Menanti Jatuhnya Talak 3

Menanti Jatuhnya Talak 3
Trauma


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam . Yoga mulai mengerjap-nerjabkan matanya karena mendengar suara orang menangis. Tangannya meraba-raba ke arah samping mencari keberadaan Zhezha. 


Karena tak mendapati tubuh Zhezha di sampingnya.


 Yoga langsung mencari keberadaan Zhezha, ia pun menghidupkan lampu tidurnya. Yoga kaget  melihat Zhezha yang duduk bersandar pada headboard sambil menarik-narik rambutnya.


" Sayang kamu kenapa?" tanya Yoga.


Ih.. ih . Zhezha meringis.Namun  tak bicara apapun, hanya menarik-narik rambutnya hingga ratusan rambutnya berguguran.


Melihat hal itu Yoga langsung bangkit.


" Zhe, kamu gak boleh begitu. Gak boleh nyakitin diri kamu sendiri, " ucap Yoga sambil menarik tangan kanan Zhezha.


Ih ih ih, Zhezha kembali menarik rambutnya dengan tangan kiri sambil menangis.


Yoga menarik tubuh Zhezha kemudian memeluknya agar Zhezha menghentikan aksinya tersebut.


" Zhe, kamu kenapa ? Kamu gak boleh nyakitin diri kamu sendiri ya," ucap Yoga sambil mengusap kepala Zhezha.


Zhezha tetap menangis sambil meremas rambutnya.Yoga mencoba mencari apa yang jadi permasalahan Zhezha saat itu.


Dilihatnya Zhezha yang terus menjambak rambutnya sambil menangis.


" Sayang kamu kenapa ? Kepala kamu sakit?" tanya Yoga lagi .


Zhezha tak menjawab ia terus menangis sambil menjambak-jambak rambutnya.


" Iya, kepala kamu sakit Ya ? Sini biar mas Yoga yang pijat sebentar." 


Yoga merebahkan kepala Zhezha di dadanya kemudian memijat bagian tengah dari kepala atas.


Ketika Yoga memijat kepalanya Zhezha pun merasa baikan, matanya secara perlahan meredup kemudian terlelap begitu saja.


Yoga terus memijat bagian kepala Zhezha meski Zhezha sudah terlelap, tiba-tiba ia merasakan ada  benjolan di bagian kiri dari kepala Zhezha.


"Apa ini yang membuat Zhezha , sakit ?" gumam Yoga.


Dilihatnya benjolan yang seperti luka jahitan tersebut. 


" Aku harus tau apa yang terjadi pada Zhezha, sampai ia mengalami kecelakaan tersebut. " gumam Yoga.


Tak hanya hari itu, sudah dua hari berturut-turut Zhezha selalu bangun di jam yang sama dan mengeluhkan sakit kepala.


***


Waktu menunjukkan pukul satu siang.


Wisnu melirik ke arah smartphonenya tangannya sudah terasa gatal ingin meraih smartphone tersebut dan ingin segera menghubungi Zhezha.


Sudah dua hari ini hatinya selalu gelisah. Ingin menelpon Wisnu jadi dilema. 


Ia tak tau apa yang terjadi antara Zhezha dan Yoga. Apakah mereka kembali rujuk atau tetap kukuh dengan perceraian.


Ketika sedang melamun Wisnu di kagetkan dengan layar handphone yang menyala.


Diraihnya handphone yang sengaja ia letakkan sedikit jauh, agar keinginannya untuk menghubungi Zhezha bisa ditahan.


Sambungan telepon pun tersambung.


" Hallo, selamat siang pak Yoga," sapa Wisnu.


" Halo pak Wisnu, bisakah saya meminta waktu anda untuk datang ke rumah saya, sore ini ?" tanya Yoga.


" Oh iya bisa pak."


" Ok, pak Terimakasih." 

__ADS_1


" Assalamualaikum," ucap Yoga sambil menutup teleponnya.


" Waalaikum salam." 


***


Tak hanya Wisnu. Untuk mengetahui keadaan Zhezha selama ia tinggalkan, Yoga pun menghubungi Lilis melalui ponsel Zhe.


Beberapa saat telepon pun tersambung.


" Halo Zhe, maaf aku baru tahu jika …"


" Halo Lis." Yoga memutus pembicaraan Lilis.


" Mas Yoga ?" tanya Lilis dengan bibir yang cemberut.


" Lis, kamu bisa datang ke rumahku sore ini"


" Ih mau ngapain, gak ada Zhezha kan ? Males banget!"


" Justru aku ingin bicara dengan kamu mengenai masalah Zhezha."


" Ogah ah, pasti mas Yoga mau minta tolong aku untuk bantu bujuk Zhezha supaya mau rujuk sama mas Yoga, kan ?" terka Lilis.


" Gak Lis, keadaan Zhezha justru memprihatinkan. Besok aku ada jadwal konsultasi dengan psikiater. Jadi psikiater meminta aku untuk merumus apa yang terjadi pada Zhezha,sebum Zhezha didiagnosis mengalami depresi berat," papar Yoga.


" Hah ! Zhezha mengalami depresi berat ?!"


" Iya Lis, sekarang dia ada bersama ku."


" Ih ini semua itu karena kamu Mas ! Kamu yang buat Zhezha seperti itu ! Awas saja setelah Zhezha depresi gini kamu malah meninggalkannya !"  ancaman Lilis.


" Iya Lis, aku gak akan mengulangi kesalahan yang sama. Sekarang kamu maukan bantu aku ?" tanya Yoga dengan penuh harapan.


" Iya demi Zhezha aku mau bantuin. " 


" Ya sudah. Nanti sore jangan lupa ya."


" Waalaikum salam."


***


Sudah dua hari ini Yoga bekerja di rumah, sambil bekerja ia mengurus Zhezha.


Sehari-hari Zhezha hanya diam, tidur makan dan menangis jika ia merasakan sakit kepalanya. 


Yoga menghampiri Zhezha yang kala itu sudah membuka matanya.


" Sayang, sudah bangun ?" tanya Yoga.


Seperti biasa, Zhezha hanya diam seperti orang yang tak mendengar dan tak melihat.


" Kita makan siang dulu ya." Yoga menarik pelan tangan Zhezha.


Seperti orang yang pasrah , Zhezha selalu menurut.


Yoga membuka pintu kamarnya, menuntun Zhezha menuju meja makan.


Saat itu sudah menyiapkan makan siang untuk mereka bertiga.Meski makan siang tersebut sedikit terlambat karena mereka menunggu Zhezha yang baru saja bangun dari tidur siangnya.


" Bagaimana tidur siang Zhezha, Ga ?" tanya Bu Meli sambil menata piring di atas meja.


" Tidur siangnya nyenyak Bu. Hanya saja Zhezha selalu terbangun pukul sebelas malam. Ia menangis sambil menjambak-jambak rambutnya. Mungkin karena trauma kepala akibat kecelakaan tersebut."


" Lalu kapan kita bisa konsultasi kembali Ga ? Ibu sudah tak sabar ingin melihat Zhezha sembuh."


" Besok bu."

__ADS_1


Bu Meli duduk di samping Zhezha, ia hendak menyuapi Zhezha makan.


" Gak usah, ibu makan saja, biar Yoga yang menyuapi Zhezha."


" Iya terserah kamu saja."


Yoga menyuapi Zhezha dengan sabar, karena Zhezha hanya membuka mulutnya sedikit saja. Namun ia tak pernah menolak disuapi apapun.


" Bu, Yoga punya rencana, biar ibu gak capek ngurus Zhezha, bagaimana kita sewa jasa perawat untuk Zhezha ?" tanya Yoga.


" Gak perlu Ga, ibu bisa sendiri kok." 


"Seperti Zhezha juga gak terlalu merepotkan. Hanya dimandikan dan disuapi saat makan."


" Oh ya sudah kalau begitu. Yoga takut ibu kerepotan. Biar saja mandi dan sarapan pagi Zhezha, Yoga yang urus. Begitupun sore harinya. Ibu lihat-lihat saja keadaan Zhezha."


" Iya Ga, ibu juga tahu kamu sibuk. "


***


Sore harinya Yoga memang sudah menunggu kedatangan Wisnu dan Lilis.


Ting tong.


Kebetulan keduanya bertemu di koridor. Lilis dan Wisnu pun sama sama menunggu tuan rumah membukakan pintu.


Beberapa saat kemudian pintu pun terbuka.


" Silahkan masuk ," ucap Yoga pada kedua tamunya sambil memperlebar daun pintu.


Wisnu dan Lilis masuk dan langsung di persilahkan masuk ke dalam ruang keluarga.


Di ruang keluarga, sudah ada Zhezha yang duduk diam dengan tatapan mata yang kosong 


Melihat itu Wisnu jadi sedikit kaget.


" Apa yang terjadi pada Zhezha?" tanya Wisnu dengan sedikit syok.


" Zhezha mengalami depresiasi berat. Sepanjang hari dia hanya diam seperti itu, tanpa melakukan apa pun." 


" Astaghfirullah," ucap Wisnu sambil menyapu wajahnya dengan kasar.


Lilis mendekati Zhezha kemudian berlutut di depan Zhezha yang duduk di kursi roda.


" Zhe kenapa kamu bisa jadi seperti ini sih Zhe?" tanya Lilis sedih.Ia pun meraba wajah Zhezha yang tak merespon ucapannya.


" Pak Wisnu bisa anda ceritakan bagaimana anda bisa sampai menabrak istri saya ?"tanya Yoga dengan tenang.


" Kejadian itu berlangsung cepat sekali, ketika saya membawa mobil saya melintasi jalan raya, saya tanpa sengaja menabrak Zhezha," papar Wisnu.


" Karena kecelakaan tersebut Zhezha mengalami trauma kepala ringan. Sebenarnya setelah operasi pun Zhezha pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Ia selalu melamun, dan jika melamun seperti orang yang hilang kesadaran. Mungkin trauma itu datang lagi hingga mengganggu susunan saraf pusatnya," papar Wisnu.


" Saat itu dokter memang menekan pada Zhezha untuk menghindari Stress, menjaga pola makan yang sehat dengan gizi yang seimbang."


" Mungkin saja keadaan Zhezha sekarang ada sangkut pautnya dengan kecelakaan yang di alaminya, di tambah dengan masalah yang bertubi-tubi menimpanya," papar Yoga.


" Bukan itu saja Mas, Zhezha pernah hampir menjadi korban perkosaan, hingga dia berlari di tengah jalanan dan saat berlari itulah Zhezha di tabrak oleh mas Wisnu. Belum lagi setelah operasi Zhezha kembali harus memikirkan biaya operasi ayahnya hingga ia harus menjual cincin dari kamu."


" Zhezha sebenarnya wanita kuat. Tapi jika di timpa masalah yang bertubi-tubi rasanya bukan tak mungkin ia jadi terpuruk seperti itu. Apalagi tak ada yang bisa menjadi tempatnya bersandar," papar Lilis.


Astaghfirullah, Yoga sampai meneteskan air matanya mendengar penuturan kedua orang tersebut, ternyata selama ini Zhezha sudah banyak mengalami penderitaan.


Setelah berbincang sebentar, Lilis dan Wisnu pun memutuskan untuk pulang.


Wisnu begitu miris melihat keadaan Zhezha, ia pun ikut terluka melihat Zhezha sampai seperti itu. Namun apa dayanya.


Zhezha masih menjadi milik suaminya, ia pun melihat kesungguhan Yoga yang ingin merawat sang istri.

__ADS_1


' Semoga kamu lekas sembuh, Zhe. Mungkin Tuhan memberi cobaan ini untuk kembali menyatukan kalian berdua. Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Aku hanya bisa berdoa semoga cepat sembuh dan bisa bahagia bersama Yoga.' batin Wisnu.


Bersambung ya gengs


__ADS_2