
Zhezha melanjutkan pekerjaannya dengan menyetrika pakaian, sesekali ia menghapus air matanya.
Tiba-tiba Zhezha merasakan sakit pada luka jahitan nya yang ada di kepalanya.
" Aduh kepala ku, kenapa tiba-tiba jadi sakit gini? " gumamnya sambil meringis
Karena tidak tahan dari rasa sakit itu ia pun menyandarkan tubuhnya pada dinding sambil mengatur nafasnya.Zhezha berdiam diri selama beberapa saat.
Semakin dibiarkan kepalanya semakin terasa sakit.
Zhezha pun bangkit, ia bermaksud untuk mengambil obatnya yang di simpan di dalam tas.
Baru berdiri saja tubuh Zhezha terhunyung ke arah depan. Untung tangannya dengan cepat menyambar Rak yang ada di sampingnya.
Mbak Yuli mendengar suara rak yang bergoyang karena menahan tubuh Zhezha.
Ia pun menghampiri Zhezha." Zhe, kamu kenapa? " tanya Mbak Yuli.
" Kepala saya sakit mbak, ucap Zhezha sambil meringis menahan rasa sakit.
" Itu pasti karena kamu kelelahan trus banyak pikiran lagi Zhe. Sudah kamu berdiam diri sebentar. Mbak punya obat sakit kepala, " cetus mbak Yuli.
" Gak usah mbak, aku punya obat sendiri, mungkin karena sibuk aku jadi lupa minum obat, " sahut Zhezha.
Zhezha menghampiri tasnya kemudian mengambil beberapa obat.
Karena merasa baikan setelah operasi Zhezha tidak melanjutkan pengobatannya. Padahal karena cedera otak ringan yang ia alami, dokter menekankan padanya untuk menghindari stress.
"Sudah Zhe, kamu pulang saja, Istirahat. Biar Mbak Yuli yang antar. "
Karena sakit yang sudah tak tertahan lagi, Zhezha pun terpaksa mengikuti saran mbak Yuli.
Zhezha pulang diantar dengan menggunakan sepeda motor.
Kurang dari sepuluh menit mereka pun tiba di kost Zhezha.
Zhezha turun dengan tubuh yang masih terhuyung.
" Ayo Zhe,mbak bantu. "
Mbak Yuli menggandeng tangan Zhezha. Menuju teras kos-an yang berupa rumah petak.
Zhezha merogoh kunci di tasnya. Kemudian membuka kunci rumah tersebut.
" Masuk Mbak, " ajak Zhezha.
"Iya Zhezha."
Karena kos an tersebut langsung kamar tanpa ada dekat ruang tamu. Zhezha pun langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur busa.
Mbak Yuli melihat keadaan sekitarnya yang sepi.
"Zhe, kamu gak apa mbak tinggal sendiri saja, atau kamu telepon suami kamu saja Zhe. Bagaimanapun dia masih bertanggung jawab sepenuhnya atas kamu, " saran mbak Yuli.
" Ehm, saya minta tolong mbak Jangan pernah memberi tahu alamat saya kepada Mas Yoga. "
" Loh kenapa Zhe? Nanti kalau terjadi sesuatu pada kamu bagaimana? " tanya mbak Yuli.
" Saat ini saya gak mau bertemu dulu dengannya mbak. Saya gak mau dengar bujuk rayu dari mas Yoga."
" Jujur hati saya terasa sakit, tapi saya juga tak menampik jika saya memang masih sangat mencintainya, " tutur Zhezha dengan lirih.
Mbak Yuli menghempaskan nafas panjang.
" Kasihan kamu Zhe, sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah memikirkan orang tua yang sakit-sakitan, kini harus memikirkan rumah tangga mu yang nyaris berantakan. Memang sulit melupakan orang yang begitu kita cintai, jika kita terus melihat wajahnya, " ucap Mbak Yuli sambil mengusap kening di rambut Zhezha.
__ADS_1
" Iya Mbak, tapi saya sudah ikhlas menjalani semua ini, " tutur Zhezha dengan bulir bening yang kembali menetes.
" Mungkin ini cara Tuhan untuk menguji " kesabaran saya. Saya, hanya minta agar selalu diberi kekuatan untuk bisa menghadapinya. "
Mbak Yuli tersenyum.
" Iya Zhe kamu yang sabar Ya, "nasehat mbak Yuli.
" Nanti mbak telepon Lilis, biar dia jagain kamu, " imbuhnya.
"Iya Mbak terima kasih. "
" Mbak pulang dulu Zhe. "
" Iya Mbak terima kasih, " sahut Zhezha.
Zhezha bangkit untuk menutup pintu kostannya.
***
Mbak Yuli kembali ke ruko nya. Karena sebentar lagi jam pulang bagi para karyawannya.
Seperti yang ia bilang pada Zhezha jika ia akan menghubungi Lilis.
Mbak Yuli menghubungi Lilis dan memintanya untuk menjaga Zhezha, karena keadaan Zhezha begitu memprihatinkan.
"Halo," sapa Lilis di sambungan telepon.
" Halo Lis, lis kamu bisa jagain Zhe gak? "
" Jagain kenapa? Zhezha sakit? " tanya Lilis.
" Iya Lis Zhezha tiba-tiba saja sakit kepala, sebaiknya kamu jaga Zhezha dulu, kasihan Zhezha sendiri. "
" Aduh mbak. Aku lagi di luar kota nih. Besok baru kembali, "
" Tapi Zhezha kenapa sampai sakit kepala tiba-tiba. Pasti dia kecapean ya mbak? " tanya Lilis.
" Selain kecapean, Zhezha baru saja bertemu lakinya," cetus mbak Yuli.
" Hah, pantes! Pasti si Yoga itu ngomong macem-macem hingga buat Zhezha tertekan! Awas saja nanti aku pulang ku semprot habis-habisan dia, " ucap Lilis dengan geram.
" Ih kamu main semprat semprot saja. Lakinya datang mau ngajakin Zhezha rujuk," tukas mbak Yuli.
"Hah! Kurang ajar si Yoga. Dia pasti bersandiwara tuh. Pasti dia mau ngajakin Zhezha rujuk hanya untuk menyakiti Zhezha lagi! " cecar Lilis dengan geram
" Hah,emang begitu ya Lis? "
Iya mbak, gak mungkin lah Yoga yang menggugat cerai, Yoga juga yang ngajak rujuk. pasti dia belum puas menyakiti hati Zhezha. Karena dia tau Zhezha cinta mati sama dia! " cecar Lilis.
Ehm, mbak Yuli hanya menyimak.
" Mbak pokoknya kalau si Yoga datang dan menanyakan alamat Zhezha, jangan kasi tau ya mbak ya. Aku gak rela Zhezha balikan sama Yoga lagi, " ucap Lilis dengan nafas yang terengah-engah karena geram.
" Oh begitukah Lis? "
" Ya sudah Lis. Mbak mau melanjutkan kerja. Karyawan sudah pada pulang. "
" Oh Iya, mbak. Aku nitip Zhezha dulu ya mbak. "
" Iya nanti, toko tutup mbak lihat keadaannya. Kalau Zhezha masih sakit. Mbak ajarkin nginap di rumah sajalah. "
" Oh iya makasih mbak. Nanti aku telepon Zhezha lagi."
***
__ADS_1
Baru saja meletakkan handphonenya Mbak Yuli di buat kaget dengan kedatangan Yoga.
" Permisi mbak," sapa Yoga.
" Iya ada apa ya mas ? " tanya Yuli pura-pura tidak tahu.
" Zhezha ada mbak? " tanya Yoga.
" Ehm maaf ya Mas, Zhezha sudah pulang. Tadi Zhezha sempat mau pingsan. Jadi saya antar saja dia pulang. "
" Pingsan? " tanya Yoga khawatir.
" Kalau begitu dimana Zhezha tinggal saat ini mbak, saya harus tau. "
" Maaf Mas, atas perintah Zhezha saya dilarang memberi tahu alamat tempat tinggal Zhezha saat ini pada siapa saja."
Mendengar hal itu Yoga kaget.
" Tapi kenapambak ? saya ini suaminya. Dan saya berhak tau dimana istri saya berada, apalagi istri saya sedang sakit! "Seru Yoga dengan emosi tertahan.
" Iya Mas, tapi itu amanah dari Zhezha. Dan saya harus tetap merahasiakan keberadaan Zhezha, karena ia yang memintanya, " ucap mbak Yuli dengan tegas.
"Mbak saya harus bertemu , istri saya sedang sakit. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada dia?! " tanya Yoga.
" Ya seperti yang saya bilang. Saya hanya menjalankan amanah dari Zhezha. "
" Tolong lah mbak! Saya harus memohon seperti apa agar mbak memberi tahu dimana tempat tinggal istri saya, " pinta Yoga sambil menakup kedua telapak tangannya ke arah Yuli dengan wajah yang memelas.
' Duh kesian pulak aku cowok ganteng ini, tapi kalau terjadi sesuatu pada Zhezha karena bertemu dengannya , nanti aku yang disalahkan, ' batin Mbak Yuli sambil melirik ke arah Yoga.
" Gak bisa Mas, ini amanah dari Zhezha. Kalau Mas mau cari saja sendiri. Lagian kenapa baru cari istrinya sekarang? " dengus Yuli.
" Tapi mbak… ."
" Gak bisa Mas, titik! Sudah Mas pulang sana! Jangan pernah memaksa saya lagi. Nanti saya laporkan Mas ke polisi atas tuduhan perbuatan tak menyenangkan! "Seru Yuli.
Yoga terperangah mendengar itu.
Karena tak berhasil mendapatkan informasi dimana Zhezha, Yoga pun kembali pulang dengan perasaan khawatir dan dongkol.
***
Yoga membanting pintu mobilnya karena kesal.
"Sialan, dimana lagi aku harus mencari keberadaan Zhezha! "
Huh! Yoga menghembuskan nafasnya karena kesal.
" Apa aku telepon pak Wisnu saja Ya. Mungkin dia tau dimana Zhezha tinggal. Atau paling tidak, dia bisa pura-pura minta alamat Zhezha dari pemilik laundry itu, " gumam Yoga.
Segera saja ia meraih smartphone miliknya.
Beberapa saat kemudian nomor Wisnu pun tersambung.
" Halo assalamualaikum pak Yoga, " sapa Wisnu.
" Waalaikum salam Pak Wisnu. Maaf mengganggu. "
" Iya ada apa pak? " tanya Wisnu.
" Pak apakah bapak tahu dimana alamat Zhezha? " tanya Yoga.
Deg deg deg.
Wisnu diam beberapa saat.
__ADS_1
Bersambung gengs. Insya Allah ada dua bab lagi ya. Moga review nya mulus seperti jalan tol he he 😅