
" Baiklah Zhe, jika itu keputusan kamu. Semoga semua masalah kamu dan suami kamu segera selesai. Dan kehidupan kalian kembali tenang, " ucap Wisnu.
" Iya Mas, terima kasih, " ucap Zhezha lirih.
" Ehm, kalau begitu saya dan mbak Yuli pamit Zhe. Jika ada apa-apa kamu bisa hubungi saya. Rumah saya beberapa komplek dari sini. "
Zhezha mengangguk lirih.
" Kamu istirahat saja Zhe, lupakan sejenak masalah kamu, jangan terlalu dipikirkan,jangan lupa minum obat mulai, " nasehat Wisnu.
" Iya Zhe, mbak Yuli pulang dulu ya. Hati-hati ya Zhe. "
" Iya, mbak terima kasih mbak Yuli. "
" Kalau besok masih sakit, gak usah kerja dulu Zhe. "
" Iya Mbak, " ucap Zhezha sambil tersenyum.
Zhezha pun menutup pintu rumahnya. Di hampiri nya piring yang berisi nasi lengkap dengan lauk-pauknya, kemudian dengan tangan gemetar ia menyuap kedalam mulutnya.
Zhezha memang sangat lapar saat itu, hampir seharian ia tak makan.
Meski sedih. Namun, Zhezha harus tetap menjaga kesehatannya karena kini dia adalah tulang punggung keluarganya.
Setelah makan, beberapa saat kemudian Zhezha merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Di liriknya layar monitornya yang terus menyala karena panggilan tak terjawab dari Yoga.
Zhezha menatap langit-langit kamarnya.
" Maafkan Zhezha bu. Zhezha harus melepaskan mas Yoga.Insya Allah Zhezha akan terus berdoa untuk ibu dan ayah di sana, meski Zhezha sudah resmi berpisah dari mas Yoga. Semoga ayah dan ibu tenang dan bahagia di sana. Mas Yoga pun kini sudah jadi orang sukses persis seperti yang ibu impikan, " ucap Zhezha.
Sebelum Zhezha tidur selalu tak lupa untuk mendoakan kedua orang tuanya juga kedua orang tua Yoga yang sudah tiada.
Zhezha pun terlelap karena salah satu kandungan obat yang ia konsumsi.
***.
Yoga berada di kamar Zhezha. Sudah berkali-kali ia menghubungi Zhezha. Namun, tak pernah diangkat sekalipun, Yoga terus menelpon hingga nomor Zhezha berada di luar jangkauan.
Betapa kesalnya Yoga, hampir saja ia membanting salah satu barang mewah miliknya tersebut.
" Akh! Kenapa sulit sekali menghubungi mu Zhe? " dengus Yoga.
Ia pun menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, hingga terlelap sendiri.
***
Sudah dua hari Yoga mencari keberadaan Zhezha. Namun, sampai hari ini ia belum juga bisa menemukan keberadaan Zhezha.
__ADS_1
Hari ini pada pukul sepuluh pagi rencananya, sidang perdana gugatan cerai mereka akan berlangsung.
Yoga kembali mengkonfirmasi Wisnu tentang jadwal persidangannya. Sebenarnya ia juga tak sabar untuk bertemu Zhezha.
Yoga sengaja tak ke kantor ia ingin datang lebih awal untuk prepare sebelum sidang dimulai.
*"*
Sudah dua hari Zhezha beristirahat, setelah kembali minum obatnya secara rutin Zhezha sudah merasakan lebih baik. Karena efek obat tersebut membuatnya selalu mengantuk dan selalu tidur, hingga ia tak lagi memikirkan apa yang telah terjadi.
Zhezha sudah bersiap. Rencananya ia akan tetap bekerja dan pada pukul setengah sepuluh nanti, ia akan dijemput oleh Lilis.
Pukul sembilan lebih sedikit, Zhezha di jemput oleh Lilis. Melihat mobil lilis yang tiba di parkiran, Zhezha langsung menghampiri lemari gantung untuk meraih tasnya.
" Mbak, aku permisi dulu ya, Setelah sidang insya Allah aku kerja lagi, " ucap Zhezha.
" Iya Zhe, gak apa. Kamu selesaikan saja urusan kamu terlebih dahulu. "
" Iya mbak, terima kasih saya permisi. "
" Hati-hati Zhe. Semoga sukses. "
" Iya mbak. " Zhezha pun melangkah menuju mobil lilis.
***
Lilis tersenyum simpul melihat Zhezha yang tengah memasang seat beltnya.
Zhezha menggigit ujung jarinya.
"Jangan bicarakan hal itu Lis, jalani saja, toh semua Tuhan yang mengatur, " sahut Zhezha.
"Sip, benar Zhe! Biarkan yoga menyesal. Aku rasa dia tak akan mendapatkan wanita yang lebih dari kamu Zhe. Mungkin Yoga bisa menikah dengan gadis yang lebih cantik dari kamu, tapi belum tentu tulus seperti kamu, " papar Lilis dengan geram. Tubuhnya gregetan.
Sebenarnya Lilis semakin geram terhadap Yoga ketika mendengar Zhezha yang jatuh sakit setelah bertemu dengannya, ia pun menyimpan dendamnya untuk mencaci maki Yoga.
"Entahlah Lis, lihat saja. Aku atau dia yang menyesal. Tapi aku berharap kami bisa sama-sama bahagia meski tak lagi bersama. "
" Iya Zhe, kamu tenang saja. Tuhan itu tak tidur, suatu saat kamu pastikan temukan bahagia. "
" Sebaiknya mulai dari sekarang kamu tata hati kamu, perbaiki semua yang hancur dan bersiaplah menyambut hari baru. Buka pintu hati kamu untuk menerima cinta dari seorang pria yang benar-benar menghargai cinta dan ketulusanmu, " nasehat lilis.
Zhezha tersenyum simpul ke arah Lilis.
" Menata hati kembali tak semudah menghancurkannya Lis. Biar waktu saja yang menjawab semuanya. Aku sekarang cuma bisa pasrah dan berserah. "
" Iya Zhe, semua keputusan ada di tangan kamu. "
Mobil Lilis masuk ke halaman parkir.
__ADS_1
Saat itu mereka melihat jejeran mobil-mobil yang terparkir di halaman parkir gedung.
"Wah rame banget nih. Aku pikir ada musim kawin saja, musim cerai juga, ada, " cetus Lilis sambil mematikan kunci kontak mobilnya.
" Ada-ada sajalah kamu Lis, " sahut Zhezha sambil membuka pintu mobilnya.
Zhezha dan Lilis pun keluar dari mobil secara bersamaan. Dari kejauhan metode berdua melihat Yoga yang berjalan cepat ke arah mereka.
Melihat Yoga yang hendak menghampiri Zhezha, Lilis langsung bereaksi. Ia, langsung pasang badan berdiri di hadapan Yoga sambil menyilangkan tangannya ketika Yoga sudah berada di hadapan mereka.
" Mau ngapain Mas? " tanya Lilis dengan nada ketuanya kemudian menengadahkan kepala seolah menantang Yoga.
" Aku mau bicara pada Zhezha, sebaiknya kamu jangan ikut campur, " ucap Yoga sambil menarik tangan Zhezha yang berada di belakang Lilis.
" Eh eh, enak saja main tarik-tarik. " lilis membela.
Sementara Zhezha hanya diam.
" Eh Lis, kamu minggir! Ini urusan aku dan Zhezha! " seru Yoga sambil mendorong tubuh lilis dengan pelan.
" Zhezha, please beri aku kesempatan untuk bicara sebentar saja, " ucap Yoga dengan sedikit mengiba.
" Jangan mau Zhe! Jangan percaya omongan dia lagi! Kamu tak ingat bagaimana dia mencampakkan kamu, seperti kamu tak berharga baginya! " seru Lilis berusaha untuk meneguhkan keputusan Zhezha. Ia tak ingin Zhezha kembali terpengaruh bujuk rayu Yoga, karena Lilis tau jika separuh hati Zhezha masih menginginkan Yoga.
Yoga yang kesal langsung menoleh ke arah Lilis.
" Diam kamu Lis! Gak usah ikut campur kamu! Kamu tau apa masalah aku dan Zhezha! " Ucap Yoga dengan emosi.
" Hey Mas, aku tau semua apa yang terjadi pada Zhezha. Dan aku yang akan jadi saksi yang memberatkan kamu! " cecar Lilis.
Yoga mengepalkan tangannya.
Jika saja Lilis laki-laki mungkin saat itu, Lilis sudah di hajarnya habi-habisan
" Benar Mas, kita bicarakan semua di pengadilan saja, " ucap Zhezha sambil menarik tangan Lilis kemudian berlaku begitu saja.
" Tapi Zhe! Sebentar saja! " mohon Yoga. Namun Zhezha dan Lilis tetap berjalan.
Sesuai jadwal, pukul sepuluh pun sidang perdana di mulai. Sidang dilaksanakan secara terbuka.
Atas arahan seseorang Zhezha di tuntun menuju sebuah kursi, begitupun Yoga yang kini duduk bersama Wisnu
Zhezha begitu kaget melihat Yoga dan Wisnu berada di jajaran yang sama.
Majelis hakim mulai memasuki ruang sidang.
Tok tok tok.
Sidang pertama gugatan cerai antara pihak menggugat bernama Yoga Prasetya dan pihak tergugat di mulai.
__ADS_1
Tok tok tok.
Bersambung ya gens, episode besok lebih seru! Lebih menegangkan kan so jangan lupa dukungan untuk otor 😍😍