
Cukup lama dalam perjalanan, akhirnya mereka tiba di Villa milik salah satu teman Papa Chandra yang letaknya tak jauh dari lereng gunung. Papa Chandra sengaja menyewakan tempat itu untuk momen liburan Hansen dan Vanya.
Tempat itu sangat nyaman dengan pemandangan yang memanjakan mata. Udaranya sejuk karena angin berhembus sepoi-sepoi. Tampak dari kejauhan barisan bukit yang berbaris meski pemandangan itu sedikit tertutup kabut.
Pak Cipto membantu menurunkan barang-barang milik Hansen, Vanya dan teman-teman mereka.
"Udah disitu saja, Pak," kata Hansen menunjuk ke arah teras villa.
Pak Cipto mengangguk, ia hanya bertugas mengantarkan anak-anak ini sampai disini kemudian dia berniat pulang. Pria baya itu pamit undur diri setelahnya.
Di villa, mereka disambut oleh Mbak Lia dan Mas Seno yang bekerja sebagai penjaga tempat itu. Mereka berdua juga yang akan mengurus segala kebutuhan Hansen dan Vanya selama berlibur, mulai dari makanan sekaligus turut mengawasi semuanya.
Mbak Lia dan Mas Seto sangat ramah dan tampak bersahabat, umur mereka juga belum terlalu tua. Mereka bisa menyesuaikan dengan para tamu yang datang hari ini.
"Ini kamar untuk para cewek," kata Mbak Lia menunjukkan kamar untuk ditempati Vanya, Metha dan Dira.
"Makasih ya, Mbak." Metha yang bersuara.
Mereka bertiga pun memasuki kamar tersebut.
"Enak yah disini," ujar Vanya. Ia meregangkan otot-ototnya yang kaku karena terlalu lama tertidur di mobil.
Dira banyak diam, ia sebenarnya kehilangan semangat karena masih mengingat ucapan Hansen saat di perjalanan sebelumnya.
"Apa kamar ini gak kekecilan buat kita tempati bertiga?" gumam Metha kemudian.
"Gak juga sih," jawab Vanya apa adanya.
"Tapi gue tidurnya heboh," ucap Metha ambigu.
"Heboh gimana maksud lo?"
"Ya gitu, kesana-kemari. Gue biasa tidur sendiri dan tempat tidur segini ini ..." Metha menunjuk tempat tidur yang ada di kamar tersebut. "... gak bisa gue tempati barengan sama lo berdua," sambungnya.
"Jadi gimana dong?" tanya Vanya yang bingung.
"Ya kalo tetap tidur bareng gue sih gak masalah, tapi siap-siap aja deh lo berdua kena tindihan gue," kelakarnya disertai tawa renyah.
"Vila ini kan gak mungkin cuma punya ini kamar doang. Pasti ada kamar lain," celetuk Dira yang akhirnya ikut menimpali.
"Ya juga sih," kata Metha.
"Coba tanya sama Mbak Lia aja, minta kamar lain buat lo tempati," usul Dira kemudian.
Metha manggut-manggut. "Iya deh, ntar gue tanya," katanya.
Sementara disisi lain, Fero dan Hansen juga sudah menempati kamar yang akan mereka tempati berdua.
"Gue mau ngedaki gunung besok pagi. Lo ikut, gak?" tanya Hansen pada Fero.
__ADS_1
"Oh jelas," jawab Fero antusias. "Sekalian ajak Dira juga ya," lanjutnya.
"Gue gak yakin sih dia mau. Gue juga gak berharap dia ikut karena itu bisa ganggu kebersamaan gue sama Vanya," ucap Hansen dengan tertawa.
"Is, elo! Kan ada gue yang bisa alihkan perhatian dia."
Hansen mengendikkan bahu sembari membuka kemejanya hingga hanya meninggalkan kaos berwarna hitam di tubuhnya.
"Ya semoga aja usaha lo berjalan lancar," kata Hansen yang mendukung Fero sepenuhnya.
Hansen tak mau mengatakan pada Fero perihal ucapan Dira yang sempat menginginkan dianggap lebih dari sekedar teman olehnya. Lagipula, Hansen memang tak terlalu memikirkan itu. Ia hanya bisa mendukung Fero jika sahabatnya itu memang mengincar untuk menggebet Dira.
Karena mereka tiba di Villa sudah cukup sore, akhirnya hari ini mereka hanya akan berada di Villa saja. Besok barulah mereka akan mulai mendaki gunung tentunya akan mengubungi pihak yang berpengalaman untuk mendampingi pendakian mereka.
"Gimana lo sama Vanya?" tanya Fero saat mereka hampir meninggalkan kamar.
"Baik-baik aja."
"Belom ketahuan sama bokap nyokap kalian kan?"
"Ya kalau ketahuan mana mungkin kita dibiarin liburan bareng kayak gini," jawab Hansen.
Fero mengangguk. "Lo kepikiran gak sih, kalo suatu saat kalian dipaksa pisah hanya karena kalian adalah kakak dan adik?"
"Ya kepikiran lah. Tapi gue berharap semuanya terbongkar kalo keadaan gue dan Vanya bener-bener udah siap."
"Ya siap mental dan siap secara finansial. Kalo gue udah punya kedua hal itu, gue gak akan ragu buat ajak Vanya menentang nyokap bokap demi hubungan kita berdua."
"Gila lo, segitunya," ujar Fero sambil terkekeh. "Ya mudah-mudahan aja sih gak kebongkar. Gue harap semuanya aman sampai lo sendiri yang ngaku sama Tante Zia soal hubungan lo sama Vanya," lanjutnya.
Mereka tiba di halaman belakang villa dan melihat jika ada Vanya yang sudah duduk bersantai di depan kolam renang. Gadis itu tampak berselonjor di kursi malas sembari membaca novel. Vanya memang mempunyai hobi membaca dan mengoleksi novel-novel.
"Nah tuh, cewek lo!" kata Fero menunjuk Vanya.
"Iya, gue juga udah lihat." Hansen menjawab santai.
"Tapi Dira mana ya?"
"Mana gue tau," ujar Hansen cuek.
"Gimana mau pendekatan kalo orangnya gak kelihatan," gerutu Fero.
Hansen tak mengindahkan Fero lagi, ia berjalan menghampiri Vanya disana. Melihat itu, Fero memilih pergi meninggalkan mereka karena dia tak mau menjaga nyamuk orang pacaran.
"Van?"
Vanya tersentak mendengar suara lembut Hansen kemudian langsung menoleh.
"Kak, sini...." ajak Vanya dengan senyumnya yang selalu meluluhkan hati Hansen.
__ADS_1
Hansen pun duduk di kursi malas yang juga Vanya tempati, tepatnya di ujung kursi yang berbentuk memanjang tersebut.
"Baca apa, sih?" tanya Hansen.
"Gak ada kak, cuma novel biasa."
"Romance?" tebak Hansen dan Vanya mengangguk.
Hansen mau mengusap rambut Vanya tapi ia urungkan karena tiba-tiba Metha hadir ditengah-tengah mereka.
"Hallo ... gue tadi cobain kue buatan Mbak Lia, enak banget serius. Pada mau coba gak?" ujar Metha menyodorkan piring berisi kue yang dimaksudnya.
"Mana coba?" Tangan Vanya terulur dan mengambil kue yang disodorkan Metha.
Metha akhirnya bergabung dengan Vanya dan Hansen disana.
"Eh, Van. Itu si Dira siapa lo, sih?" tanya Metha sambil mengunyah kue nya.
"Kenapa emang?" tanya Vanya. Sementara Hansen memperhatikan saja percakapan Vanya dan Metha itu tanpa ikut nimbrung.
"Gak apa-apa, sih. Dia emang pendiam atau sombong sih?" celoteh Metha lagi.
"Tauk! Tanya aja sama Kak Hansen," kata Vanya acuh tak acuh
Hansen menghela nafas panjang, sejak awal ia tau jika Vanya tak menyukai kehadiran Dira di momen liburan mereka.
"Lho, kok tanya sama kak Hansen, sih?" ungkap Metha bingung. "Emang si Dira itu deket sama kak Hansen? Atau jangan-jangan pacarnya ya, Kak?" Metha menuding pada Hansen.
Hansen menggeleng keras. "Bukanlah," katanya yakin. "Dia cuma temen kecil gue," jawabnya.
"Temen kecil yang ngarep lebih sama Kak Hansen," kata Vanya menimpali
Hansen menatap pada sang adik yang sepertinya tengah menyindirnya. Dalam hati, Hansen mengira Vanya pasti mendengar percakapannya dengan Dira saat di mobil tadi. Jadi, Vanya tidak benar-benar tertidur saat itu?
Metha terkikik mendengar ucapan Vanya. Ia kembali menatap Hansen sekarang.
"Kalau dilihat-lihat sih kayaknya dia emang naruh hati sama Kaka Hansen," ujar Metha yang menyetujui ucapan Vanya. Mereka seolah satu kubu sekarang dan seperti ingin menggoda Hansen, tapi Hansen tau betul jika Vanya berniat menyindirnya.
"Ya, itu urusan dia. Gue mana bisa ngelarang perasaan orang," ujar Hansen acuh tak acuh.
Vanya mengulumm senyum, ia tau Hansen tak senang dengan pembahasan ini.
"Lagian kenapa bisa menyimpulkan begitu? Cuma nebak atau karena mendengar sendiri?" Hansen melempar senyum pada Vanya, yang Vanya artikan jika pemuda itu tengah menyindir kelakuannya yang memang sempat menguping pembicaraan Hansen dan Dira tadi.
"Ya aku emang denger sih," ucap Vanya polos seperti biasanya.
Metha semakin tertawa. "Wah, jadi bener dong si Dira itu naksir kakak tiri lo, Van?" tanyanya yang membuat Vanya langsung merengut saat itu juga.
...Bersambung ......
__ADS_1