Menanti Jatuhnya Talak 3

Menanti Jatuhnya Talak 3
Kabar Buruk


__ADS_3

Sudah seminggu ini Yoga pergi meninggalkan Zhezha. Namun, tak ada satupun kabar berita yang ia tinggalkan. 


Zhe zha memotong sayuran pikirannya entah kemana ketika itu,hingga tanpa sadar ia memotong sendiri jarinya. 


" Aduh, " ucap Zhe zha ketika melihat darah yang keluar mengalir mengenai wortel yang hendak ia potong. Ia baru merasa pedih ketika melihat darahnya mengalir.


Zhezha menuju wastafel kemudian membersihkan tangannya. Entah kenapa perasaan menjadi tidak enak. 


' Kenapa aku merasa bimbang ya, tapi pada siapa? ' batin Zhe zha. 


Zhe zha kembali melamun memikirkan hubungannya dengan Yoga saat ini. Kadang rasanya ia tak sanggup untuk terus berada di rumah ini, dirinya seperti diabaikan dan dianggap tak ada sama sekali, bahkan Zhe jadi merasa berat untuk menggunakan uang  bulanan yang diberikan Yoga untuknya. 


Zhezha menatap lurus ke arah depan dengan hampa. Seperti tak ada lagi yang bisa di pertahanan dari hubungan mereka, Yoga benar-benar tak menginginkannya. 


" Apa aku harus bertahan di tempat ini, rasanya aku malu pada diriku sendiri terus berharap pada orang yang sudah tak sudi menerima ku, " ucap Zhezha seraya menghapus air matanya. 


Kring...panggilan masuk sontak membuyarkan lamunan Zhe zha, langsung saja ia mengelap sisa darah yang menetes kemudian berjalan menuju meja makan dan menghampiri telpon yang masih berdering tersebut. 


Deg...tiba-tiba saja, saja jantung Zhezha berdetak kencang, ketika melihat nomor yang ada di layar smartphonenya. 


" Hallo Assalamualaikum, " sapa Zhezha. 


" Waalaikumsalam, Zhe. " sahut suara di seberang telpon dengan nada cemas yang ikut terdengar di telinga Zhezha. 


" Zhe, ibu sekarang dalam perjalanan menuju kota Nak, " sahut suara di seberang telepon


" Ada apa memangnya Bu? " tanya Zhezha yang ikut khawatir. 


" Ayah mengalami sesak nafas Zhe, dan kata dokter sel kanker paru-parunya kembali aktif, " ucap Meli dengan nada sedih. 


" Kanker bu? " tanya Zhezha lirih. 


" Iya Zhezha, katanya ayah harus segera di operasi lagi agar kankernya tak menyebar, " imbuhnya lagi. 


Zhezha terdiam beberapa saat, baru saja ia mendapatkan cobaan dengan dijatuhi talak oleh suaminya, kini Zhezha juga mendapatkan kabar buruk karena penyakit ayahnya yang kambuh. 


Penyakit ayahnya bukan penyakit sembarangan, karena penyakit tersebutlah harta keluarga Zhezha habis sedikit demi, bahkan sebelum menikah dengan Yoga, Zhezha adalah tulang punggung keluarganya. 


" Iya Bu, ayah dirujuk di rumah sakit mana Bu? " tanya Zhezha sambil menghapus air matanya lagi. 


" Rumah sakit pusat kota Zhe, kamu tunggu di sana saja, saat ini ibu dalam perjalanan dengan menggunakan ambulan. ".


" Baiklah kalau begitu, Zhezha tunggu di sini saja ya, " ucap Zhezha kemudian meletakkan handphonenya kembali. 

__ADS_1


Zhezha meletakkan handphone tersebut kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, ia pun kembali menangis. 


Zhezha merasa cobaan ini begitu berat, saat ayahnya sakit, pasti akan membutuhkan biaya yang tak sedikit, sedangkan ia sudah tak lagi bekerja. Bahkan saat ini ia sendiri bergantung pada suami yang tak menginginkannya lagi.Ia tak bisa mengharapkan Yoga, karena Yoga bisa saja menceraikannya kapan saja. 


" Ya Tuhan,  aku harus bagaimana menghadapi ini semua, hiks " ucap Zhezha dengan nada lirih sambil menangis.


Zhezha menangis pilu dalam kebingungan dan kesendiriannya. 


Setelah air matanya mengering dan tak ada lagi yang bisa ia tangiskan, ia pun bersiap untuk menuju rumah sakit. 


Sebenarnya ia sendiri memiliki mobil yang dibelikan Yoga untuknya, hanya saja ia tak mau menggunakannya. Selain tak bisa menggunakan mobil, Zhezha juga enggan menggunakan barang-barang mewah milik Yoga, karena ia merasa tak pantas untuk memiliki itu semua. 


Zhezha memesan taksi online yang di ajari oleh Lilis padanya. Beberapa saat menunggu di lobby sebuah mobil jemputan menghampirinya. 


Setengah jam kemudian Zhezha sudah tiba, ia pun menunggu kedatangan ambulan yang membawa ayahnya. 


Sepuluh menit menunggu ambulan pun tiba, mereka langsung membawa pak Yanto menuju lobby ruang UGD untuk melakukan pemeriksaan tahap awal. 


Brankar pak Yanto di dorong dan keluar dari mobil ambulan menuju kamar sekat yang ada di ruang UGD.


Zhezha semakin sedih melihat keadaan ayahnya yang kini tinggal tulang dilapisi kulit. Wajahnya begitu pucat dengan bibir yang mengering. Padahal belum genap dua minggu ia meninggalkan rumah mereka. 


" Bu, kenapa ayah bisa sampai seperti ini sih? " tanya Zhezha sambil mengusap kepala pak Yanto. 


" Astagfirullah, kenapa ibu gak beri tahu Zhezha bu? " tanya Zhezha dengan sedikit sesal. 


" Ibu hanya gak ingin mengganggu kebahagiaan kamu dan Yoga, Zhe. Kalian pasti tengah berbahagia dan menikmati bulan madu kalian, jadi ibu pikir lebih baik tak usah memberi tahu pada kamu. Ibu juga pikir penyakit ayah karena beliau kelelahan saja ," papar Meli. 


Zhezha kembali tertunduk sedih, semua orang mengira saat ini ia tengah berbahagia menikmati masa bulan madu mereka, tapi kenyataan sungguh berlawanan. 


" Zhe! Kenapa kamu melamun, " cetus Meli sambil menepuk pundak putrinya. 


" Ah gak kok Bu, " sahut Zhezha sambil menggelengkan kepalanya. 


Seorang dokter datang memeriksa keadaan pak Yanto, sementara dua orang perawat memasang infus di lengan tangan pak Yanto. 


" Untuk sementara ini pasien akan diobservasi ya Bu, mungkin besok baru di lakukan operasi,sekarang siapkan saja biaya yang dibutuhkan untuk operasi," papar dorer tersebut. 


" Operasi lagi? "gumam Zhezha sambil melirik ke arah Meli. 


" Iya Zhe, ayah harus di operasi, keadaan akan semakin memburuk, kan ibu sudah bilang di telepon," papar Meli


Zhezha kembali tertunduk dan kembali melamun. 

__ADS_1


" Zhe, kamu punya uang kan ? , untuk operasi ayahmu? " tanya Meli. 


" Ehm ada Bu," ucap Zhezha lirih, padahal ia sendiri tak memiliki uang pribadinya selain yang diberikan Yoga untuk kebutuhannya selama sebulan. 


" Iya Bu, Zhezha pergi ke kasir dulu untuk menanyakan berapa biaya operasinya. "


***


Zhezha menuju kasir untuk mendaftarkan dan meminta taksiran biaya operasi ayahnya. 


Dengan langkah longkai  ia berjalan menuju bagian pendaftaran pasien. Banyak sekali yang ia pikir saat itu,hingga tanpa sadar ia telah melewati bagian pendaftaran. 


" Astagfirullah, kenapa jadi kelewatan, "gumamnya.Ia pun kembali berbalik arah kemudian menuju bagian pendaftaran. 


Sesampainya di pendaftaran, Zhezha menyerahkan surat rujukan dari rumah sakit sebelumnya. 


" Berapa kira-kira operasinya ya mbak? " tanya Zhezha. 


" Untuk tindakan operasinya saja biayanya tiga puluh juta Mbak, belum termasuk obat dan kamar, " papar petugas tersebut. 


" Tiga puluh juta hanya untuk operasi, jika di tambah obat dan kamar berapa mbak? " tanya Zhezha sambil menelan salivanya. Tiba-tiba saja tenggorokan terasa kering. 


" Diperkiraan sekitar 35 juta sampai empat puluh juta Mba. "


"Empat puluh juta? '' gumam Zhezha, seketika lututnya gemetaran. 


' Aku mau cari duit kemana uang sebesar empat puluh juta, mau minta sama mas Yoga gak mungkin, saat ini saja aku malu untuk menggunakan uang pemberian mas Yoga itu. ' batin Zhezha.


Zhezha melangkah perlahan sambil memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang dengan cara yang cepat untuk operasi ayahnya. 


Zhezha memikirkan barang-barang apa yang bisa ia jual, sertifikat rumah mereka sudah tergadai, begitupun dengan kebun mereka yang sudah dijual dan tak lagi menghasilkan kelapa sawit karena kebun tersebut tak pernah diurus. 


" Ya Allah, mau cari dimana aku uang sebanyak itu? " gumamnya lagi. 


Zhezha duduk untuk meneenangkan pikirannya, ia pun melihat ke arah lembaran kertas yang diberikan oleh kasir. Ketika melihat kertas tersebut ia tak sengaja melihat dua cincin di dua jarinya. 


" Apa aku gadaikan saja cincin berlian ini ? " gumamnya sambil mengamati cincin tersebut. 


'Tapi kalau di gadaikan, sudah pasti aku tak bisa menebusnya. Jadi aku jual saja, lagipula aku juga tak pernah melihat mas Yoga memakai cincin tunang dan cincin pernikahan kami. Untuk apa juga aku simpan jika hanya untuk sebuah kenangan, lebih baik aku gunakan untuk hal yang lebih bermanfaat. ' batin Zhezha


Zhezha pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan cepat menjauh dari tempat tersebut. 


Dengan menjual cincin ini, satu masalahnya bisa teratasi. 

__ADS_1


Bersambung dulu gengs. 


__ADS_2