Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
10


__ADS_3

"Mama sama Papa kapan pulangnya, Kak?" tanya Vanya saat mereka sedang makan malam bersama.


"Memangnya mereka gak bilang sama lo?" Hansen balik bertanya sembari mengunyah makanannya.


"Enggak," jawab Vanya polos.


Hansen mengendikkan bahu. "Ya udah, sih. Biarin aja, lagipula mereka memang butuh waktu berdua aja kan. Namanya juga pengantin baru," kata Hansen dengan entengnya.


"Iya juga, sih." Vanya kembali melanjutkan makan malamnya.


Saat mereka selesai makan, Vanya membantu untuk membereskan piring bekas makan Hansen dan dibiarkan oleh pemuda itu.


"Kakak mau buah, gak? Biar aku kupas terus aku bawa ke ruang tv," usul Vanya menatap Hansen yang tampak menghabiskan air di gelasnya.


"Boleh."


"Ya udah, tunggu di ruang tv aja ya, kak."


"Oke," jawab Hansen tak menolak.


Vanya yang dibantu seorang asisten rumah tangga mulai membersihkan meja makan, kemudian mengupas buah pir dan apel untuk Hansen di dapur.


"Non Vanya sama Den Hansen kelihatan akur banget ya. Padahal biasanya saudara sambung itu banyak yang gak cocok," celetuk Mbak Sari yang selalu terbuka atas apa yang dia pikirkan.


"Hehe, iya Mbak. Kak Hansen itu baik orangnya. Makanya aku senang pas tau kalau dia yang bakal jadi kakak sambungku."


Mbak Sari mengangguk, mengiyakan. "Kelihatan sih, mana ganteng juga lagi," ujarnya sambil terkekeh.


Vanya ikut tertawa. "Mbak Sari bisa aja deh."


"Tapi bener kan, Non. Kalau aja Mbak masih muda, pasti mbak gebet deh..." Mbak Sari pun cekikikan.


"Den Hansen nya yang mikir 100 kali buat nerima kamu, Sari," timpal Bi Inah yang ikut mendengar percakapan Vanya dan Mbak Sari.


"Hahaha ..."


Suara tawa mereka memenuhi dapur. Sampai akhirnya Vanya sudah selesai dengan kegiatan mengupas buahnya.


"Aku ke depan dulu ya, Mbak, Bi." Vanya pamit pada dua orang Asisten rumah tangganya itu.


"Iya, Non. Ingat lho, itu Den Hansen udah jadi kakak buat Non Vanya, jangan dijadikan gebetan ya," canda Mbak Sari saat Vanya hampir meninggalkan dapur.


Vanya kembali terkekeh. "Mbak Sari ada-ada aja, deh," katanya sembari berlalu.


Sampai di ruang Tv, Vanya melihat Hansen yang sedang fokus menatap layar lebar yang menayangkan berita hari ini.


"Ini, kak. Dimakan buahnya."


Hansen hanya mengangguk tanpa melihat pada Vanya.


Vanya memutuskan beranjak dari sana, tapi Hansen memanggilnya.


"Van?"


"Ya, kak?"

__ADS_1


"PR bahasa Inggris lo udah siap?"


Vanya menyengir. "Belum, kak. Kan siang tadi malah ketiduran," katanya terus terang.


"Ya udah, lo kerjain, gih. Ntar kalau gak selesai dihukum Pak Fandi, tau rasa lo!"


"Engh, iya kak." Vanya menggaruk pelipisnya sekilas. "Bantuin lagi yuk, Kak!" ajaknya.


"Gue masih nonton," jawab Hansen.


"Ya udah, aku tungguin sampai kakak selesai nonton deh." Vanya mengambil tempat disebelah Hansen dan duduk disana.


Hansen sedikit terkejut karena jujur saja ia selalu berdebar jika terlalu dekat dengan Vanya seperti ini.


"Aku temenin kakak nonton, abis itu kakak bantuin aku ngerjain PR."


"Kan tadi siang udah gue jelasin, Van."


"Tapi maunya dibantuin Kakak."


Hansen menghela nafas panjang yang akhirnya mengangguk karena tak bisa menolak permintaan gadis kesayangannya yang sudah menjadi adiknya tersebut.


Setengah jam kemudian, saat tontonan Hansen telah usai, juga buah yang tadi disajikan Vanya hampir habis, Hansen mengajak Vanya untuk melanjutkan mengerjakan PR.


"Dikamar aku aja ya, Kak." Vanya menarik Hansen untuk masuk ke kamarnya.


Untuk pertama kalinya, Hansen memasuki kamar seorang gadis. Kamar Vanya tampak didominasi dengan warna pink dan putih. Ruangan itu harum, Hansen seperti mencium aroma Vanya saat memasukinya.


"Disini kak." Vanya mengajak Hansen ke arah meja belajar yang ada disudut kamarnya.


Vanya menuruti kemauan Hansen dan mulai menunjukkan pekerjaan rumah yang sudah berusaha untuk ia kerjakan.


"Udah bener sih ini," kata Hansen terus terang saat melihat buku PR Vanya. Ia menatap pada Vanya dan disaat bersamaan gadis itu juga tengah menatapnya.


Tatapan mereka bertemu satu sama lain dan seolah terkunci disana.


Entah mengikuti nalurinya atau setan mana yang mampu mempengaruhi Hansen, pemuda itu malah mengulurkan tangan dan membelai wajah mulus Vanya. Melihat tak ada penolakan dari gadis itu, Hansen malah memangkas jarak diantara mereka dan mengecup bibir Vanya.


Vanya sebenarnya terkejut, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa dikala hatinya juga menginginkan hal itu. Kecupan Hansen berakhir, itu terasa sangat singkat bagi Vanya dan dia justru merasa kecewa karena itu harus disudahi begitu saja.


Hansen menatap wajah Vanya yang memerah. Mungkin wajahnya sendiri juga memerah sekarang, kenapa bisa ia melakukan hal ini?


"Sorry Van, gue ..."


"Kak?" Vanya menggenggam tangan Hansen dan menatapnya penuh harap. Hansen membalas tatapan itu, lalu mengartikan jika sepertinya Vanya menginginkannya lagi, sehingga Hansen benar-benar melakukannya untuk yang kedua kali.


Jika kecupan pertama tadi Hansen masih dilanda rasa gusar, yang kali ini ia benar-benar melakukannya dengan sepenuh hati.


Berawal dari kecupan, Hansen mulai berani mengulumm bibir Vanya dan menggigittnya. Vanya menjerit tertahan atas ulah Hansen itu, namun kesempatan itu dimanfaatkan sang Kakak untuk menyelipkan lidahnya ditengah-tengah ciuman mereka yang kini semakin intens.


Hansen melepaskan bibirnya dari bibir Vanya saat merasa jika mereka akan kehabisan nafas.


"Bibir lo manis," ucap Hansen didepan wajah Vanya karena mereka masih dalam jarak yang sangat dekat.


Vanya tersenyum malu dengan wajah yang merona, ia tak percaya ciuman pertamanya ia berikan pada pemuda yang sudah menjadi kakaknya sendiri.

__ADS_1


"Ya udah, lanjut ngerjain PR nya," kata Hansen yang berdehem-dehem kemudian. Ia merasa suasana berubah canggung, namun dalam hati Hansen tak menampik bahwa ia sangat senang dapat merasakan mencium gadis yang disukainya sejak lama ini.


Vanya mengangguk, namun tiba-tiba dia bersuara.


"Kenapa kakak cium aku?"


Hansen tak menjawab, dia memilih diam.


"Kenapa, Kak?" Vanya menuntut jawaban dari bibir pemuda itu.


"Gue gak tau kenapa gue ngelakuin itu."


Vanya kecewa dengan jawaban Hansen. Ia berharap Hansen mengatakan bahwa dia menyukai Vanya.


"Ya udah, lupain aja apa yang terjadi tadi," ucap Vanya pelan.


Hansen menjadi tak enak hati, ia menatap Vanya lekat meski gadis itu tampak enggan membalas tatapannya.


"Gue suka sama lo, Van."


Mata Vanya berkedip-kedip tak percaya, sekarang ia balas menatap Hansen juga.


"Gue suka lo dari kita masih di SMP Tunas Bangsa."


Vanya menelan salivanya dengan berat, ini seperti jackpot baginya. Dimana Hansen juga menyukainya sebagai seorang gadis. Sama seperti dia yang awalnya mengidolakan Hansen sebagai kakak kelas, namun perasaan itu berangsur-angsur berubah menjadi rasa ingin memiliki.


"Aku juga suka sama kakak," akui Vanya akhirnya.


"Serius?" Wajah Hansen tampak terkejut mendengar pengakuan Vanya.


Vanya mengangguk. "Kalau aku gak suka, mana mungkin aku nikmatin ciuman kakak," ujarnya polos sepeti biasa.


Hansen membuang tatapannya, terlalu malu untuk menatap Vanya. Tapi, sebenarnya ia mengulumm senyum sekarang.


"Tapi sekarang kita udah jadi sodara. Maka dari itu gue berusaha buat lupain lo dan jaga jarak dari lo pas tau kalau Papa Chandra adalah bokap lo."


Vanya akhirnya berdiri dari duduknya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kita saling suka, Kak. Lupain soal sodaraan!" tukasnya membuat Hansen terkejut dengan pernyataan gadis ini.


"Lo ... serius?" Hansen menunduk pada Vanya yang tingginya hanya sebatas dada pemuda itu saja.


Vanya mengangguk antusias. "Paling enggak, kita coba jalani semua ini dulu. Toh kita juga belum tentu menikah, kan. Kalau kita putus, biar ini jadi rahasia kita berdua kalau kita pernah punya hubungan."


Hansen malah terkekeh. "Lo lugu atau polos? Jadi lo mau jalani hubungan sama gue tapi gak kepikiran buat menikah?" Sekarang Hansen menangkup kedua pipi Vanya tanpa ada keraguan dimatanya.


"Emang kakak kepikiran sampai ke jenjang itu sama aku?"


Hansen mengangguk. "Gak ada gadis lain yang ada dalam angan-angan gue, kecuali lo," ujarnya yakin.


Vanya menggigit bibirnya, malu karena ternyata Hansen sampai berpikir sejauh itu mengenai mereka berdua.


"Karena lo juga suka gue, yaudah ... biar ini jadi rahasia kita berdua. Gue gak berharap putus dari lo, jadi jangan paksa gue buat akhiri semua yang udah kita mulai."


Bersamaan dengan kalimatnya yang selesai terucap, Hansen kembali melarutkan Vanya dalam ciuman yang panjang.


...Bersambung ......

__ADS_1


...Jangan lupa dukung karya ini dengan vote, gift, like dan tinggalkan komentarnya guys ❤️💚...


__ADS_2