Menanti Jatuhnya Talak 3

Menanti Jatuhnya Talak 3
Keputusan


__ADS_3

" Zhe! " Yoga melangkah dengan cepat menghampiri Zhezha yang terdiam. 


Ketika berada di hadapan Zhezha, Yoga langsung memeluknya. 


Zhezha syok melihat perubahan sikap Yoga. Begitupun Desi dan Rina, keduanya saling memandang dan bertanya dalam hati, siapa pria tampan yang berani memeluk Zhezha tersebut.. 


" Zhe, kamu kemana saja? " tanya Yoga sambil mempererat pelukannya. 


Selain memeluk, Yoga juga mencium pipi Zhezha berkali-kali. 


" Mas, kenapa mencari ku? " tanya Zhezha ketika ia tersadar dari keterkejutannya. 


Zhezha pun berusaha mengurai pelukan Yoga. Saat itu jantungnya berdetak dengan kencang. Entah karena kaget dengan kedatangan Yoga atau Zhezha masih merasakan rasa sakit ketika melihat pria itu. 


Mbak Yuli tiba di depan tokonya, ia juga heran melihat kedua orang berlawanan jenis itu saling berpelukan. 


" Siapa? " tanya mbak Yuli dengan bahasa isyarat menunjuk Yoga, dua Desi dan Rina hanya mengangkat kedua bahunya. 


" Ada apa mencari ku Mas? " tanya Zhezha masih dengan bahasa yang lembut. Meskipun tubuh dan jiwanya gemetaran ketika melihat Yoga. 


" Zhe, bisa kita bicara sebentar? " tanya Yoga. 


Zhezha melirik mbak Yuli yang mengangguk memperbolehkan Zhezha untuk keluar. 


" Ehm, baiklah, " ucap Zhezha kemudian ia masuk ke dalam ruangan untuk mengambil tasnya. 


Yoga tersenyum melihat Zhezha yang terlihat tak marah dan emosi. 


Zhezha memang menunjukkan sikap biasa saja, tanpa emosi sedikitpun, meskipun dalam hatinya terasa berkecamuk. 


Baginya menyelesaikan masalah tak seharusnya dengan emosi. Lagi pula ia dan Yoga memang harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. 


Zhezha keluar dengan menggunakan cardigan berwarna merah marun dan sling bag hitam. 


Kemudian ia menghampiri mbak Yuli. 


" Mbak aku izin sebentar ya, " ucapnya. 


" Iya Zhe, " jawab mbak Yuli dengan senyum simpul. 


Mbak Yuli dan ketiga orang tersebut kembali memperhatikan Yoga, mereka tak mengira jika Zhezha memiliki suami yang kaya dan ganteng pula. 


Ketiganya pun menatap kepergian kedua orang tersebut.

__ADS_1


" Hm pantas saja Zhe susah moveon, lakinya keren dan ganteng gitu, " cetus mbak Yuli. 


" Tapi biar ganteng juga kalau nyakitin hati terus, siapa yang tahan juga, " imbuhnya lagi. 


Yoga membuka pintu mobil untuk Zhezha. 


" Gak usah Mas, kita bicara di warung kopi depan saja, " tolak Zhezha. 


Ia tak mau  Yoga membawanya jauh-jauh. 


Zhezha berjalan lebih dahulu menuju ruko yang ada di seberang jalan. Diikuti oleh Yoga. 


Sesampainya di warung kopi, Zhezha mencari tempat yang paling pojok dan sedikit jauh dari keramaian. 


Keduanya mendaratkan bokong secara bersamaan di atas kursi berbahan plastik. 


Zhezha terus saja memalingkan wajahnya agar tak menatap wajah Yoga, maklum saja getaran cintanya terhadap Yoga masih terasa sangat kuat dan dirinya tak ingin terlihat lemah di hadapan suaminya 


" Mau bicara apa Mas? " tanya Zhezha tanpa basa-basi. 


"Zhe aku mau minta maaf, " ucap Yoga dengan kata-kata yang teratur sambil meraba tangan Zhezha kemudian menggenggamnya. 


Zhezha menarik nafas panjang. Mendengar kata maaf yang begitu mudah sekali untuk diucapkan tak seperti akibat dari apa yang ia tinggalkan. Bahkan rasa itu masih terasa mengiris-ngiris hatinya hingga saat ini. 


" Maaf untuk apa Mas? "sahut Zhezha dengan suara yang sedikit parau karena saat itu ia berusaha menahan air matanya agar tak menangis. 


Ehm, 


" Jika aku menuruti perasaan sakit di hatiku, aku juga gak akan memaafkan kamu Mas. "


Zhezha menghela napas panjang untuk mengatur kata-katanya. 


" Tapi, saat ini aku sudah memaafkan mu Mas dan saat ini aku juga sudah coba melupakan semua yang sudah terjadi di antara kita, " Jawab Zhezha dengan santai. 


" Benarkah Zhe? " tanya Yoga dengan senang. 


Zhezha mengangguk lirih dengan tatapan hampa ke arah depan. 


" Kalau begitu, kau mau kan pulang bersama ku? kita perbaiki lagi semua yang terjadi, sebelum semuanya terlanjur Zhe  " ucap Yoga penuh harap sambil menggenggam erat tangan Zhezha. 


Zhezha tersenyum simpul, lagi-lagi ia menghindari untuk menatap wajah Yoga. 


" Memaafkan bukan berarti bisa mengembalikan  seperti semula, Mas. Sudahlah, semua sudah terlanjur, " sahutnya dengan nada yang lirih. 

__ADS_1


" Iya aku tahu, perasaan kamu pasti sakit Zhe, aku tahu kamu pasti butuh waktu untuk memikirkannya, dan aku akan menunggu sampai kamu siap menerima aku kembali Zhe.Berilah aku kesempatan Zhe," ucap Yoga sambil mencium punggung tangan Zhezha. 


Zhezha berusaha agar ia tak meneteskan air matanya. Namun, tetap saja bulir bening itu menetes juga. 


" Kamu bilang kesempatan Mas?"


" Apa kamu pernah beri aku kesempatan. Ketika kamu menjatuhkan talak pada ku, apa kamu beri aku kesempatan untuk bertanya padamu.' Aku salah apa Mas?  hingga aku seperti tak ada artinya di mata kamu?' "


" Aku bilang aku akan menunggu sampai jatuhnya talak tiga, tapi apa kamu beri kesempatan untuk menunggu waktu itu? " suara Zhezha semakin berat dan parau, airmatanya semakin deras mengalir. 


Zhezha yang awalnya tak ingin menatap Yoga, kini memberanikan diri untuk menatap matanya. Kedua netral mereka pun bertentangan. 


" Apa kamu pernah berikan aku kesempatan, sehari saja untuk jadi istri kamu Mas? Aku tahu kamu jijik untuk menyentuh aku, tapi setidaknya biarkan saja aku melayani makan, minum atau sekedar mencuci pakaian kamu Mas, hiks. Setidaknya aku merasa berguna sebagai seorang istri, tapi tetap saja kesempatan itu tak pernah datang, hiks. 


Air mata Zhezha semakin deras, tubuhnya terasa bergetar ketika mengingat peristiwa yang begitu memilukan menimpanya di malam pertama mereka. 


Yoga menatap Zhezha dengan lekat. 


" Gak kan Mas, gak ada kesempatan untuk aku. Kau malah pergi selama sebulan untuk meninggalkan ku. Dan ketika kau pulang, kau menyuruhku untuk menandatangani surat gugatan cerai itu, hiks. "


" Aku menanti pernikahan ini hampir enam tahun. Tapi baru sebulan ,kau sudah tak tahan untuk meresmikan statusku sebagai seorang janda, iya kan Mas? " tanya Zhezha menyindir


Zhezha menghapus air matanya. 


" Tapi sudahlah. Semua sudah terjadi. Maaf Mas, aku harus pergi. Aku tunggu kau di pengadilan agama hari senin. Karena aku sudah dapat surat pemanggilannya, " ucap Zhezha seraya bangkit dari tempat duduknya. 


Melihat Zhezha yang bangkit, Yoga ikutan bangkit. 


" Zhe, tunggu Zhe. Aku tahu aku salah. Aku mohon maaf yang sebesar-besarnya Zhe. Dan aku mohon berilah kesempatan bagi ku untuk memperbaikinya lagi Zhe, " ucap Yoga sambil menakupkan kedua telapak tangannya sambil memohon. 


Zhezha hanya diam sambil melepaskan tangan Yoga yang mencengkram lengannya. 


" Please Zhe, aku tahu kau masih mencintai ku, aku juga sangat mencintaimu. Sumpah demi Tuhan. Aku tak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun.Hanya kamu yang selalu ada dihati ku Zhe," ucap Yoga dengan sedikit memohon. Ia bahkan tak peduli jika pengunjung warung kopi tersebut melihat ke arah mereka. 


Zhezha masih bergeming. 


" Ingatlah janji kita untuk selalu bersama, ingatlah bagaimana kita memperjuangkan cinta ini, Zhezha. Maaf jika aku terlalu menuruti egoku, " ucap Yoga coba membujuk Zhezha dengan mengungkit kenangan masa lalunya. 


Zhezha langsung menatap tajam ke arah Yoga dengan tubuh yang gemetar karena kesal. 


" Jangan ingatkan lagi aku tentang itu Mas, karena semua telah aku kubur dalam-dalam. Maaf Mas, keputusan sudah bulat untuk berpisah denganmu, "  ucap Zhezha sambil berlalu meninggalkan Yoga. 


" Tapi Zhe! " Yoga kembali menarik tangan Zhezha. Namun langsung di tepisnya 

__ADS_1


Zhezha terus saja berlalu tanpa peduli meskipun Yoga Memanggil-manggil namanya. 


Bersambung gengs. Tenang saja masih dalam rangka crazy up kok 


__ADS_2