
"Mas Wisnu ?"
" Iya mbak Lis, Zhezha ada ?"
"Em, Zhezha sudah tidur Mas,"
Lilis keluar dari rumah kemudian menutup pintu.
" Silahkan duduk Mas," ucap Lilis sambil menunjuk ke arah bangku singel yang ada di teras tersebut.
" Bagaimana dengan keadaan Zhezha, mbak ?" tanya Wisnu.
Lilis melirik ke arah Wisnu .
" Yah begitulah Mas. Zhezha terpaksa minum obat tidur untuk menenangkan pikirannya."
" Saya heran sih sebenarnya dengan Mas Wisnu, kenapa kok bisa membela mas Yoga sudah jelas-jelas Yoga salah," tukas Lilis
" Saya bukan membela, tapi posisi saya hanya sebagai penasehat hukum dari Pak Yoga saja."
" Saya datang kemari hanya ingin menanyakan keadaan Zhezha.Ada rasa khawatir pada diri saya terhadap Zhezha. Maklum sajalah, keadaan Zhezha saat ini pasti membuatnya tertekan, apalagi Zhezha pernah menjalani operasi akibat trauma kepala ringan."
" Tentu saja mas.Mas Wisnu dengar sendiri kan, bagaimana selama ini Yoga memperlakukan Zhezha ?"
" Jika mas Wisnu peduli, tolong dong Mas.Mas Wisnu bujuk Yoga agar bisa melepaskan Zhezha."
" Em kenapa begitu Mbak ?" tanya Wisnu lagi.
" Saya gak mau mereka bersama lagi.Sudah cukuplah Zhezha menderita."
Lilis kembali melirik ke Wisnu.
" Jika Mas Wisnu punya hati kepada Zhezha, kenapa mas Wisnu tidak coba mendekati Zhezha? biasanya wanita yang sedang patah hati butuh seseorang untuk bersandar," imbuhnya lagi.
" Maksudnya apa ya ?" tanya Wisnu.
" Mas Wisnu bantulah Zhezha untuk melupakan mas Yoga, Zhezha terlalu mencintainya."
Wisnu membelalakkan bola matanya hingga bulat dengan sempurna.
" Saya akan bantu anda untuk membujuk Zhezha ,agar ia membuka hatinya pada anda."
Wisnu semakin kaget dengan penuturan Lilis.
" Mas bagaimanapun caranya, kita harus bisa memisahkan mereka," cetus Lilis.
Wisnu diam untuk beberapa saat.
" Mas, bagaimana? Mau gak ?" tanya Lilis dengan penuh penekanan.
" Ayolah Mas, Zhezha itu sudah dibuang oleh suaminya. Sekarang saatnya bagi mas Wisnu menunjukkan pada Zhezha perasaan mas Wisnu yang sebenarnya. Jangan nyesel loh mas kalau Zhezha diambil alih kembali sama mas Yoga," cetus Lilis dengan maksud mengompori.
Wisnu terdiam coba untuk menelaah apa yang dikatakan oleh Lilis.
" Saya yakin hanya mas Wisnu yang bisa mengisi kekosongan di hati Zhezha. Ingat loh Mas cinta itu memang harus diperjuangkan, " timpalnya lagi.
Wisnu diam beberapa saat, kemudian ia beranjak dari tempat tersebut.
"Iya mbak, nanti saya pikir-pikir lagi.sekarang saya permisi dulu ya."
" Iya Mas, hati-hati " sahut Lilis.
__ADS_1
Lilis menatap kepergian Wisnu.
" Rasain kamu Yoga, biar kamu cara menghargai wanita," gumam Lilis.
Ia pun kembali masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kembali.
***
Setelah keluar dari ruang sidang,Yoga membawa mobilnya menuju apartemen. Karena hari ini dirinya benar-benar tidak bisa berkonsentrasi untuk bekerja.
Di pikirannya hanya ada Zhezha.
" Aku tak menyangka jika kesalahan yang ku perbuat ini berakibat fatal. Kenapa aku tega berbuat sekejam itu terhadap wanita yang ku cintai hiks Kenapa! Kenapa ! " sesal Yoga sambil memukul-mukul kemudi mobilnya.Yoga meremas rambutnya,tanda penyesalannya.
***
Malam dingin dan sepi,waktu menunjukkan pukul dua pagi.
Yoga masih bersimpuh di atas sajadahnya menunduk dengan penuh kerendahan.
" Ya Tuhan, ampuni aku yang sudah menyia-nyiakan kesempatan yang engkau berikan. Aku sadar aku salah karena menyimpan dendam ini dan telah berlaku buruk terhadap istriku, tapi tak bisakah hamba mu yang berdosa ini diberikan kesempatan sekali lagi. Berilah jalan untuk kami agar bisa bersama lagi ya Tuhan. Hamba menyesal, sungguh-sungguh menyesal." Yoga pun menangis dalam sujudnya.
" Berilah hamba kesempatan sekali lagi Ya Allah, hamba janji akan menjaga amanah yang kau berikan, hiks hiks. Kasihanilah hamba Ya Rabb. Hanya kepada Engkaulah hamba bersimpuh, memohon agar engkau membuka pintu hati istri hamba. karena hanya engkaulah yang mampu membolak-balik hati hambamu,hiks."
Yoga terus melakukan sholat malamnya yang begitu khusyuk.wajahnya kini basah dengan air mata penuh dengan penyesalan. Sepanjang malam ia berdoa hingga dirinya lelah dan tertidur sendiri di atas sajadah.
***
Di sisi lainnya.
Wisnu berada di sudut sunyi di ruangan kamarnya.Saat ini ia juga melakukan shalat malam meminta petunjuk dalam memilih. Saat ini dirinya berada dalam dilema besar.
"Ya Tuhan apa yang harus hamba lakukan saat ini ? Berilah hamba ketetapan hati untuk memilih satu diantara dua pilihan. Apakah hamba memang harus memperjuangkan cinta ini,atau membantu mereka untuk bisa rujuk kembali,' batin Wisnu.
***
Yoga bermaksud untuk menyelesaikan tugasnya proyeknya yang berada di luar kota.
Sebelum berangkat Yoga bermaksud memberi tahu pada Zhezha tentang kepergiannya. Ia pun meraih handphone kemudian mencoba untuk menghubungi nomor Zhezha.
***
Zhezha memulai aktivitasnya setelah semalaman beristirahat, kini tubuhnya lebih fit dan siap untuk kembali bekerja.
Zhezha mengemasi barang-barang yang biasa dibawa ketika berangkat bekerja. Karena di tempat kerja ia selalu sibuk, sebelum berangkat Zhezha pun menyempatkan diri untuk menghubungi kedua orang tuanya.
" Halo Assalamualaikum, Bu."
" Waalaikum salam Zhe, bagaimana dengan kabar kamu Nak, kenapa akhir-akhir ini kamu jarang menelepon?"
" Alhamdulillah Bu, Zhezha baik-baik saja. Zhezha lagi sibuk Bu. Karena Zhezha juga bekerja."
" Alhamdulillah Nak."
" Bagaimana dengan kabar ayah Ibu ?" tanya Zhezha.
" Alhamdulillah Zhe, beberapa hari ini ayah sudah banyak makan. Tubuhnya pun lebih segar."
" Alhamdulillah, Zhezha jadi kangen dengan ayah. Rencananya awal bulan nanti Zhezha pulang Bu."
" Iya Zhe, ayah kamu juga katanya kangen Zhe sama kamu.Dan kamu tau gak Zhe, ayah ngomong apa sama ibu ?" tutur Meli dengan Vibra yang sedih.
__ADS_1
" Ayah ngomong apa Bu ?" tanya Zhezha.
" Kemarin Ayah cerita jika ia bermimpi saat ini kamu tengah hamil Zhe, dan ayah berharap jika dirinya diberi kesempatan untuk melihat cucunya sebelum ia pergi untuk selamanya hiks hiks," tutur Meri dengan haru.
Mendengar hal itu seketika air mata Zhezha langsung luluh.
Dirabanya perutnya yang datar.
' Mana mungkin aku bisa hamil, sedangkan aku tak pernah di sentuh 'batin Zhezha.
" Zhe!" Panggil Meli karena Zhezha tak merespon.
" Iya Bu ?" tanya Zhezha ketika ia tersadar dari lamunan sesaatnya.
" Zhe, apa belum ada tanda-tanda jika kamu hamil Zhe ?" tanya Meli.
Zhezha kembali diam seraya menelan ludah karena tenggorokan yang terasa kering.
" Sudah dua kali ayahmu bermimpi kamu hamil Zhe, dan karena mimpi itulah ayah jadi bersemangat untuk sembuh, dia makan lebih banyak dari biasanya.Minum obat juga teratur.Katanya biar cepat sembuh dan bisa melihat cucunya," papar Meli, sementara Zhezha hanya bisa menghapus bulir bening di pipinya.
Zhezha tak tahu harus berkata apa.
" Zhe! Kamu masih di sanakan?"tanya Meli karena Zhezha hanya diam tanpa merespon.
" Iya Bu masih.Zhezha masih ngantuk Bu, karena itulah kurang fokus."
" Oh iya sudah. Kamu mandi saja dulu Zhe, biar seger.Ibu juga mau menyiapkan sarapan untuk ayah."
" Iya Bu. Zhezha juga mau mandi. Kalau begitu Zhezha tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam Zhe," ucap Meli.
Baru meletakkan handphonenya.
Telponnya tersebut kembali berbunyi.
Zhezha melirik ke arah layar dan disana tertera nama Yoga yang sedang melakukan sambungan telepon.
Dengan malas Zhezha mengangkat telepon tersebut.
" Halo Assalamualaikum,"sapa Zhezha dengan malas.
" Waalaikum sayang," cetus Yoga coba untuk mengajak Zhezha bercanda.
" Ada apa Mas nelpon pagi-pagi ?" tanya Zhezha dengan sedikit ketus.
" Zhe, mas Yoga mau berangkat ke luar kota nih."
" Terus apa hubungannya dengan aku ?" tanya Zhezha.
" Kamu mau ikut gak Zhe ? Nanti kita singgah ke kampung," tawar Yoga.
" Gak usahlah mas, aku masih ada kerja."
" Ya sudah Zhe. Kalau gitu doakan mas Yoga semoga selamat sampai ditujuan ya Zhe," pinta Yoga sok mesra.
" Iya Mas, hati-hati di jalan."
" Terimakasih sayang, I love you," ucap Yoga kembali.
Mendengar hal itu Zhezha tak menjawab ia langsung memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Bersambung dulu gengs 😃