
Zhezha terbangun karena merasakan perutnya keroncong. Diliriknya petunjuk waktu yang berada di dinding.
"Masih pukul tiga pagi, duh perutku kok lapar Ya," gumam Zhezha sambil melepaskan tangan Yoga yang merangkulnya.
Yoga tersadar dan langsung membuka matanya.
" Mau kemana Sayang?" tanya Yoga.
"Aku lapar Mas, mau ke dapur sebentar."
" Ayo mas Yoga yang masak. Kamu mau makan apa ?" tanya Yoga sambil merangkul tangan pundak Zhezha.
" Aku makan mau di buatkan nasi goreng saja Mas, yang pedas ya."
" Iya, untuk kamu apa sih yang gak," ucap Yoga sambil tersenyum melirik Zhezha.
" Ehm jadi tambah sayang deh," ucap Zhezha sambil memeluk pinggang suaminya.
Keduanya menuju dapur. Yoga langsung membuka kulkas untuk mempersiapkan bahan-bahan dan bumbunya.
Zhezha hanya duduk di meja makan sambil melihat sang suami yang sibuk meracik bumbu nasi gorengnya.
Semakin hari dia semakin jatuh cinta pada sang suami.
Kreng kreng
Spatula Yoga bergesekan dengan wajan anti lengket.
Aroma yang keluar dari masakan Yoga sampai membangunkan Lilis dan Bu Meli yang lagi sholat malam.
Lilis keluar dari kamarnya dan melihat pasangan bucin tersebut saling menyuapi. Ia kembali masuk ke kamar.
' Ya Tuhan beruntung banget Zhezha, punya suami seperti mas Yoga,' batin Lilis.
Ia kembali mengintip ke arah sepasang suami-istri tersebut.
Bu Sumi datang menghampiri mereka.
" Duh Zhezha ini masih subuh," ucap Sumi.
"Iya Bu, tapi Zhezha lapar Bu. "
" Iya Zhezha, tapi ibu kasihan sama suamimu, suami itukan sibuk. Kalau lapar kamu bisa bangunin ibu," ucap Bu Sumi.
" Gak apa Bu, justru aku kasian kalau Zhezha merepotkan ibu. Sudah jadi resiko seorang suami lah kalau istrinya ngidam dia yang memasak," papar Yoga.
" Tuh kan gak apa-apa Bu. Mas Yoga yang mau kok," ucap Zhezha sambil mengunyah nasi gorengnya.
" Ayo Sayang habiskan," ucap Yoga sambil kembali menyendok nasi goreng ke mulut Zhezha.
" Setelah ini kita langsung sholat subuh berjamaah saja ya."
" Iya Mas."
Setelah makan, Yoga dan Zhezha pun sholat subuh bersama.
Setelah itu mereka tak langsung tidur. Tapi jalan-jalan pagi sambil berbelanja kebutuhan dapur.
***
Lilis keluar dari kamarnya.
Dilihatnya keadaan rumah sepi.
" Zhezha kemana Bu?" tanya Lilis.
" Jalan pagi, biasanya mereka sekalian belanja," sahut Bu Sumi yang masih sibuk dengan kegiatannya saat itu.
Lilis menyadari jika Bu Sumi tidak senang jika ia tinggal di rumah Zhezha.
Ia pun menyadari hal itu.
Tiba-tiba ada yang membuka pintu rumah mereka.
__ADS_1
" Assalamualaikum, " ucap Zhezha dan Yoga.
" Waalaikum salam."
Yoga membawa belanjaan mereka menuju dapur, setelah itu ia langsung menuju kamarnya untuk mandi.
Zhezha duduk di sofa di ruang tamu bersama Lilis.
" Darimana kamu Zhe?" tanya Lilis.
" Aku habis jalan-jalan Lis, sekalian belanja. Eh aku ada belikan kamu kue tradisional tuh. "
" Iya Zhe makasih."
" Zhe, menurutmu aku harus bagaimana ya Zhe. Kemarin temannya om Rudi itu mau ngajakin aku kencan, tapi aku jadi takut kejadian tersebut terulang kembali, tapi aku juga butuh uang untuk kebutuhan hidup keluargaku," papar Lilis.
" Astaghfirullah hal azim Lis, kalau kamu mikir seperti itu, sampai kapan kamu bisa berubah. Lebih baik cari rezeki yang halal Lis, biar sedikit ,tapi berkah."
Lilis tertunduk sambil menyimak nasehat Zhezha.
" Aku tau apa yang kamu rasakan saat ini, kamu pasti bingung harus bagaimana."
" Iya Zhe. Mau usaha aku gak tau usaha apa, selama ini aku cuma taunya minta duit sama om Rudi."
"Aku juga pernah mengalami hal yang sama seperti kamu Lis, tapi yakinlah ketika kita berusaha, pasti selalu ada jalan."
Lilis tertunduk sambil mencerna kata-kata Zhezha.
" Lis apa kamu gak mau punya keluarga yang utuh ? Kamu bisa kumpul dengan suami dan anak-anak kamu, membina keluarga yang sakinah ,mawadah, warahmah? "
"Ya Tentu maulah. Siapa pun pasti ingin punya kehidupan seperti itu," sambar Lilis.
" Nah kalau pengen, gak usahlah kamu jadi istri simpanan om-om itu. Kamu cari pria single yang mau menerima kamu apa adanya dan yang benar-benar berkomitmen membina rumah tangga bersama kamu Lis," nasehat Zhezha.
" Iya juga sih Zhe, kadang kalau lihat kamu dan Yoga aku jadi iri. Aku juga ingin punya pasangan yang mencintaiku dan aku pun mencintainya. Bukan hanya sebagai pasangan pemuas nafsu."
Zhezha tersenyum, " Kalau begitu mulai dari sekarang kamu harus mulai menata hidup kamu dari awal Lis. Kamu masih muda dan masih banyak kesempatan yang akan kamu raih," ucap Zhezha.
***
Usia kandungan Zhe mulai memasuki usia tujuh bulan. Baru saja mereka menggelar acara selamatan tujuh bulan di kampung halaman mereka.
Ting tong
Suara bel berbunyi.
Zhezha segera menghampiri pintu.
Zhezha tersenyum ketika melihat siapa yang datang.
" Sayang, kamu tau gak ini undangan pernikahan siapa?" tanya Yoga sambil mengibas undangan tersebut.
" Ehm mana aku tau Mas, kenapa sih main tebak-tebakan gitu ?"
" Ini undangan pernikahan pak Wisnu. Dan beliau sendiri yang mengantar undangan ini," papar Yoga.
" Mas Wisnu. Alhamdulillah," sambut Zhezha dengan bahagia.
" Iya, iya juga titip undangan untuk Lilis."
Yoga dan Zhezha masuk kedalam rumah mereka dengan bergandengan tangan.
" Wah kalau gitu kamu mandi dulu mas, setelah itu aku mau fitting baju untuk kondangan di butiknya Lilis, habisnya gaun pesta ku pasti gak muat lagi karena perutku yang semakin buncit ini," ucap Zhezha sambil mengelus perutnya.
" Iya Sayang, perut kamu makin buncit, tapi siapa yang buncitin ?"
"Ehm pakai nanya lagi ! Yang memompa aku tiap malam siapa?!" tanya Zhezha dengan suara yang sedikit kencang.
Yoga tersenyum sambil menutup mulut Zhezha.
" Hus jangan kencang-kencang malu sama ibu," cetus Yoga.
Sementara ibu Meli hanya bisa tersenyum mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
***
Yoga dan Zhezha menghampirinya sebuah butik, butik tersebut milik Lilis. Dari sisa uang yang ia miliki ditambah dari pinjaman uang dari Zhezha. Lilis kini bisa menyewa ruko yang digunakan sebagai butiknya.
Sambil menjual baju-baju yang diimpor dari luar negri. Lilis juga belajar menjahit sendiri pakaian kemudian memajangnya dan menjual hasil jahitan di butiknya sendiri.
Lilis kaget sekaligus senang melihat kedatangan Zhezha dan Yoga.
" Hei tumben kalian berdua kemari ?" tanya Lilis.
" Iya Lis, kami mau fitting baju untuk acara pesta pernikahan mas Wisnu, " ucap Zhezha.
" Hah mas Wisnu menikah? "
" Ih biasa saja reaksinya. Emang kenapa mas Wisnu menikah? Kamu keberatan?"tanya Zhezha.
" Ah gak kok."
" Lis aku pesan gaun dong tapi kamu sendiri yang jahit ya. "
" Oke Nyonya, silahkan pilih bahannya."
" Kamu pilih mau bahan apa ,di sini gak ada sutra ya nyonya."
" Yang ini saja Lis," tutur Zhezha sambil menunjuk sebuah gulungan kain berwarna putih.
" Ok, silahkan pilih modelnya."
Zhezha pun memilih desain yang sederhana dan tak terlalu banyak detail.
" Zhe, sebenar aku juga mau dilamar Zhe," ucap Lilis di sela-sela pembicaraan mereka.
" Yang benar Lis. Tapi sama pria single kan ?" tanya Zhezha.
" Iyalah. Masih bujangan kok.Tapi umurnya sudah tiga puluh tahun Zhe, dan ia bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta di kota ini," papar Lilis.
" Alhamdulillah Lis, tapi sebaiknya kamu kenal dia lebih dulu. Jangan terburu-buru," nasehat Zhezha.
" Iya beres."
Setelah berbincang dan fiting baju mereka memutuskan untuk pulang.
***
Dua minggu kemudian.
Zhezha dan Yoga menghadiri resepsi pernikahan Wisnu dan Alya.
" Selamat ya pak Wisnu atas pernikahannya, semoga jadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," ucap Yoga sambil menjabat tangan Wisnu di atas pelaminan.
Sementara Zhezha hanya melempar senyum, ia pun menghampiri Alya.
" Selamat ya mbak, moga jadi keluarga sawarwa," ucap Zhezha sambil bersalaman dengan Alya.
" Terima kasih," ucap Alya.
Setelah mereka bersalaman memberi doa restu dan selamat, momen tersebut pun di abadikan dengan foto bersama.
Yoga berada di samping Zhezha sementara Zhezha di samping Alya.
Wisnu dan Yoga pada akhirnya memiliki keluarga yang sakina mawadah warahmah.
Begitupun Lilis yang memulai membuka lembaran baru di hidupnya. Ia pun menikah dan hidup bahagia bersama keluarganya.
🌹🌹🌹🌹🌹The End🌹🌹🌹🌹🌹
Assalamualaikum para reader. Otor mau mengucapkan terima kasih kepada reader semua yang mengikuti kisah ini sejak awal hingga akhir.
Terimakasih juga atas dukungannya. Maaf kan author jika ada kata-kata yang tidak berkenan di hati reader, maaf juga jika kisah yang author tulis tak sesempurna dan tak seperti yang para reader inginkan.Maklum otor juga manusia biasa yang tak sempurna.
Semoga ada manfaat yang bisa kita ambil dari kisah ini. Semoga kita semua selalu berbahagia dan selalu dalam lindungan Tuhan yang maha esa.Aamiin.
Wassalam mualaikum wr wb .
__ADS_1