
Yoga dan Meli menghampiri Zhezha.
Saat itu Zhezha masih diam duduk melamun dengan tatapan kosongnya.
Mengetahui anaknya mengalami depresi, Meli menjadi begitu sedih. Padahal ia tahu jika Zhezha wanita yang kuat.
Meli menghampiri Zhezha kemudian duduk di samping Zhezha.
" Zhezha kenapa kamu jadi seperti ini Nak ?" tanya Meli sambil mengusap rambut panjang Zhezha yang tergerai.
" Ibu jadi sedih Zhe, tinggal kamu yang ibu miliki di dunia ini, tapi keadaan kamu justru memprihatinkan seperti ini. Sadarlah Zhe, ibu yakin kamu mampu menghadapi semua ini," tutur Meli sambil memeluk Zhezha.
" Bagaimana Bu, jika Zhezha kita bawa ke kota, agar ia bisa mendapatkan perawatan intensif ?"tanya Yoga sambil mendaratnya bokongnya di samping Zhezha.
" Iya Yoga, sebaiknya begitu."
" Kalau begitu sekarang juga kita bawa Zhezha Bu."
" Iya, kita singgah ke rumah sebentar ya. Ibu mau beresin barang-barang ibu."
Setelah dari rumah sakit, mereka pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.
Meski pak Yanto baru saja meninggal dan menurut tradisi di sana harus di adakan Yasinan minimal tujuh hari. Namun Bu Meli lebih memilih ikut Yoga ke kota untuk memeriksa keadaan Zhezhe.
" Sayang, ayo turun,"ajak Yoga ketika pintu mobil ia buka.
Zhezha masih bergeming, ia masih saja diam tak menjawab ataupun menoleh.
Karena tak merasa direspon, Yoga kembali mengangkat tubuh Zhezha dan membawanya kembali masuk ke dalam rumah.
Yoga langsung membawa Zhezha kedalam kamar, sementara ia membereskan barang-barang istrinya yang akan dibawa pindah ke apartemen miliknya.
Setelah membereskan barang-barang, Yoga berinisiatif membersihkan tubuh Zhezha dan menggantikan pakaianya.
Karena saat itu Zhezha masih mengenakan piyama tidur yang ia gunakan di malam sebelumnya.
Satu persatu Yoga membuka kancing piyama tersebut.
Awalnya perasaan biasa saja, karena Yoga bukan tipe pria yang mengumbar nafsu. Namun ketika ia menyingkap piyama tersebut jantungnya berdetak dengan kencang ketika melihat kulit putih mulus tersibak di balik piyama milik Zhezha.
Baru kali ini ia melihat tubuh wanita secara langsung. Yoga terdiam sambil menikmati pemandangan indah dengan dua bukit kenyal yang menggumpal padat di balik kacamata pelindungnya.
Dadanya bergemuruh, berkali-kali ia menelan salivanya. Burung dalam sangkar pun ikut berdiri mengintip di balik sangkar segitiganya.
"Yoga! " Seru Meli seketika membuyarkan lamunan Yoga. Yoga pun tersentak kaget.
" Iya Bu !" Ia pun buru-buru menyahut.
" Ibu sudah selesai !"
" Sebentar Bu, Yoga baru akan memandikan Zhezha biar dia lebih segar !"seru Yoga dari dalam kamar.
" Oh iya Nak, baru saja ibu mau memandikan Zhezha," sahut Bu Meli.
" Biar saja Yoga Bu. Kan, Yoga suaminya!"
__ADS_1
" Iya, gak apa. Kalau begitu ibu bereskan yang lainya dulu."
" Iya Bu!" Seru Yoga.
Yoga kembali menatap tubuh mulus tanpa cela tersebut.
Jantungnya kembali berdetak kencang. Khayalan tentang keindah surga dunia mulai menari-nari di pikirannya.
Yoga tersenyum kemudian mendaratkan kecupan ke bibir Zhezha.
" Tenang saja, aku bisa sabar kok menunggu waktu itu tiba, yang terpenting sekarang kamu sudah bersama aku, Zhe. Seperti kamu yang selalu menerima aku apa adanya dulu.Aku pun akan menerima kamu apa adanya sekarang. "
Yoga pun menutupi tubuh istrinya dengan menggunakan handuk. Setelah Zhezha berdiri kemudian ia menarik celana panjang Zhezha berikut dengan segitiga pengamannya.
Yoga menuntun Zhezha ke kamar mandi, kemudian memandikan istrinya.
Setelah ritual mandi selesai, ia kembali mengenakan pakaian istrinya.
" Sekarang kita pulang ke rumah kita sayang," ucap Yoga sambil mengecup lekat kening istrinya .
Yoga pun kembali menggendong Zhezha dan membawanya ke dalam mobil.
***
Di dalam perjalanan. Keadaan Zhezha masih sama. Zhezha tetap diam tanpa bicara, jika sudah lelah ia pun terlelap begitu saja.
Yoga tetap fokus menyetir, sesekali ia melirik ke arah Zhezha.
Di usapnya kepala Zhezha sambil meneteskan air matanya
***
Setibanya di kota, Yoga langsung membawa Zhezha ke salah seorang psikiater.
Keadaan Zhezha tetap sama , ia masih diam dengan tatapan mata yang lurus ke arah depan.
" Sudah berapa lama pasien mengalami hal ini ?" tanya dokter pada Yoga dan Meli.
" Baru tadi pagi. Dari bangun tidur keadaannya sudah seperti itu, padahal pada malam harinya keadaannya masih baik-baik saja," tutur Meli dengan rasa sesalnya.
Psikiater tersebut menghampiri Zhezha memeriksa kelopak matanya kemudian memberi rangsangan dengan cahaya.
Ketika kelopak matanya terkena cahaya Zhezha langsung merespon dengan berkedip-kedip.
" Penglihatannya masih bagus."
Kemudian wanita itu memasangkan headset di kedua telinga Zhezha untuk memeriksa fungsi pendengarannya.
" Panca inderanya masih berfungsi dengan baik. "Dokter tersebut pun kembali ke tempat duduknya.
" Saya menduga jika pasien mengalami depresi berat hingga mengalami gangguan kejiwaan," ucap phisikiater tersebut.
Meli kembali menangis mendengar penuturan dokter tersebut.
" Ya Allah, kenapa anak ku jadi seperti itu."
__ADS_1
" Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya Yoga sambil menahan rasa sedihnya.
" Karena Keadaan pasien yang tak bisa melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri, saya menyarankan agar pasien di rawat di rumah sakit jiwa."
" Tidak Dok, istri saya tidak gila !" Seru Yoga bernada protes.
" Maaf Pak, istri anda memang saat ini mengalami gangguan jiwa. Dan pasien dengan gangguan jiwa bukan berarti gila Pak. Ketika pasien berada di rumah sakit jiwa, pasien akan di urus oleh para perawat, di berikan terapi dan di beri obat secara teratur, dengan demikian pasien akan lebih mudah untuk sembuh. " tutur dokter tersebut.
" Hiks, Zhezha," tangis Meli lagi..
" Tidak dokter, untuk perawatan biar saya sendiri yang merawat istri saya. Berikan saja jadwal terapi dan konsultasinya. Kami yang akan merawat pasien dengan sebaik-baiknya," sanggah Yoga .
" Baiklah, jika memang pilihan anda seperti itu, berarti anda siap dengan konsekuensinya. Karena orang yang mengalami gangguan kejiwaan kadang kala berilakunya berubah-ubah, jadi saya sarankan pasien harus terus di awasi."
" Saya akan resepkan obat, jika suatu saat emosinya tiba-tiba berubah dan tak bisa di kontrol, hubungi segera di nomor ini," papar dokter tersebut.
" Untuk masalah konsultasi, nanti saya atur jadwalnya dan saya akan hubungi anda kembali."
"Baik dokter, terima kasih," ucap Yoga.
Karena keadaan Zhezha yang tak bisa melakukan kesehariannya sendiri, Yoga berinisiatif untuk membeli kursi roda .
Yoga pun menghampir Zhezha dan menggendongnya agar bisa duduk di atas kursi roda.
" Ayo sayang kita pulang ke rumah kita." Iya pun mendorong kursi roda tersebut.
***
Beberapa puluh menit di perjalanan, mereka pun tiba di apartemen Khatulistiwa.
Yoga kembali mengangkat Zhezha agar bisa menaiki kursi roda kemudian mendorong Zhezha menuju tempat tinggal mereka. Sementara Ibu Meli mendorong koper-koper miliknya dibantu oleh petugas operasional apartemen.
***
Yoga membuka pintu rumahnya dengan perasaan bahagia. Kini rumah itu tak akan terasa sepi lagi.
Ibu Meli sibuk mendorong koper-koper mereka dan membawanya masuk.
" Ibu, ibu istirahat saja di kamar ini, " tutur Yoga sambil menunjuk kamar kamar yang sebelumnya menjadi kamarnya.
Sebelum itu, Yoga memang sudah memindahkan barang-barangnya ke dalam kamar Zhezha. Karena ia yakin suatu saat dirinya pasti bisa membawa Zhezha kedalam kamar itu agar bisa seranjang bersama.
Hari yang melelahkan untuk mereka bertiga. Yoga berniat untuk istirahat sejenak.
" Sayang sekarang kita istirahat dulu, " ucap Yoga sambil mengangkat tubuh Zhezha dan membawanya ke atas tempat tidur.
Setelah mengganti pakaiannya. Yoga naik di atas tempat tidur dan berbaring di samping Zhezha kemudian memeluknya dari belakang.
" Aku senang kamu kembali ke rumah ini Zhe," ucap Yoga sambil membelai rambut istrinya.
" Setelah semua yang terjadi aku semakin sadar jika cinta itu memang harus diperjuangkan dan perjuangan itu tak berhenti sampai kapan pun. Ujian akan selalu datang kepada dua insan yang saling mencintai seperti kita Zhe, tapi aku janji sebesar apa pun badai yang akan menerpa bahtera rumah tangga kita, aku tak akan pergi, aku akan tetap ada bersama kamu, sampai semuanya berlalu dan berganti dengan hari yang baru. Hari yang lebih cerah untuk kehidupan kita selanjutnya. Karena aku percaya habis gelap terbitlah terang," tutur Yoga sambil mengusap-usap rambut Zhe. Kemudian ia mencium ceruk leher Zhe.
" Aku merasa beruntung masih bisa memeluk dan mencium mu seperti ini, " ucapnya sambil memeluk Zhezha lebih erat. Yoga pun mencium-ciumi seluruh permukaan wajah Zhezha sampai puas dan rindunya sudah terobati, meski Zhezha hanya diam saja.Namun ia yakin Zhezha mendengar apa yang ia ucapkan.
Yoga terus membelai rambut Zhezha sampai ia dan Zhezha tertidur bersama.
__ADS_1
Bersambung ya gengs