Mencintai Adik Sambung

Mencintai Adik Sambung
26


__ADS_3

Vanya pamit pada Zia dengan alasan hendak ke rumah Metha, dia terpaksa berbohong karena tidak mau mengatakan alasan yang sebenarnya bahwa dia akan pergi bersama Hansen.


Pak Cipto memang mengantarkan Vanya sampai ke rumah Metha tapi setelah itu Hansen akan datang menjemputnya kesana.


"Gue masih gak habis pikir sama lo, lo sadar gak gak sih, gara-gara hubungan lo sama Kak Hansen Lo udah jadi anak yang suka bohong," kata Metha dengan pemikirannya.


Vanya sebenarnya juga merasa bersalah akan hal ini, tapi dia tidak memiliki alasan lain dan terpaksa membawa-bawa Metha sebagai tameng untuk menutupi kebohongannya.


"... mau sampe kapan kalian kayak begini, Van? Cepat atau lambat nyokap bokap lo pasti bakal tau semuanya."


"Gue juga nggak berniat bohongin papa sama Mama gue, Tha ..." kata Vanya mencoba membela diri.


Metha geleng-geleng kepala. "Semoga aja lo dan Kak Hansen bisa hadapin semuanya kalau kedua orangtua kalian akhirnya tau mengenai hubungan ini," harapnya.


Vanya kemudian pamit pergi pada Metha saat mendapat kabar dari Hansen jika pemuda itu sudah menunggunya di depan rumah Metha. Untungnya orangtua Metha sedang diluar kota sehingga tidak ada yang akan menanyakan kemana tujuan Vanya.


"Kak ..." Vanya menghampiri Hansen yang menunggunya diatas motor pemuda itu.


"Ayo!" Hansen mengendikkan dagu kearah boncengan motornya agar Vanya segera naik keatas kendaraan tersebut.


"Kak, tadi pas mau keluar, kakak kasi alasan apa sama Mama?"


"Gak ada. Cuma bilang mau main."


"Terus Mama gak curiga?"

__ADS_1


"Ya enggak lah, sebelum tinggal dirumah papa juga aku udah biasa keluar malam gini. Mama taunya aku main sama temen-temen."


Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang beda ya kalau sama anak perempuan yang harus memberi alasan detail kalau mau keluar rumah, pikirnya.


"Emang kalau keluar malam gini biasanya kakak sama siapa? Terus kemana?" tanya Vanya menyelidik.


"Main sama Fero, biasa sih main PS dirumahnya. Atau enggak main futsal sama anak-anak komplek. Ada aja pokoknya," jawab Hansen.


"Gak pernah jalan sama cewek, gitu?" tanya Vanya yang tidak puas mendengar jawaban Hansen tadi, dia pikir mana mungkin Hansen tak pernah pergi bersama seorang gadis yang ingin dia dekati.


Hansen tertawa pelan mendengar pertanyaan Vanya. "Pernah," jawabnya tenang.


Vanya melotot diposisinya, kemudian dia mencubit lengan Hansen sampai pemuda itu mengasuh namun juga terbahak disaat bersamaan.


"Ih, bohong."


"Serius!" Hansen melepaskan satu tangannya dari stang motor, kemudian mengacuhkan dua jari membentuk huruf V sebagai bentuk keseriusan kata-katanya.


"Masak, sih? Emang selama ini kakak gak pernah jalan sama cewek lain? Minimal deket atau tertarik gitu pengen deketin?"


"Ya pernahlah, sekarang malah udah jadi pacar," jawab Hansen sambil tertawa pelan.


Vanya ikut tertawa. Dia tau yang dimaksud Hansen adalah dirinya.


"... kan aku udah pernah bilang kalau yang buat aku tertarik dan pengen aku deketin itu cuma kamu, sejak SMP aku sukanya sama kamu," kata Hansen jujur.

__ADS_1


Vanya merapatkan pelukannya pada pinggang Hansen. Dia senang menjadi yang pertama untuk pemuda itu, tapi bolehkah juga dia berharap menjadi yang terakhir untuk sang kakak?


"Kita mau kemana, kak?"


"Ehm, kamu maunya kemana?"


"Terserah kakak aja deh."


"Kenapa sih kalo ditanya jawabnya harus terserah," kikik Hansen. Tapi kemudian dia tak memaksa Vanya untuk menentukan tujuan mereka.


Motor yang Hansen kendarai berhenti disebuah pasar malam yang terletak di tengah-tengah keramaian.


"Kesini aja gak apa-apa ya?" Hansen menatap Vanya setelah menyetandarkan motornya.


"Iya gak apa-apa, Kak. Aku seneng banget malah. Udah lama juga gak ke pasar malam," jawab Vanya riang.


Hansen menggandeng tangan Vanya, mereka berjalan berdampingan menuju area pasar malam.


"Kamu mau naik yang mana dulu?" tanya Hansen.


Vanya langsung menunjuk ke arah bianglala. "Naik yang itu ya, kak!" serunya.


"Oke!" jawab Hansen dengan senyum terkembang.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2