Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
39


__ADS_3

Hari itu, akhirnya Hansen, Fero dan Dira makan bersama sepulang dari pertandingan basket. Tentu saja mau tak mau Hansen yang membonceng Dira dengan motornya karena gadis itu kekeuh tidak ingin dibonceng oleh Fero.


"Kita makan di cafe itu aja, yuk!" ajak Dira.


Hansen melihat cafe yang Dira maksud, dia tau itu adalah cafe yang dulu sering dia kunjungi bersama Vanya, dia menolak untuk kesana tapi lagi-lagi Dira memaksanya.


"Ya udah lah, Hans. Gue udah laper juga," kata Fero yang malas mendengar perdebatan Dira dan Hansen.


Dira tersenyum penuh kemenangan, kemudian dengan gencar mengajak Hansen untuk tetap menyinggahi cafe tersebut.


"Tuh kan, Fero aja udah setuju. Ayo, Hans. Ayo!"


Hansen memutar bola matanya, tapi kemudian menurut juga untuk mampir ke cafe itu.


Setelah memarkirkan motornya, akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam cafe tersebut. Tidak disangka, mata Hansen langsung bersitatap dengan Vanya yang rupanya juga sedang bersama dengan Metha disana. Vanya langsung menyadari kehadiran Hansen di cafe itu. Tatapan mereka bersirobok satu sama lain namun keduanya diam tanpa ada siapapun diantara mereka yang menyapa lebih dulu.


Vanya melihat Dira yang ternyata ada disamping Hansen, gadis itu tersenyum seolah mencibir kearahnya. Pada akhirnya, Vanya menghela nafas kasar, dia pun berlagak pura-pura tidak melihat dan sibuk memainkan ponselnya.


"Kak Hansen, Kak Fero!" Rupanya Metha yang berdiri dan menyapa kehadiran mereka.


Hansen hanya tersenyum tipis menanggapinya. Sementara Fero menjawab sapaan Metha dengan menganggukkan kepalanya.


"Ayo, ayo! Gabung sini!" ajak Metha. Mendengar itu, Vanya menendang kaki Metha di bawah meja sebagai isyarat bahwa dia tak mau untuk berbagi meja dengan ketiga orang yang baru saja masuk ke cafe itu.


"Kita cari meja lain aja," ujar Dira menimpali. Gadis itu langsung melengos pergi, sembari menarik tangan Hansen yang hanya diam karena terlalu terkejut mendapati Vanya juga ada di cafe yang sama.


Fero, Dira dan Hansen menempati meja yang cukup jauh dari Vanya dan Metha, hanya saja mereka masih bisa saling melihat dari jarak tersebut.


"Lo pesan apa?" tanya Fero pada Hansen.


Hansen masih tercenung, dia menatap Vanya sejak tadi.


"Hans!" Kalo ini Dira yang memanggil.


Hansen langsung tersadar, dia menoleh pada kedua orang didepannya. "Apa?" tanggapnya seperti orang bingung.


"Ngelamun aja, Lo!" ejek Fero. "Pesan apa, Lo?" tanyanya.


"Apa aja. Pesanin yang sama kayak Lo aja!" ujarnya.

__ADS_1


Dira menimpali. "Hansen suka yang pedas, Fer!" katanya.


"Ya, gue tau." Fero menipiskan bibir dan mulai memesan makanan mereka pada seorang pelayan yang melayani.


"Van, aku kangen sama kamu!" bayi. Hansen yang masih menatapi Vanya dari posisinya, sementara yang ditatap terlihat memainkan ponsel dan sesekali sedang bicara pada Metha.


"Kebetulan banget ya, mereka juga ada disini," celetuk Fero merujuk pada keberadaan Metha dan Vanya yang ada di cafe yang sama di jam yang juga dikunjungi mereka.


"Vanya emang suka di cafe ini," jawab Hansen lesu.


"Oh, jadi ini alasan lo gak mau mampir kesini tadi?" tanya Dira.


"Gak juga. Gue cuma gak mau kesini kalo gak sama Vanya," jawab Hansen apa adanya.


"Ya udah, apa bedanya kalo sama gue dan Fero kesininya."


"Ya bedalah."


"Udah udah, mau debat lagi Lo berdua? Gue pulang aja kalo gitu!" kata Fero menengahi.


Hansen langsung diam dan bersedekap dada, diam-diam dia memperhatikan Vanya di posisinya, tanpa menghiraukan apapun ujaran Dira disana.


Terserah, ayah sambungnya itu akan percaya atau tidak dengan alasan yang Hansen berikan, yang jelas dia belum mau pulang ke rumah untuk saat ini, sebab melihat Vanya setiap hari tanpa berinteraksi dengannya akan semakin menyakitkan untuk Hansen lakukan.


Untuk saat ini, Hansen menganggap semua ini hanyalah jeda untuk hubungannya dengan Vanya. Semoga setelah keadaan tenang, dia dan Vanya akan kembali baik-baik saja seperti semula. Dalam kata lain, Hansen ingin mendiamkan dulu semuanya, sampai dia siap untuk kembali bicara lagi dengan gadis itu mengenai hubungan mereka yang sampai saat ini belum mau Hansen akhiri begitu saja.


"Hans, ayo makan!" Ajakan Fero kembali menyadarkan Hansen dari lamunannya. Dia segera mengambil sendok untuk menikmati nasi goreng spesial yang dipesankan sang teman untuk menu makan malamnya saat ini.


"Hans, kata Fero Lo mau cari kerja ya?"


Hansen mengangguk atas pertanyaan Dira, dia memang sedang mencari pekerjaan dan dia tak marah jika hal itu diungkap Fero pada Dira. Hanya sebatas itu, mengenai masalah pribadinya, Hansen tentu melarang untuk Fero bicarakan dengan orang lain dan sepertinya Fero pun tau batasan serta hal-hal mana yang bisa dia bicarakan pada Dira.


"Kenapa? Bukannya bokap sambung Lo itu tajir?" tanya Dira lagi.


"Gue cuma mau mandiri aja."


"Oh." Dira manggut-manggut. "Jadi udah dapat kerjaannya?" tanyanya.


"Udah sih," jawab Hansen jujur.

__ADS_1


"Kerja apaan?"


"Mau tau banget lo!" sarkas Hansen sembari menyeruput jus nya.


"Bukan gitu " Dira berdecak. "Kalo lo mau, gue bisa tanya sama Kakak gue, mungkin dia bisa kasih Lo kerjaan sampingan di kantornya."


"Dikantor? Gue masih sekolah," jawab Hansen.


"Ya, kerja apa ajalah yang bisa buat Lo. Gak ada salahnya kan kalo gue nanyain."


"Ya kalo emang ada. Gue mau," jawab Hansen tak mau munafik.


"Terus kerjaan yang udah Lo dapat sekarang gimana?" tanya Fero menimpali.


"Kalo bisa dua-dua nya jalan. Jadi paruh waktu aja gitu. Sekalian sekolah juga tetap lanjut. Kan gak lama lagi lulus," jawab Hansen.


Sementara Hansen terlibat pembicaraan dengan Dira dan Fero, dari posisinya Vanya juga diam-diam mengamati mereka. Dia sebenarnya tidak senang karena Dira kembali mendekati Hansen. Apa gadis itu tau jika hubungannya dengan Hansen sudah berakhir?


"Kok bisa ya, mereka juga mampir ke cafe ini. Resek banget sih!" gerutu Metha.


"Kenapa, Tha?" tanya Vanya yang tak fokus.


"Itulah. Kak Fero sama Kak Hansen kok bisa-bisanya kesini, bawa Dira juga," ujarnya sewot.


"Mungkin kebetulan lewat, mereka kan abis tanding basket," jawab Vanya realistis.


"Lo katanya udah putus sama Kak Hansen seminggu lalu, tapi masih tau aja kalau doi abis tanding basket?" sindir Metha.


"Ya, kan pertandingannya bawa nama sekolah. Wajar dong kalo gue tau," jawab Vanya membela diri.


Metha memutar bola matanya. "Lo gak usah jealous sama Dira. Lo juga udah putus sama Kak Hansen, kan? Udah lah, Lo lupain dia. Lo cantik, Van. Lihat ada banyak cowok lain di sekeliling Lo yang natap Lo. Farel tuh misalnya, kayaknya dia ngebet banget sama lo!" ujar Metha panjang lebar.


"Bisa gak kalo kita gak bahas hal ini? Males gue," jawab Vanya.


"Ya itu terserah lo. Gue cuma mau nyadarin Lo aja. Sedari awal kan udah gue bilang, hubungan lo sama Kak Hansen itu gak bakal awet, gak bakal berhasil."


Vanya hanya diam memendam perasaannya, dia tak mau terlalu banyak menyuarakan isi hatinya pada Metha, sebab dia tau sejak awal Metha tidak mendukung penuh pilihannya untuk bersama dengan Hansen.


...Bersambung ......

__ADS_1


Dukung karya ini dengan cara vote like dan komen. Jangan lupa mampir juga ke novelku yang satunya. Dengan judul FOREVER HATE YOU. Pasti beda!


__ADS_2