
Hansen dan Vanya pulang bersama setelah puas berkeliling di pasar malam. Awalnya, Vanya meminta Hansen menurunkannya di dekat portal kompleks, tapi Hansen tidak mau membiarkan Vanya berjalan sendiri sampai ke kediaman mereka, lagipula ada dua orang satpam yang berjaga disana, pasti mereka juga sudah melihat Hansen dan Vanya. Jika Hansen menurunkan Vanya disana justru akan menyimpulkan pertanyaan dari mereka jadi lebih baik mereka pulang bersama sampai ke rumah.
"Lho, Hans ... Vanya, kok kalian bisa bareng pulangnya?" Zia mendapati kedua orang anaknya yang baru memasuki rumah. Tadinya dia tak bermaksud mengecek ke depan, tapi karena mendengar suara motor Hansen yang memasuki garasi, mau tak mau Zia keluar juga dan ternyata Hansen terlihat kembali bersama Vanya juga.
"Iya, Ma. Tadi Metha yang mau anterin aku, tapi dia mendadak gak enak badan jadi aku inisiatif minta jemput Kak Hansen aja. Gak apa-apa, kan, Ma?" Vanya tau, sekalinya dia berbohong maka selamanya dia akan kembali menutupi kebohongan dengan kebohongan yang lain.
"Bener begitu, Hans?" tanya Zia. Sebenarnya dia takkan curiga jika saja dia tak pernah menerima pesan dari nomor tak dikenal tempo hari, yang memintanya menyelidiki tentang kedekatan Hansen dan Vanya.
"Iya, Ma. Kebetulan tadi aku lagi di studio band temen aku, pas banget rumahnya gak jauh dari kompleks rumah Metha, ya udah aku jemput aja Vanya sekalian."
Zia manggut-manggut. "Oh ... ya gak apa-apa. Lagian udah malam juga, kasian Metha kalau anterin Vanya kesini malam-malam," ujarnya bijak.
"Aku langsung naik aja ya, Ma." Vanya mengutarakan keinginannya.
"Iya, Sayang," jawab Zia.
"Papa mana, Ma?" tanya Hansen setelah melihat Vanya naik ke lantai atas, dia tidak mengikuti, dia memilih berbicara sejenak dengan sang Mama.
"Oh, Papa lagi di ruang kerjanya. Mama udah bilang sama Mama soal rencana kuliah kamu itu, mungkin dia lagi nelpon om Dika juga buat bicarain gimana baiknya."
Hansen terkejut dengan ujaran sang Mama. "Lho, Ma? Kan aku udah bilang aku masih mikir untuk kuliah di Singapore? Aku belum fix, Ma!" katanya.
"Hans, kan dulu kamu yang pengen banget kuliah disana. Mumpung ada Om Dika juga disana jadi kamu ada yang mantau, Hans. Mama setuju aja sih, gak apa-apa kalau kamu mau kuliah jauh. Toh, sekarang Mama udah ada yang jagain disini," kata Zia. Menurutnya, Hansen berat pergi karena takut tak ada yang menemaninya di Indonesia, itulah alasan Hansen dulu, tapi sekarang Zia sudah menikah dengan Chandra dan sepertinya tak ada alasan untuk Hansen menunda impiannya kuliah di luar negara.
"Tapi, Ma---"
"Papa Chandra juga mau biayain kamu, kok, Sayang. Kamu kan udah jadi anaknya juga. Jadi jangan cemaskan apapun ya," sela Zia.
__ADS_1
Ingin sekali Hansen mengatakan bahwa kebimbangannya pergi ke Luar negeri buka. karena semua pemikiran sang Mama, melainkan karena sekarang dia tak mau meninggalkan Vanya. Terlebih Hansen takut Vanya didekati cowok lain. Segala pemikiran semacam itu seakan menghantuinya. Hansen juga tak bisa menjamin dia bisa fokus kuliah jika dia jauh dari Vanya, bisa dipastikan dia hanya memikirkan gadis itu terus nantinya karena tidak tenang.
"Ma, aku harap Mama kasih aku waktu untuk mikirin ini dulu ya. Lagian, aku juga baru masuk semester genap dan belum lulus SMA juga. Masih ada waktu 6 bulan untuk memikirkannya, jadi mama jangan desak aku untuk ini ya. Please."
Zia heran dengan putranya, dulu sepertinya Hansen yang sangat menginginkan hal itu, namun sekarang kenapa berubah pikiran?
"Ya udah, mama juga gak mau maksain kamu. Ini semua karena keinginan kamu dulu, Hans. Jangan pikir Mama mendesak kamu, mama cuma mau wujudkan impian kamu aja. Kamu ngerti, kan?"
Hansen mengangguk kemudian dia undur diri dari hadapan Sang Mama dan naik ke kamarnya.
"Kalau tiba-tiba Papa ngurus semuanya tanpa konfirmasi ke gue, gimana dong?" gumam Hansen sembari membuka pintu kamarnya. Dia melirik pintu sebelah, dimana kamar Vanya berada, pintu itu tampak tertutup, akhirnya Hansen memasuki kamarnya sendiri.
Hansen mengirimi Vanya pesan singkat melalui ponselnya.
[Udah tidur?]
[Makasih ya buat malam ini, aku senang banget]
[Iya, Kak, aku juga seneng banget. Harusnya aku yang makasih sama kakak.]
Hansen tersenyum membaca pesan dari Vanya. Dia memikirkan lagi bagaimana jika mereka harus menjalani hubungan secara LDR.
"Ck! Kamar sebelah-sebelahan aja gue kangen," gumam Hansen sambil berdecak lidah.
Hansen berharap sang papa tidak mengatur soal kuliahnya tanpa pemberitahuan padanya lebih dulu.
"Gue harus bicara sama papa kayknya, biar dia gak daftarin kuliah gue tanpa sepengetahuan gue," tekad Hansen.
__ADS_1
Hansen membaca pesan baru yang akhirnya kembali dia terima.
[Udah tidur, Kak? Aku kok gak bisa tidur ya.]
Hansen lagi-lagi tersenyum membaca pesan Vanya.
[Mungkin karena kebanyakan mikirin aku kali]
Hansen membalas pesan Vanya dengan ledekan, pasti sekarang gadis itu juga sedang tersenyum membaca isi chat dari nya.
[Iya nih, kebanyakan mikirin kakak sampe lupa mikirin diri sendiri]
"Dih, digombalin gue," celetuk Hansen pada dirinya sendiri. Dia terkekeh membaca pesan singkat itu.
[Yaudah, kalau gitu biar aku aja yang mikirin diri kamu]
Jiah, dia balas menggombali Vanya. Mereka berbalas-balasan pesan seperti itu sampai akhirnya Hansen tak sadar jika dia tertidur sambil memegang ponselnya sendiri.
Vanya yang juga ada di kamarnya sedikit kecewa karena Hansen tak lagi membalas pesannya. Dia mengira Hansen pasti sudah tidur. Vanya berjalan menuju meja belajarnya, dia terbayang saat pertama kali Hansen mengajarinya belajar disana. Lalu dia juga teringat bagaimana cowok itu menciumnya. Ciuman pertama dalam hidup Vanya.
"Kak, kalaupun nanti kita harus pisah, aku harap aku tetap bisa melihat kakak bahagia."
Begitulah pemikiran Vanya. Dia akan bahagia melihat Hansen bahagia. Dia tau, kakak sambungnya itu adalah lelaki yang baik. Dia berharap yang terbaik untuk Hansen.
...Bersambung......
Jangan lupa vote Senin ke sini yaaa, 🙏
__ADS_1