Menanti Jatuhnya Talak 3

Menanti Jatuhnya Talak 3
Sibuk


__ADS_3

Zhezha tiba di ruko tempat ia bekerja, di lihatnya beberapa karyawan juga telah hadir ,padahal jam kerja mereka masih sekitar satu jam lagi. 


Zhezha menghampiri mbak Yuli yang terlihat sibuk. 


" Ada apa ya mbak, kok sudah rame ? " tanya Zhezha. 


" Aduh kamu gak baca pemberitahuan di grup ya? " tanya Mbak Yuli. 


" Gak, mbak Handphone saya mati, " sahut Zhezha sambil menggantungkan tasnya. 


" Hari ini banyak cucian Zhe, mana pelanggan minta pakainya buru-buru lagi. Kamu langsung cuci saja ya pakaian yang ada di keranjang," ucap Mbak Yuli. 


Zhezha melirik ke arah keranjang yang ada di samping mesin cuci. 


" Oh iya mbak, " sahut Zhezha ia langsung menghampiri mesin cuci kemudian mencuci pakaian yang ada di di keranjang. 


Hari ini semua terlihat sibuk, Zhezha juga ikutan sibuk, hingga ia lupa lagi jika handphone sudah dua hari ini sudah tak terisi daya, dan dua hari ini juga, karena kesibukannya ia tak pernah lagi teringat akan masalah rumah tangganya bersama Yoga. 


***


Waktu menunjukkan pukul empat sore hari, karena pekerjaan borongan karyawan tersebut selesai, mereka pun diperbolehkan untuk pulang lebih awal satu jam. 


Setumpuk pakaian sudah rapi dan dikemas dalam kantong plastik bening. 


" Mbak Yuli aku pulang dulu ya, " ucap Desi dan dua rekannya yang lain. 


" Iya, silahkan. Besok masuk sepeda biasa saja, jika tak ada orderan mendadak, " sahut mbak Yuli sambil melemaskan pinggangnya. 


Mereka semua terlihat lelah, setelah bergiat mengejar target pencucian yang harus selesai hari itu juga. 


Karena sore sampai malam hanya menerima orderan saja, jadi Yuli memutuskan untuk tetap membuka usahanya tersebut. 


Yuli melihat Zhezha yang masih sibuk mencuci sambil menjemur pakaian. 


" Zhe! Kamu gak pulang? " tanya Yuli. 


" Belum mbak, ini masih ada kerjaan, " sahut Zhezha. 


" Kalau capek berhenti dulu Zhe, kamu boleh pulang lebih awal hari ini, itu bisa dikerjakan besok, " papar Mbak Yuli. 


" Ah gak apa mbak Yuli, lagi pula target ku belum tercapai hari ini, " cetus Zhe. 


Mendengar hal itu Yuli membaca laporan dari borongan kerja anak buahnya. 


Para karyawan diberi upah borongan sebesar dua ribu rupiah untuk satu kilo mencuci pakaian dan tiga ribu untuk borongan menyetrika per kilo. 


Yuli iseng menghitung pendapatan hasil borongan Zhe hari ini. 


" Nyuci pakaian lima puluh kilo, setrika Lima kilo jadi pendapatan Zhezha hari ini sudah capai 115 ribu, " guman Mbak Yuli.


 


" Wah sudah seratus lima belas ribu Zhe hari nih Zhe? Emang target kamu berapa? " tanya Mbak Yuli kepo. 

__ADS_1


Sebenarnya ia senang jika ada karyawan yang rajin seperti Zhezha. Namun, Yuli juga kasihan jika Zhezha terlalu memforsir tenaganya. 


" Kalau bisa sih, sampai dua ratus ribu Mbak, biar saja kerja lembur terus gak apa, " sahut Zhezha dengan kesibukannya. 


" Wah kalau dua ratus ribu, kamu harus lembur Zhe, apa gak capek? " tanya Mbak Yuli. 


" Capek Mbak, tapi mau bagaimana. Aku butuh uang banyak buat pengobatan ayahku di kampung. Aku anak tunggal Mbak, jadi selain aku mereka mau mengandalkan siapa lagi, " papar Zhezha masih dengan kesibukannya. 


" Ehm begitu, ya sudah kalau kamu maunya begitu. Mbak sih seneng-seneng saja kalau kamu rajin gitu. Ya sudah nanti Mbak traktir nasi bungkus. Kamu sambil setrika jagain depan ya, Mbak mau beli makanan untuk kita Zhe! " seru Mbak Yuli. 


"Oh Iya Mbak,"  sahut Zhezha. 


Sambil mencuci ia membawa satu keranjang pakaian yang harus ia setrika. 


Di depan meja kasir memang ada meja untuk menyetrika, jadi mereka bisa sambilan menjaga meja kasir. 


Mbak Yuli pergi dengan menggunakan motornya. Kebetulan ketika Mbak Yuli baru saja keluar, seorang pelanggan  datang menghampirinya.


" Assalamu'alaikum Zhe, " sapa Wisnu ramah. 


" Waalaikumsalam,  Eh mas Wisnu mau ambil pakaiannya ya? " tanya Zhezha. 


" Iya Zhe, "sahut Wisnu. 


" Oh sebentar ya Mas. " Zhezha menuju rak kemudian mengambil dua bungkusan plastik putih. 


Dan beberapa jas yang sudah di lapisi plastik gantung. 


Saat itu Wisnu sedang memperhatikan wajah Zhezha yang terlihat lelah dan pucat, keringat juga membasahi kening Zhezha saat itu. 


Ada rasa sedih di hatinya, melihat keadaan Zhezha seperti itu. 


Wisnu mengamati keadaaan sekeliling. 


" Kok sepi Zhe?  Yang lain pada kemana? " tanya Wisnu. 


" Oh yang lain sudah pada pulang Mas, karena mereka datang lebih awal tadi pagi, " sahut Zhezha. 


" Ehm, kamu gak pulang juga? " tanya Wisnu karena melihat Zhezha ya sudah tampak kelelahan. 


" Aku lembur Mas, jadi nanti pulang pas toko tutup, " sahut Zhezha sambil menyodorkan bungkusan tersebut. 


" Gak usah dipaksakan lah Zhe, kalau cape ya sudah pulang istirahat. Kamu juga baru habis operasikan? Ingat loh Zhe kesehatan itu lebih berharga daripada pada uang. Dampak dari operasi itu gak serta merta kelihatan dari saat ini juga, tapi pikirkan kesehatanmu untuk jangka panjangnya, " nasehat Wisnu. 


Kadang ia jadi miris melihat  keadaan Zhezha seperti itu, ia seperti di telantarkan oleh suaminya sendiri. Sementara Wisnu tau benar jika Yoga memiliki kemampuan yang cukup untuk membiayai kehidupan Zhezha. 


" Terima kasih Mas atas nasehatnya. Tapi mau bagaimana lagi, sudah tuntutan hidup, "sahut Zhezha sambil tersenyum. 


" Ehm kamu tinggal di mana sekarang Zhe? Masih di apartemen?" tanya Wisnu lagi. 


" Gak lagi Mas, Emang kenapa? " tanya Zhezha. 


" Gak, kalau kamu masih tinggal di apartemen, biar aku antar kamu pulang saja. Apalagi kalau kamu pulang sampai malam hari, " jawab Wisnu. 

__ADS_1


" Terima kasih Mas, tapi gak usah repot aku sudah pindah dekat sini. "


" Ehm, tapi kalau malam keadaan sini sepi loh Zhe, bahaya juga kalau kamu jalan sendirian. "


Zhezha hanya diam, ia sendiri memang tak mengetahui keadaan lingkungan daerah sekitar tempat tinggalnya. 


" Zhe, " panggil Wisnu ketika melihat Zhezha yang tiba-tiba melamun. 


" Iya Mas, " cetus Zhezha. 


" Nanti malam aku jemput kamu, kamu telepon atau kamu tunggu saja.Aku akan datang jemput kamu. " 


Sebenarnya Zhezha tak enak hati jika harus merepotkan Wisnu, tapi karena Zhezha malas berdebat ia pun mengangguk setuju. 


Mbak Yuli tiba di ruko, dilihatnya ada Wisnu yang sedang berbincang bersama Zhezha. 


" Selamat sore Pak Wisnu,"  ucap Mbak Yuli. 


" Selamat sore juga Mbak, " sahut Wisnu. 


Mbak Yuli melihat bungkusan pakaian Wisnu di atas meja. 


" Mau ambil pakaian ya? " tanya Mbak Yuli. 


" Iya, sekalian menemani Zhezha. Habis Mbak Yuli meninggalkan Zhezha sendiri sih, kan aku khawatir, " sahut Wisnu dengan nada bercanda. 


" Ehm, itu sih modus kali Pak. Btw Anyway busway. Terima kasih sudah menjaga Zhezha, " ucap Mbak Yuli. 


" Iya kalau begitu saya permisi dulu ya, " cetus Wisnu. 


" Eh, mau kemana? " tanya Mbak Yuli. 


" Mau pulang lah, " sahut Wisnu. 


" Gak nunggu dulu? " tanya Mbak Yuli sambil membuka bungkusan nasi padangnya. 


" Nunggu apa? " sahut Wisnu yang berhenti melangkah. Dikira mbak Yuli mau mengajaknya makan bersama. 


" Nunggu di usir, wk wk," sahut mbak Yuli kemudian ia tertawa pecah. 


Sementara Zhezha hanya tersenyum melihat keduanya bercanda. 


" Besok- besok saya gak mau nyuci lagi di sini ah, " sahut Wisnu pura-pura ngambek. Ia pun kembali melangkah menuju mobilnya. 


" Yakin, nanti gak ketemu sama Zhezha loh, " sahutnya dengan nada sedikit keras karena Wisnu sudah dekat dengan mobilnya. 


Dari kejauhan Wisnu mengacungkan jempolnya pada mbak Yuli. 


" Jalan dulu Mbak! " seru Wisnu. 


" Iya pak, hati hati di jalan! " seru mbak Yuli. 


Bersambung dulu ya reader masih dalam rangka crazy up nih.

__ADS_1


__ADS_2