Zhezha sudah mendengar suara Isak tangis pecah di sambungan tersebut.
" Halo Zhe, hiks"
" Ibu kenapa menangis Bu ?" tanya Zhezha khawatir karena Meli sepertinya tak sanggup untuk berkata-kata lagi.
" Zhe…ayah, Zhe…,"tutur Meli terbata bata.
" Ayah? Ayah kenapa Bu ?" tanya Zhezha yang semakin panik.
" Hiks ayah sudah tiada Zhe hiks hiks," tangis Meli pecah seketika.
Bagai tersadar petir Zhezha kala itu, mendengar berita duka cita tersebut.
" Innalilahi wa innailaihi Raji'un, Hiks hiks," tubuh Zhezha berguncang menahan tangisannya. Handphone Zhezha langsung meluncur ke bawah untung saja tak percah.
" Zhe,kamu kenapa?" tanya mbak Yuli sambil menghampiri Zhezha yang menangis tergugu.
" Ayah aku sudah gak ada lagi mbak Yul, hiks ."
Mendengar hal itu Mbak Yuli begitu kaget seketika ia menyambar tubuh Zhezha yang hampir roboh.
" Innalilahi wa innailaihi Raji'un."
" Zhe! Sadar Zhe," ucap mbak Yuli sambil menepuk nepuk pipi Zhezha yang bersandar padanya.
Mbak Yuli kebingungan karena tak ada orang yang bisa di mintai tolong, ia pun langsung merebahkan Mbak Yuli menurunkan tubuh Zhezha dengan perlahan kemudian memangkunya.
Mbak Yuli langsung meraih handphonenya kemudian menghubungi seseorang.
" Halo, pak Wisnu,"suara Mbak Yuli terdengar panik.
" Halo mbak, kenapa? " tanya Wisnu.
" Tolongin saya pak, Zhezha pingsan. Saat ini sudah tak ada karyawan, tinggal saya sendiri "
" Pingsan kenapa?" tanya Wisnu, kini dirinya lebih panik dari mbak Yuli.
" Aduh nanti saja Pak ceritanya, sekarang bapak tolong ke ruko sekarang juga," tutur mbak Yuli tanpa jeda.
"Baik mbak." Sambungan telepon terputus.
Mbak Yuli melihat wajah Zhezha yang pucat dan berkeringat.
"Kasihan kamu Zhe," ucap mbak Yuli sambil menghapus keringat di kening Zhezha.
Zhezha memang sangat lelah saat itu, karena seharian telah memforsir tenaganya.
Mbak Yuli meletakkan kepala Zhezha di atas lantai.Kemudian ia menuju area dapur untuk mengambil segelas air.
Ketika ia kembali, Zhezha sudah mulai bergerak.Zhezha langsung menangis kala itu
" Zhe, minum dulu.Tenang dulu Zhe," ucap mbak Yuli sambil mengangkat kepala Zhezha kemudian mendekatkan bibir gelas ke bibirnya.
Mungkin karena dehidrasi juga, hingga satu gelas dengan cepat di teguk oleh Zhezha.
Mbak Yuli meletakan gelas di sampingnya seketika tubuhnya di sambar oleh Zhezha.
Hiks hiks, Zhezha menangis memeluk mbak Yuli.
" Mbak ayah ku sudah tiada Mbak."
" Sabar Zhe, sabar,"ucap Mbak Yuli sambil mengusap punggung Zhezha.
__ADS_1
" Padahal baru tadi pagi ibu bilang jika ayah bermimpi ingin melihat anak aku mbak, hiks.Kasihan ayah keinginannya belum tercapai ia sudah dipanggil untuk menghadap yang maha kuasa,"tutur Zhezha dengan iringan Isak tangisannya.
" Sabar Zhe, semua sudah suratan takdir,kita manusia hanya bisa pasrah dan berserah diri," ucap mbak Yuli sambil mengusap punggung Zhezha.
Zhezha kemudian melepaskan pelukannya.
" Mbak aku harus pulang sekarang, aku nggak tahu apa aku akan kembali lagi," tutur Zhezha sambil mengangkat tubuhnya yang terasa begitu berat.
"Iya Zhe,gak apa. Mbak ngerti kok. "
Mbak Yuli langsung menghampiri meja kasirnya.
Sementara Zhezha dengan langkah langkahnya menghampiri gantungan tas dan jaket kemudian ia mengenakan jaket tersebut.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, Zhezha bingung bagaimana ia akan pulang.
Mbak Yuli menghampiri Zhezha kemudian menyerahkan sejumlah uang kepada Zhezha.
" Zhezha, ini upah kamu selama bekerja di sini dan sisanya mbak Yuli berikan sebagai tanda belasungkawa dari mbak Zhe," tutur mbak Yuli.
" Iya mbak terima kasih.Terima kasih juga karena mbak mau menerima keadaan aku dengan segala problema yang aku hadapi," ucap Zhezha seraya menghambur memeluk Mbak Yuli. Zhezha pun kembali menangis.
" Ia sama-sama. Yuk sekarang kamu mau kemana, biar mbak yang antar," tawarnak Yuli seraya mengurai pelukannya.
" Aku mau pulang dulu mbak, mau beresin pakaian ku saja, jadi nanti aku ke halte bus biar pakai taksi online saja."
" Ya sudah, mbak antar kamu pulang."
Zhezha dan mbak Yuli pun berbonceng naik motor, saat yang bersamaan Wisnu pun tiba di depan ruko mereka.
Melihat Zhezha yang kembali menangis, Wisnu jadi bertanya-tanya apa yang menyebabkannya menangis.
Wisnu kembali memutar mobilnya mengikuti mbak Yuli dan Zhezha dari arah depan.
***
Motor mbak Yuli berhenti di depan rumah Zhezha.
" Terimakasih ya mbak, aku masuk dulu mau berberes."
" Iya Zhe, atau kamu mau mbak antar ?" tanya mbak Yuli.
" Gak usah mbak, barang-barang aku banyak, pasti gak muat jika pakai motor."
" Ya sudah Zhe, mbak pamit. Hati-hati di jalan ya," tutur mbak Yuli.
" Iya terima kasih."
Mbak Yuli memutar motor matic nya saat yang bersamaan mobil Wisnu berhenti .
Mbak Yuli menunggu Wisnu turun dari mobilnya kemudian menghampirinya.
" Ada apa ya mbak, kok Zhezha terlihat sedih ?"
" Ayah Zhezha meninggal dunia pak."
" Innalillahi hi wa inna ilaihi Raji'un," ucap Wisnu sedikit syok.
"Lalu Zhezhanya bagaimana?"
" Zhezha mau pulang katanya naik bus."
" Naik bus, malam begini ? Sendiri?"
" Katanya sih gitu. "
" Ya sudah, aku mau lihat keadaan Zhezha saja."
" Oh iya pak, maaf kalau begitu saya permisi dulu ya."
" Iya Mbak."
__ADS_1
Wisnu langsung menghampiri rumah Zhezha.
Sementara Zhezha, ia langsung mengemasi barang-barang yang terpenting saja.
" Assalamualaikum," ucap seseorang yang diiringi dengan suara ketukan pintu.
" Waalaikumsalam," sahut Zhezha dengan suara paraunya.
Kebetulan saat itu Zhezha juga sudah selesai mengemasi pakaiannya.
Ia pun menghampiri pintu.
" Mas Wisnu?"
" Iya Zhe, aku dengar ayah kamu meninggal dunia ya?"
" Iya mas Lepas magrib tadi," sahut Zhezha dengan wajah yang terlihat tabah.
" Innalillahi wa inna ilaihi Rojiun, yang tabah ya Zhe," ucap Wisnu dengan tulus.
" Iya mas terima kasih."
Wisnu melirik koper yang ada di samping Zhezha.
" Kamu mau kemana Zhe?"
" Aku mau pulang kampung Mas."
" Ya sudah aku antar," tawar Wisnu.
" Nggak usah Mas, kampung aku jauh."
" Gak apa Zhe, dari pada kamu pulang naik bus sendiri, sudah malam jauh dan durasi perjalanannya yang pasti memakan waktu yang lama."
Zhezha diam memikirkan penawaran Wisnu.
Tanpa menunggu respon Zhezha, Wisnu langsung menarik koper Zhe.
" Sudah Zhe, keadaan mendesak. Kamu gak usah menolak," ucap Wisnu sambil menarik koper tersebut, ia pun berjalan terlebih dahulu menuju mobil.
Zhezha memang tak punya pilihan. Ia sendiri tak tau arah jalan pulang. Rencananya ia akan mencari bus jurusan yang melewati kampungnya dan belum tentu juga di jam segini bus masih beroperasi.
Akhirnya Zhezha mengikuti Wisnu berjalan menuju mobil. Sebelumnya Zhezha menitipkan kunci rumah yang dengan tetangga yang ada di sampingnya.
***
Wisnu dan Zhezha masuk kedalam mobil . Tanpa menunggu Wisnu langsung memutar mobilnya dan langsung menuju tujuan mereka selanjutnya.
Didalam mobil Zhezha hanya diam sambil sesekali menghapus air matanya.
Wisnu juga tak banyak bertanya. Ia tahu Zhezha butuh sendiri.
Mobil pun melaju membelah kegelapan malam.
Tiba-tiba Wisnu teringat sesuatu.
" Zhe, kamu sudah beritahu pada Yoga tentang meninggalnya ayah kamu ?" tanya Wisnu.
Zhezha langsung menoleh ke arah Wisnu.
" Iya mas aku lupa."
Zhezha pun merogoh tasnya mencari kontak Yoga.
Beberapa saat kemudian telepon pun tersambung.
"Halo…"
"Halo Mas, aku mau mengabarkan jika ayah sudah meninggal dunia, hiks."
Bersambung gengs, insyaallah satu bab lagi ya gengs semangatnya mana 💪💪
__ADS_1